
Di ruang tamu semua sudah berkumpul Brian menatap Naya dengan tanda tanya tadi Brian diminta untuk mengumpulkan para sepupunya di ruang tamu.
Mendapat tatapan dari suaminya Naya tersenyum, lalu memegang pipi suaminya, "kenapa, Mas?" Bisik Naya.
Naya tahu mereka di perhatikan oleh kedua sepupu Brian hanya saja mereka memilih acuh tak acuh.
Zoe datang. Ia duduk di samping Cesi menatap Brian seperti bertanya 'ada apa?'
"Nggak ada apa-apa cuma berkumpul aja biar lebih terasa kekeluargaannya," Naya yang menjawab sembari terus mengelus tangan suaminya agar menurut.
"Apaan sih! Lo punya motif apa?" Seru Zoe.
Brian berdehem menatap tajam Zoe. Walau Brian masih belum memiliki rasa untuk Naya tapi Naya sekarang adalah istrinya yang harus dihormati layaknya ia, karena menyangkut martabat dirinya.
Zoe terdiam memalingkan wajah, Brian belum pernah membela seseorang hingga seperti itu. Jika ia bercanda dengan Melisa saja dengan memakai Lo gue Brian tidak akan masalah.
"Maaf, Mas Brian. mungkin ada benarnya kata Zoe. Berkumpul buat apa? Hanya saja mungkin penyampaiannya salah," ucap Cesi membenarkan. Berkumpul seperti ini sering ia lakukan jika keluarganya tidak ada yang pergi alias berada di rumah. ibu ayahnya tidak mengurus perusahaan. Aldi dan Lala juga datang kerumah.
Naya tersenyum canggung. Sebenarnya ini adalah akal-akalannya yang ingin mengetahui bagaimana para sepupu Naya tapi malah kacau dengan perkataan Zoe.
"Oke- Oke Tante juga minta maaf. Mas Brian lagi sensi nggak di kasih jatah." Brian langsung menatap Naya dengan horor. Di kasih jatah apanya. Baru pertama kali disentuh saja sudah lemas seluruh badan. Naya semakin hari semakin berani.
Mereka bertiga mengangguk malu pada pasangan baru ini. Masih hangat-hangatnya, tapi bisa tidak jangan di ceritakan di sini. Mereka masih pemula.
"gimana kalau kita main permainan?" Usul Cesi. sebenarnya ia mengusulkan bermain ini agar tidak canggung juga ia sudah lama tidak berkumpul ayah ibunya meninggalkannya di california setelah mengharuskan untuk ke Korea. Yah, ibu dan ayahnya tidak bisa dipisahkan.
"Truth or dare!" Ucap Sina malas.
"Boleh," seru Cesi.
"Apaan sih, kaya anak kecil tau nggak! Lagian ini sudah malam waktunya istirahat!" Seru Zoe tak terima. Zoe sebenarnya iri. Terkadang iri dengan Cesi yang keluarganya selalu harmonis, iri dengan Sina yang tak pernah mempermasalahkan mau berbuat apa. Keluarganya selalu setuju. Sedangkan ia hanya sendiri sedari kecil dididik dengan teriakan, omelan, juga pukulan. Zoe tak bisa melupakan itu.
"Ayolah, Zoe kamu nggak akan tahu seberapa serunya ini. Apalagi jika ada kesempatan kamu bisa memberikan pertanyaan pada kedua pasangan ini," seru Cesi.
Naya meneguk ludahnya semoga saja pertanyaannya tidak aneh-aneh.
"Ya Sudah, biar Kakak ambil botolnya dulu,"
Naya berjalan menjauhi mereka bertiga mengambil botol.
"Sok akrab," gumam Zoe.
Sina mempeehatikan Zoe sedari tadi Ia bisa tahu hati kecil Zoe juga iri akan berkumpul seperti ini. Sepertinya Naya sudah tahu bagaimana mereka dan ingin membuat mereka nyaman. Hanya saja pemikiran Sina salah besar.
Naya datang dengan botolnya menaruh di atas meja. "Mari mulai,"
"Siapa yang akan memutar lebih dulu?" Ucap Cesi.
"Biar aku!" seru Sina.
Sina memutar botol itu. Botolnya berputar hingga berhenti pada Brian.
__ADS_1
Brian berdehem,"aku nggak ikutan."
Naya menatap tajam Brian, "Mas, jangan bercanda. Nggak aku kasih jatah kamu!
Brian menaikkan satu alisnya, satu tangannya ia taruh di pingganga Naya,"yakin?" Naya meneguk salivanya ketika Brian mengencangkan cengkraman di pinggangnya.
"Please, deh. Mas Brian truth or dare!" Seru Cesi.
"Truth!"
"Mas Brian cinta nggak sama Tante Naya?" Tanya sina.
Naya sungguh menunggu-nunggu jawaban Brian. Apakah Brian sudah mencintainya.
"Cinta." Entah kenapa Naya kecewa dengan jawaban itu. Masih ada rasa kurang puas.
"Oke, sekarang Mas Brian putar."
Brian memutar botol. Botol berputar berhenti di hadapan Naya. Naya bersiap menghadap suaminya.
"Truth or dare!"
"Kayaknya dare seru!" Naya tersenyum girang.
"Mau ronde berapa?"
"Eh." Naya menjadi batu.
*******
Brian kini duduk di pinggir kasur. atensinya mengikuti pergerakan Naya yang sedari tadi bulak balik. Brian menaikkan satu alisnya seperti beratanya ada apa?
Naya berdecak pinggang. Menatap suaminya dengan muka cemberut. "Mas kalo mereka mikirnya macam-macam gimana?"
"Macam-macam gimana?"
"Yah, macam-macam kayak kok Kakak Naya begini, kok Kakak Naya begitu."
"Kakak?" Brian berucap lemah. Jika ia pikir pikir Naya menikah dengannya umur 19 tahun di mana ia sebentar lagi berumur 30 tahun. Memang jika mereka tidak menikah biasa-biasa saja di panggil kakak, tapi Naya sudah menikah dengannya. Harusnya Tante agars derajat dengannya. Bukan Kakak seolah-oleh ia mempunyai anak satu.
"Iya." Naya mengaguk lemah. "Masa Tante kayaknya tua banget nggak sih?"
"Coba ulangi?" tantang Brian.
"Kakak," ucap Naya lemah. Brian menyuruh Naya untuk maju selangkah. Naya dengan takut-takut maju selangkah. Ketika langkahnya belum sempurna pinggangnya di tarik hingga duduk di pangkuan Brian.
"Akh!" Naya langsung mendekap mulutnya.
"Kenapa? Nggak sabar?" Goda Brian.
"Apa sih Mas," Naya memukul pelan dada bidang suaminya. Ia bisa merasakan berapa bidangnya suaminya itu.
__ADS_1
Brian berbisik di telinga Naya,"nakal,"
Naya menurunkan lehernya, geli akan rasa baru yang menimpanya, "Mas."
"Kamu itu istri saya, bukan anak saya."
Naya menatap manik suaminya," kalau begitu kamu cinta aku nggak?"
"Cinta."
"Kok kecewa yah,"
"Coba bilang, aku cinta kamu Naya Revita Mahesa." Pinta Naya.
"Kalau aku bilang gitu mau dikasih apa?"
"Apa?" Naya bertanya-tanya.
"Jatah!"
Naya menutup matanya, "ntah. Coba dulu."
"Nggak. Itu bukan tipe saya." Hah. Naya tercengang mendengar jawaban Brian. Oh, ternyata disini hatinya merasa kecewa. Terus tadi ngomong cinta apa. Seolah hanya mainan.
Brian menatap Naya yang lesu karena mendengar jawabannya untuk apa diucapkan Melisa saja tidak pernah minta yang seperti itu.
"Kenapa?" Naya memalingkan wajahnya. Brian menahan wajah itu untuk berhadapan dengannya. "tatap mata saya,"
Naya menatap mata suaminya, "saya mau nagih janji kamu," Brian mendekatkan dirinya pada Naya mengendus wangi tubuh istrinya. Naya yang di perlakukan seperti menjadi menciut.
"Relaks," Brian mencium pipi Naya. Keningnya berlanjut ke hidung juga kini ke bibir yang menjadi candunya. Brian diam tidak melakukan apapun, tapi lama kelamaan ia berusaha masuk sayangnya Naya tidak membukakan. Sepertinya Naya tak paham,"buka,"
Naya tak paham buka apanya,"em," Brian akhirnya mengigit bibir itu membuat Naya terpekik, mereka larut akan itu.
Brian menatap Naya yang kini melihatnya membuka pakaian. Naya menyilangkan tangannya, "jangan takut,"
Kini mereka berdua berhadapan dengan tanpa sehelai benang, Naya masih takut juga ragu ragu. Tapi akhirnya ia mengangguk.
Brian yang mendapatkan persetujuan melancarkan asiknya. Sayangnya….
Brak. Brak. Brak.
"Mas, Briannn! Tolong ini ada kecoa!" teriak Zoe.
Brain menatap Naya dengan lesu. Naya mengelus pipi Brian. Menyuruhnya untuk pergi. Tapi Brian menolak, ia sudah tak tahan toh mereka bisa minta tolong pada Bi Inah untuk repot-repot.
Naya tak bersiap ketika Brian melancarkan aksinya. "Em," Naya menarik apapun yang ia bisa.
********
🫣
__ADS_1
salam
SEE 🫠