
"Maafin dion ma... "
"Sudah sudah, kamu ini. Maafin mama juga ya, udah pergi gak bilang sama kamu. "
"Ehem... Maafin papa ya ma, papa bakalan jelasin semua ke mama. Tanpa ada yang papa lebih lebih, pokoknya secara detail"
"Ck, papa telat! Mama udah tau semua kalik! Dahlah pokoknya papa harus mama hukum! Sini, kasih mama black card! "ucap mama.
"Kan mama udah punya 2, masa kurang. "
"Ya kuranglah pa, kan kartu satunya buat beli sepatu. Nah yang satunya buat beli baju, nah yang ini buat beli tas! Cepet sini, buat apa juga papa pegang black card! Papa cukup kartu debit aja ya"
Dengan terpaksa papa menyerahkan blackcard satu satunya milik papa, yg lain sudah diambil mama. Dan sekarang didompetnya hanya berisi 3 kartu debit, yg isinya masing masing isinya mungkin tak lebih dari 100jt.
Semua orang yang ada diruangan itu tersenyum lega, setidaknya beban dion berkurang sedikit. Dan kini sebuah senyuman sudah bisa tercetak diwajahnya, meskipun vania belum sadar. Tapi dengan kembalinya mama, bisa membuat dion merasa lega.
Satu demi satu orang berpamitan untuk pulang, dan beristirahat. Kini diruangan itu hanya ada dion, el, arin, mama, dan vania yang masih belum sadar. Sedangkan papa, ia berpamitan untuk pergi ke kantin. Karna tadi mama merengek meminta makanan, jadu alhasil papa kekantin untuk membelikan mama makanan.
"Yon? "
"Kenapa ma? "ucap dion yang masib berkutat dengan laptopnya.
Dion sudah kembali mengurus perusahaannya, karna tadi sang mama tercinta mengomeli habis habisan! Karna ia tak bertanggung jawab, dan mengalihkan masalah perusahaan kepada anak buahnya.
"Mama mau bicara sama kamu"
"Iya ma. "
Mendengar ucapan mama yg serius, membuat dion menyimpan laptopnya ke atas meja.
"Sebebarnya vania keguguran itu bukan tidak sengaja. "
"Maksud mama? "
"Ada dalang dibalik kejadian ini. "
"*******! Kenapa gua gak curiga dari awal sih! "gumam dion.
"Ya, kamu yang kurang pinter! Makanya kalo punya otak tuh dipake, bukan cuman buat pajangan doang! "
Jleb
Ucapan mama tadi mengenai tepat di uluh hati dion, nylekit ternyata jika yang mengatakan mama kandung sendiri.
"Ya.. Kan dion lagi kalut ma"
"Halah ngeles aja kamu. "
__ADS_1
"Hehehe, tapi apa mama tau orangnya? "
"Tenang mama udah urus semuanya, kamu gak perlu khawatir! Dan tetep inget pesan mama, jangan sampai kamu lupa. Bahwa kamu sekarang mempunyai dua buntut, jadi kam harus kuat! "
"Pasti ma, pasti! "
Prettt
Suara aneh itu terdengar memenuhi ruangan kamar rawat vania, bersama dengan bau yg sangat tak sedap.
"Dion! Kamu kentut?! "
Dion hanya menunjukkan senyum bodohnya, dan langsung lari kearah kamar mandi.
"Dasar anak durhaka, udah tau maknya lagi disini. Eh malah dikentutin, dikata kentutnya wangi bunga melati apa! Yang ada tuh kentut wangi bunga raflesia! "gumam mama.
"Kamu tenang saja va, orang yang mencelakai kamu sudah berada ditangan mama. Dan mama gak bakal buat hidup dia tenang, tapi mama kemarin udah siksa dia kok. "ucap mama lirih.
Tanpa diketahui, el mendengar penuturan sang nenek. Sebenarnya ia sudah bangun, tapi ia memilih untuk pura pura tidur dan mendengar perkataan neneknya. Ya, sedari tadi el dan arin tengah tidur. Namun, karna arin yang tidurnya tak bisa diam. Membuat el terbangun, dan bisa mendengar ucapan neneknya.
Tak lama papa kembali dari kantin dan membawa banyak sekali makanan, lalu disusul dion yang keluar dari kamar mandi. Dan el pun memilih bangun, perutnya juga sedari tadi lapar.
Hari ini sudah seminggu lebih sejak insiden mama pulang, sekarang mama tengah berada diruang tengah menonton sinetron kesukaannya sendirian. Dion, ia telah pergi kekantor. Suaminya, juga ada urusan dikantor tadi mereka berdua beranhkay bersama. Arin, ia berada dirumah besannya. Dan kini hanya el yg masih ada dikamarnya.
Sikap mama terhadap el tidak ada yang berubah, meskipun ia sudah tau kebenarannya. Namun, tetap saja mama tetap menyayangi el layaknya seirang nenek menyayangi cucunya.
El yang sudah terbangun dari tidurnya berjalan mengjampiri maria, sesekali ia juga masih menguap karna ngantuk yang masih melanda. Tentu saja sebelum el keluar kamar, ia sudah membasuh wajahnya dan menyikat gigi.
"Morning juga cucu grandma, duh gantengnya kamu. Sini duduk disamping grandma."
El duduk disamping maria, dan maria juga memeluknya. Sungguh sangat indah melihat pemandangan cucu dan neneknya ini, akan membuat kita menjadi lebih iri.
Namun, perubahan raut wajah el yg mendadak serius. Tidak disadari oleh maria, dan tetap menonton sinetron kesukaannya.
"Glendma? "
"Yess?"
"El mau bicala. "
"Iya kenapa sayang? "
"El mau ngelindungi mommy! "
"Terus? "
"El mau glendma ajalin el, el nda mau mommy sakit lagi. "
__ADS_1
Maria terkejut mendengar ucapan cucunya, bagaimana bisa el yang usianya masih belum genap 3th bisa bicara seperti itu.
"El dengel waktu glendma bilang, kalo mommy diganggu olang jahat. "
"Astaga! Jangan jangan waktu itu el sudah bangun? "batin maria.
"Kamu bicara apa sih sayang? "
"El janji, el nda bilang sapa sapa. El pasti nulut sama glendma. "
"Kamu mau diajarin grandma apa? Buat kue? Hahahaha"
Maria masih berusaha mencairkan suasana, dan mengalihkan topik pembicaraan el. Namun, memang el sangat mirip dengan dion. Jadi, ia tak bisa terpengaruh dengan ucapan grandmanya.
"El selius glendma! El tau glendma, punna geng. El juga punna geng, gengna el semua cowo!"
Aishhh, baiklah. Maria tak bisa menutupi lagi, el terlalu cerdas dan tak bisa dibohongi.
"Baiklah sayang, tapi apa kami yakin? "
"Yess, glendma! "
"Disana banyak orang jahat loh el, terus ada darah banyak! Oh iya, disana juga banyak orang mati el. "ucap maria yg menakut nakuti el.
"El nda takut lha glendma, el mau ikut glendma! "ucap el kekeuh.
Akhirnya, maria pun mengajak el ke mansionnya yang berada di tengah hutan itu. Didakam perjalanan tak ada bicara, raut wajah el juga menunjukkan bahwa dia pantas untuk terjun ke dunia hitam itu. Meskipun el masih kecil, wajahnya yang tegas, dingin dan berwibawa sudah melekat padanya.
"Jadi ini lumah glendma? "
"Iya, yuk turun"
Kedua manusia itu turun dari sebuah mobil alphard hitam, langkah yang pasti dan tegas mengiringinya. Sambutan dari para bodyguard sepanjang jalan menuju pintu utama,
Bodyguard yang dilalaui mereka sempat mengernyit bingung, pasalnya nyonya besarnya itu tidak pernah membawa orang lain ke mansion itu.
"Glendma, nda enak lha bauna! "kesal el.
Karna el tengah menuju pekarangan rumah, dan melewati beberapa kamar yang dijadikan ruangan penyiksaan.dan masih tercium bau anyir darah.
"Kamu akan terbiasa dengan bau ini sayang. "
El hanya menganggukkan kepalanya.
Maria muali mengumpulkan satu persatu anak buahnya, di pekarangan belakang rumah. Disana maria berdiri di sebuah panggung kecil, dan disampingnua terdapat el yg berdiri dengan angkuhnya.
"Baik, saya disini ingin mengumumkan sesuatu. "
__ADS_1
"Bahwa, el. Cucu saya, akan menggantikan posisi saya sebagai pemimpin kalian. Jangan melihat el dari umurnya, tapi lihatlah dari kemampuannya. Setelah ini kita nilai, apakah ia pantas untuk dijadikan seorang pemimpin. "
Maria mengajak el pergi kesuatu tempat, yang berisi satu orang yg masih hidup. Tentu saja untuk menilai, apakah el mampu menjadi seorang pemimpin atau tidak.