
Malam malam Naya memegang pipinya yang kesakitan akibat terserang gigi berlubang.
"Aduh dek beliin teteh obat sakit gigi dong," ucap Naya memegang giginya yang di tempeli koyo.
"Males ah sama teteh, aku lagi kerjain pr,"
"Kamu masih dendam sama teteh de? Jahat kamu kalau Kakak pulang teteh aduin kamu,"
"Bilang aja toh pulangnya masih lama, masih satu Minggu lagi. Aduin aja! si paling di sayang,"
Naya tersenyum,"uluh uluh meni cemburu sama tetehnya geh. Mangkanya gengsi tuh diturunin," Naya mengacak-acak rambut adiknya.
"Teteh!" Naya langsung kabur keluar.
"Ayah teteh mau beli obat sakit gigi dulu di apotek depan,"
"Udah malem, pake garem aja kumur kumur!" Seru emak di dalam kamarnya.
"Nggak tahan ma!"
*****
"Karena malam Jum'at kali yah, jam sebelas udah sepi aja,"
Naya melajukan motornya berbalik, ia melihat sebuah mobil yang dikejar oleh satu mobil dan beberapa motor, di kegelapan malam Naya melihat mobil itu berhenti dan seorang berjas hitam turun menghadapi orang orang itu satu lawan sepuluh. Naya bergidik ngeri ia langsung tancap gas, namun ketika ia ingin tancap gas motor motor itu menghadang jalannya. Kini 2 manusia berbeda jenis itu harus melawan 10 orang.
"CK. Melelahkan!" Naya seperti pernah mendengar suara itu. Ia menajamkan penglihatannya. Itu adalah Brian Mahesa si dokter dingin, namun untuk apa orang orang ini mengejar dan menghajar Brian.
Satu preman mengayunkan tangannya, Naya yang tidak tahu apa-apa tentang pergulatan hanya bisa menghindar dan bersembunyi di belakang Brian.
"Merepotkan!" Geram Brian.
Brian membabi buta, kini tangan Naya memegang balok dan mencoba mengayunkan,Berjam jam mereka melawan para preman bayaran itu Naya sudah tidak kuat fisiknya bukan seperti para atlet, olahraga saja jarang.
Bruk. Brian menggeram melihat Naya pingsan ketika ia lengah para preman itu memukul tengku Brian sebelum Brian menutup matanya ia mendengar bahwa yang menyuruhnya adalah seorang perempuan.
"Langsung bawa saja!"
*******
Pak Marsan Adam dan Mak Delima serta Bagas yang tertidur di dalam rumah menunggu Naya pulang.
Tring!
Bunyi telepon Naya berdering dari potongan lagu nct dream. Pak Marsan membukanya.
"Halo,"
"..."
"Baik saya akan segera kesana,"
"Ma, siap-siap kita pergi ke hotel,"
Mak Delima terbelalak,"ya Allah!" Menetes air mata seorang ibu mengkhawatirkan anaknya.
Bagas yang terus tertidur di bangku tanpa di bangunkan untuk pindah ke kamar oleh Mak Delima
******
__ADS_1
Mereka pergi ke hotel itu dengan mobil kijang. Pak Marsan menanyakan pada resepsionis kamar nomor 301.
"Di Lantai 12 pak,"
Tak ada pembicaraan, tak ada canda seperti biasanya, Mak Delima pun terdiam hingga lift terbuka mereka sampai di kamar 301.
Ceklek.
Sudah ada Pak Bram yang menunggu keluarga Naya. Pak Bram menatap pak Marsan,"saya minta maaf atas kejadian ini."
"Kejadian apa maksud bapak!"
Bapak Marsan menatap laki laki di sebelah anak gadisnya, Naya berucap,"Ayah maaf,"
Mak Delima langsung menangis memeluk anaknya,"kenapa bisa gini?"
Naya mengeratkan pelukannya, ia menggeleng. Ia pun tak tahu tiba tiba ketika bangun sudah ada kedua orang tua Brian dan lelaki yang semalam berkelahi.
"Ada apa ini?" Pak Marsan bertanya pada lelaki di sebelah anak gadisnya, melihat anak dan istrinya menangis ia tak kuat.
"Brian jelaskan!"
"Sebelumnya. Saya minta maaf atas kejadian yang menimpa kami berdua atas kesalahan saya hingga melibatkan anak gadis bapak. Saya bersumpah tidak melakukan apapun pada anak bapak,"
"Naya," ayahnya menatap anaknya yang kini telah berlinang air mata."menikahlah!"
Deg. Naya semakin mengeratkan pelukannya pada sang ibu.
"Brian, bertanggung jawablah!"
Deg. Kini Brian yang merasa semua itu tak berjalan semestinya,"Pah! Tapi nggak lakuin apapun,"
"Kita nikahkan besok,"
*****
Hari Kamis malam Jum'at adalah malam yang bagaikan mimpi oleh Naya sepanjang malam ia tak bisa tidur terus menangisi pernikahannya yang akan dilangsungkan besok di rumah sederhananya.
Bagas menatap tetehnya yang terus menangis, ia tak tahu pasti bagaimana kejadian semalam tapi yang bisa di simpulkan tetehnya kan menikah hari ini."teh! Makan dulu yah,"
"..."
"Bagas gak akan gangguin Teteh lagi. Bagas nggak akan pinjam baju turtelnek lagi, Bagas janji nggak akan sembunyikan baloknya si teteh lagi. Bagas janji,"
"Apalagi Bagas nanti kehilangan teman se-pertengkaran di hutan Amazon kaya teteh kan nggak ada yang bisa diajak nge-reog ngerjain kak langit dia mah so kul mentang mentang ganteng, masih geh gantengan Bagas." Ia melihat senyuman terukir di bibir tetehnya.
"Kalau mau ketawa ketawa aja teh, Bagas mah rela kali ini teteh buli." Naya malah semakin menangis ketika Bagas berkata seperti itu.
"Ih teteh! Jangan nangis atuh, ia Bagas jujur Bagas yang nyuri hembodi teteh lagian wangi."
Geplak!
"Aduh teh! Mamah si teteh kdrt,"
*****
Brian menatap laki-laki yang sedari tadi mengawasinya, yang ia tangkap dari pembicaraan para orang tua dia adalah kakak pertama Naya, Langit Adam.
"Bicaralah!" Seru Brian.
__ADS_1
"Saya tidak tahu sifat kamu, bagaimana kamu memperlakukan adik saya, sudah berapa lama kamu mengenal adik saya. Jika bukan karena kejadian semalam saya tidak akan menyetujui orang tua saya menikahkan adik saya dengan laki-laki seperti anda." Tegas Langit,"laki-laki yang tidak tegas dengan dirinya sendiri, laki-laki yang yang tidak bisa membedakan mana prioritas dan bukan. Jika anda menyakiti adik saya, satu tetes saja air matanya maka saya akan mengejar anda sampai ke neraka sekalipun,"
Brian cukup tercengang dengan perkataan Langit baru pertama kali ia menemukan laki-laki yang sangat menjaga adiknya, tapi sayangnya ia tidak mencintai Naya, hanya karena kejadian semalam dan paksaan orang tuanya ia tidak akan mau menikah dengan wanita yang tidak dicintainya.
"Saya tidak bisa berjanji, saya pula adalah korban dari kejadian semalam. Kami tidak menikah pun tidak ada yang berubah saya tidak melakukan apa pun,"
"Ba******, kau!" Langit ingin sekali memukul calon suami adiknya ini jika bukan karena orang tuanya yang berkata untuk menghormati pernikahan ini ia tak sudi.
"Sekali kau berbicara seperti itu pada adikku. Maka aku tidak akan menahannya."
*****
"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang senilai 2000 dirham dibayar tunai," ucap Brian lantang.
"Semua sah!"
"Sah!"
Langit hanya diam sedari tadi walaupun banyak orang-orang yang berbisik bisik berapa nilai dari dua ribu dirham itu, nilai tidaklah penting kebahagiaan adiknya lah yang utama.
Ia melihat adiknya yang turun di bantu oleh emaknya, semua orang melihat wajah cantik Naya yang dilapisi make-up, tapi langit sendiri tau mata itu sedari semalam mengeluarkan cairannya hingga mata Naya menyipit.
"Nay, Lo kok nggak ngasih tau sih mau nikah sama nih orkay," ucap mika memanyunkan bibirnya.
Plak.
"Auh main toyor aja, udah di fitrah nih," mika menatap Karlina dengan mata tajam.
"Lagian Lo apa apaan temen sendiri lagi bahagia malah di gituin,"
"Di gituin gimana? Bisa bisa gue di penjara kalo nge gituin Naya sedangkan suaminya aja nunggu malam pertama,"
"Ciaaa, Naya malu!" Canda mika. Melihat Naya menunduk.
"Neng Naya selamat, yah, yang dulunya dikira perawan tua, sekarang udah nikah aja," Brian menatap tajam tetangga Naya itu membuatnya gelagapan.
"Eh, maaf yah Nay nggak gitu maksud Emba cuma kaya apresiasi aja."
Setelah tetangganya itu berlalu Naya menatap Brian dengan tanda tanya.
Brian yang di tatap oleh Naya memalingkan wajahnya, walau ia tidak cinta tapi ia belum pernah Sampai sejauh ini sampai duduk di pelaminan walau beralasan sofa.
"Pak dokter," Brian langsung mengernyit tidak suka ia menatap Naya.
"Mas, tatapannya itu loh!" Naya hendak menyentuh alis suaminya tapi ia tersentak ketika Brian memegang tangannya.
"Lancang!"
Deg.
******
hai hai gimana? Giman? seru nggk sih novelnya?
komen yah 😊
salam
SEE🫠
__ADS_1