
Ada beberapa hal yang membuat Naya bertanya-tanya sebenarnya bagaimana hubungan Brian dengan saudaranya, hingga kini wanita bernama Zoe Saldana datang dengan membawa kopernya masuk bagaikan ratu yang baru datang dari perjalanan jauhnya. Harus dilayani, harus dimanjakan dan nada cinta ketika memanggil suaminya.
Sifatnya yang semena-mena membuat wajah Naya datar.
Zoe yang duduk di sofa menatap Naya dari atas ke bawah,"siapa, yah? Pembantu kok songong,"
Naya yang kini menahan amarah melakukan apa yang dilakukan Zoe padanya. "pemulung mana, yah? Kok nggak sopan?"
Zoe terbelalak. Protes akan ucapan Naya ia adalah sepupu dari Brian yang berarti ia juga masih punya hak dirumah itu. "Apa bi Inah nggak bisa menyeleksi mana pembantu yang profesional dan yang kampungan,"
Naya terkekeh. Memutari koper yang Zoe bawa. "Ouh, ngaku kalau pembantu," Naya mendorong koper ping berstiker Paris itu hingga jatuh menggunakan kakinya.
"Majikan lebih berhak atas rumah ketimbang pembantu," kata-kata Naya yang membuat Zoe langsung berdiri dan mendorong Naya sayangnya Zoe itu terlalu lemah hanya mengandalkan kegemulaiannya. Dan pastinya Naya tetap berdiri tegak.
"Tak sopan! Majikan mana? sejak kapan Mas Brian punya istri? Istrinya cuma kak Melisa! Yang lain aku nggak akan setuju!" Zoe mencak mencak di hadapan Naya tak terima. Dadanya naik turun.
Naya tau pernikahan mendadaknya dengan Brian tidak akan berjalan mulus pasti ada saja sanak saudara Brian yang tidak suka padanya apalagi pernikahan Brian haruslah megah karena ia sekarang anak tunggal dari keluarga Mahesa.
"Saya Naya Mahesa istri dari Brian Mahesa. Tidak perlu lagi meminta ataupun mengemis persetujuan dari kamu yang hanya sepupunya. Keluarganya saja setuju. Kamu hanyalah gadis baru dewasa yang salah pergaulan. Luaskanlah pandanganmu!"
Naya berjalan menaiki tangga. "Jangan lupa mas Brian tidak akan diam saja istrinya dihina,"
Zoe menghentakkan kakinya,"aku akan pertemukan Kak Melisa. Dan kau akan pergi dari hidup mas Brian!"
"Siapa peduli!"
"Bi! Ajak keluar, tamu tak diundang dilarang masuk!"
*******
__ADS_1
Naya sebenarnya khawatir. Kata-kata Zoe terus mengganggu pikirannya. Apalagi ia belum mendapatkan kepastian di hati Brian. Semalam saja ia sudah menangis karena pertanyaannya sendiri yah bagaimana lagi hari ini tamu bulanannya datang jadi semuanya diluar kendali.
Jika ia mengirim pesan kepada suaminya apakah dibalas, pastinya tidak. Karena dari Beratus ratus pesan yang dikirim tak ada yang dibalas dibaca pun bisa dua hari kemudian centang abu itu berganti biru. Segitu sibuknya kah?
Makan malam tanpa Brian, rasanya sepi. ia tidak bisa mengganggu suaminya itu dengan banyaknya pertanyaan. Benar-benar tidak bisa menutup mata ia selalu terbangun padahal waktu sudah menunjukan pukul 12 malam apa Brian sebanyak itu pekerjaannya. Manusia mana yang bisa bertahan jika sedari jam 8 pagi hingga bulan di kepala belum pulang dan tidak tidur apa suaminya jelmaan vampir.
Naya berguling-guling di sofa di temani Bi Inah. Ia jadi penasaran rumah sebesar ini berapa banyak yang dikeluarkan apalagi hanya ia dan Brian yang tinggal. Orang kaya memang boros.
"Bi, berapa pengeluaran rumah ini?"
Bi Inah merasa tidak enak pada majikannya itu karena pengeluaran masih diatur olehnya sesuai yang diperintahkan sang Tuan.
Naya melihat rasa tidak enak pada Bi Inah menganggukkan, tak apa-apa toh jika ia yang memegang belum tentu bisa. Belum tentu bisa di percaya di hati suaminya.
"Mungkin beberapa digit, Nya."
Naya mengangguk-angguk tak heran. "Bi emang mas Brian sama saudaranya sedekat itu, yah?"
"Kalau Melisa?"
Bi Inah ragu-ragu,"sepertinya buat pertanyaan itu lebih baik dijawab oleh Tuan, Nya."
"Yasudah bibi tidur saja sudah malam. Aku juga kalau sudah tidak kuat balik ke kamar,"
Hari sudah berganti Brian masih belum pulang mata Naya tidak kuat akhirnya tertidur di ruangan tengah dengan tv yang terus menyala.
Brian akhirnya pulang ia merasa hari ini sangat melelahkan beberapa hal harus diurus karena jika tidak maka orang-orang serakah itu akan terus berkeliaran mengganggu keluarganya. apalagi Naya pernah di culik. Preman-preman tidak ada yang mengaku mereka berkata jika itu keinginan mereka agar mendapat tebusan. Ia tahu pasti pelakunya orang yang sama.
Tv menyiarkan program kriminal yang seharusnya di tonton, tapi sepertinya tv yang menonton Naya yang tertidur. Brian menghela nafas menggendong Naya juga paper bag yang begitu besar. Ia baringkan Naya di kasur juga paper bag di sampingnya. Brian sudah lelah kepalanya pening ia bergeser tidur di samping Naya tanpa bebersih. Kali pertama Naya tidur dalam pelukan Brian walau di mimpi.
******"
__ADS_1
Zoe mencak-mencak ia tak terima banyak dikatai pembantu lah, pemulung lah, tamu tak diundang lah. Ia langsung menghubungi kak Melnya untuk mengadu.
"Sabar yah sayang, wanita itu memang harus diberi pelajaran, maklum dia baru pertama kali jadi istri orang kaya,"
"Ish, tapi kak aku nggak suka dia ngata-ngatain aku. Pembantu lah, tamu tak diundang lah. Siapa yang nggak kesel. kak Mel kapan sih datang? Cepet cepet kek rebut tuh pelakor!" Ucap Zoe dalam telepon.
Wanita yang disebut kak Mel itu menyesap Minuman yang disediakan club di ruang VIP ia tak terbiasa jika harus bersama para rakyat jelata itu. Apalagi kini seorang bocah menelponnya di waktu malam. Tak tahu malu mengganggu orang.
"Yasudah maumu apa?"
Terdengar kekehan dari seberang sana,"kak Mel tahu saja belanja yuk," antusias Zoe.
"Zoe tahu kan kak Mel banyak kerjaan yang tidak bisa di tinggal apalagi membayar dendanya kak Mel tidak kuat,"
Zoe menghela nafas mengiyakan ia tahu kerjaan kak Melnya yang harus terus ada apabila dibutuhkan, tapi hanya sebentar dengan calon adik iparnya memangnya kenapa.
"Yaudah selamat tidur kak,"
Bocah menyebalkan.
Seorang pria berumur masuk dengan sebuah minuman anggur di tangannya. Kak Mel sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
******
Keduanya terusik oleh matahari yang malu-malu keluar dari peraduannya. Begitu juga dua insan yang berbagi kehangatan di malam yang dingin. Brian menambahkan eratnya karena nyaman. Naya menelusupkan dirinya karena hangat. Mereka baru ingat sejak kapan mempunyai bantal guling senyaman itu. Keduanya membuka mata. Dua retina saling bertubrukan saking dekatnya, saling mencium bau pasangannya.
Mereka sadar langsung melepaskan diri dari pelukan yang memabukkan itu. Brian berdehem bingung apa yang terjadi semalam. Ia salting langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Naya mematung. Beberapa kali berkedip, memukul pipinya hingga kemerahan. Itu bukan mimpi nyata. Naya berjingkrak senang setidaknya ada kemajuan dalam hubungannya. Rasanya ia ingin memeluk suaminya kembali.
Naya memasuki kamar mandi untuk bersiap-siap, ia rasanya tidak ingin mencuci baju biru lumba-lumba ini.
__ADS_1
Sedangkan di kamar Brian ia mengusap wajahnya, mengingat kejadian semalam, karena saking kecapean ia tertidur di kamar Naya. Pipinya memerah.