
Brian pulang kerumah ibunya mengecek keberadaan foto yang yang membuatnya ribut dan dihukum oleh Bram. Apalagi Bram menyiratkan jika semua foto itu diurus oleh ibunya. Semoga saja ibunya menyisakan foto-fotonya bersama teman-temannya. Brian masuk ke dalam kamarnya, sudah lama ia tidak tidur di kamar ini, mungkin karena kemarin Naya menggunakan kamar ini sekarang kamar ini sedikit memiliki harum alami Naya.
Brian membuka kamar itu. Ia tercengang, semuanya, semuanya hilang. Tak ada yang tersisa hanya sebuah ruangan kosong. Alat-alat gymnya pun tidak ada di ruangan ini.
"Ma! Ma!" Brian berteriak di rumah itu mencari ibunya. Ternyata ibunya sedang duduk di sofa makan cemilan sambil menonton drama.
Ibunya hanya meliriknya sekilas kemudian melanjutkan kegiatannya tanpa mau menatap Brian. Ia memegang remote mengencangkan volumenya, "kayaknya aku nonton drama deh kok jadi ada suara Tarzan." Ucap Maya menusuk pada Brian.
Brian menghiraukan perkataan ibunya, "Ma! Foto-foto aku mana diruangan dalam kamar? Alat gym aku juga. Alat fotografi aku? Ma." Brian menatap ibunya sambil memberikan tatapan memohon.
Ibunya menatap tajam Brian mengambil sapu lidi yang sudah disiapkan, "begini kamu bicara sama ibumu!" Maya menunjuk Brian dengan sapu lidinya, "berlutut!"
"Ma," parau Brian, ia benar-benar sangat sedih setidaknya jika ibunya marah jangan menghilangkan semuanya tanpa jejak seperti itu. Ia juga masih sayang dengan barang-barang sisanya mengapa tidak membuang yang di sela ruangan saja.
"Berlutut!" Maya kini berdiri menunjukkan sapu lidinya pada Brian. Brian hanya bisa pasrah berlutut sambil menatap ibunya dengan sedih, "Mama tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini Brian. Mengapa kamu tidak menolak ketika Papamu menikahkan kalian berdua."
Brian menatap ibunya dengan raut sedih, "Ma. Dimana sisa barang yang ada di kamar, Mah. Kalau Mama mau buang yang ada di sela ruangan saja. Sisanya jangan. " parau Brian ia memang masih ragu dengan hatinya pada Naya, atau mungkin hatinya masih berlabuh pada Melisa, ia masih mencari tahu itu. Tapi di ruangan itu tidak hanya berisi kenangan mereka berdua disana juga berisi kenangannya ketika kecil hingga dewasa bersama Effendy. "Ma itu satu-satunya kenangan aku sama almarhum," Brian meneteskan air mata ,"kalau Mama buang aku nggak punya kenangan lagi."
Maya menatap anaknya, air matanya juga mulai meleleh. Matanya tak kuat menatap anak bungsunya ini, "kalau kamu bisa jaga itu semua Mama nggak akan sebodoh itu, Brian. Semuanya, semuanya itu penuh dengan Melisa." Ia menatap anaknya ini, "foto kamu dengan Kakakmu juga ada dia! Mama tak ingin itu Brian. Anak Mama, Mama yang sayangi, Mama yang membesarkan yang merawat kalian penuh kasih sayang." Maya terisak, "tapi kalian malah lebih mementingkan Melisa. Aku ibumu, Brian! Bukan dia!" Ucap Maya ia menunjuk dirinya sendiri. Niatnya ingin memberikan pukulan telak pada anaknya ini tapi ia yang malah diberi pukulan telak.
Brian menatap ibunya, ia berdiri memeluk ibunya dengan berderai air mata, "maaf, Ma. Brian minta maaf, tapi Brian mohon sisanya dimana?"
Maya melepaskan pelukan Brian, "sedari tadi yang kamu pedulikan hanya ruangan itu Bri. Kamu tidak mendengar ibumu berkata apa."
__ADS_1
Maya menatap anaknya dengan kecewa.
"Mama saja kecewa bagaimana dengan Naya, Bri." Ibunya menaruh sapu lidi itu. Kalau begitu jika ini hukuman dari Tuhan yang diberikan untukku aku terima." Ia menatap anaknya, "berbuatlah sesukamu, Bri." Maya hendak pergi namun Brian kembali memeluknya, menggenggam kedua tangan ibunya. "Ma. Maaf Ma." Brian memberikan sapu lidi itu pada ibunya, "kalau Mama mau pukul Brian silahkan. Mau sabet Brian silahkan, tapi Brian nggak bisa dicuekin Mama. Brian nggak bisa kalau Mama tidak jadi memberi Brian hukuman." Brian kembali berlutut. "Pukul Brian, Ma. Brian salah. "
Maya memegang sapu lidi itu, menatap kecewa pada Brian, "andai Kaka kamu masih ada dia pasti yang akan bela kamu. Tapi sayangnya kamu meminta hukuman hanya atas ruangan itu dikembalikan." Maya menatap Brian kecewa, "Mama capek, Bri." Maya pergi dari tempat itu, Kembali ke kamarnya.
Brian berteriak, memukul angin. Ia kembali ke kamar itu menangisi apa yang terjadi hari ini. Bagaimana lagi ia tidak bisa meninggalkan ruangan itu setidaknya didalamnya juga terdapat beberapa foto penting ketika ia bersama Effendy, hanya itu. Tapi ibunya menganggapnya lain. Sayangnya memang semua isi foto itu dipotret, diperjuangkan, disponsori dan didukung oleh Melisa.
Brian menatap gawainya yang biasanya setiap istirahat atau jam makan ataupun ketika sang pengirim pesan senggang ia pasti mengirimkan pesan yang isinya adalah kata-kata penyemangat, bertanya sudah makan atau belum. Kini gawainya sepi kembali tidak ada yang menghubunginya.
Brian berjalan gontai pergi dari rumah besar itu, menaiki mobilnya untuk pulang kerumah menemui istrinya jika ia dihukum untuk jaga dua sip. Dan itu dimulai besok.
Brian menatap rumah yang sepi, menaiki tangga mengetuk kamar Naya. "Nay, bisa kita ngomong." Parau Brian. Naya di dalam tidak menyahut. Brian menghela nafas, "aku dihukum sama Papa jaga dua sip selama tiga hari. Dan kamu tahu aku juga dihukum sama Mama karena ruangan itu. Maaf, yah. Aku memang laki-laki yang plin plan." Brian menunggu namun tetap tak ada respon ,"jangan lupa makan, yah. Sebenarnya aku rindu masakanmu. Kamu bisa kirimi aku makan setiap istirahat?"
*****
Mengistirahatkan badannya yang lelah apalagi ia belum mengobati luka-luka akibat perkelahiannya dengan Aldi, ia sungguh lelah. Akhirnya tak butuh lama terlelap. Hingga tak menyadari Naya yang masuk kedalam kamar itu. Ia menatap suaminya yang terlelap tanpa membersihkan diri di beberapa bagian bajunya juga sedikit kotor. Biasanya suaminya ini anti sekali dengan kotor apalagi jika itu adalah ia pasti sudah di omelidan di beri perkataan seperti cabe mercon.
Naya mengepak beberapa baju yang akan dipakai suaminya ketika nanti di rumah sakit, pasti selama tiga hari suaminya tidak akan pulang. Itu lebih baik daripada suaminya ini kecapean. Walau hati Naya masih marah dengan suaminya, tapi tetap saja entah kenapa hatinya tidak bisa menjauh.
Naya mengambil kotak obat mengambil air menaruh antiseptik ke dalam air itu. Mengusap pelan-pelan pada luka yang berada di rahang juga beberapa di sekitar pundaknya. Setelah Naya merasa tugasnya sudah selesai hendak menaruh membuang air itu namun tangannya ditahan oleh suara serak suaminya.
"Makasih," Brian menelusupkan tangan Naya di dadanya memeluk tangan itu.
__ADS_1
Naya menghela nafas, "bangun, Mas." Brian menggeleng, menuntun tangan Naya ke dalam bajunya. Membuat Naya menatap Brian dengan tajam. Suaminya ini mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Perut aku sakit," Brian membuka matanya menatap Naya dengan melas. Brian mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang agak Naya gampang untuk mengobatinya. Naya kembali menghela nafas menatap perut suaminya yang terlihat baik-baik saja. Ketika Naya tekan sedikit Brian meringis menunjukkan jika itu sakit sekali.
"Aku nggak tahu, yah kamu abis main dimana sampai luka gini. Kalo mau main jangan libatkan aku, Mas. Giliran sakit aja manja. Aku jadi kebayang kamu yang manja sama Melisa." ucap Naya terus memberikan kompresan pada luka Brian.
Brian menghela nafas. Sepertinya sebelum semuanya selesai masalah dirinya yang masih mencintai Melisa terus akan ada di benak semua orang, "Ra."
"Ra." Selidik Naya, "siapa lagi, Mas? Kamu kalau mau main cewe kira-kira dong. Kemarin Melisa sekarang Ra. Siapa lagi?" Naya menekan luka Brian hingga sang empu meringis.
Brian menghela nafas lagi, ia memegang tangan Naya,"dengerin dulu, Ra. Ra itu diambil dari nama kamu Revita. Aku ambil r dari depan dan a dari belakang jadi Ra. Aku panggil kamu Rara."
Naya menatap suaminya penuh selidik ada apa suaminya ini sepertinya ketimpa tangga memberikannya sebutan romantis, "aku mau kaya nabi yang punya sebutan buat istri tercintanya. Kamu sebut aku apa?"
Naya hanya ber oh ria, melanjutkan mengompres perut suaminya."gletser! pak landak!"
"Hah!" Ucapan Naya membuat Brian terperangah apanya yang gletser ia disamakan dengan bongkahan es di Antartika. Pak landak? Apalagi itu hewan berduri.
"Apa!" Naya menatap tajam suaminya, "udah ah capek. Aku mau balik ke kamar."
"Jangan cegah." Hari ini Brian banyak sekali menghela nafas, memang sepertinya ia harus mengubah semuanya.
****
__ADS_1