DIVA

DIVA
eleven


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti yang dion katakan kemarin malam. Setelah pulang sekolah ia dan keluarga akan menemui orang tua dari si kecil, meskipun ada rasa cemas dan takut menjadi satu.


Namun, dion tetaplah dion. Apapun yang ia putuskan, maka akan ia lakukan.


Kini mereka semua telah sampai di Rs. Medika husada, dimana orang tua dari sikecil dirawat.


Vania gugup setengah mati, ia takut! Ia tak berani menghadapi apa yang akan terjadi nanti.


"Va, tenang aja. Gua disini, dan akan selalu disamping lu"ucap duon menenangkan.


Dion mengeratkan pelukannya dipinggang vania posesif, dan memberikan semangat untuk vania.


"Pa, ma. Ini ruangannya "jelas dion.


"Yaudah, kita masuk sekarang? "tanya papa.


Dan hanya diangguki oleh semua anggota keluarga.


Pintu perlahan terbuka, menunjukkan sesosok pria paruh baya yang tengah berbaring dengan selang yang membantu ia untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Pria itu perlahan membuka matanya, dan senyumnya merekah melihat sikecil yang berada digendongan vania.


"Saya ingin mengucapkan terimakasih, karna telah merawat anak saya. "ucap pria itu.


"Saya harap kalian bisa menjaganya sampai ia dewsa, dan jangan pernah kalian membedakan ia dengan anak kandung kalian sendiri. "lanjutnya.


Ucapan pria itu membuat semua yang ada di kamar itu terkejut, dengan keputusannya. Terutama bagi vania, ia pikir ini kali terakhir ia mengasuh si kecil. Ternyata tidak, TIDAK!  Kata itu sangat membuat vania bahagia.


"Tapi kenapa pak? "tanya papi.


"Karna saya sudah tidak lama lagi, dan jika kalian ingin memberikan nama untuk anak saya. Saya tidak keberatan. "ucap pria itu.


Semua anggota keluarga yang ada di ruangan itu hanya menyimak pembicaraan antara dion dan pria paruh baya itu.


Setelah lama berbincang bincang dengan pria itu, dion melihat ada yang aneh dengan pria itu. Ia melihat bibirnya lebih pucat, dan tangannya semakin dingin.


Dion kalang kabut dibuatnya, ia langsung memanggil dokter untuk tindakan lebih lanjut. Vania terkejut dengan gerak gerik dion, saat ia sadar bahwa orang tua sikecil telah kritis kembali.


Semua org yg ada diruangan itu segera keluar, agar dokter bisa menangani lebih lanjut.

__ADS_1


"Yon tenang, kalo kamu gini sikecil gimana?" ucap vania.


Sikecil sedari tadi tidak terusik dengan keramaian di rs, ia lebih memilih tidur di gendongan vania.


"Maaf va, aku kaget aja tadi" ucap dion bersalah.


"Iya, tenang ya. Dokter juga udah di dalam"ucap vania.


Satu jam telah berlalu, dokter juga telah keluar untuk memberikan kabar untuk semua org. Entah itu baik ataupun buruk, dan tidak selalu jujur tentang keadaan pasien. Memang itu lah tugas sebagai dokter.


"Dok, bagaimana? "tanya papa.


"Maaf, kami telah berusaha sebaik mungkin. Tapi tuhan berkehendak lain, beliau sudah kembali kesisi-Nya. " tutur dokter dan memilih untuk pergi dari ruangan itu.


"Yon? Tenang ya" ucap mama.


"Sekarang kita pulang, dan persiapkan pemakamannya. " tegas papa.


Pemakaman berlangsung dengan lancar, satu per satu rekan kerja papa dan papi meninggalkan rumah dion. Jika saja dion tau alamat rumah dari orang tua sikecil, maka ia akan menyerahkan pemakaman ke pihak keluarga.

__ADS_1


Sayangnya ia tidak tau keberadaan mereka, dan untungnya saat dion berbincang bincang tadi, ia sempat bertanya nama pria itu.


__ADS_2