
Setelah kejadian yang membuat Brian mendapatkan jeweran juga ceramah dari kedua orang tuanya , sayangnya ceramah itu tidak untuk konsumsi publik jika Naya melihat mungkin saja ia akan mengambil biji bunga matahari dan memakannya sambil menonton pertunjukan dimana suami gletsernya terdiam mengangguk, dan menurut.
Bram tak membiarkan satu kata pun terlewatkan dalam pengajarannya. Anaknya ini sudah tahu punya istri tapi masih saja lebih mementingkan wanita lain. Untungnya Naya bukanlah pengadu, jika besannya bisa tahu ditaruh dimana wajahnya ini.
Bram memandang ke jendela ruangan yang biasanya digunakan di rumah Denis ini. "Dengar Brian. Kelemahan kamu jangan pernah ditunjukkan.." Bram kemudian menengok ke arah anaknya ini, "karena Papa tidak akan bisa bantu kamu disaat itu adalah kelalaianmu."
Brian mengernyit, apa maksud Papanya ini. Akan ada kejadian apa memangnya kedepan. Bisakah jangan menggunakan teka-teki, ia seorang dokter bukan seorang detektif.
"Yah. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab." Itulah kata yang terakhir diberikan sebelum Bram menyuruh Brian untuk keluar. Jika memang Brian sudah mendapatkan maafnya Naya biarlah rumah tangga anaknya ini sedikit diterpa badai, agar ia kuat menanggung topan yang nanti akan datang.
Brian menatap Bram kedua laki-laki berbeda generasi itu memiliki pemikiran yang hampir sama hanya saja Bram sendiri lebih sulit untuk ditebak, membuat sang anak terkadang menghela nafas. Ia saja belum mendapatkan bukti mengapa ayahnya dengan setuju menikahkan dirinya dengan Naya.
"Kalau begitu. Aku pamit." Bram melambaikan tangan, tak memberikan kesempatan Brian untuk berbicara lagi.
Bram menatap jendela yang pemandangannya seorang burung yang sedang terbang bersama kawanan lainnya, "anak muda terlalu dibutakan cinta."
******
Matahari berganti bulan sudah waktunya untuk malam menggantikan siang, begitu pula dengan para keluarga Prakoso kini mereka duduk rapi di meja makan.
Denis sendiri memimpin di meja makan itu. Brian dan Naya sedikit menjauh dari para tetua agar mereka tidak merasakan tekanan. Sayangnya Bagas tidak melewatkan kesempatan untuk bertanya pada menantu keluarga Mahesa ini.
Bagas tersenyum sumringah membuat mereka yang tahu perangainya sedikit waspada, "Naya apa kamu bahagia menikahi Brian?"
Pertanyaan yang tidak mendasar. Naya sendiri yang sedang menyiapkan makanan untuk suaminya seketika berhenti. "tentu. Paman! Jika saya tidak cinta untuk apa menikah?"
Bagas menatap jawaban Naya dari yang ia dengar, jika mereka menikah karena suatu konspirasi. "Wah. Wah." Bagas tertawa lucu. "Anak tunggal dari Mahesa tidak menyelenggarakan pesta? Orang orang pasti juga berfikir. Sampai sekarang anak kedua dari keluarga Mahesa masih single." Bagas sengaja memberikan pertanyaan itu, ia sangat senang ketika melihat bagaimana reaksi para penghuni meja makan ini.
"Itu.."
__ADS_1
"Brian masih menyelesaikan masalah dahulu. Mungkin setelah acara keluarga." Brian menyela Naya yang hendak menjawab. Ia tidak ingin Naya bersikap impulsif. Padahal Naya sendiri pasti tahu yang mana baik untuknya dan yang mana yang harus dihindari. "Mohon paman doakan saja."
Suaminya ini masih saja gengsi, apalagi di meja makan ini ada dua wanita penggoda. Bagaimana tidak, mereka hendak makan atau hendak ke acara dangdutan baju kurang bahan.
"Kalau begitu pasti sudah isi dong?!" Pertanyaan Bagas membuat Bram mengernyit tak suka ia memandang Kakak iparnya ini. Masih sama tak pernah berubah.
"Bagas. Biarlah mereka menjalani pernikahan. Kita yang sudah tua-tua jangan ikut campur. Toh. mereka masih menikmati bulan madu."
Bagas berdecak. Ia paling kerepotan dengan adik iparnya yang bermulut pedas ini. Begitu juga anaknya yang menurun darinya. Bagas beralih pada kedua wanita cantik di barisannya. "Wah. Melisa, kamu dijuluki sebagai model best of year. Keren. Bagaimana kamu bisa melewatkan kesempatan itu Melani?"
Melani tersenyum seperti biasa. Padahal dalam hatinya ia mengutuk Bagas yang sedari tadi tidak bisa menyimpan mulutnya. Apanya yang menyamakan dirinya dengan Melisa sudah jelas bukan, Melisa pasti akan menghalalkan berbagai cara. "Ouh. Aku hanya sedang santai saja. Tidak perlu terburu-buru. Apalagi Kakak waktu itu ingin menikah dengan Brian, tapi kesempatan best of year tidak akan mungkin ditolak bukan?"
Ucapan Melani membuat ruang makan ini menjadi ber atmosfer mendung, tinggal bagaimana dan siapa saja yang akan memunculkan petir ya terlebih dahulu. Hanya saja Naya sedikit risih apalagi ini menyangkut masa lalu suaminya. Yah. Masa lalu memang biarlah masa lalu. Hanya saja bisakah tidak membicarakan di depan para anak-anak. Walau ketiga anak burung sudah memasuki usia dewasa, tapi bagaimana dengan Lala sedari tadi Lala yang berada di bangku samping Denis ingin meminta turun. Lala saja faham ia tidak nyaman.
Melisa tertunduk sedih, "tidak. Hanya memang kita tidak cocok saja, tapi aku percaya jika jodoh tidak akan kemana." Melisa berkata sambil memandang Brian penuh dengan harapan.
"Yah. Benar jodoh tidak kemana semoga saja kamu tidak meminta jodoh suami orang." ucap Denis. Ia sedikit memberikan tamparan kata pada Melisa.
"Perkataan itu senjata tidak bertuan yang bisa mematahkan apapun." seru Sina. Ia sedari tadi mengamati bagaimana semua keluarga ini berkumpul hanya saja memang Naya yang baru bergabung butuh mental agar ia bisa melawan tekanan para senior ini.
"Apanya yang tidak bertuan. Dia yang berbicaralah tuannya." seru Zoe. Ia sedikit salah mengambil ancang-ancang jika ia diam ia tetap saja tidak akan dianggap oleh ayahnya jika ia berkata sedikit saja bisa menyenangkan ayahnya maka ia mendapatkan pujian walau hanya perkataan dingin.
Cesi berfikir, "em. Tapi Zoe bagaimana dengan lidah mereka? Bukankah mereka harus sering-sering berkata baik. Setidaknya tidak membuat lidah itu menjadi tajam dengan kata-katanya yang menusuk." Cesi memiringkan kepalanya ke arah Zoe.
"Sepertinya kamu butuh pelatihan Cesi." ujar Aldi. Cesi langsung menggeleng ia tidak ingin menjadi dokter cukup menjadi pengusaha saja di bidang yang ia sukai. Ia tidak suka menjadi dokter terlalu banyak melihat darah tak baik untuk kesehatannya.
"Terimakasih. Mungkin Kakak bisa beri pada Zoe dan Sina. Mereka itu pemberani."
Sina memandang Cesi datar, "yah. Berikan padaku aku kan mengambil pinset dan membedah jantungmu untuk dijual."
__ADS_1
Cesi pura-pura terkejut dan shock, ia menatap Zoe. "Bagaimana denganmu Zoe?"
"Aku.." Zoe sedikit menetralkan degup jantungnya ia tidak suka jika ketika ia hendak mengeluarkan pendapat tatapannya bertemu dengan netra Ayahnya membuatnya tidak bisa mengeluarkan pendapat itu dengan baik.
"Aku akan ambil pisau bedah dan akan ku robek siapa saja yang menghalangiku. " perkataan Zoe membuat para senior berfikir sebenarnya pertanyaan Denis tentang menelaah itu hanya untuk menguji bagaimana jawaban mereka, tanpa di duga ada beberapa hal yang harus di waspadai.
Cesi langsung shock ia menunduk, bersedih. "Kau jahat sekali."
Aldi memutar bolanya,malas, "sepertinya alat bedah itu untukmu Cesi."
"Tidak!" Cesi langsung melotot pada Kakaknya ini.
Ketika Bagas hendak memberikan pernyataan lagi, Bram sudah menginterupsi.
"Sudah cukup bukan! Bagas kamu masih tak tahu malu. Setidaknya malulah pada makanan yang tersaji yang sedari tadi menonton guyonan mu. " seru Bram. Ia sudah muak dengan ini cepat cepatlah pulang dua wanita yang sama-sama berbisanya seperti Bagas. Ia tidak memberikan kesempatan untuk Melisa berkata.
Bagas merasa ia tidak diberikan muka oleh adik iparnya ini, "kamu! Tidak memberikan aku muka."
"Atau muka dirimu yang terlalu tebal, kak." seru Denis dingin.
"Diam."
Melisa sendiri merasa dingin. Ia seperti tidak dihargai di meja ini. Apalagi menatap kedua pasangan itu yang sedari tadi tidak menggubrisnya malah terus bercengkrama dengan yang lainnya. Melisa hendak berkata tapi ia tahan Bram sedang meletuskan laharnya bisa-bisa ia mendapatkan percikan api itu.
Zoe mengepalkan kedua tangannya, ia menunduk Ayahnya ini tak tahu malunya menjilat pada dua kakak beradik itu. Zoe berpikir ia harus cepat-cepat mendapatkan dokumen itu agar Ayahnya diam dan mengizinkannya pergi jauh dari pengawasan Bagas. Biarlah ibunya akan sedih, setidaknya dia adalah ibu sambung bukan ibu kandungnya.
Lala turun dari bangkunya ingin duduk di sisi Naya, ia ingin disuapi. Hanya saja dilarang oleh keluarga Aldi jika Lala sudah besar maka harus bisa makan sendiri. Lala tertunduk lesu. Naya sendiri merekomendasikan jika Lala bisa duduk di sampingnya hanya membutuhkan beberapa orang untuk bergeser. Nanti anak ini bisa makan sendiri hanya butuh didampingi.
Lala menatap kedua lansia juga Ayahnya dengan tatapan memelas. Mereka sedikit menghela nafas. Akhirnya mengangguk biarlah hari ini memberikan keringanan, lagipula masih hari bahagia Lala. Mereka akan terus memberikan yang terbaik untuk Lala. Menatap bagaimana Naya membagi perhatiannya antara Brian dan Lala membuat semua orang mengangguk jika ia sudah memiliki mental untuk memiliki seorang anak.
__ADS_1
******