DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
Naya si cerewet


__ADS_3

Seorang gadis yang duduk di kursi belajar menatap buku yang ada di tangannya. Sebuah buku kedokteran yang sangat ia dambakan, sayangnya karena keterbatasan ekonomi membuatnya harus berusaha lebih keras agar bisa mendapatkan biaya kuliah. Jika ia gagal tahun ini mendapatkan beasiswa maka ia akan mencobanya tahun depan.


Naya Revina Adam seorang gadis cerewet yang hidup di kota metropolitan dengan tantangan hidup yang harus ia jalani.


Sebagai tokoh utama dalam hidupnya maka ia harus menjalani tanpa mengeluh. Bersyukur besok adalah acara donor darah yang sering diadakan oleh PMI jakarta. Naya harap setidaknya jika ia tidak bisa menjadi seorang dokter ia bisa membantu banyak orang.


sedangkan dilain tempat seorang pria sedang menatap langit menikmati bintang yang hanya beberapa saja tanpa di temani bulan.


Brian Mahesa laki-laki yang berubah dingin, tanpa ada lagi kehangatan yang terpancar.


Brian si pria patah hati, gagal move on menatap berita yang tersebar jika mantan kekasihnya kini berpacaran dengan bos perusahaan. membuatnya terpuruk, menatap minuman dalam botol itu meneguknya sedikit demi sedikit.


hingga membuatnya terus meracau menyebut nama mantannya. Melisa.


*****


Pagi yang cerah ini sebuah keluarga sederhana sedang bersiap-siap untuk melakukan kegian mereka masing-masing. Dipimpin oleh kepala keluarga bernama Marsan Adam dan istrinya Delima Adam menatap satu persatu anaknya, netranya berhenti di hadapan sangat anak kedua, Naya.


"Teh," panggil ibunya pada anak gadis satu-satunya.


"iya, Mak?" gadis itu menatap ibunya dengan tanda tanya.


"nggak jadi," suasana hening itu berubah jadi canggung, sayangnya kecanggungan itu juga hilang karena suara tertawa Bagas si bungsu.


"pft."


"kenapa kamu ketawa?" tanya Mak Delima ia menatap anak bungsunya ini dengan tatapan garang.


"nggak, Ma." Bagas langsung terdiam ketika mendapat pelototan dari sang Kaka kedua.


"kira Ema mau drama, soalnya suasananya mendukung." seru Langit yang datang mengambil tanhan Ayahnya untuk disalimi.


Mak Delima menatap datar ketiga anaknya, "drama apa? Ema kan bukan pemain senetron. kecuali kalian nganggap Ema itu artis." ucap Ema narsis.


Pak Marsan yang melihat istrinya narsis, menatap mereka bertiga sambil berbisik, tapi masih bisa didehgar, "sudah biar Ayah yang urus." Mak Delima menatap suaminya dengan tatapan melotot.

__ADS_1


"apa, Pak?" teriak Mak Delima.


ketika Ema delima hendak mengeluarkan jurus petasan trektek ketiganya langsung mengambil tangan ibu sang ibu dan menciumnya. secepat kilat berlari menaiki motor meninggalkan pak Marsan yang menjadi korban.


pak Marsan hanya bisa mengangguk mendengar Mak Delima menyeramahinya sesekali menggesek telinganya yang sedikit mendengung.


sedikit drama singkat di pagi hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Naya si gadis periang yang mengikuti kegiatan PMI di kota Jakarta yang luas. Kini ia hendak ke masjid Al amanah untuk membantu PMI yang sedang menggalang donor darah.


"Ayo! Karl ini udah jam berapa? Keburu Dzuhur nanti keburu kelar donor darahnya," cecar Naya.


Karlina memutar bola matanya,"apaan sih Naya bawel baru juga jam sebelas,"


"Ia jam sebelas lewat 43 menit, maksudnya," ucap tajam Naya.


"Sabar Naya ini lagi di jalan, kamu ribut Mulu udah yang di bonceng diam aja,"


"Heh, nuyul! Siapa yang pegang maps?! Udah tau buta arah juga idupin mangkanya rutenya biar di tunjukkin," Karlina mengambil alih hp dan menyetel mode rute. "Dah bener tinggal di depan belok kanan lagi aja,"


"Eh, iya deng, lagian masa di tengah jalan ketemu kambing padahal kan di jalan raya yah mana ada di jalan raya ada rumput,"


"Tau ah, Nay! Noh di depan udah keliatan masjidnya,"


"Assalamualaikum!" Keduanya mengucap salam di keramaian terdapat pak Yayan ketua PMI setempat dan beberapa anggota lainnya.


"Eh, eh! Tolong!" Bapak bapak di tempat parkir masjid tiba tiba meminta tolong ketika istrinya mendadak pingsang.


Para PMI sigap membawa ibu Maya ke pelataran masjid, Bu bini menaruh kain di bawah kepala ibu Maya pak Bram suaminya menaikkan kedua kakinya hingga menjadi 90 derajat. Yang lain memijat kening dan saraf saraf agar ibu Maya bereaksi beberapa menit kemudian ia sadar dan di beri teh.


Setelah berbincang beberapa menit Naya menarik kesimpulan jika suami istri ini adalah orang yang berpengaruh buktinya mereka dikenal oleh hampir seluruh pendonor darah dan seluruh anggota PMI sepertinya Naya kudet kurang up to date


"Gimana kalo kapan kapan berkunjung ke Mahesa Medika, agar bisa menambah wawasan," ujar Bram.

__ADS_1


"Boleh pak jika tidak merepotkan kami senang sekali jika di beri ilmu," ucap pak Yayan


"Wah, Karl si bapaknya kaya yang punya rumah sakit yah bisa nyuruh kunjungan kaya home tour, ini mah hospital tour, hihi,"


"Emng kamu kayanya otaknya harus di stel ulang deh Nay! Jangan korea Mulu!"


"Deh bang jemin suamiku!"


****


Naya membuka semua buku yang ia punya isinya adalah tabungan di dalam pouch khusus, ia menghela nafas ayahnya yang hanya juru masak cepat saji masih belum bisa menutupi hutang neneknya yang hedon, beberapa hari lagi Jamal si sok ganteng cucu dari pak Burhan yang akan meminta Naya menjadi istrinya. Cowok anak mami mana Naya mau, gitu gitu juga punya level seperti jaemin.


"NAYAA!" Si Ema Mirah delima ibu dari tiga orang anak yang dua laki laki dan satu perempuan. Teriakan Ema Mirah memanggil anak keduanya untuk makan.


Naya langsung keluar dari kamarnya nyelonong ke ruang makan,"kamu tuh kalo di panggil nyahut Naya! Ema kamu ini sudah panggil beberapa kali nggak di dengar, Ari maneh teh eta celi di gadekeun kamana?" Ucap Ema menggambil nasi untuk Abah.


(Itu telinga di gadaikan kemana)


"Maaf ma, tadi pake headset," ucap Naya menunjukkan giginya.


"Hudsat headset. nah nih bujang bujang kemana di panggil nggk nyahut, nggak pada mau makan apa yah," Ema berdecak kesal.


Naya berbisik pada bapaknya,"Yah, Ema mau ancang ancang," pak Marsan mengangguk setuju.


"BAGAAS! LANGIIT!" Ema langsung mengambil minum meneguknya hingga tandas. Kedua bujang Ema datang dengan Bagas si paling kecil kini duduk di bangku SMA mengorek telinganya. "Garadekeun kamana caleli eta?" (Pada di gadaikan kemana kupingnya)


"Maaf ma abis telpon ayang beb jadi tidak kedengaran," canda Bagas. Langit hanya diam melanjutkan makannya.


"Bu bab beb, ema kamu nih harusnya yang pertama di agungkan tiga kali kata nabi juga, baru bapak kamu, masa ini mah pacar kamu dulu," ia menatap suaminya," subuh kasih wejangan tuh Yah buat si Bagas,"


Bagas membelalakkan matanya, pasalnya hukumannya adalah wejangan dari si ibu dari subuh hingga pagi sambil menemani memasak, yah anggap saja backsound-nya.


"Dek, mangkanya jangan mulai, kamu kalo ada apa apa bilang sama kakak aja jangan Ama teteh," Bagas menatap melas kearah Langit.


"Wani Piro!" Lelah sudah Bagas.

__ADS_1


*****


__ADS_2