
Naya menunggu di jalan tak berselang lama satu taksi datang, jendelanya turun,"mba yang mesen?"
Naya hanya mengangguk ia sudah lelah matahari juga sudah semakin menurun, Naya hanya melihat ke arah jendela tanpa Naya sadari jika sang sopir yang menggunakan masker itu terus mengawasinya.
Naya merasa jalan mereka sangat lambat karena seharusnya hanya 30 menit kini rasanya seperti melewati batas itu. Naya menengok ke kanan-kiri gedung-gedung juga sudah bukan kawasannya lagi harusnya rumahnya di jalan perempatan belok kanan ini belok kemana?
"Mas? Ini kayaknya salah alamat, yah?"
"Masa mba?" Sopir itu berlaga mengecek hp."tapi sesuai yang di pesan kan? Ini bentar lagi sampai,"
Naya mulai curiga apalagi sang sopir tak kunjung melepaskan maskernya. "mas, saya turun disini saja,"
"Bentar lagi, mba ini sampai," mobil itu di bawa ngebut.
Naya langsung mengeluarkan ponselnya, ketika ia memencet nomor telepon suaminya tiba-tiba dari arah belakang sebuah tangan membekapnya dengan selampe.
Naya tidak bisa ingat apapun semuanya gelap.
********
Di rumah sakit Mahesa Medika terdapat baku hantam antara dokter, untung saja tidak ada yang melihat karena terjadi di ruang dr Aldiano Prakoso SpOG.
"Apa-apaan!"
"Apa-apaan? Maksudnya apa buntutin mobil Effendy!"
"Apaan sih, Bri! Siapa yang buntuti?"
"Trus siapa lagi yang punya plat nomor itu hah!" Brian menyebutkan plat nomor itu dengan memukul meja hingga berserakan.
"Lo tau semenjak gue fokus sama kedokteran, gue udah jual itu mobil dan itu 5 tahun lalu!"
"Bulshit!" Brian kembali memukul wajah Aldi tapi Aldi menangkisnya hingga ia tersungkur ke lantai.
"Bri, lo salah besar kalau gue masih cinta sama Melisa, walau istri ghe udah nggak ada, tapi gue punya tanggung jawab, yaitu Lala. Lo masih ragukan itu Lala udah mau 5 tahun dan Lo masih marah," Aldi bangkit menyanggah badannya pada tembok.
Brian menatap tajam Aldi,"kalo Lo terbukti ikut dalam kecelakaan itu, gue nggak akan biarin Lo tenang!" Brian keluar dari ruangan itu tanpa menutup kembali pintunya.
Aldi menatap ruangannya yang begitu berantakan, ia menghela nafas.
******
Brian berjalan memasuki rumahnya, ketika sampai di tangga terakhir ia menatap kamar Naya yang masih gelap tanpa pencahayaan tak mau banyak berurusan ia langsung pergi memasuki kamarnya.
Kamar yang sangat kontras dengan Brian yang saat ini tengah mendung hatinya, kamar yang berwarna kelabu dengan hiasan yang lumayan feminim untuk seorang laki-laki dimana kamar yang terdapat lampu tidur berbentuk hati pemberian Melisa dan ketika luka lama harus di buka.
Brian menatap foto masa kecilnya, terpampang jelas 3 anak laki-laki dan satu anak perempuan di tengah kisah itu adalah kisah cinta segitiga antara ia, Melisa dan Aldi. Kisah yang bermula ketika bertemu dengan gadis manis dan pemberani, dan di saat itu pula mereka bersaing mendapatkan cinta Melisa ketika Melisa selalu berlindung pada Effendy.
__ADS_1
******
Naya membuka matanya, yang ia rasakan ia disekap di kursi sebuah ruangan namun sayangnya ruangan itu sangatlah temaram ia hanya bisa sedikit jika ruangan itu pastilah sudah lama ditinggalkan.
Naya merasa ia tidak kuat apalagi bau dari tumbuhan dan hewan yang mati sangatlah menyengat.
Ceklek.
Pintu itu terbuka Naya mencoba untuk berputar pura tidur, dua orang pria masuk mereka menatap Naya yang masih pingsan.
"Ia masih pingsan, bos," ucap salah satu pria pada penelpon.
"Biarkan dia, jika dia bangun buat dia pingsan jangan sampai ia lepas dari pengawasan kalian," suara wanita yang berasal dari hp.
"Baik bos!"
Naya mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Ia langsung membuka matanya, tanpa terasa ia mengeluarkan air mata, ketika seperti inilah spekulasi keluar dari pikirannya, apakah suami dinginnya mencarinya? Apakah ia berusaha? Apakah-apakah dan apakah.
Naya menahan air matanya untuk keluar ia harus bisa menahan tenaganya untuk kabur, masalahnya ruangan ini sangat temaram. Seperti gudang yang tak dipakai.
Naya mengernyit ketika satu bingkai foto yang tertutupi kain putih jatuh karena tikus terpampang jelas dua gadis kecil yang tersenyum sambil menunjuk pada satu anak laki-laki, dan anak laki-laki itu ia seperti pernah melihatnya.
*******
Brian keluar dari kamarnya menuju meja makan, biasanya Naya sudah bertengger di
Bi Inah membawa makanan terakhir, Brian berdehem,"bi, lihat Naya turun?"
Bi Inah mengernyit, ia menggeleng,"bukannya sama nyonya pas siang tadi setelah itu belum pulang," Brian langsung pergi dari meja makan ke kamarnya mengecek hpnya beberapa notifikasi masuk, dari taksi online yang membatalkan pesanan ya karena kemungkinan akan macet, juga notifikasi dari Naya yang menelponnya itu terjadi jam empat sore.
Brian mencoba menghubungi Naya, sayangnya nomornya tidak aktif."merepotkan," Brian menghidupkan mobilnya, ia memencet nomor telepon Bumi untuk memeriksa hp Naya.
Ia terus mencoba menelpon Naya bisa-bisa jika ibunya tahu ia di omelin karena ia tahu ibunya sangat ingat memiliki anak perempuan, apalagi ketika ia kecewa dengan Melisa.
Ting.
Notifikasi dari bumi masuk, jika hp Naya dimatikan.
"Halo Bima, coba cek cctv di dekat rumah sakit, cepat!"
"Nomor platnya H Bri apalagi mobilnya sudah banyak berpindah tangan."
"Coba hack semua cctv kemana mobil itu pergi,"
"Cendrawasih!"
Brian langsung menancapkan gasnya menuju jalan cendrawasih, "kemana?"
__ADS_1
"Belok kanan, kesananya sudah tidak ada cctv," Brian mengikuti nalurinya terus melaju melewati banyaknya rumah dan pohon, serta pabrik yang tidak digunakan.
"Sudah hidup?"
"Belum,"
"Ayolah Bum!"
"Kau kira gampang!"
"Cek dimana letak mobil itu,"
"Ck, iya katanya nggak cinta, tapi buru buru pengen ketemu!"
"Cepat!"
"Jalan Gema!" Sepertinya Brian tahu tempat itu disana hanyalah tempat orang orang menaruh barang-barang produksinya. Hanya ada satu tempat yang bisa jadi disana Naya disekap.
Brian sengaja memarkirkan mobilnya jauh beberapa meter dari gedung itu ketika melihat depannya mungkin masih bisa digunakan karena terlihat masih terawat tapi ketika bertambah kebelakang dinding dindingnya sudah tak layak. Apalagi banyak pohon yang merambat kedinding.
"Siapkan pasukan," perintahnya pada bumi.
"Siap bos,"
Brian menutup panggilan itu dan mencoba menyelinap kedalam jika dilihat lihat banyak sekali bodyguard yang siap membuatnya bonyok tak mungkin ia nekat sebelum sampai menyelamatkan Naya bisa bisa ia sudah berada di rumah sakit.
Ia menghitung 8 penjaga di depan yang terus memantau kesana kemari belum lagi di dalam, jika ia bisa mengulur waktu sebelum bumi datang dengan pasukannya apakah ia bisa, waktu terus bergulir hingga malam Brian maju mengetuk pagar besi.
"Permisi,"
Para bodyguard itu langsung siap siaga.
"Maaf, mas saya tersesat boleh kasih tau jalan keluarnya,"
Salah satu bodyguard yang memakan ujung rumput menunjuk jalan,"eh, dimana mas?"
"Pergi!"
Brian tersenyum miring.
*******
Brian apa yang akan kamu lakukan ?
Naya teruslah berjuang karena Brian akan datang sebagai pahlawan berkuda putih, ciaaa 🫣
salam
__ADS_1
SEE 🫠