
"Udah lah, kenapa jadi pada melo gini sih. Kaga cocok lu pada!"hibur kevin.
"Tau tuh! Eh udah sore menjelang malem, gua balik aja dah ntar kanjeng ratu ngamuk " ucap zidan.
"Alay lu! Org masih sore gini. Ini tuh namanya mendung ******! Sembur mikha.
"Gua pamit pulang! "ucap ardan.
"Serah lu pada lah, kalo mau balik so bomat! "ucap dion.
"Kga ada niatan mau cegah gua lu? "tanya kevin.
"Kaga, males gua." santai dion.
Akhirnya semua teman dion dan vania pamit untuk pulang ke rumahnya, dengan alasan karna mendung dan mau hujan. Padahal itu cuman alibi mereka saja untuk pergi dari suasana yang mencekam itu, mereka bisa saja pulang pada saat hujan, karna apa? Karna mereka kesini naik mobil semua.
Dan gak ada yang naik motor, dion? Dia mah lebih memilih untuk bergabung bermain bersama si kecil. Vania? Ia memilih ke kamarnya, dan menenangkan diri untuk sementara waktu.
"Papi denger besok kamu mau ke rumah sakit? "tanya papi.
"Iya pi, klo papi mau ikut. Sekalian aja, dari pada bolak balik" ucap dion.
"Mami ikut aja deh, klo papi mau ikut ya terserah. "ucap mami.
"Ya pasti ikut dong mi, "ucap papi.
"Ya bomat sih! " sewot mami.
"Eh! Gaul juga nih camer gua" batin dion.
"Mami kok sewot sih? "ketus papi.
"Siapa yg sewot? "ucap mami.
"Ya mami lah! "
"Dih kok papi ngegas sih? Lagi pms apa gimana sih? "
"Papi kan cowo, ya kali pms"
"dan bla bla bla....... "
Dari pada mendengar keributan yang tidak jelas apa penyebabnya, dan kapan berakhirnya . Dion memutuskan membawa sikecil untuk keatas, ia ingin menemui vania.
Saat membuka pintu kamar, ia melihat vania yang merenung di balkon. Sempat terlintas dibenak dion, apakah vania akan bunuh diri? Dan itu hanya khayalan belaka.
"Va, jangan gini dong"bujuk dion.
"Mi? Angan edih."ucap sikecil sambil mengusap pipi vania.
__ADS_1
"Enggak kok sayang, mommy gak sedih" ucap vania.
Dion berjalan lebih dekat kearah vania, ia meraih pinggang vania.
"Gua bakal berusaha biar sikecil gak diambil dari kita. "bisiknya.
Vania dibuat merinding, pasalnya posisi sekarang itu. Sikecil tertidur digendongan dion, tangan dion berada dipinggang vania.
Dan lebih parah lagi, vania bisa merasakan hembusan nafas dion. Karna dion menenggelamkan kepalanya, diceruk leher vania.
Setelah sadar dari posisi yang absurd ini, vania berusaha melepaskan diri dari dion. Tapi semakin ia berontak, semakin erat pula pelukan dion.
"Biarin gini dulu " lirih dion.
Dion melepaskan pelukannya saat hari sudah mulai gelap, dan ia memilih untuk pulang.
Meskipun sempat ditahan untuk makan malam bersama, tapi dion tetep kekeh untuk pulang. Alhasil sekarang vania makan malam bersama keluarganya, tanpa sosok dion disampingnya.
Keesokan harinya, seperti yang dion katakan kemarin malam. Setelah pulang sekolah ia dan keluarga akan menemui orang tua dari si kecil, meskipun ada rasa cemas dan takut menjadi satu. Namun, dion tetaplah dion. Apapun yang ia putuskan, maka akan ia lakukan.
Kini mereka semua telah sampai di Rs. Medika husada, dimana orang tua dari sikecil dirawat. Vania gugup setengah mati, ia takut! Ia tak berani menghadapi apa yang akan terjadi nanti.
"Va, tenang aja. Gua disini, dan akan selalu disamping lu"ucap duon menenangkan.
Dion mengeratkan pelukannya dipinggang vania posesif, dan memberikan semangat untuk vania.
"Pa, ma. Ini ruangannya "jelas dion.
Dan hanya diangguki oleh semua anggota keluarga.
Pintu perlahan terbuka, menunjukkan sesosok pria paruh baya yang tengah berbaring dengan selang yang membantu ia untuk bertahan hidup.
Pria itu perlahan membuka matanya, dan senyumnya merekah melihat sikecil yang berada digendongan vania.
"Saya mau ucapkan terimakasih, karna telah merawat anak saya"ucap pria itu.
"Saya harap kalian bisa menjaganya sampai ia dewsa, dan jangan pernah kalian membedakan ia dengan anak kandung kalian sendiri"lanjutnya.
Ucapan pria itu membuat semua yang ada di kamar itu terkejut, dengan keputusannya. Terutama bagi vania, ia pikir ini kali terakhir ia mengasuh si kecil. Ternyata tidak, TIDAK! Kata itu sangat membuat vania bahagia.
"Tapi kenapa pak? "tanya papi.
"Karna saya sudah tidak lama lagi, dan jika kalian ingin memberikan nama untuk anak saya. Saya tidak keberatan. "ucap pria itu.
"Pak, jangan berkata mendahului takdir. "ucap dion ,pria itu hanya menanggapinya dengan senyumnya.
Semua anggota keluarga yang ada di ruangan itu hanya menyimak pembicaraan antara dion dan pria paruh baya itu.
Setelah lama berbincang bincang dengan pria itu, dion melihat ada yang aneh dengan pria itu. Ia melihat bibirnya lebih pucat, dan tangannya semakin dingin.
__ADS_1
Dion kalang kabut dibuatnya, ia langsung memanggil dokter untuk tindakan lebih lanjut. Vania terkejut dengan gerak gerik dion, saat ia sadar bahwa orang tua sikecil telah kritis kembali. Semua org yg ada diruangan itu segera keluar, agar dokter bisa menangani lebih lanjut.
"Yon tenang, kalo kamu gini sikecil gimana? " ucap vania.
Sikecil sedari tadi tidak terusik dengan keramaian di rs, ia lebih memilih tidur di gendongan vania.
"Maaf va, aku kaget aja tadi" ucap dion bersalah.
"Iya, tenang ya. Dokter juga udah di dalam. " ucap vania.
Satu jam telah berlalu, dokter juga telah keluar untuk memberikan kabar untuk semua org. Entah itu baik ataupun buruk, dan tidak selalu jujur tentang keadaan pasien. Memang itu lah tugas sebagai dokter.
"Dok, bagaimana? "tanya papa.
"Maaf, kami telah berusaha sebaik mungkin. Tapi tuhan berkehendak lain, beliau sudah kembali kesisi-Nya. " tutur dokter dan memilih untuk pergi dari ruangan itu.
"Yon? Tenang ya" ucap mama.
"Sekarang kita pulang, dan persiapkan pemakamannya. " tegas papa.
Pemakaman berlangsung dengan lancar, satu per satu rekan kerja papa dan papi meninggalkan rumah dion. Jika saja dion tau alamat rumah dari orang tua sikecil, maka ia akan menyerahkan pemakaman ke pihak keluarga. Sayangnya ia tidak tau, dan untungnya saat dion berbincang bincang tadi, ia sempat bertanya nama pria itu.
Selama seminggu penuh, kediaman dion dipenuhi dengan lantunan surah yasin. Dan selama seminggu pula dion juga vania tidak berangkat kesekolah, dion masih berkabung atas kepergian orang tua sikecil.
Sudah saru bulan, sejak sepeninggalan orang tua sikecil. Dion dan juga vania telah menjalani kegiatan mereka seperti biasa. Dan tak terasa pernikahan dion juga vania akan berlangsung 3 hari lagi.
"Nih gua kasih undangan, jangan lupa lu semua dateng!" ucap dion.
Dan detik itu juga semua terkejut, zidan yg tengah main mobil lejen pun menghentikan aktivitasnya. Ardan yang sedang makan pun juga tersedak, kevin yang lagi ngalus juga menghentikan aksinya.
Semua terkejut, terkecuali dengan mikha. Ia sudah tau sejak awal, jika vania dan dion akan menikah. Demi akta kelahiran si kecil, kalian perlu capslock dan pertebal kata itu . Pernikahan ini HANYA UNTUK SIKECIL.
"Oh iya, kalian jangan lupa dateng" ingat dion.
"Lah *****, lu ngebet sama vania?" tanya ardan. Dion hanya nyengir tak berdosa.
"Lu masih sekolah ****! Mau lu kasih makan apa anak bini lu yon!"sembur kevin.
"Cih! Gua kan udah kaya, ngapain bingung? " sombong dion.
"*******, anak sultan mah beda ya *****" sindir zidan.
"Udahlah, kalian kalo ngiri bilang aja napa sih! Keliatan banget jiwa jomblonya! "sahut mikha.
"Kok gua kesindir yak" ucap kevin.
"Ngiri? Nganan boleh kga mik? "tanya ardan seraya menaik turunkan alisnya.
Zidan yang mendengar ucapan mikha, langsung meliriknya sinis.
__ADS_1
"Tuh mata kenapa? Minta gua colok?!" sewot mikha. Merasa tersindir zidan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Semua yang mendengar sindiran mikha, tertawa. Karna, melihat wajah zidan yang ketakutan. Siapa suruh menjahili mikha, jika ada yang menjahili dirinya. Sama saja kita membangunkan singa yg sedang tidur. Apalagi tuh anak klo udah dateng tamu, udahlah hanya vania yang tidak terkena semburannya.