DIVA

DIVA
Rumit


__ADS_3

"Loh, ma. Kenapa nangis? "tanya vania.


Orang itu adalah mama, yang sedari tadi mendengarkan papa bercerita dari awak hingga akhir. Dan menangis hingga mengeluarkan banyak air mata, namun ia hanya diam seribu bahasa. Tak ingin mendengar lagi cerita yg akan membuat sakit hatinya.


"Mama, gak papa sayang.. Hiks.. "


"Ma, kalo mau cerita vania siap dengerin kok. "


"Nggak papa sayang. "


"Eh iya, mama tadi dapet kabar kalo temen mama ada yang sakit. Tolong sampein ke papa dan dion ya, sayang. "


"Iya ma, hati hati ya. "


Mama pergi dengan membawa 1 koper besar, dan jangan lupakan tangisan mama yang mengiringi langkah mama.


Tok tok tok


Vania mengetuk pintu ruang kerja papa, dan pintu itu terbuka menampilkan keadaan dion yang kacau. Wajah yang sembab, rambutnya yg berantakan. Keadaan dion sama dengan papa, miris itulah kata yang bisa menggambarkan mereka sekarang.


"Kamu kenapa mas? "tanya vania lembut.


"Aku gk papa kok sayang. "


"Loh papa, juga kenapa? "


"Nggak papa, kok va. "


"Kalian semua kenapa sih? Tadi mama juga nangis, kayaknya sih abis dari sini. "


"Mama? Nangis? "


"Iya, trus mama pergi bawa koper. Trus aku disuruh mama bilang ke kamu sama papa, kalo mama bakal nginep dirumah temennya. Katanya sih, temen mama lagi sakit. "


"Bawa koper? "tanya papa.


"Iya, pa. "


"Dion, hubungi semua anak buah kamu. Cari keberadaan mama, dan papa akan cari mama. Bodyguard akan papa bawa, jangan sampai kita kehilangan jejak mama kamu. Kamu ingatkan dion, masa lalu mama yg seorang mafia."


"Iya pa. "


Segera papa pergi meninggalkan rumah dengan terburu buru,


sedangkan dibelakangnya banyak mobil yang mengawalnya. Dion, ia segera pergi ke kamarnya dan menghubungi beberapa orang kepercayaannya. Dan setengah anak buahnya akan ia kerahkan untuk mencari sang mama, sedangkan yg lain ia gunakan untuk menjaga vania dan anak anaknya.

__ADS_1


Tak lupa dion, meminta bantuan kevin, ardan, alex, zidan, serta kakak iparnya vino. Siapa tau waktu vino flight, akan bertemu dengan mamanya.


Vania? Ia masih bingung dengan keadaan yg masih tegang ini, bahkan ia tak beranjak dari tempatnya.


"Apa yg terjadi sih?! "gumam vania.


"Gua gak bisa diam aja! Gua harus minta penjelasan.!"


Segera vania menyusul dion masuk kedalan kamar, disana vania melihat dion dengan keadaan yag miris. Tak ada lagi dion yang ceria, penuh dengan gombalan, yang ada hanya dion yang menangis, acak acakan, seperti kehilangan cahaya hidupnya.


Perlahan vania mendekati dion, ia tau saat ini dion memerlukan orang untuk menenangkannya. Vania memeluk dion, memeberikan kehangatan disana. Tak ada yg berbicara, yang ada hanya suara tangis dion yg mengiris sakit dihati vania.


"Aku... Hiks.. Aku takut va"


"Aku taku jika.. Hiks.. Mama akan kembali menjadi... Mafia.. Seperti masa lalunya.. "


Vania terkejut, ternyata masalalu mama mertuanya sangat kelam. Bahkan sungguh gelap, ia tak menyangka jika mama yg selama ini ceria, cerewet, dan cantik mempunyai masa lalu yg sangat buruk.


Ternyata vania belum mengenal keluarga dion dengan baik, ia harus lebih dekat dengan keluarga suaminya itu.


"Shutttt, aku yakin. Mama gk bakal ngelakuin itu lagi "


"Mama.. Setiap dia sakit hati.. Hiks.. Pasti.. Kembali ke dunia gelap itu va.. "


"Tapi kenapa mama nangis? Kenapa mama pergi? "tanya vania.


Dion mulai menceritakan kenapa mamanya pergi, dan karna mungkin mendengar percakapannya dengan papa.


Vania terkejut, ia tak bisa berkata kata lagi. Bagaimana mungkin jika anaknya el, merupakan anak kandung dari papa.


Untung saja waktu dion bercerita semua anaknya masih tertidur lelap, jika tidak entahlah vania masih tidak bisa berfikir lagi.


"Kita tunggu saja ya, semoga papa bisa membawa mama pulang dengan selamat. "ucap vania menenangkan.


Malamnya, papa pulang dengan wajah yang kusut. Tak ada tanda tanda bahwa papa membawa mama pulang, dion yg melihat itu semakin tak punya harapan lagi.


El dan arin dititipkan ke rumah papi dan mami vania, mereka juga sudah mengetahui kepergian dari mama. Tapi mereka belum mengetahui, tentang kebenaran tentang el.


Dirumah papa, semua orang berkumpul. Namun tidak dengan alex, dan vino. Alex sedang ditugaskan di daerah bali, dan tidak diijinkan untuk pulang. Sedangkan vino, ia sedang flight ke paris selama seminggu.


Hanya ada, ardan, kevin, zidan, dan mikha. Rumah itu kini menjadi dingin, tak ada kehangatan. Raut tegang, dan hati yg berdebar.


"Jadi, belum ada kabar tentang mama? "tanya papa lirih.


Semua manusia yang berada di tempat itu, hanya dapat menunduk dan menggelengkan kepala. Tak ada yang berani menatap papa, ganya rasa sakit yang ada di wajah papa.

__ADS_1


Sudah satu bulan lamanya, mama tak pernah ada kabar. Sedangkan papa, keadaannya kini sangat buruk. Bahkan, sekarang jatuh sakit. Meskipun ia sakit, namun ia tak ingin dirawat dirumah sakit.


"Pa, kita kerumah sakit ya. "


"P....papa, tidak mau yon"


Melihat keadaan papa, dion semakin kacau. Ia lebih sering merenung, dan bahkan perusahaan dion kini yg mengurus adalah anak buahnya yang dipercaya.


"Mas, biarin papa istirahat ya.. "ucap vania.


"Iya. "


Vania merasa seperti ada yang aneh dalam dirinya, mungkinkah ia?


Tidak! Itu tidak mungkin! Fikiran itu ditepis oleh vania, karna ia tak mau dion menjadi lebih terpuruk. 3 kali dalam seminggu vania akan membersihkan rumah papa, dan hari ini merupakan hari bersih bersih. Ya meskipun dirumah ada sudah ada asisten rumah tangga, tapi pasti akan membantu.


Tapi saat vania sedang mengepel lantai, perutnya terasa kram. Seperti melilit, dan sangat sakit.


"Awhh... Awhhh...shhhh"rintih vania.


"Di.. Dion.. Shhh.. "panggio vania


Ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit itu, hingga pandangannya kabur dan semakin lama menjadi gelap. Tubuhnya pun tak kuat lagi, dan serasa melayang. Tak lama vania jatuh pingsan, bodyguard yg tak sengaja lewat. Melihat vania yg pingsan, segera memanggil dion.


"Tuan muda! Nona muda pingsan dilantai bawah. "ucap bodyguard itu.


"Shit! Vania kenapa?! "


Segera dion menuruni tangga dengan cepat, dan dion bisa melihat vania yang tergeletak tak berdaya. Ia memacu larinya, tak peduli lagi jika ia akan terjatuh dari tangga.


"Sayang, bangun! Jangan buat aku khawatir! Siapkan mobil SEKARANG!!! "


"Baik tuan. "


Saat dion mengangkat tubuh mungil vania, tangannya merasa basah saat menyentuh paha vania. Betapa terkejutnya dion, ia melihat


darah segar mengalir ke paha vania.


"V...Va, jangan bilang k...kamu.. "


Pikiran dion tak lagi bisa diajak kerja sama, ia masih mencerna kejadian ini. Hingga anak buahnya membangunkan dion dari pikirannya.


Yang dion lakukan saat ini hanya bisa berdo'a, agar vania dan calon anaknya tidak terjadi apa apa.


Sesampainya dirumah sakit, dion memanggil dokter. Dan segera dokter datang untuk menangani keadaan vania, dion sudah seperti orang gila! Ia mondar mandir tak jelas dideoan ruang UGD, keadaannya lebih kacau dari yang sebelumnya.

__ADS_1


Hingga dokter yg memeriksa vania keluar, entahlah raut wajahnya tak bisa ditebak.


__ADS_2