
Mobil bermerek ternama berpisah di taman Kemangi. Naya harus segera pulang karena ini sudah menjelang Maghrib bisa-bisa suaminya yang dingin ini akan membuat semua orang membeku dengan omongan dan tatapannya yang tajam.
Ketika mobil itu sampai benar saja mobil Brian sudah terparkir di garasi. Naya masuk ke dalam kamar, membuka sedikit pintu memastikan apakah Brian ada atau tidak.
Pintu itu ia tutup. Naya masuk dengan helaan nafas. Ia beruntung Brian sepertinya tidak ada di kamar. Buru-buru Naya berjalan ke walk in closet untuk menaruh barang-barang, hanya saja ketika Naya membuka pintunya terpampang Brian yang hanya menggunakan handuk.
Brian menatap Naya yang membeku di tempat. Apakah semua wanita seperti itu jika menatap pria yang sedang lengah mereka dengan sengaja menyodorkan diri. Tapi ia ingin tahu seberapa besar nyali Naya.
sayangnya Brian salah Naya masih belum seberani itu. Naya membeku, langsung menutup pintu dengan dengan sedikit kencang.
Setelah drama itu terjadi Naya duduk di meja riasnya. Memeluk boneka landak yang diberikan suaminya. Sesekali mengintip Brian yang tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Naya jadi berfikir apakah ia bisa menaklukkan hati Brian, sedangkan tenggat waktunya sebentar lagi selesai. Bertepatan dengan penilaian keluarga, Naya harus apa? Ia jadi berfikir apakah ibunya masih dikejar kejar bodyguardnya si Jamal yang untuk menagih hutang. sepertinya setelah ultah Lala ia harus pulang ke rumahnya.
Brian menangkap basah Naya yang sesekali meliriknya membuat Naya membeku. Matanya terpaku akan Brian tanpa bisa berkutik. Brian menaruh laptopnya berjalan ke arah Naya.
Brain memutar Naya agar menghadap ke arahnya, Kini posisi mereka berhadapan Brian terus mengikis jarak hingga hanya terhalang boneka landak.
"Kenapa?" Bisik Brian si telinga Naya.
Leher Naya berkontraksi. Ia tak sanggup ketika Brian sudah berkata dengan serak seperti itu.
"Mas."
"Jangan pura-pura." Brian langsung menggendong Naya ala koala melepaskan boneka landak itu ke lantai.
Mereka saling bertatapan. Si wanita menatap laki-lakinya penuh damba, sedangkan si pria menatap si wanita dengan penuh gairah.
Tapi entah kenapa hati Naya masih belum merasakan kasih sayang penuh dari suaminya.
Brian membuat Naya mengeluh. Biarlah mereka yang melanjutkan kisah yang tak akan ada habisnya.
*******
Pagi -pagi semua penghuni rumah ini bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun Lala juga acara mempererat tali silaturahmi keluarga.
Naya memilih dress bermotif biru dengan sedikit renda di bagian roknya. Brian sendiri memakai baju senada dengan Naya. Kemeja putih dan jas biru jangan lupa gaya rambut Brian yang mirip idol K-Pop. Membuat setiap wanita klepek-klepek.
Di meja rias, dengan sentuhan terakhir Naya mengoleskan lipstik. Naya menuruni tangga melihat tiga anak burungnya telah siapa dengan gaun masing-masing. Sayangnya Naya sedikit merasa insecure apalagi dengan gaya mereka yang elegan juga bermerk ternama. Semoga saja memang ulang tahun anak kecil bukan ajang pamer kekayaan.
__ADS_1
"Mas, Brian, Ayo." Ucap Zoe pada Brian tapi matanya jelas memandang Naya tak suka. Menurutnya bajunya kampungan apalagi dress-nya seperti model sembilan puluhan. "Kampungan."
Naya masih bisa mendengar Zoe. Sayangnya ini hanya satu satunya baju yang menurutnya pantas untuk ke pesta. Malahan jika di kampung jika ada yang ulang tahun ia hanya menggunakan baju biasa tanpa hiasan.
Sepertinya ucapan Zoe membuatnya bertambah tidak percaya diri. Sayangnya suaminya tidak bisa mentolerir keterlambatan juga tidak mentolerir mengulur waktu. Alhasil Naya berangkat dengan kepercayaan diri yang benar-benar mengkhawatirkan. Semoga saja Naya bisa menjalani pesta itu.
Di sepanjang jalan tak ada perbincangan, tak ada yang mengeluarkan suara hingga mereka berbelok masuk ke perumahan elit. Naya tak habis pikir sepertinya hobi sekali keluarga besar Prakoso ini menempati tempat tinggal yang pekarangannya saja harus menggunakan mobil agar cepat sampai.
Naya turun dari mobil itu bersamaan dengan tiga bocah dan Brian.
"Naya." Maya memeluk menantunya ini. Menatap kagum pada penampilan Naya. "Sederhana, tapi elegan." Ucapan Maya membuat kepercayaan diri Naya bertambah memang terkadang kita membutuhkan pujian agar bisa melewati tantangan.
"Mama apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik sayang." ucap Maya mengiringi Naya berjalan bersamanya menuju ruangan yang pesta.
Ketika mencapai ruangan tempat Lala merayakan pestanya Naya menarik nafas baru lima tahun saja sudah sebesar itu kue ulang tahunnya bagaimana jika umurnya bertambah.
Pandangannya bisa melihat banyak sekali anak kecil juga orang tuanya yang datang. Naya bisa menelisik ada beberapa orang yang menurutnya familiar. Apalagi ketika Naya masuk ada beberapa orang yang sepertinya adalah bagian dari keluarga Prakoso.
Naya tersenyum ketika atensinya menangkap seorang anak kecil yang berada di gendongan Aldi. Ia meronta-ronta ingin diturunkan.
"Lala, sayang." Mereka berpelukan dengan erat. "Selamat ulang tahun Lala. Semoga panjang umur, menjadi anak yang Sholehah, juga membanggakan." Ucap Naya sambil memeluk Lala.
Lala mengamini doa Naya. Biasanya ia tidak akan sesemangat ini jika ayahnya mengadakan pesta untuknya. Selalu saja alasannya agar Lala mau bersosialisasi dengan teman sebayanya. Apanya bukannya bersosialisasi malah para orang tua menunjukkan seberapa banyak kekuasaan mereka.
Naya berbisik pada Lala, "Mama bawain Lala kado. Memang tidak besar juga tidak terlalu berharga isinya, tapi semoga saja Lala suka yah." Lala mengangguk antusias. Apapun yang diberikan Naya, Lala akan terima.
Naya tersenyum pada Aldi sebagai salam. Kini bergantian ketiga anak burung itu memberikan ucapan selamat, doa juga hadiah untuk Lala.
Brian sendiri menatap tajam pada Naya. Mama. Apanya ia tahu Lala ingin sekali memiliki ibu, tapi Naya sendiri tidak pernah memberikan konfirmasi padanya.
Aldi menyapa Brian. "Jangan marah. Ini hari bahagia Lala biarin dia senang. Toh Naya juga setuju dipanggil Mama sama Lala. Kayaknya bisa tuh tambah satu." Canda Aldi. Sebenarnya Aldi tahu mau guyonan apapun yang diberikan tetap saja Brian akan berwajah datar.
Brian menatap datar Aldi. Kemudian atensi beralih pada Naya yang tengah fokus bercengkrama dengan Lala.
Di Sudut ruangan dekat tangga seorang laki-laki menelisik, juga bersemirik ketika melihat Naya dan Lala. Ia menatap seorang gadis yang menggunakan dress selutut datang kearahnya.
"Gimana?" Tanya si pria tanpa basa-basi.
__ADS_1
Zoe menghela nafas bisakah Ayahnya sekali saja berbasa-basi setidaknya memberinya sebuah sapaan hangat.
"Belum." Jawaban Zoe membuat Bagas Prakoso menatap tajam pada anak satu satunya ini. Kenapa ia bisa memiliki anak perempuan ketika dia menginginkan seorang anak laki-laki.
"Tak becus!" Hardik Bagas. "Bisanya apa sih?! Harusnya saya bunuh kamu saat tahu kamu perempuan!" Bagas tak segan segan menunjuk wajah anaknya ini, tanpa memperdulikan bagaimana psikis dan mentalnya.
"Masih ada beberapa bulan lagi. Cari berkas itu sampai dapat." ucap Bagas. Ia berlalu pergi meninggalkan Zoe yang menanggung beban di pundaknya.
Zoe menunduk, ia mencoba tegar. Toh ia sudah biasa dengan sikap ayahnya. Matanya menatap nyalang pada interaksi Naya. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke daging hingga membuat merah.
****
Kini semua keluarga Prakoso berjejer setelah pengucapan, bernyanyi waktunya pemberian kue untuk orang yang disayang.
"Oke. Silahkan Lala berikan kue pertama kamu." ucap MC menginterupsi.
Naya memberikan suapan pertama itu untuk Aldi yang sudah merawatnya dengan susah payah. "Yey. Tepuk tangannya."
Semua bersorak gembira. Lala tersenyum sipu ketika Ayahnya mencium pipinya yang memerah. Ini alami.
"Nah. Sekarang suapan kedua." Lala mengambil dua kue membuat semua bertanya- tanya. Lala tak mengindahkan itu ia terus berjalan ke arah keluarga Prakoso. Disana terdapat Nenek Kakeknya dan satu pasang suami istri.
Lala berhenti di hadapan kedua lansia itu. "Nenek, kakek. Terima Kasih rawat Lala sampai tumbuh dewasa." Ucapan Lala membuat siapa saja tersentuh akan kebaikan itu. Lala memberikan satu potongan kue pada keduanya. meminta keduanya bersuapan.
"Terima Kasih, sayangnya Oma. Sehat selalu yah. Apapun untuk cucu Oma." ucap Oma Mencium pipi cucunya.
"Opa nggak tahu harus berkata apa. Tapi kalau Ayah galak sama Lala bisa cari bantuan Opa." canda Denis. Membuat para orang dewasa tertawa akan candaan itu.
"Nah. Sekarang satu potong lagi untuk siapa?" tanya Oma Meli.
Lala tersenyum berjalan ke arah sepasang suami istri. Lala meminta Naya untuk mensejajarkan tingginya. Lala menatap Naya dengan senyum merekah, juga senyum harapan."terima kasih! Mama Naya. Lala setidaknya bisa merasakan bagaimana pelukan seorang ibu yang mengkhawatirkan Lala. Walau baru sebentar tapi Lala berharap kalau nanti Mama Naya punya anak jangan lupakan Lala yah."
Naya tersentuh dengan kata-kata Lala. Semua pasang mata menatap sedih ke arah mereka berdua. Naya langsung memeluk tubuh kecil itu. Ucapan dari seorang Lala yang seharusnya berpikir layaknya anak seusianya. Tapi keadaan yang membuatnya harus mengerti dan dewasa lebih cepat.
"Lala itu anak cerdas. Membanggakan. Siapa saja pasti akan senang bisa bertemu dengan anak secerdas Lala, jangan sedih yah kan hari ini ulang tahun Lala. " Lala tersenyum. Kemudian matanya memandang Brian seolah minta izin menyendokkan sepotong kue ke mulut Naya.
Tanpa basa-basi Brian menggendong Lala di sisi kirinya, tangan Lala yang memegang kue juga dipegang oleh Brian. Mereka layaknya sepasang keluarga bahagia yang saling memberikan kasih sayang. Brian dan Lala memberikan sepotong kue itu kepada Naya.
Sebuah hal sederhana yang membuat siapa saja tersentuh.
__ADS_1