
Cup
Sebuah kecupan mendarat di pipi kiri vania, dion? Bukan bukan dion yang mencium vania, melainkan El. Karna sewaktu dion mendekatkan wajahnya kearah vania,el menyadari jika daddy nya itu akan mencium vania. Dan akhirnya el menjauhkan wajah dion,dan ia lah yg mencium pipi vania.
"Makasih abang."
"Iya mommy cantik."ucap el seraya mengejek dion yang sekarang tengah kusut wajahnya.
"Anak tuyul emang!"gerutu dion.
Acara pelepasan vania berjalan layaknya acara pelepasan pada umumnya, tak ada yang spesial di acara itu. Kini vania pulang dengan menggendong arin, dan dion menggendong el. Mereka sudah tertidur selagi acara masih berlangsung, sedangkan anggota keluarga yang lain sudah pulang sedari tadi.
Perjalanan pulang kerumah dengan mobil, hanya diisi dengan keheningan. Vania juga tertidur dimobil, jadilah dion yg masih terjaga. Karna dialah yang menyetir,jelaslah klo tidur kan ntar nabrak.
Sesampainya dirumah, dion memanggil bi asih dan pak parto untuk membantu menggendong arin dan juga el. Sedangkan vania, tentu saja digendong oleh dion.
"Sweetdream my wife, i love you." ucap dion ,tak lupa ia juga mengecup pucuk kepala vania.
Pagi harinya vania bangun dengan keadaan yg sudah fresh, kini ia tak perlu berangkat ke sekolah pagi pagi. Tak perlu ngerjain tugas yg menumpuk? Hukuman? Tentu itu tidak akan terjadi.
Vania sekarang adalah seorang ibu rumah tangga ,yg aakn menjaga keluarganya dari ulah para tante girang di prempatan komplek.
"Morning, mas"sapa vania.
Cup
Ia pun juga mencium pipi dion, supaya bangun dari mimpinya.
"Mas? Bangun yuk, udah siang ini. Kamu gak kerja?"
"Eunghhhh"lengguh dion
"Mas?"
Mendengar ucapan vania, langsung membuat mata dion terbuka!
"Kamu bilang apa tadi?"
"Bangun udah siang?"
"Bukan yang itu."
"Kamu gk kerja?"
"Aishhh, yang satunya lagi."
"Mas?"
"Nah itu tuh! Kamu manggil aku mas?"
"Iya kenapa? Gak suka ya?"
"Aku suka banget malah, kalo manggil itu aja ya."
"Iya mas "
"Duh, makin cinta aku kalo tiap hati kamu gini terus."
"Gk usah lebay, kamu bangunin anak anak ya. Aku mau turun ke bawah mau buat sarapan."
"Iya sayang."
"Eh, jangan lupa mandi. Bajunya udah aju siapin diatas sofa,
kamu tinggal make aja."
"Makasih cantik."
__ADS_1
Setelah vania pergi kebawah, dion segera mandi dan membangunkan kedua kurcacinya itu. Ahhh senangnya jika vania sudah tak bersekolah, ya meskipun saat vania sekolah ia tetap mengutamakan dion dan sikecil. Tapi saat vania telah lulus, terasa lebih menyenangkan.
"Princess, prince. Wake up." ucap dion.
"Hai princess," sapa dion yv telah melihat arin bangun,sedangkan el masih sibuk dengan mimpinya.
"Hallo daddy, i want dlink."
"Ohh, oke. Done."
"For you."
"Tengyu."
"Prince? Bangun yuk."
"Arin? Kamu ke bawah dulu ya, bantuin mommy didapur."
"Oke, daddy."
"Ganteng, anaknya daddy dion yang gantengnya kayak sehun exoh. Bangun yuk dah mau sing loh, bentar rejekinya dipatok ayam."ucap dion yang berusaha membangunkan el.
"Kan kita nda punya ayam lha dad,"sahut el yg masib dengan keadaan mata tertutup.
"Eh iya juga yak, bentar dah. Nih anak astaga, matanya merem tapi masih bisa jawab. Gua jeburin kali ciliwung baru tau rasa lu." gumam dion
"Yaudah deh, dipatok cicak aja dah."
"Kan cicak nda matok."
"Eh busyet, tau aja lagi."gumam dion
Sudah hampir 15 menit , el tak kunjung bangun. Dan dion masih juga berbicara dengan el, dengan patok mematoknya itu.
Karna merasa dion tak segera turun vania pun menyusulnya, ia tau jika anaknya yang lelaki memang sulit untuk dibangunkan.
"Anak kamu tuh, malah ngajak ngobrol. Padahal tuh mata merem, masih aja nyaut. " kesal dio.
"Sayang, anaknya mommy bangun yuk."
Cup
Cup
Cup
El langsung bangun dan menuju ke kamar mandi, karna ia telah mendapay ciuman di pipi dan juga hidungnya dari vania. Memabg itulah cara ajaib membangunkan el, jika tidak dibangunkan vania, el akan bangun siang.
"Masih kecil juga modus banget sih tuh anak, heran gua. Anak siapa sih." gerutu dion
"Anak kamu itu, nurun dari bapaknya sih."
"Hehehe, tau aja sih kamu."
"Eh yang?"
"Apa?"
"Aku juga mau."
"Mau apa?"
"Cium"
"Gada!."
"Mom, lapel." ucap el yang sudah berada di depan vania.
__ADS_1
"Yaudah kamu turun kebawah dulu ya, mommy mau beresin kamar kamu."
"Yes mom."
El sudah turun kebawah, tapi tidak dengan dion. Sekarang didalam kamar hanya vania dan dion, tak ada lagi kurcaci yang akan menggangu.
"Mas? Mau ngapain kamu?" ucap vania.
Dion semakin mendekat, karna gugup vania memundurkan dirinya hingga..
Duk
Tubuh vania sudah mentok didinding kamar, tak ada lagi celah untuknya kabur. Tangan dion juga sudah mengunci vania, perlahan wajah dion mendekat. Dion semakin mengikis jarak diantara mereka, hembusan nafas dion menerpa wajah vania.
Cup
Benda kenyal itu menempel pada bibir vania, hanya sebuah kecupan. Namun, dion menjadikannya sebuah *******. Vania yg masih shock tak kunjung membalas ciuman itu, tak habis akal dion menggigit bibir bawah vania. Hingga vania membuka mulutnya, segera dion membawa lidahnya menyusuri mulut vania.
Semakin lama vania terbuai dengan ciuman itu, bahkan tangannya sekarang tengah berada di leher dion. Disela sela ciuman itu, dion tersenyum karna vania telah membalasnya. Tangan kanan dion mambawa pinggang vania agar lebih dekat dengannya, tangan kirinya pun berada dileher vania agar memperdalam ciuman mereka.
Merasa vania mulai kehabisan napas, dion melepas ciuman mereka. Dan beralih ke leher jenjang vania, desahan lolos dari mulut vania. Membuat dion semakin gencar, untuk menyentuh vania.
"MOMMY! DADDY! EL LAPAL LHA!!!" teriak el dari lantai bawah.
Teriakan el menyadar kan vania, tapi tidak dengan dion.
"Mas? Ssudah dulu ya,"
"Enggg"
"A..aanak anak lapar."
"Hufttt, iya deh. Tapi nanti malem dilanjutin ya, "pinta dion.
"Iya."
"Yaudah yuk turun."
Vania dan dion turun bersama, dengan tangan dion yang merengkuh pinggang vania.
"Lama! El lapel lha, "
"Iya sayang , maafin mommy ya."
"Lebay, adek aja. B aja tuh." ucap dion
"Dad diem ya, "
"Abang, gak boleh gitu ya sama daddy, coba sekarang monta maaf."
"Solli mom, solli daddy."
"Iya bang, yaudah sekarang kita makan ya."
Meja makan ramai dengan canda dan tawa, membuat banyak pasang mata iri dengan keharmonisan mereka.
"Daday berangkat dulu ya, jangan nakal. Abang jagain mommy ya, "pamit dion.
"Siap bos." ucap arin dan el bersamaan.
"Aku pergi dulu ya, sayang. Kalo kangen langsung ke kantor aku aja." pamit dion kevania, tak lupa ia juga mengecup kening vania.
"Love you." bisik dion.
"Love you too."
Sekarang rumah telah sepi, jika begini vania akan merasa bosan. El dan arin sudah ke taman untuk bermain dengan gengnya, itu sih kata el. Dan bi asih juga jagain mereka, raka? Ia sudah berangkat sekolah. Pk parto, juga lagi ke warung buat beli kopi. Padahal kan dirumah udah ada kopi, tapi pak paro gak mau. Kalo diwarungkan punya banyak temen, tapi itusih katanya pak parto.
__ADS_1