DIVA

DIVA
Club


__ADS_3

Tin tin


Suara klakson mobil gilang telah menyapa, mikha segera turun dari kamarnya dan menghampiri gilang. Ia terpana dengan gilang, tuxedo birdong, kemeja putih, dasi panjang, rambut yang diberi pomed. Sangat pas pada tubuh atletis gilang,.


"Cantik. "gumam gilang.


"Ha? Apa? "


"Eng, enggak kok"


"Yaudah, klo gitu. "


"Silahkan masuk tuan putri, "ucap dion seraya membukakan pintu mobil intuk vania.


Perjalanan mereka menuju tempat pesta memakan waktu 45 menit, untung saja riasan mikha natural. Jika tebal, luntur sudah.


"Loh kok kesini? "tanya mikha heran.


"Emang ini tempatnya yang"


"Tapi... "


"Tenang, ada aku kok."


"Iya. "


Mikha masih bingung, gimana gk bingung coba. Katanya ke pesta, tapi kok malah berakhir ke club. Kan mikha jadi takut sendiri, debgan langkah ragu ia memasuki club itu dengan gilang.


"Woy bro, pacar lu nih? "ucap seorang laki laki yang menjabat tangan gilang.


"Iya nih"


"Cantik ya, kaga salah pilih lu. "


"Eh, mikha kenalin ini dika temen aku. Sekaligus yang ngadain pesta disini. "


"Ah iya, mikha"


"Dika, lu cantik banget sih. Ati ati sama gilang......"


Sebelum dika menyelesaikan kalimatnya, ia telah ditarik oleh gilang agar menjauh dari mikha. Mikha sempat bingung dengan perubahan pacarnya itu, namun ia tak ingin ambil pusing. Jadi ia biarkan dika dan gilang pergi mengambil minum, meskipun gerak gerik sangat mencurigakan.


Gilang datang sendirian menghampiri mikha dengan 2 gelas ditangannya, entah kemana tadi dika. Mungkin sudah menemui temannya, kenapa mikha jadi pusingin dika.

__ADS_1


"Sayang, nih minum"


"Makasih. "


"Iya"


"Napa gua jadi kepikiran omongan dika tadi, emang dia mau ngomong apa sampe gilang narik dia pergi. "batin mikha


"Kok perasaan gua kaga enak ya"batinnya lagi.


"Yang, kamu kenapa? Kok ngelamun? Gak suka minumannya ya?"tanya gilang beruntun.


"Eh.. Enggak kok. "elak mikha dan segera ia meminum minuman yang dibawa gilang tadi.


Namun ia tak menghabiskannya, ia hanya minum setengahnya. Karna rasa dari minuman itu sangat aneh, ada rasa pait, manis, asam secara bersamaan. Padahal warnanya sangat bening, dan tak ada bau.


Melihat mikha hanya meminumnya setengah, gilang merasa geram. Mau tak mau gilang harus membujuk mikha untuk menghabiskannya, meskipun ada sedikit bujukan tapi gilang tak menggunakan kekerasan.


Mungkin karna rasa cintanya yg begitu besar, membuatnya tak tega jika harus menggunakan suatu kekerasan.


Semakin lama rasa pusing menghampiri mikha, entah lah mikha merasa tubuhnya sangat ringan. Dan tak ada beban yang ditanggungnya, peraasaan ini sangat menyenangkan.


"Kau masuk ke dalam perangkatku sayang. "ucap gilang dengan memberi


kecupan ringan di dagu mikha.


"Ouhhh, kau akan suka permainan ini. Dengan begini kau tidak akan melirik zidan lagi, aku melakukan ini karna aku mencintaimu mikha. "


Segera gilang menggendong mikha ala bridal style, menuju kamar yg telah ia pesan. Gilang melangkah dengan perasaan senang, bahagia, dan tak ada lagi yang ia inginkan didunia ini selain mikha.


Ia menidurkan mikha dengan pelan, lembut, agar tubuhnya tak lecet. Namun, kesadaran mikha masih ada. Mikha berusaha melepaskan diri dari gilang, tapi tubuh mikha yang lemas tak bisa melawan gilang.


Gilang mulai dengan memberi kecupan ringan diseluruh muka mikha, ia tak merasa jijik sekalipun. Mikha hanya bisa menangisi keadaannya sekarang, ia tidak bisa membayangkannya jika ia ketahuan oleh kedua orangtuanya.


Saat kecupan gilang hendak turun ke leher, suara dobrakan pintu menghentikan aksinya. Mikha sangat bersyukur, karna ia bisa terselamatkan dari pria brengsek ini.


"Turun dari ranjang itu sekarang gilang. "desis zidan.


Sebenarnya sudah ada dipesta itu sebelum mikha dan gilang datang, kenapa zidan bisa datang? Ya, karna dika ternyata teman masa kecilnya. Awalnya zidan hanya ingin mengambil minuman, namun ia melihat gilang yg membawa dua gelas wine ditangannya membuat zidan penasaran.


Kemungkinan gilang tak datang sendiri, dan benar saja sata zidan mengikuti kemana arah gilang melangkah ternyata sahabatnya mikha yg datang bersama gilang. Ada rasa kecewa melihat mikha jalan berdua dengan gilang, namun ia tampik pikiran itu.


Dan zidan dengan setia mengawasi gerak gerik gilang, saat gilang tengah membujuk mikha agar meminum wine nya ia sudah sangat kesal! Rasanya pengen bunuh gilang secepatnya, karna dika datang menghampirinya untuk berbicara.

__ADS_1


Jadilah zidan tak bisa mengawasi mikha, saat dika telah pergi zidan melihat kembali sofa yg tadinya diisi oleh gipang dan mikha. Namun, saat ia lihat ternyata sofa itu telah kosong.


"Mikha lu dibawa kemana sama gilang"gumam zidan.


"Jangan jangan... "


Segera ia lari menuju kamar kamar yg telah disediakan di club itu, ia mendobrak satu persatu pintu kamar. Ia tak peduli jika akan mengganti kerugian yg sangat besar, karna kalian harus tau jika zidan keturunan sultan.


Tinggal satu kamar lagi yg belum zidan dobrak, kamar itu ada diujung lorong.


"Semoga saat gua datang semua belum terlambat. "pikir zidan.


Dan benar saja, saat zidan mendobrak pintu itu. Ia melihat gilang yg tengah berada diatas tubuh mikha, dan untung saja baju mikha masih melekat di badannya.


Gilang segera bangkit dari ranjang itu, dan menghampiri zidan dengan santainya.


"Apa? "


"KENAPA LU SAMPE BUAT MIKHA JADI GINI! APA SALAH DIA!!!"ucap zidan yg tak bisa santai.


"Karna gua sayang sama dia, dan klo pake cara gini. Dia seutuhnya milik gua. "ucap gilang yg santai seakan itu sudah biasa baginya.


"Cih, gk akan gua biarin lu nyentuh mikha! "


"Lu gak bisa larang gua! "


"Terserah gua, BRENGSEK! "


Setelah ucapan yang zidan lontarkan tadi, gilang langsung ditonjok habis habisan oleh zidan. Bukan ditokjok lagi sih itu, ditendang, ditampar, ahhh banyak lagi lah. Jangan lupakan gelar yang ia sandang, buat apa bisa karate kalo kaga di gunain buat jaga mikha. Ingat ya! Hanya untuk menjaga mikha!


Gilang yang notabennya tak bisa bela diri, terkapar di depan pintu. Sebenarnya mikha dari tadi memperhatikan zidan, ia tak menyangka akan diselamatkan oleh zidan. Ingatkan mikha, untuk mengucapkan makasih sama zidan.


"Kenapa lu berhenti? KENAPA? Hah! "ucap gilang yg masih saja ngegas, padahal wajahnya kini sudah tak semulus dulu. Darah juga sudah mengalir dari pelipis, mulut, dan hidungnya.


"Ck, gua masih sadar diri. Gua gk mau tangan gua kotor karna udah bunuh lu. "ucap zidan dan jangan lupakan smirk yang menghiasi wajahnya.


Setelah puas memukuli gilang si brengsek itu, ia berjalan menuju ranjang tanoa memperdulikan umpatan umpatan yg dilintarkan gilang.


Dengan sigap zidan menggendong mikha ala bridal style, mikha yg sudah sadar dengan keadaannya hanya bisa mengeratkan pelukannya. Dan bersembunyi didada bidang zidan, melihat reaksi mikha zidan hanya menyunggikan senyumnya walaupun senyum itu tipis.


"Makasih"bisik mikha.


"Iya, sama sama"

__ADS_1


"Gua sayang lu mik, jadi jangan pergi sama cowo laen lagi ya"ucap zidan lirih.


Tak lupa zidan mengecup singkat pucuk kepala mikha, ia sadar telah jatuh pada pesona mikha. Ia berjanji akan menjaga mikha dengan baik, tentu saja menyayanginya.


__ADS_2