
Naya kini dijemput dengan mobil yang siap mengantarnya. Biasanya jika dalam keadaan hening Naya akan bertanya atau bercengkrama dengan pak Tono. Sayangnya pak Tono memaklumi, sepertinya ada sedikit masalah dalam rumah tangga Naya atau masalah lain. Ia tak ingin ikut campur.
Mobil pajero itu berhenti, terparkir di pekarangan rumah yang begitu megah. Sebelum turun Naya menarik nafasnya. Membuangnya secara perlahan.
Ketika kakinya menapak di bumi, terdengar teriakan menggelegar dari kejauhan. "Mama!" Lala berlari menerjang Naya yang baru saja turun dari mobil.
Naya sedikit terdorong ke belakang, namun tidak ayal ia sangat senang dengan gadis kecil ini. Naya memeluk Lala. "Kenapa? Nunggu, yah."
Lala mengangguk, juga menggeleng. "Lala menunggu, tapi Oma ajak Lala keliling jadi tidak terlalu bosan."
Naya tersenyum cerah sedikit menghilangkan kesedihannya. Naya menatap ibu mertuanya dengan senyum, menyalami tangan Maya.
"Ayo, masuk."
Mereka diajak ke sebuah tempat makan yang terhubung langsung dengan dapur membuat tempat ini mirip meja bar. Naya memandang ibu mertuanya.
Maya hanya tersenyum canggung. Sebenarnya, ketika Cesi bercerita jika mereka mendapatkan menu makanan yang sangat khas dan berbeda, tentu rasanya enak. Dan lagi mereka berkata jika Naya jago memasak. Jadi ingin meminta menantunya untuk membuatkan makanan ringan.
"Kalau begitu Mama mau dimasakin apa?"
Maya berfikir, karena ini sudah melewati jam makan siang juga Lala pasti sebentar lagi akan tertidur karena jadwal tidur siangnya. Jadi ia menginginkan makanan ringan yang mudah dicerna. "Menurut kamu apa?"
Naya berpikir dahulu menatap ibu mertuanya, "gimana kalo bikin brownies?"
Maya mengangguk setuju, "ayo, kita buat!"
Naya tersenyum menatap mertuanya. Lala sendiri yang duduk di tengah-tengah mereka bersorak mengikuti Maya, "ayo, kita buat! Memangnya mau buat apa Oma?"
Mereka berdua tertawa atas kelucuan Lala, "mau buat brownies, Lala mau bantu?" Tanya Naya.
"Mau!" Antusias Lala.
Naya langsung bergerak ke dapur, menyiapkan bahan-bahan yang harus dikumpulkan. Ia ingin membuat brownies simpel saja. Sepertinya Lala sudah mulai menunjukkan tanda-tanda lelah hanya saja ia paksakan. Naya tersenyum melihat Lala dan mertuanya. Kedua beda usia dan generasi itu sedang menakar tepung.
"Kau begitu setelah coklatnya dilelehkan bersama margarin buat adonannya dulu, Ma." Ucap Naya yang sedang menyiapkan bahan selanjutnya.
__ADS_1
"Sip!" Ucap Lala mengikuti Maya. Juga dua jarinya ia bulatkan.
"Oke, sekarang masukkan telur, gula pasir sama baking soda. Terus diaduk. " Ucap Naya. Maya langsung membuat seperti permintaan menantunya, ia memasukkan semua itu.
"Lala mau!" Seru Lala ia juga ingin membantu. Tidak hanya melihat saja.
Naya mengambil tepung, mengolesnya ke pipi Lala yang gembul membuat Lala memegang pipinya, "pipi Lala ada bedaknya." Ucap Lala dengan polos membuat siapa saja tertawa mendengar itu.
"Kalau begitu, Lala masukkan tepung." Dengan Khidmat dan dibantu oleh mertuanya 4Lala berhasil memasukkan tepung ke dalam adonan membuatnya tertawa girang. Walau mukanya banyak cemongan terigu."Oma! Lala masak!"
"Iya, Lala pinter banget, cerdas, anak Sholehah!" Seru Maya.
Naya sendiri kini sibuk memasukkan adonan itu kedalam loyang. Maya yang melihat itu mengajak Lala untuk membalas perbuatan Naya. Setidaknya hanya untuk senang-senang. Lala mengangguk mengikuti instruksi Maya. "Mama!" Panggil Lala membuat Naya menengok ke arahnya. Hingga tepung yang berada di tangan Lala menempel di muka Naya. Membuat Naya shock. Ia bisa mendengar ibu mertua dan Lala bertos ria. Ternyata keduanya bersekongkol untuk membalasnya.
"Lala, Oma! lihat, seperti beruang kutub."
Naya menatap mereka dengan seringai. Membuat keduanya waspada. Naya dengan cepat mengambil tepung mengoleskannya ke dua hidung Maya dan Lala hingga membuat Naya tertawa melihat keduanya terdiam kaget. Naya sepertinya mempunyai bakat menyolekkan tepung.
Akhirnya terjadilah peperangan yang membuat dapur itu seperti kehujanan bedak.
Lala menatap dirinya, "iya. Lala mirip Olaf." Lala memegang hidungnya, "tapi hidung Lala tidak panjang seperti Olaf."
"hahahha!" Naya dan Maya saling pandang. Memang Lala ini pelipur lara jika sedang sedih tanggal mencari Lala maka dijamin ia akan menghibur dengan kepolosannya. Naya sedikit iri dengan Aldi.
Sekarang Naya menyiapkan loyang yang sudah diisi adonan untuk dimasukkan ke dalam oven, "Ada yang mau ditambah? Lala suka apa? Mama mau di tambah apa?" Tanya Naya ingin memberi toping apa.
"Lala mau apa sayang?" Tanya Maya.
Lala berfikir sejenak, "keju!"
Naya menaruh parutan keju diatas brownies itu. Memasukkan loyang ke dalam oven. "Tinggal di tunggu."
Naya melihat Lala yang sudah mengantuk terbukti dari caranya duduk, sesekali mengusap juga ketika matanya terpejam ia langsung memaksanya terbuka. Maya juga memperhatikan, ia tersenyum pada menantunya.
"Lala udah ngantuk. Mending beres-beres terus ajak dia tidur, nanti biar ini diurus sama bibi. " Maya menepuk bajunya."lihat! Mama sudah seperti gembel di perempatan." Maya berjalan menjauh, berganti baju,"baju Lala ada di kamarnya dekat kamar putih. Mama mau ganti baju dulu."
__ADS_1
Naya mengangguk, mengiyakan ibu mertuanya, yang sepertinya sudah tidak nyaman dengan tepung yang berserakan di badannya. Hingga punggung ibu mertuanya itu hilang. Naya memandang Lala, ia tersenyum, "Lala." Ucap Naya lemah.
"Em," Lala kondisinya sudah mengkhawatirkan cemong dimana-mana, tapi matanya tak kuat untuk diajak kompromi.
"Yuk, tidur! Tapi sebelum itu kita bersih-bersih dulu." Setelah Naya berbicara Lala mengangguk mencoba turun dari bangku sayangnya Lala hendak terjatuh. "La,"
Naya langsung menangkap Lala, sudah tahu mata tidak kuat badan sudah ingin istirahat, tapi masih saja dipaksakan. Mandiri sekali lala ini.
Naya menggendongnya ala koala, mereka berjalan hingga tiba di kamar Lala, sayangnya ketika hendak dimandikan Lala sudah tertidur. Akhirnya Naya hanya mengelap dan mengganti bajunya. Melihat Lala sudah beres sekarang ia memandang dirinya yang kotor. Naya menghela nafas, berbalik meninggalkan Lala yang sudah terlelap pergi ke kamar Brian. disana terdapat beberapa bajunya yang sudah disiapkan oleh ibu mertuanya. Sebenarnya Naya bingung, ia jadi menantu Maya kerjaannya hanya mengurus suami, makan, tidur jika ada acara diwajibkan ikut. Sampai pengeluaran rumah saja Naya sendiri tidak tahu menahu, benar-benar Cinderella.
Setelah keluar dari kamar mandi Naya menatap kamar suaminya yang begitu luas, kamar pertama yang membuatnya bertengkar dengan suaminya karena memiliki rahasia mendalam. Ketika Naya mengingat itu ia jadi menengok ke arah pintu yang tidak jauh dari kamar. Naya sangat penasaran, akhirnya ia beranikan untuk membuka pintu itu.
Ceklek. Pintunya terbuka. Apa suaminya tidak menguncinya lagi? Apa memang rahasia itu telah dibereskan? Banyak sekali spekulasi yang berada di benaknya. ketika pertama kali masuk, netra Naya menangkap banyaknya alat fotografi, suaminya ini ternyata suka sekali memotret terbukti dari banyaknya foto. ketika Brian memakai baju putih abu hingga putih biru pun ada. Naya menyentuh salah satu foto di mana tiga anak SMP yang sedang berada di wahana berfoto ria, ia bisa tahu orang yang mukanya tertekan adalah suaminya, yang diapit oleh Effendy dan Aldi.
Yang memotretnya pun seorang gadis yang mengulurkan tangannya memakai gelang merah. Setidaknya suaminya tidak seperti sekarang, ia masih mau di suruh dan diperdaya waktu itu. Naya berkeliling kembali. Bertambah kedalam ia hanya menemukan ruangan gym pribadi yang jendelanya bisa tembus pandang dari dalam untuk melihat keluar, sayangnya yang diluar tidak akan bisa melihat. Berbelok dari sana Naya bisa melihat banyaknya piala yang didapatkan oleh suaminya termasuk juga tentang fotografi. Tercetak jelas foto suaminya yang bahagia mendapatkan piala itu apalagi yang memberinya juga gadis cantik memakai gelang merah.
Wajahnya mirip, Naya ingat ketika ia diculik ia menemukan beberapa foto di gudang itu, dan muka anak ini mirip sekali dengan di foto itu hanya saja ini adalah foto ketika SMP, yang di gudang adalah foto dia mulai beranjak dewasa. Naya menaruh foto itu hendak keluar dari kamar rahasia. Ia kira kamar rahasia apa yang isinya mungkin bom. Isinya hanyalah album-album, ruangan ini seperti museum masa remaja Brian.
Naya melangkahkan kakinya Melewati sebuah lemari yang bertanya tak sengaja menatap sebuah celah. Naya menengok, ternyata disana terdapat meja belajar kecil yang....Naya tercekat, isinya adalah semua foto-foto suaminya yang sangat vulgar menurutnya. Suaminya mendekap seorang gadis dan seorang gadis itu tersenyum senang ketika dipeluk oleh Brian apalagi ia mengalungkan tangannya. Di Ujung meja terdapat beberapa foto lainnya yang lebih vulgar seperti si gadis mencium ujung bibir Brian yang sedang fokus membaca.
Naya melihat satu foto yang menurutnya sangat tidak pantas untuk dipajang di sini yaitu foto Brian yang berciuman dengan gadis yang sama, yang memberikannya sebuah piala, yang memberikannya pelukan hangat. Dan Brian sendiri tidak menolak, malah tangannya bertengger jelas di tengku juga pinggang gadis itu. Naya tak habis pikir dengan ini semua, untuk apa suaminya masih menyimpan foto-foto ini. Di celah ini hanya terpasang foto mereka berdua, hanya berdua dan semua itu sangat intim.
Naya tahu itu hanya masa lalu, tapi yang jadi pertanyaan untuk apa suaminya memajang dan menyimpan ini semua. Naya membekap mulutnya tanpa sadar bulir-bulir jatuh di wajahnya, ia tak sanggup jika Brian masih menyimpan masa lalu. Sedangkan Brian kini bersamanya seharusnya ia membuka lembaran baru dengannya, apa tidak cukup Naya berjuang.
Ketika banyak sekali spekulasi yang datang suara anak kecil yang serak membuat Naya tersadar, "Mama Naya, kenapa?" Lala datang dengan tangannya yang masih mengucek mata. Juga air mata yang tersisa di sudutnya, sesekali cegukan. Tadinya ia ingin menangis kejar, tapi melihat Naya sedang bersedih ia tahan.
Naya langsung gelagapan. "Eh, sayang yuk kita keluar. Ke kamar Om Brian." Naya langsung Menggendong Lala ia tidak ingin mata anak kecil yang masih suci ini ternodai oleh foto-foto yang diambil dari neraka.
Sayangnya Lala menatap beberapa foto yang membuatnya banyak berpikir. Hanya saja ia masih kecil tak ingin terlalu pusing akan itu. Lala langsung menaruh kepalanya di pundak Naya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
semoga Brian cepat sadar, yah. kadang greget sendiri aku juga nulisnya!
salam
__ADS_1
SEE 🫠