DIVA

DIVA
Pertemuan


__ADS_3

Brak............


Suara yg terdengar begitu keras meski dari kejauhan ,namun tidak ada org yg mendengar karna jln yg begitu sepinya.


Beruntung ada seorang yg melihat kejadian itu, seorang gadis cantik memakai sweter soft pink .


Gadis itu bernama Vania anandita wirya, seorang gadis yg masih duduk di bangku SMA. Tanpa pikir panjang vania langsung menghampiri mobil itu, karna terdengar suara tangisan anak kecil.


"Astaga!! "pekik vania.


"Pak, bu kalian masih bisa denger saya? "tanya vania.


"Tolong anak saya"jwb perempuan paruh baya itu, sedangkan pria di sampingnya sudah tidak berdaya.


"Gua harus telpon polisi ma ambulan nih. "batin vania.


Ada beberapa pengendara motor yg melaju kencang, vania yakin jika mereka sedang balap liar. Namun vania dikejutkan dengan pengendara yg melaju kearahnya.


Dia adalah Dion azka alfariz, lelaki yang masih duduk dibangku SMA. Namun tabiat yang kurang baik selalu menempel padanya, meski begitu dia banyak diminati oleh kaum hawa.


"Anjer!"umpat dion.


"Kenapa harus remnya blong sih"batinnya


*Tin tin tin


Brakk*.....


Dion tepental ke aspal, kini motor kebanggaannya tetap melaju tanpa pengemudi dan menabrak sebuah mobil yang sudah ringsek.


"Shit, napa gua cium aspal sih! Dari pada aspal mending cium cwe dah!" gerutu dion.


Dengan langkah gontai, dion menegakkan tubuhnya dan berjalan menemui vania.


"Eh, lu kga napa napa kan? "tanya dion


"*Mantab, masih sekolah aja udah gendonh bayi. Ga yakin gua ma nih anak, pasti dia nyulik. Halah bodo amatlah. "batin dion


"Anak lu juga kga kegores kan? "lanjutnya


"Eh buset dah, tuh org mulutnya minta digampar apa gimana sih. Yakali gua dah punya anak, nikah aja blom! " batin vania*.


"Heh! Gua lagi ngomong ****!"


Dan vania hanya menganggukkan kepalanya.


Ngiung ngiung ngiung ngiung.

__ADS_1


Suara sirine polisi dan ambulan saling bersautan menuju lokasi


kecelakaan tragis itu.


"Mbk vania ya? "tanya salah satu dari polisi itu.


Vania yg terpukau dengan kegantengan dari polisi tersebut hanya bisa tercengang, dan masih sempat sempatnya melihat nama polisi tersebut dari bajunya. Alex G.A.


"Mbk? "ucap alex sambil menggoyangkan tangannya ke depan wajah vania.


"Eh, iya pk"ucap vania kikuk


Dion yang masih sibuk menelfon seseorang untuk mencari tau siapa dalang dibalik rem blong motor nya,ia tidak mengetahui kedatangan seorang tamu polisi.


"lah *****, napa ada bang alex dah. Mati gua! "batin dion.


Alex gilang alfariz, kakak kandung dion yg kini tengah menjabat sebagai komandan satuan reskrim di daerah ibu kota. Umur yg tidak terlalu tua, tetapi wajahnya yg masih terlihat selalu muda.


Tambah lagi badannya yg tegap, kulit yg putih, badan yg tinggi, serta dada bidangnya yg membuat kaum hawa ingin bersandar di sana.


"dek, lu napa ada disini dah? Udah banyak goresan lagi ditubuh lu. Jangan bilang lu penyebab kecelakaan ini? "selidik alex.


"***** lu bang, kga elah. Noh liat si item remnya blong, trus gua nyungsep!"bela dion sambil menunjuk si item, motor kesayangannya


"Bwahahahaha, ngenes amat idup lu. Apa kaga ada cewe yang suka sama lu? Sampe aspal aja disosor! "


"Maaf, nih gua dianggurin gitu? "tanya vania yang mulai sebal, karna dia dari tadi kek kambing congek. Yang dianggurin dan tdk dianggap keberadaannya.


"Maaf dek, ketemu jomblo jadi lupa dunia"ucap alex dengan cengirannya.


"Lapor ndan! Korban didalam mobil ada 3 org, 1org meninggal ditempat dan 2 lainnya kritis. Sekarang sedang dibawa ke rumah sakit"tutur polisi paruh baya.


"Dan penyebab kecelakaan masih belum diketahui, "lanjutnya.


"Eh tunggu, ini anak dari 2 org korban yg didalam tadi! "sela vania.


"Lah bukannya tuh anak lu? "tanya dion.


"Yakali anak gua, org gua masih sma juga!"vania ketus.


"Yaudah sih mbknya, yelow aja kali. "sindir dion


"Kalo begitu kalian berdua ikut ke rumah sakit saja!" putus alex.


"Dek lu juga obatin tuh luka, dari pada lu kena omel mama"lanjutnya.


"Kalo kga lu bilangin, ya kga bakal kena omel gua!"dan alex yang mendengarnya hanya nyegir kuda.

__ADS_1


Dalam perjalanan ke rumah sakit, vania berusaha untuk nenangin si kecil yng ada dalam gendongannya. Dan dion hanya sibuk dengan hp ditangannya.


Saat sampai dirumah sakit, dion digiring ke UGD untuk di obati goresan pada badannya. Vania dan si kecil pun mengikuti dion ke UGD, dan disana si kecil juga diperiksa oleh dokter.


Saat semua sudah beres, dion ,vania, dan si kecil menuju


resepsionis untuk menanyakan ruangan orang tua dari si kecil. Ternyata mereka sedang berada di ruang ICU, dan bergegas menuju ruangan tersebut.


Dion dan vania sedang menunggu dokter yg sedang berada di dalam, untuk memeriksa orang tua dari sikecil.


"Keluarga pasien? "tanya dokter.


"Emm.. saya dok!"jawab vania ragu. Mendengar jawaban dari vania membuat dion langsung menatapnya tidak percaya.


"lah napa nih bocah bohong dah! "batin dion.


"Keadaan mereka sekarang sudah melewati masa kritis, kalian bisa melihatnya. "tutur dokter.


"Baik dok, terimakasih"jawab vania dengna senyuman di


wajahnya.


"Sama sama, kalau begitu saya permisi dulu. "


Vania segera melihat keadaan mereka, dion yang merasa kepo mengikuti vania masuk ke dalam ruangan.


Vania sedih melihat keadaan mereka, berbaring lemas dan tidak berdaya. Saat vania mendekat ke tepi ranjang rumah sakit, tiba tiba lelaki paruh baya itu tengah sadar.


"Nak, tolong jaga anak saya"pintanya.


"Apa?! "pekik keduanya keras dan mengganggu sikecil yang tidur dalam dekapan vania.


"Shuttt.... Sayang jangan nangis ya, tidur lagi. "ucap vania sambil pukpuk sikecil


"Lu tuh ya, klo teriak kencang amat dah! "lanjuntnya.


"Lah klo teriak ya pasti kenceng lah, klo pelan itu namanya bisik bisik ****. "bela dion.


Lelaki paruh baya itu hanya terkekeh mendengar keduanya cecok, namun raut wajahnya seakan menggambarkan kesedihan yang mendalam.


"Waktu saya sudah tidak lama lagi, tolong jaga anak saya. Kami tidak punya saudara lagi, dan tolong nama dia diganti. Saya tidak ingin jika namanya tetap, maka dia akan celaka! "tutur pria itu, vania dan dion hanya mampu mendengar penuturan pria itu.


"Kecelakaan yg terjadi pada saya itu sudah direncanakan, maka dari itu saya mohon lindungi anak saya."tuturnya.


Saat mendengar pria itu berbicara, bunyi alat detektor jantung berdetak cepat. Membuat vania dan dion ketakukan, dion segera memencet tombol untuk memanggil dokter.


Namun, salah satu dari mereka tidak bisa diselamatkan. Perempuan itu telah tiada, ibu dari sikecil telah kembali kepada tuhan. Namun pria itu juga mengalami kritis, dan diprediksi oleh dokter umurnya tidak akan lama.

__ADS_1


__ADS_2