
Karna hari sudah siang, dan mereka juga belum sarapan. Dion mengakhiri, olahraganya itu. Dan kini vania berjalan dengan tertatih, karna permainan dion yg membuat vania tak bisa bierjalan dengan benar.
"Yang, kita delevery aja ya."
"Nggak mau, aku masak bentar juga jadi. "
"Tapi kamu kan susah jalan. "
"Ya kan, ini gara gara kamu juga. "
"Tapi kan kamu yang minta cepet yang. "
"Apasih. "elak vania yang merasa pipinya sekarang tengah merah.
"Tadi yg bilang, mashh fahhstterhh pleahhssee. "goda dion.
"Kamu diem, apa gada jatah? "ucap vania sinis.
"Iya iya, aku diem"
Mereka berdua memakan makan siang dengan lahap, ya karena kan mereka blom sarapan dari tadi. Aihhh, salahkan dion untuk itu.
Sehari tanpa anak anak, membuat semangat vania menurun. Gk bisa! Ntar sore harus jemput mereka! Vania gk mau tau!
"Mas? Ntar sore jemput el sama arin ya. "bujuk vania.
"Yahhhh, kok cepet banget sih yang. Kan aku masih mau lagi. "
"Yaudah kalo gak mau! Aku gak maksa! "ucap vania sinis.
"Iya deh iya. "
Seperti yang vania minta tadi siang, kini mereka berdua tengah berada di dalam mobil. Dan menuju ke rumah mama, untuk menjemput kedua anak mereka.
Sesampainya dirumah mama dan papa, vania segera turun dan menuju ke dalam rumah. Mengabaikan dion yg temgah memanggilnya, tenang saja vania sudah bisa jalan dengan cepat walaupun sedikit nyeri.
"Assalamualaikum, vania dateng. "salam vania.
"Wa'alaikumsalam, eh mantu mama yang cantik dah dateng. Dion sama kamu kan? Eh gimana va, jadikan buat adek kemaren malem"goda mama
Mendengar godaan mama, membuat pipi vania terasa panas. Ahhh ia harus menghindari percakapan, yang mengandung unsur tidak baik untuk jantungnya.
"Hehe, ma. El sama arin dimana? Baby gavin juga ada disini ya ma? "
"Lagi dihalaman belakang sama grendpa nya, klo gavin udah diajak pulang dari tadi siang sama alex. "ucap mama.
"Yaudah ma, vania ke halaman belakang ya. "
"Iya sayang. "
Vabia pun segera ke halaman belakang untuk menghampiri kedua anaknya, terlihat disana el dan juga arin sedang bermain dengan papa.
__ADS_1
Mereka bertiga tengah asik bermain, apalagi el. Ia sangat tertarik dengan burungnya papa, maksudnya burung kaka tua punya papa.
"Hai anaknya mommy. "
"Mommy.... "
"Papa. "
"Loh kamu kok udah kesini aja, kirain el sama arin nginep disini sampe besok. "ucap papa.
"Enggaklah pa, kan vabia gak bisa jauh jauh dari mereka. "
"Yaudah papa kedalem dulu ya, ada berkas yang belom papa tanda tangani. "
"Iya pa "
Papa kembali kedalam dengan raut wajah yang, entahlah tidak ada yg bisa mengerti perubahan raut wajah papa. Setiap kali ia bertemu dengan el, raut wajahnya selalu menyimpan sebuah rasa kecewa.
Mungkin, tapi entahlah hanya papa dan tuhan yg tau.
Setelah kepergian papa, dion mebghampiri vania dan kedua anaknya.
"Lagi main apa sih anak daddy? "
"Itu daddy, bulungna lucu. "
"Lucuan burung punya daddy, iya kan mommy. "ucap dion seraya menaik turunkan alisnya.
"Udah lah el, daddy kamu emang kurang sehat hari ini. Jadi biarin aja ya. "
"He.um mom"
Dihalaman belakang penuh dengan canda, tawa. Seperti, tak ada yg bisa mengganggu keluarga mereka.
Tak lama, sebuah benda pipih dari saku dion bergetar. Dan dion mulai mengangkatnya, tidak! Dion tidak menjauh untuk mengangkatnya, ia takut jika vania akan curiga kepadanya. Dan menuduh jika dion berselingkuh, tapi itu hanya pemikiran dion.
Sedangkan vania? Ia tidaj berniat sedikitpun untuk cemburu, bahkan curiga terhadap dion. Hanya dion yg berlebihan disini.
Drtt drtt drtt
"Ada apa mia? "
"Jadi begini pak, saya ingin bertanya. Apakah bapak membawa arsip pemasaran?"
"Saya tidak membawa arsip apapun."
"Coba kamu cek di rak saya, munhkin tersimpan disitu. "
"Saya sudah cek, tapi tidak ada pak. "
"Mapnya warna apa? "
__ADS_1
"Map ordner warna merah, dengan label 10"
"Nanti saya carikan dirumah saya, "
"Baik pak, selamat siang. Maaf mengganggu aktivitas bapak. "
"Iya, siang. "
Tut tut tut
Setelah menerima tlfn dari mia sekretarisnya, dion segera beranjak dari tempat duduknya. Sebelum itu ia sempatkan mencium kening vania, dan juga mencium pipi el serta arin.
Saat kepergian dion, vania mengajak kedua buah hatinya itu untuk ke kamar dion. Dan mengajaknya tidur, karna sedari tadi ia melihat el maupun vania srring srkali menguap. Dan vania memutuskan untuk menidurkan mereka, dan membanhunkan saat makan malam.
Tentu saja sebelum tidur mereka nandi terlebih dahulu, supaya tak lengket karna habis bermaun tadi.
Dion berjalan menghampiri papanya, yg sedang asik menonton berita di tv. Tanpa ditemani mama, karna mama masih sibuk mengurusi bunga bunga yg ada di halaman depan rumah.
"Pa? "
"Kenapa? "
"Pa, dion mau tanya. "
"Apa? "
Raut kedua pria itu, sudah berubah. Menjadi tegas, berwibawa layaknya seorang pemimpin. Karna papa tau, jika arah pembicaraan ini akan mengarah pada kerjaan kantor.
"Apa papa bawa arsip map ordner warna merah? Label 10?"tanya dion.
"Buat apa? Bukannya itu sudah 10th yg lalu? "
"Memang, tapi bukannya papa menyuruh dion untuk memeriksa semua arsip yang berkaitan dengan kantor setiao 10th sekali? "
"Ahhh, kamu benar. Coba kamu liat di ruang kerja papa, cari di box arsip. Kalo gak ada, di Rotary filling yang ada dipojok ruangan. "
"Iya pa"
Dengan petunjuk dari papa, dion berjalan menuju ruang kerja papa. Yang berada di lantai 2, terletak berdampingan dengan perpustakaan mini yg dibangun papa untuk dion.
Dionpun mulai mencari keberadaan map itu, mulai dari Rotary filling yang di ucapkan papa tadi. Hingga ke rak yang paling tinggi, tapi ia tak segera menemukannya.
Namun saat ia membuka laci, meja kerja papa. Disana terdapat arsip yang ia cari, karna arsip itu sangat penting.
"Huffttt, akhirnya ketemu juga. "
Srekkk
Sebuah stopmap folio, jatuh disamping kaki dion kala mengambil arsip map merah itu. Hingga dion bermaksud ingin mengambilnya, namun dalam map itu. Terdapat informasi data diri dari seseorang, bahkan ada bukti tes DNA.
Yang membuat dion lebih bibgung lagi, mengapa foto anaknya ada didalam stopmap itu. Apakah ada yg disrmbunyikan oleh papa dari dion? Apa sepenting itu hingga dion tak diberi tau? Tapi dion berhak tau, karna sekarang ia adalah daddy dari seorang anak yang bernama Devan erland alfariz!
__ADS_1
Saat dion mulai membaca kata demi kata yang ada di lembaran kertas, yang tersimpan rapi dibalik stopmap. Betapa terkejutnya dia, disana tertulis banyak informasi tentang orang tua kandung el. Dan mengapa papa melakukan tes DNA terhadap el? Dan hasilnya mengapa harus 99,99% cocok? Apa mungkin...?