
Naya menutup pintu kamar rahasia itu. Semoga saja suaminya tidak tahu. Naya merasa Lala memeluknya begitu kuat seperti seorang anak yang ditinggalkan oleh ibunya. Naya menepuk-nepuk punggung Lala.
"Lala mau tidur lagi?" tanya Naya. Matanya menatap punggung yang ringkih yang masih membutuhkan kasih sayang.
Lala mengangguk juga menggeleng," Lala ngantuk, tapi Lala tidak mau ditinggal."
"Maaf ya, La. Tadi Mama Naya harus ganti baju dulu. Masa mau peluk Lala bajunya kotor."
Lala mengangguk. Ia bangun dari senderan bahu Naya. "Mama Naya sudah bersih mengapa tidak langsung ke kamar Lala." ucap Lala penuh selidik ia berdekap dada. "Tadi mata Lala juga lihat. Mengapa menangis?" Lala menatap Naya sedih, "Lala nakal, yah? Maafin, Lala. Mama Naya!" Lala mengelus wajah Naya dengan tangan kecilnya, "kata Ayah kalau Lala menangis itu berarti hati Lala resah. Ada sesuatu yang mengganggu Lala. Ayah selalu usap Lala, seperti ini." Lala mengelus surai Naya dengan penuh kasih sayang juga sedikit berjuang karena Lala pendek.
Naya tersentak akan perkataan Lala. Membuatnya tersadar, hidup itu bagaikan permainan jika kita tidak bisa menang maka kita akan kalah. Jika tidak ada yang benar maka kita yang minta maaf. Tapi bukan itu intinya, mengalah bukan berarti kalah dan menang bukan berarti pahlawan. Naya harus menuntaskan hal yang membuatnya salah paham.
"Kalau begitu, Mama Naya minta maaf, yah." Naya memeluk Lala, "jangan nangis, yah. Yuk kita tidur lagi." Naya mengajak Lala pergi ke kamarnya untuk melanjutkan tidur yang tertunda. Lala mengambil boneka yang tersimpan di kasur memeluknya kemudian bersiap menghadap Naya memintanya untuk menepuk-nepuk. Naya tersenyum, menuruti permintaan gadis kecil ini.
Selang beberapa menit Lala tertidur Naya memberikan jarak mencium dahi Lala dengan penuh kasih sayang.
Naya sendiri menatap langit-langit kamar dalam keheningan. Memikirkan perkataan Lala yang kini memeluk boneka ubur-uburnya. Memang benar kata nabi janganlah melihat siapa yang mengatakan tapi lihatlah apa yang dikatakan. Itu jelas sekali merujuk pada kata-kata Lala. Hatinya resah, benar-benar resah sebenarnya. Suaminya ini sudah menerima dirinya belum dalam hatinya. Jika memang belum mengapa memberi harapan lebih.
Perempuan itu menggunakan hati. jadi untuk suaminya, tolong jaga hatinya agar tidak lelah untuk berjuang.
Hingga mata Naya mulai berat dan terlelap memeluk Lala yang menjelma menjadi bantal guling. Yah. Semoga saja matanya juga tidak lelah untuk terus memandang suaminya.
*****
Aldi kini menggendong Naya yang sudah wangi dimandikan oleh Naya. Maya sendiri memegang brownies yang tadi mereka buat untuk dijadikan oleh-oleh.
"Ayah sudah. Lala sudah besar!" tolak Lala karena sedari tadi ia terus diciumi oleh ayahnya ini.
"Dimata Ayah, Lala masih kecil." jawab Aldi dengan lugas. Menurutnya sedewasa apapun anaknya. Ia akan tetap dianggap anak-anak olehnya.
"Ini jangan lupa dimakan." ucap Maya menyodorkan plastik brownies yang sudah dibungkus rapi.
"Ini buatan Lala, Ayah. Tadi Lala bantu." ucap Lala menatap ayahnya.
__ADS_1
"Iya?! Wah anak ayah jago masak. Kayaknya besarnya bakal jadi chef deh." Aldi pura-pura terkejut. Ia menatap Naya dan Maya bergantian. "Apalagi chef-nya yang ngajarin. Pasti Lala jadi chef terhebat." Ucap Aldi memberikan jempolnya.
"Iya! Lala membantu Mama Naya dan Oma."
"Kalau begitu makan sampai habis kuenya. Nanti kita buat lagi menu lain." ucap Naya menatap Lala yang kegirangan akan kata-kata Naya.
"Boleh! Lala mau!" Lala bersorak melambaikan tangannya. Semua tertawa senang ketika Lala memberikan respon yang positif.
"Kalau begitu kita pulang." Pertanyaan Aldi membuat Lala lesu tiba-tiba.
"Kasihan, ayahnya capek. Lihat keringatnya sudah banyak." Ucap Naya membantu Aldi agar Lala mengerti.
"Juga bau!" Lanjut Maya menjepitkan dua jarinya ke hidung.
Lala kemudian meniru maya, mendekatkan dirinya pada Aldi, "iya! Ayah bau!"
Aldi menatap kedua mertua dan menantu yang tertawa terbahak-bahak. Ia yang menjadi bahan rujukan. Aldi menghela nafas, "iya! Ayah bau. Sekarang pulang, yah."
Lala mengangguk, mengulurkan tangannya pada kedua wanita ini, "assalamualaikum,"
Aldi menatap keduanya, ia bersalaman pada Maya kemudian tersenyum pada Naya, "Ma, Aldi pulang. Naya."
"Hati-hati dijalan."
*****
Di perjalanan pulang Naya banyak bercerita tentang setengah harinya di rumah Oma bersama Naya, anak penyuka ubur-ubur ini membagikan kisahnya ketika memasak. Ketika mereka bermain tepung padahal kedua orang yang menjaganya sudah besar, tapi mereka juga tak ingin kalah dari Lala. Lala tertawa mengingat itu.
Aldi tersenyum senang, sesekali menatap anaknya ini hingga di perempatan jalan lampu berganti merah Lala bercerita pada Aldi jika ia
Menemukan Naya yang menangis, bersedih karena sebuah foto yang Lala ingat itu foto Om Brian-nya bersama perempuan. Lala sendiri memperagakan sedang apa foto itu menggunakan dua boneka yang saling bersentuhan.
Aldi langsung terdiam, menatap lampu merah yang perlahan-lahan berubah menjadi hijau. Tidak memperdulikan klakson yang sudah berbunyi. Ia menatap anaknya ini meminta untuk menghentikan ceritanya. Lala sendiri mengangguk tidak paham dengan ayahnya.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Aldi melaju membelah ibu kota yang begitu panas dengan kecepatan rata-rata. Ia sudah tahu siapa perempuan yang dimaksud Lala. Itu pasti Melisa. Brian masih menyimpan foto-foto itu. Ia tidak tahu Naya sudah menemukan berapa foto tentang Brian dan Melisa karena foto itu adalah bentuk kenakalan Brian sewaktu SMA dan Aldi tidak bisa mencegah itu dikala Brian sedang membencinya.
*****
Naya sampai di rumah masih kesal dengan Brian. Ia ingin dibujuk seperti istri-istri lainnya ketika mereka marah ataupun ngambek sayangnya Brian tidak akan pernah seperti itu.
Brian menatap Naya yang duduk diam di meja makan. Naya sudah melakukan kewajiban yang dia bisa, malahan sekarang ia yang sedikit merindukan dekapan hangat itu. Hanya saja gengsinya terlalu besar. "Makan!" Ucap Brian melihat Naya yang hanya mengaduk-aduk makanan tanpa minat.
"Nggak lapar." Jawaban Naya membuat Brian mengernyit, kalau tidak lapar untuk apa duduk disini dengannya. Naya yang paham akan lirikan Brian memutar bola matanya, "aku memenuhi kewajiban yah, Mas. Jangan geer!"
Brian menatap Naya dengan tajam, wanita ini berani memutarkan bola matanya pada suami, "tata krama pada suami! Matamu tolong dikondisikan."
Naya jengah. Apanya yang tatakrama suaminya saja punya tata krama hanya ketika minta jatahnya, "gini, Mas! Gini!" seru Naya menunjukkan bola matanya yang ia putarkan.
"Kamu!" Brian geram. "Bisa tidak sih seperti perempuan lainnya. Bersikap layaknya istri pada suami. Perempuan harus taat!"
Pernyataan suaminya membuat Naya tidak habis pikir, "apa?!" Naya menaruh satu tangannya di telinga, "nggak salah denger aku, Mas." Naya menaruh kedua tangannya di meja menjadi tumpuan,"kamu samain aku sama perempuan lain. Maksud kamu siapa? Melisa?! Iya?! Atau ada yang lain?! Melisa juga."
Brian tak habis pikir pada Naya untuk apa melibatkan Melisa pada obrolan ini. "Cukup!"
Naya berdiri memandang suaminya, "aku, ya aku. Nggak bisa jadi Melisa! Kalau kamu mau sama aku, ya harus terima aku apa adanya sebagaimana aku terima kamu. Tapi kalau kamu mau itu Melisa, aku tekankan aku bukan Melisa!"
Brian ikut berdiri, "apa maksud kamu? Kita tidak sedang berbicara tentang Melisa. Kita sedang membicarakan tata krama kamu sebagai istri." Brian menganggap Naya terlalu pencemburu hanya karena ia menolong Melisa di kolam renang.
Naya menarik nafas, "kalau gitu, kamu pilih aku atau Melisa?" Tantang Naya. Ia ingin melihat bagaimana suaminya ini menjawab.
Ruang menjadi ajang perdebatan suami istri ini. Brian memandang Naya yang terlalu otoriter akan pernyataan cinta, toh ia juga sudah memberikan segalanya bukan pada wanita ini. "Saya sudah bilang itu bukan gaya saya."
Naya tersenyum, memandang suaminya dengan berlinang air mata, ia menjambak rambutnya, "ia. Sudah jelas. Itu bukan gaya kamu. Ibarat sepatu aku ini si buruk rupa yang dipasangkan dengan sepatu merek ternama yang dipajang di etalase harganya saja muahal! Iya, aku mah cuma lima puluh ribu aja udah dapet satu pasang." Naya menatap netra suaminya. "Mas. Lain kali kalau masih cinta bilang, jangan bikin anak orang berharap. " Naya langsung pergi tanpa mengindahkan perkataan suaminya yang berkata tidak sopan berkata aku kamu pada suami.
Hanya saja Naya sudah lelah, ia kembali ke kamar meninggalkan Brian yang sudah tidak mood lagi untuk melanjutkan makan malam.
Kini keduanya berada dalam ruangan yang berbeda juga dalam kondisi yang berbeda, Brian hanya merasa ini akan berlalu Naya pasti akan meminta maaf padanya.
__ADS_1
Sedangkan Naya sendiri kini tengah menghabiskan tisu dalam kamarnya, sebenarnya ia tidak ingin berlarut-larut akan kesedihan ini, apalagi air matanya sangat berharga jadi ia menonton Drakor untuk memanipulasi itu. Sayangnya Naya tetap menangis walau itu adalah adegan romantis, menangisi mengapa hidupnya tidak bisa seindah drama Korea. Mengapa drama Korea laki-lakinya tampan, bisa menghibur dirinya. Setidaknya para idol itu sedikit mengobatinya akan dunia nyata yang kejam. Dari pada suaminya yang hanya bisa membedah, juga sekarang membedah hati istrinya ini hingga menangis tersedu-sedu.
*****