DIVA

DIVA
El


__ADS_3

Diruangan itu terdapat seirang wanita, ya orang itu adalah fira. Orang yang bermasalah dengan keluarganya, disana kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak bercak merak ditubuhnya, aihhh meria melihatnyapun sangat jijik.


"El? "


"Ya, glendma? "


"Wanita itu yang membuat mommy kamu berada dalam rumah sakit. Dan wanita itu yang membuat daddy kamu, menjadi kacau. Sekarang setelah kamu mengetahui kenyataan itu, apa yang akan kamu lakukan el?!"


"Jadi, tante ini yg membuat mommy el sakit? Dan daddy jadi kacau? Cih, el nda laik! "gumam el.


Perlahan namun pasti, el mulai mendekat kearah fira. Tak lupa tangan kanannya memegang pisau kecil, tapi sangat tajam.


"Hai tante."sapa el.


"E.. El? Ini mama sayang, mama kangen kamu el. "ucap fira


"Mama? El nda punna mama! Tapi el cuman punna momny."sahut el geram.


"Apa kamu lupa el? Mama yang sudah mengandung kamu! Mama tau mama salah telah pergi jauh darimu el! Maafin mama. "


"Mama rindu kamu el. "ucap fira lirih.


Sedangkan maria, ia hanya melihat sebuah drama kecil didepannya. Ia masih ingin tau, bagaimana reaksi dari cucunya itu.


"Cih, apa tante bisa diam? Telinga el sangat panas. "


"Glendma? Bolehkah el menggunakan ini? "tanya el.


"Tentu saja, apapun yang kamu mau. Kamu bisa memilikinya." ucap maria enteng.


Dengan hati yang senang, karna el telah mendapat persetujuan dari grandmanya. Ia mulai menyayat tipis pipi kiri fira dengan menggunakan pisau kecilnya, tak lupa wajah el yg sangat flat membuat kesan mengerikan.


Rintihan rintihan kecil keluar dari mulut fira, ia tak menyangka jika akan disiksa oleh anak kandungnya sendiri. Salah siapa dulu ia meninggalkan el, dan memilih untuk balas dendam. Sekarang el telah tumbuh menjadi pribadi yg ganda.


"Tunggu el! "cegah maria.


Maria sangat terkejut dengan apa yang akan diperbuat el, tangannya yang memegang pisau telah diarahkan ke perut fira. Untung saja maria segera mencegahnya, jika tidak fira akan mati ditangan el. Bukannya maria kasihan terhadap fira, tapi maria tak ingin tangan mungil el menjadi kotor.


"Kenapa glendma? "


"Jangan, biarkan dia mati secara perlahan"


"Tapi dia sudah buat mommy sakit lha, "


"Apa kau mau, jika dia mati sekarang. Maka dia takkan merasakan kesakitan. "

__ADS_1


"El nda mau, yaudah lha. "ucap el dengan mulutnya yg mengerucut.


"Kau ini sangat menggemaskan! "


"Sampai disini dulu ya tante, ntal kapan kapan el mampil lagi kok"ucap el kepada fira, tak lupa senyum devil yang melekat pada wajahnya ia tampilkan. Dan sebagai tanda perpisahan, el menggoreskan pisau ke pelipis fira.


Para bodyguard yang melihat aksi el sangat terkejut! Melihat anak yang umurnya bahkan belum menginjak 3th, tapi ia sangat mahir memainkan pisau. Tak salah memang jika el di jadikan seorang pemimpin, dan para bodyguard menerima el dengan hormat.


El dan maria bergegas pulang, mereka tak mau ketahuan pergi tanpa pamit oleh org rumah. Jangan lupakan senyum manis yg mengukir wajah imut el, sungguh diluar dugaan. Wajah yg manis, imut, nan polos dibalik wajah itu tersimoan banyak sekali dendam. El kini sudah memiliki 2 kepribadian, meskipun begitu hanya grandma dan tuhan yg tau.


Namun saat didepan gerbang, maria dikejutkan dengan mobil hitam milik putra bungsunya. Dan el juga mengetahui itu, ia merasa takut jika perbuatannya akan diketahui sang daddy.


"Tenang el, masih ada grandma. Okey! "ucap maria menenangkan.


"He.um, glendma. "


Maria dan el memasuki pekarangan rumah dengan santai, seperti tidak ada yang telah terjadi.


"Assalamualaikum semua... "salam el.


"Wa'alaikumsalam, dari mana aja kalian? "tanya papa.


"Dari mall dong pa. "jawab mama.


"Wuahhh, kok alin nda diajak! Abang jahat lha. "ucap arin dengan wajah yg ditekuk.


"Udah udah jangan berantem, kalian mau jenguk mommy nggak?"lerai dion.


"Mauuu.... "


"Tapi kalian makan siang dulu, habis itu tidur. Terus jenguk mommy. "


"Lama lha daddy.. "ucap el


"He.um, nda laik lha. "tambah arin


"Yaudah kalo gak mau, gada namanya jenguk mommy. "


Begitulah rutinitas dion dan anak anaknya, setiap hari mereka akan datang kerumah sakit untuk menjenguk vania. Tak ada yaang bosan dengan rutinitas itu.


2 tahun sudah berlalu


Vania terbaring lemah tak sadarkan diri, tak ada tanda tanda jika vania akan bangun. Namun, itu tak membuat dion, el, dan arin putus asa.


Sore ini dion, el, dan arin akan mengunjungi rumah sakit. Banyak kejadian yg vania lewatkan, mulai dari pernikahan ardan, pernikahan zidan dan mikha, juga pernikahan kevin. Bahkan sekarang ardan telah memiliki anak kembar, mikha juga sudah hamil 7bulan, tak lupa kevin juga sudah memiliki 2 anak.

__ADS_1


El dan arin juga sudah masuk ke bangku TK, mereka sangat pintar disana meskipun umur mereka masih menginjak angka 5th. Bahkan dion berencana el dan arin akan menjalani program sekolah akselerasi, dan itu juga pastinya akan ada persetujuam dari el maupun arin.


Sesampainya dirumah sakit, mereka bertiga segera masuk ke ruang rawat inap vania. Disana vania masih tetap menutup matanya erat, dan enggan untuk melihat dunia yg fana ini.


"Daddy? Ale you okay? "tanya el.


"Yes, my prince. "


"Kalian ke sofa aja dulu. "


"Iya daddy. "


Dion berjalan kearah brankar vania,


"Sayang? Apa kamu gak kangen sama aku? Sama anak anak kita? Apa disana sangat indah, sampai sampai kamu enggan untuk membuka matamu? "racau dion.


"Dad? Alin lapel. "


"Lah, bukannya arin udah makan tadi? "


"Kan itu tadi dad, sekalang lapel lagi lha. "


"Dasal pelut kalet! "


"Yaudah daddy kekantin dulu ya, disini aja. "


"Ya dad. "


Setelah dion pergi menuju kantin, el berjalan mendekat kevania. Ia membelai lembut rambut vania, dan mendekat kearah telinga vania.


"Mom? Mommy kapan bangunna? El kangen, mommy tenang aja. Tante jelek itu udah pelgi, katana glandma tante itu gk bakal bisa balik lagi. Telus glendma bilang, klo tante itu pelgiana jauhh ke atas. "bisik el.


Memang benar jika fira sudah meninggal, ia meninggal dengan gantung diri di kamar. Mungkin karna depresi yang berat, selalu tertekan. Tapi siapa yang menyangka jika fira, akan meninggal dengan cara tragis seperti itu.


Seketika jari vania bergerak, bertepatan dengan itu dion datang . Ia lupa membawa dompetnya, maka dari itu ia cepat kembali. Dan untung saja dion bisa melihat jari vania yang sudah bergerak, ia berlari mencari dokter. Agar vania bisa diperiksa.


Dion dan anak anaknya menunggu diluar ruangan, mereka berharap yg terbaik untuk vania. Tak lama dokter keluar dari ruangan vania.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? "


"Ini sebuah keajaiban, istri bapak telah melewati masa kritisnya. Dan hanya menunggu beberapa menit agar istri bapak bisa sadar. "


"Jadi apa saya boleh melihatnya? "


"Tentu saja, kalau begitu saya permisi dulu. "

__ADS_1


Dion berjalan dengan rasa bahagia, tak sadar air mata mulai menetes membasahi pipinya. Segera ia memberitahukan tentang keadaan vania, sungguh hari ini merupakan hari yg sangat membahagiakan bagi dion.


__ADS_2