
Brian tidak menjawab ia mendekati Naya duduk di sampingnya, menatap manik hazel yang disukainya. Brian masih belum bisa menentukan ia ingin meminta Naya jangan pernah menyerah ia masih bingung akan hatinya.
Brian membelai surai Naya menaruh tangannya di pipi membuat Naya memejamkan matanya. Ketika membuka matanya Brian sudah tepat di hadapannya hanya berjarak 5 inchi.
"Saya tidak bisa memberi tahu sekarang," mata Naya terkulai. "Tatap saya!" Naya bisa merasakan wangi mint menerpanya.
Ketika Naya menatap Brian tanpa basa-basi Brian mendekatkan bibirnya pada sebuah benda kenyal yang membuat Naya terkejut.
Namun setengah menit tak ada pergerakan dari Brian membuat Naya tak nyaman,"ma.."
Bum satu kata yang diucapkan Naya Brian sudah lebih dulu bermain di dalam sana membuat otak Naya ngebug seketika.
Lembut tapi menuntut, Brian membuat Naya terbang, secara naluri Naya mengalungkan tangannya. Brian hanya tahu itu adalah sinyal setuju dari Naya.
"Engh.." Naya tak sengaja mengeluarkan suara aneh. Hanya saja Naya yang polos tak tak memperdulikan suara yang keluar itu padahal membuat jiwa Brian menggelora, membuatnya semakin lama bermain.
Naya sudah kehabisan nafas, ini baru momen pertamanya di cium dan ia dicium oleh lelaki yang menjadi suaminya. Yang secara tidak sengaja menjadi istri dokter dingin ini.
Naya memeluk malu setelah apa yang mereka lakukan. Ia baru ingat membawa makanan, melirik dari balik pelukan suaminya. Makanan yang ia bawa bawa sudah dingin ruangan. Suaminya tak terlalu suka akan itu.
Brian paham dengan apa yang dikhawatirkan Naya. Sedikit lucu. Brian mencium kening Naya. Lihat reaksinya sangatlah tak terduga Maya seperti kelinci putih yang baru melihat manusia.
"Bisa pesan online,"
Naya mengangguk malu. Melupakan jawaban yang seharusnya ia dengar dari mulut suaminya.
*******
Berjalan di koridor rumah sakit tugasnya mentar makanan sudah selesai, waktunya ia pulang ke rumah besar itu yang membuatnya kebosanan. Jika ada keluarganya pasti rumah itu tidak akan pernah sepi. Mengingat keluarganya ia jadi ingin pulang. Mungkin nanti bisa minta izin.
Di tengah jalan Naya bingung karena Aldi menghentikannya. Setaunya mereka sudah tidak punya urusan lagi untuk apa dokter itu menghampirinya.
Kini mereka sudah berhadapan Aldi menunjukkan senyumnya yang menawan membuat Naya teringat dengan anak kecil yang terpajang di nakas suaminya.
Bisakah itu dokter Aldi.
"Saya minta maaf. Mungkin pada saat pertama kali pertemuan kita itu nggak terlalu berjalan baik, tapi yah saya terhibur."
Aldi ini sedang meminta maaf atau meledek. "Nggak masalah sih yah Dok. Namanya juga manusia punya banyak salah dan dosa, tapi kalau dilihat lihat Dokter ini punya rambut ikal yah pas kecil?"
Aldi memegang rambutnya, ia nyengir, "ia pas kecil lumayan keriting, tapi pas sudah remaja dikit dikit lah ke salon merapikan siapa tau ada yang nyantol,"
Naya tertawa,"mas kalian ada yang nyantol kasih tau saya yah,"
"Eh, buat apa?"
__ADS_1
"Takutnya jaemin. Mau saya nikahi,"
"Hush. Sudah menikah tapi masih suka laki-laki lain."
Naya terbahak,"dia itu idol Dok wajarlah suka beda lagi kalau cinta,"
"Apa bedanya?"
"Kaya dokter Aldi sama Mas Brian. Kaya embe sama kuda. Beda!" Naya terbahak tak memperdulikan imej nya bagaimana di depan Aldi.
Aldi terpesona dengan senyuman dan mata Naya ketika sedang menatap. Sangat murni membuat siapa saja tak bosan dengannya.
Brian menatap mereka berdua dari jauh dengan mata yang menyalang. Katanya mau pulang malah parkir di tempat lain memang tidak bersamanya tadi. Brian tambah panas ketika melihat Naya tertawa terbahak-bahak oleh candaan Aldi yang menurutnya tak ada nilai estetikanya.
"Apa." Brian sedikit berteriak membuat orang-orang disekitarnya meliriknya. Ketika sedang memperhatikan dua sejoli itu ia dipanggil oleh suster karena sudah jadwalnya. Ia mendengus ingin memberikan pelajaran pada keduanya.
"Kalau begitu panggil saja, Aldi rasanya kalau dokter terlalu formal."
Naya mengangguk juga menggeleng,"terlalu nggak sopan kalau dipanggil nama doang gimana kalau Uda Aldi," canda Naya.
Tanpa basa-basi Aldi menyetujui menganggukkan kepalanya. ia tak pernah mempermasalahkan panggilan.
"Nggak Lah canda, Mas Aldi aja. Soalnya umurnya udah tua kaya Mas Brian."
Naya mengangguk menyetujui, "iya sih emang kan kalian tuh umur tua muka muda kelakuan kaya anak kecil, sukanya berantem."
Aldi berdehem malu sebenarnya ia itu cukup kalem, apalagi kalau sudah berkumpul dengan keempatnya sayangnya Effendy sudah tak ada. Tiba-tiba ia lesu. Ngomong-ngomong tentang berkumpul beberapa hari lagi ada perkumpulan keluarga. Aldi menatap Naya. Apakah Brian memberi tahu?
"Kenapa Mas?"
"Em, kamu kalau di ajak kumpul keluarga mau?"
Naya yang mendapatkan pertanyaan seperti itu mengernyit. Kumpul keluarga apa hubungannya Aldi dengan kumpul keluarga. "Maksudnya?"
"Yah, aku sepupu jauhnya Brian. Dan beberapa hari lagi akan ada kumpul keluarga di rumahku biasa acara silaturahmi juga ulang tahun Lala yang ke lima,"
Naya tersenyum ketika mendengar ulang tahun Naya, ia akan dipertemukan dengan gadis manis itu. Sayangnya bait pertama suaminya tak pernah membicarakan apapun.
"Aku ucapin selamat buat Lala. Mas Brian belum bilang mungkin ia lupa,"
Aldi mengangguk menatap jam yang melingkar di tangannya ia harus kembali jadwalnya belum selesai.
Naya mengangguk, mempersilahkan Aldi untuk bertugas.
Kali ini apalagi, pas tadi rasanya sudah berbunga-bunga sekarang harus curiga lagi. Ia menghela nafas pada sikap Brian yang tak pasti. Pasti akan banyak rintangan di perkumpulan keluarga besar Mahesa.
__ADS_1
******
Naya memandang mobil yang terparkir ada dua mobil yang satu adalah mobil ibu mertuanya dan yang satu lagi adalah mobil asing. Naya langsung masuk ke dalam rumah terdengar beberapa orang tengah mengobrol ketika melihatnya masuk semua atensi bergerak mengarah padanya.
Naya tersenyum pada ibu mertuanya yang berkunjung. Naya menyalami tangan mertuanya juga memeluknya. Naya bertanya tanya pada pada dua orang yang datang ia tahu di sebelah keduanya adalah Zoe.
Maya mempersilahkan Naya untuk duduk. Naya menatap ibu mertuanya, seperti bertanya 'ada apa, Mah?'
"Cesi, Sina, Zoe perkenalkan diri kalian,"
Cesi si paling ceria ia adalah adik dari Aldi yang memang orangnya cepat akrab. Ia sedikit mendengar gosip tentang watak Naya dari Zoe hanya saja ketika melihat Naya memandangnya sepertinya Zoe salah.
"Cesi," mereka bersalaman.
Sina sedikit pendiam dia menyerap sedikit informasi dari Zoe membuatnya agak risih pada Naya tapi juga tidak menunjukkan ia masih berharap Melisa bersama Brian sayangnya memang takdir tidak berpihak. Ya Sudah biarlah Brian bahagia ia tidak ingin ikut campur kecuali apa yang dikatakan Zoe benar ia tidak akan segan-segan pada istri sepupu jauhnya ini.
"Meccana. Panggil saja Sina,"
Kini giliran Zoe ia mendengus beberapa kali ia menolak ajakan tante nya itu untuk pergi kerumah Brian pastinya akan ada Naya ia tidak mau dikata-katain seperti itu lagi. Ia masih kesal.
Diantara ketiganya Zoe adalah paling kecil kini ia masih menempuh pendidikan SMA sepantaran dengan Bagas. Ia jadi ingin mengajak adiknya kesini pasti Zoe akan takluk karena Bagas mempunyai seribu jurus membuat wanita takluk.
Zoe enggan berjabat tangan dengan Naya. Naya hanya mengangguk ketika Maya berkata sudah pernah bertemu.
"Ini Naya, istri mas Brian." Mereka mengangguk paham.
Maya bercerita jika mereka biasanya akan menginap disini beberapa hari jika hendak kumpul keluarga. Lagi lagi Naya mendengarnya dari orang lain bukan dari mulut suaminya.
"Kamu sudah diberi tahu oleh Brian?" Tanya Maya. Naya menggeleng.
"Iyalah istri tak dianggap mana mau mas Brian ngajak," celetuk Zoe.
Kedua gadis di sebelahnya tak menggubris apa yang Zoe katakan mereka juga ingin tahu bagaimana keseluruhan dari Naya apakah ia pantas menjadi istri Brian.
"Mas Brian lagi sibuk, semalam saja pulangnya telat ada yang harus diurus," ucap Naya pada Maya ia tidak ingin bersumbu pendek hanya karena mendengar perkataan Zoe. Walau ia hanyalah anak dari tukang masak cepat saji tapi didikan keduanya tak pernah salah.
"Kalau begitu karena Brian sibuk mama memberikan keputusan apakah mereka boleh menginap disini atau tidak yang jelas kamu adalah pemilik dari rumah ini. Jadi semua keputusan kamu yang buat."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
semangat Naya. juga untuk author semangati aku 🔥☺️
salam
SEE 🫠
__ADS_1