
Brian keluar dari kamar mandi ia melihat baju yang disiapkan oleh istrinya sejak kapan ia menganggap Naya istrinya, ia adalah seorang perempuan cengeng, tidak bisa diandalkan, juga hanya bisa membuatnya kesal, tidak seperti pacarnya yang dulu. Brian menggeleng, mengusir pikiran itu,"udik," untuk apa menyiapkan baju jika di walk in closet sudah digantung dengan rapi tinggal memakainya.
Brian mengabaikan baju yang disiapkan oleh Naya, pergi kedalam walk in closet.
Di tangga ia bisa mendengar canda tawa Naya dan kedua orang tuanya, tak biasanya mereka tertawa sekencang itu.
"Brian itu pas kecil suka sekali minta digendong kalau ke taman soalnya takut sama ulat. Dulu pas dia main di taman ulatnya merayap ke kakinya akhirnya tiga hari dia nangis terus ya kan, Pa," ucap Maya.
Bram mengangguk mengiyakan, biasanya ia akan mengomeli anak dan istrinya jika bercanda di meja makan, tapi ketika melihat istri dan menantunya tertawa senang ia tidak akan mengusik itu.
"Lah, Ma ulat mah gampang tinggal pake kayu aja kelar. Dulu Bagas juga pernah mah, bedanya, dulu pas dia umur dua setengah tahun namanya anak kampung yah Ma, pas ada temen manggil main ya ikut saja akhirnya si Bagas nggak ketahuan makan ulat bulu. Pas gedenya di tanya inget nggak pernah makan ulat bulu, katanya cuma ada rasa geli aja kalo liat yang uget uget, oh ternyata di situ kejadiannya." Cerita Naya membuat Maya tergelak
"Mama kapan kapan pengen denger cerita kamu pas kecil kayaknya seru deh,"
"Kapan-kapan deh,Ma sekalian nanti aku ajak ke kampung," aja Naya.
"EhmEkhm," semuanya menatap Brian yang telah datang, ia duduk di samping Naya. Naya mengambilkan nasi. "cukup!"
"Mau lauk apa, mas?" Tanya Naya.
Bagas menatap Naya, heran harusnya perempuan ini jera, tapi malah menunjukkan senyuman palsunya.
"Ehm, dilanjut di kamar aja yah, tahu situasi dong," ujar Maya.
Brian mengabaikan seruan ibunya,"Ayam, sama sayur,"
Naya menaruh ayam goreng itu, Maya dan Bram menatap mereka berdua dengan bahagia, semoga saja Naya bisa mengubah Brian yang menutup diri.
"Mah, setelah ini aku mau bawa Naya ke pulang," ujar Brian.
"Mama sih gak masalah asal sekali kali kamu berkunjung kerumah, disini masih rumah kalian,"
Brian hanya mengangguk.
******
Naya membawa kopernya keluar kamar, Brian langsung mengambil alih koper itu, Naya merasa heran dengan sikap Brian.
"ada Mama," nyatanya dugaannya benar. Naya hanya menghela nafas.
"Sayang. Nanti jangan lupa berkunjung kabari Mama juga," ia memeluk anaknya.
"Ma, kaya mau kemana aja, aku cuma mau pindah rumah," ucap Brian sambil membalas pelukan ibunya.
"Naya, mama pesan jangan putus asa, Brian itu emang anaknya dingin, tapi kalau dia sudah sayang ia akan menjadi kepribadian yang hangat," Naya membalas pelukan mertuanya semoga saja petuah itu tidak luntur oleh keputusasaan.
"Doakan saja Naya, mah,"
__ADS_1
Maya melepas pelukan itu."jaga dirimu baik-baik," Naya mengangguk.
Kini Bram memeluk menantunya ini, memberikan sedikit kata,"kalau Brian nakal panggil papa,"
Naya tersenyum,"kalo mas Brian nakal boleh cium nggk sih, pa?"
"Tentu, cium pakai golok juga nggak apa-apa," canda Bram.
Namun Brian sama sekali tak merubah rautnya, apa maksudnya pakai golok sebelum golok itu sampai ke lehernya sudah ia patahkan tangan yang akan menyentuh dirinya seinci pun.
****
Brian membawa mobilnya pergi jauh dari rumah megah itu, Naya tak bisa jika mereka hanya berdiam saja,"mas,"
"Em,"
"Mas, aku boleh setel lagu tidak?"
"Em,"
"Mas mau gantiin Sabyan, yah, a em aem, ngomong dong yang jelas, boleh atau tidak,"
Cekit.
Bram menghentikan mobilnya,"jangan mentang-mentang Mama sayang sama kamu, kamu bisa seenaknya,"
"Diam! Atau turun,"
Naya tersentak, ia masih belum terbiasa dengan sikap Brian.
******
Gerbang rumah berlantai tiga terpampang jelas ketika mereka memasuki kawasan itu. Naya sudah tak heran lagi, tapi tetap saja ia kagum dengan desain rumahnya yang bergaya klasik Roma di padu dengan Eropa modern.
Mereka turun dari mobil itu tanpa banyak bicara Brian langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Naya yang tidak tahu apapun tentang denah rumah ini.
Ketika memasuki rumah Naya disuguhkan pemandangan yang luar biasa jika di rumah Mama dinding-dinding rumah terdapat pigura dan foto para pengisi rumah. Tapi di rumah ini ia hanya melihat dinding tanpa hiasan, suasananya tampang dingin, tapi tidak mengindahkan jika ia merasa kagum, namun ia merasa ada sesuatu yang mengganjal.
"Nyonya, kamarnya sebelah sini," Naya mengikuti maid yang menunjukkan dimana letak kamarnya.
Mereka berada di lantai dua Naya sudah berada di depan kamarnya lumayan jauh dari tangga,"nyonya di ujung sebelah kanan itu kamar tuan, dan ini kamar nyonya, jika butuh apa-apa bisa panggil saya,"
"Baik, Bi,"
"Mari nyonya," Naya mengangguk. Ketika di buka hanya terpampang kain kain putih yang menutupi perkakas kamar.
Naya meletakkan kopernya di samping, ia melakukan peregangan, "bismillah,"
__ADS_1
Tanpa terasa ia telah membersihkan semuanya, tinggal baju saja yang dimasukkan ke dalam lemari, Naya tiduran di sisi kasur menatap semua interior di kamarnya yang semuanya hampir berwarna putih, sepertinya suaminya ini suka sekali dengan warna putih.
Mata Naya berat sekali, tanpa terasa matanya sudah tertutup.
*****
Brian menatap keluar balkon rumahnya sambil sesekali menyesap puntung rokok, jika saja Melisa mantan pacarnya tidak pergi hanya karena ingin menjadi model mungkin kini ia sudah memiliki anak, jika saja ia bisa menyelamatkan kakaknya ia tidak perlu jauh jauh sampai menikahi Naya hanya untuk mendapatkan sebagian potongan kemarin kakaknya.
Yah, semua hanyalah jika, jika waktu bisa diputar semua orang ingin merubah nasib mereka.
Tring.
"Halo."
"..."
"Baik saya akan segera kesana, tolong tangani dahulu," Brian membuang semua rokoknya ke asbak.
*****
Di hotel Paris seorang wanita sedang meneguk minuman bersama sang kekasih Mario. Dia adalah Melisa yang tengah ditundukkan oleh seseorang. Mereka menatap menara Paris dengan penuh ketenangan.
"Bagaimana? Kamu setuju?" Mario menawarkan tender besar pada Melisa ia ingin Melisa menjadi salah satu brand ambassador di produknya yang berada di jakarta sekalian ia ingin lebih dekat dengan sang pujaan yang ia tahu sedang tidak ingin diganggu karena itu ia ingin berusaha mendapatkan tempat dihati gadis pujaannya.
"Boleh, sesuai sama yang di kontrak kan?" Tanya Melisa tak lepas memandang menara Eiffel.
"Tentu bisa kita ganda-kan dengan gratis jika kamu mau menjadi pasanganku," tawar Mario tak lepas memandang Melisa.
"Mario," kini Melisa memandang Mario.
"Ya, sayang,"
"Aku nggak mau, yah,"
" I know, baby," Mario tersenyum manis, mengulurkan satu tangannya, Melisa duduk di pangkuan Mario.
"Jangan pancing aku," Melisa membuka satu kancing atas kemeja Mario.
"Kamu yang datang, yah siapa yang nolak,"
Cup.
Melisa yang memulai. "just it,"
"Aku tak kan menolak,"
******
__ADS_1