DIVA

DIVA
Seutuhnya


__ADS_3

Sore telah tiba, vania dan juga anak anak pun sudah bangun. Mereka juga sudah rapi, karna sudah mandi. Dan baju yg dipakai juga baru, ya karna dion menyuruh anak buahnya untuk membelikan baju baru. Biasa sultan kan bebas, dari pada ambi bajul yg dirumah mendingan kan juga beli.


"Loh mas, kamu belom selesai?" tanya vania,


Terlihat dion yang masih duduk didepan laptop dengan senyum yang merekah indah sempurna, namun itu justru membuat vania bergidik ngeri.


"Hehehe, bentar lagi juga kelar."


"Nah, selesai....."


Tak lama setelah dion menyelesaikan pekerjaannya, el merengek karna ia belom makan.


"Mom, el lapel lha."


"Iya sayang bentar ya,"


"Assalamualaikum.... Mama datang nih!!!" salam mama


"Wa'alaikum salam ma" jawab mereka bersama.


"Wahhh, cucu cucu grandma pada ganteng sama cantik."


"Iya dong glenma." ucap arin.


"Pada mau ngineo dirumah grandma nggak? Nanti ada uncle alex loh, trus ada adek gavin juga."tawar mama


Sebagai informasi saja, jika gavin adalah anak dari alex dan angel sang istri. Umur gavin masih menginjak 13 bulan.


"Woahhh, el mau glenma. Ntal ada main ps sama uncle?"


"Ada dong ganteng, yaudah yuk ikut grandma."


"Glenma alin juga mau ikut, ntal buat kue ya glenma"


"Iya dong sayang"


Vania yang masih bingung dengan percakapan antara nenek dan cucunya, hanya bisa melihat. Tapi beda halnya dengan dion, ia justru tersenyum lebar bahkan memperlihatkan deretan giginya yg putih.


"Yaudah, vania mantu mama yang cantik. Mama bawa dulu mereka ya, dan dion mereka juga akan nginep dirumah mama! Mama sama papa kangen tau sama mereka, yaudah ya. Assalamualaikum anak mama."


"Wa'alaikumsalam ma "


"Mas? Tadi mama bilang apa?"


"Lah kamu gak dengerin emang?"


"Sapa suruh mama kaalo ngomong ga pake titik, mama tafi tuh ngerap mas."


"Hahahaha, tadi tuh mama mau anak anak disuruh nginep."


"Ohhh.."


"Yaudah, kita pulang yuk."


"Iya "

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, dion lah yang lebih banyak berbicara. Vania hanya merdengarkan dengan baik, sesekali ia juga memberikan pendapat. Pembicaraan dari yg berat hingga yg ringan, bahkan yang tidak pentingpun dion bicarakan.


"Loh kita ngapain kesini." tanya vania, pasalnya mobil mereka justru berbelok ke arah yang salah. Bukannya ke kanan untuk kembali ke rumah, melainkan ke kiri kepusat makanan di perum mereka.


"Ya cari makan lah sayang"


"Ohh"


"Turun yuk dah sampai."


Dion pun membukakan pintu untuk vania, dan berjalan beriringan. Jangan lupakan tangan kanan dion yg merengkuh pinggang vania erat, dan tak ada penolakan dari vania.


"Silahkan duduk princess"


"Apasih mas, lebay tau"


"Hehehe"


Seorang pelayan menghampiri meja mereka, namun mata pelayan itu tak lepas dari vania. Kan itu bisa membuat dion cemburu! Vania juga yang ditatap oleh pelayan itu, nampak biasa saja.


"Mas saya mau spageti, sama orange jus ya."ucap vania ke pelayan itu.


"Kalo kamu apa?" tanya vania ke dion. Pasalnya sedari tadi dion tidak membaca daftar menu, justru matanya melirik sinis kearah pelayan. Memangsih pelayan itu, masih muda bahkan sangat tampan. Vania jadi ragu jika dia seorang pelayan, bahkan tampangnya tak terlihat seperti seorang pelayan.


"Mas?"


"Mas dion!"


"Eh iya kenapa?"


"Samain aja lah."


"Yaudah kalo gitu sama ya mas"


"Iya mbak, tolong ditunggu."


Setelah pelayan itu pergi, vania seperti merasa ada yang berbeda dari sifat dion. Aihhh, jangan bilang jika dion suaminya itu sedang cemburu. Oh ayolah, cemburu dengan pelayan restoran? Gk elit banget dah.


"Kamu kenapa mas?"


"Enggak"


"Dih, kalo cemburu bilang kali."


"Iya aku cemburu!!"


"Hahaha, udahlah mas. "


"Ishh, kamu tuh.."


"Ini pesanan nya mbk, mas. Silahkan dinikmati, permisi"


"Udah makan dulu."


Mereka menghabiskan makan malam diluar, dengan pemandangan kota jakarta dimalam hari. Sungguh romantis, cuaca yg dingin juga sangat mendukung.

__ADS_1


Setelah selesai dengan makan malam berdua yg romantis, merekapun kembali kerumah dengan senang.


Segera setelah sampai dirumah, vania menuju ke kamar untuk mengganti bajunya. Dan dion menuju kedapur untuk mengambil minum, setelahnya dion menyusul vania ke kamar untuk mengganti baju.


Mereka berdua kembali keruang tengah untuk menikmati film, yang akan diputar dion. Tak lupa vania ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan, dan minuman untuk menemani menonton film.


Baju yng mereka gunakan seperti baju rumahan pada umumnya, tak ada yang spesial bahkan vania tak memakai polesan make up. Dion dengan kaos hitam lengan pendek, dan juga boxer hitam.


Sedangkan vania, ia memilih untuk memakai kaos dion berwarna


putih dipadukan dengan hotpants. Bahkan hotpants yg vania pakai, tertutupi oleh kaos dion yang ia pakai.


Keadaan diluar yg sedang gerimis, dan juga dinginnya angin malam mampu menusuk hingga ketulang. Menambah suasana yg romantis bagi kedua orang yg sedang melihat film, awalnya tak ada yang aneh memang.


Namun semakin lama, dion melihat vania. Ia semakin gelisah, tak tau apa yang telah ia pikirkan.


"Yang..."ucap dion dengan nada yang rendah seperti menahan sesuatu.


"Hm?"


"Kamu kenapa pake baju kek gitu sih." ucap dion frustasi.


"Kan lagi dirumah, toh juga gada tamu." jawab vania yang masih asik dengan camilan ditangannya dan matanya yg menikmati alur film yang mereka lihat.


"sabar yon, kau kuat! " batin dion.


Semakin lama dion tidak bisa menahan itu, bagaimana tidak! Sekarang tubuh vania sudah menyandar pada dada bidang dion, sesekali vania bersembunyi di ceruk leher dion. Karna ternyata film yang sedang mereka berdua lihat, ialah film horor. Apalagi tangan vania yg terkadang juga, membuat pola abstrak pada dada bidang dion.


"Yang... "erang dion.


Tak bisa menahan lebih lama lagi, dion segera ******* habis bibir vania. Vania yang kaget dengan apa yang dilajukan dion, tak segera membalas ciuman itu. Dion yang merasa vania tak membalas ciumannya, menggigit bibir bawah vania. Secara langsung mulut vania terbuka, membuat akses untuk lidah dion menelusuri lebih dalam lagi.


Tak terasa vania mengalungkan tangannya ke leher dion, tangan dion juga tak bisa diam. Tangannya menelusup kedalam kaos putih polosnya, membuat vania mengerang. Dan justru membuat dion semakin gencar. Namun pergerakan tangan dion, terhenti. Karna tangan vania mencegahnya!


"Jahngahn disinihh.. "ucap vania dengan napasnya yang tersenggal karna ciuman tadi.


Dion yang mengerti permintaan vania pun, menganggukkan kepala. Dan mengangkat tubuh vania, kaki vania memeluk erat pinggang dion. Meskipun berjalan kearah kamar, dion tetap tak melepaskan ciumannya. Bahkan ciuman dion semakin turun keleher vania, memberi tanda kepemilikan yg berbekas disana.


Sesampainya dikamar, dion menendang pintu kamar agar tertutup. Ia juga membaringkan vania dengan lembut, keata ranjang king size nya. Tubuh dion menindih vania, dengan jidat mereka yg masih menempel.


"Apa aku boleh? "tanya dion dengan suara yang serak.


Vania tak kuasa menjawabnya, dan hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah mendapat jawaban dari vania, dion melanjutkan aksinya. Hingga kamar itu, malam itu, yang menjadi saksi. Bahwa seorang vania anandita wirya, menyerahkan mahkotanya kepada suaminya dan kini ia telah menjadi milik dion seutuhnya.


Pagi harinya dion terbangun lebih dulu, ia melihat tangannya yang dijadikan bantal oleh vania. Senang rasanya, ketika melihat orang yg kita cintai menjadi milik kita seutuhnya. Seperti itu yg kini telah dion rasakan, ahhhh dion jadi ingin lagi.


"Eunghhh" lengguh vania.


Cup


Dion mengecup sekilas bibir vania, namun bukan dion namanya jika sudah melihat ada kesempatan maka ia harus melakukannya. Tak lama kecupan itu kini telah mejadi *******, dan tubuh dion yg tadinya ada disamping vania kini berpindah di atas tubuh vania.


"One more, please." ucap dion dengan nada berat,

__ADS_1


Bahkan sebelum vania menjawab dion sudsh menyerang vania lagi, lagi, dan lagi! Mereka melakukannya hingga 5 ronde, kuat syekali dion.


__ADS_2