
Di sebuah kamar nan luas terdiri sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta. Brian menatap istrinya dengan penuh binar dan istrinya menatap suaminya dengan penuh kesal bagaimana tidak kini Naya tidak diizinkan untuk pergi kemanapun Naya hanya dijadikan bantal guling oleh Brian. Ia yang tanpa gerak selama beberapa jam merasa badannya kaku.
"Mas, aku mau ambilin kamu makan," ucap Naya.
"Bentar," Ia menatap langit langit, lagi-lagi menghela nafas Naya sudah ikut tidur tadi jika ia kebanyakan tidur tidak baik kecuali untuk Brian yang sakit.
"Bangun, Mas!"
"Em,"
"Bangun!" Brian malah semakin menelusupkan kepalanya pada leher Naya.
"Mas!" Naya menepuk-nepuk tangan Brian.
"Em," Brian ini sebenarnya mau melepaskannya. tapi ia sedang tak ingin bergerak. Naya tiba-tiba mendapatkan ide yang sangat beresiko.
"Mas, kamu bangun!" Benar saja setelah Naya mengucapkan kata terlarang dari Brian. Ia langsung berubah posisi yang tadinya terlentang menjadi tengkurap di atas badan Brian. Naya meneguk salivanya.
Brian sedikit-sedikit membuka mata. Mata mereka berdua menatap saking dekatnya, tubuh Naya di kukung oleh Brian.
"Ra, kata yang harus Kamu hindari,"
"Kenapa sih Mas kan cuma bilang kamu doang!" Brian benar-benar. ia membuat Naya benar-benar melekat dengan Brian.
"Saya tidak suka!" Tegas Brian tepat di telinga Naya. Naya meremang, ketika memiliki sedikit kesempatan ia langsung memberontak dan terlepas. Naya menghela nafas. Menatap Brian lalu pergi begitu saja.
Brian hanya memandang punggung Naya yang menghilang itu dengan datar, ia benar-benar tidak suka dengan kata kata itu. Tapi ia juga masih belum bisa jujur.
****
Di Sebuah ruangan yang kemarin Denis menemui Almaco kini terdapat gadis yang menatap sayu. ia duduk lumayan lama menunggu sang pemilik ruangan ini puas menatap dan memberi makan burung.
"Kakek, aku mau tidur boleh? Aku lelah!" rengek Zoe. Gadis itu ingin meminta izin untuk menginap di rumah besar ini.
Sepertinya Almaco sedang menahannya dahulu. "Silahkan!"
"Tapi kakek," rengekan Zoe membuat beberapa burung terbang hingga semuanya mengikuti burung yang pertama. Sepertinya rengekan itu membuat burung tidak nyaman akhirnya pakan yang lumayan banyak itu sedikit sia-sia nanti karena akan dibersihkan.
Almaco menjadi dingin, cucunya ini tidak tahu sopan santun. "Berhenti merengek! Maka pergi pergilah!"
Ucapan Almaco membuat Zoe senang tapi juga sedih karena Almaco lebih sayang pada burung itu ketimbang padanya.
"Kakek.."
"Jangan menginap disini! Aku ingin sendiri! Menginap di rumah cucu Mahesa!" Suruh Almaco ia tidak ingin menatap cucunya ini.
__ADS_1
Zoe menatap punggung Almaco walau punggung itu sedikit membungkuk tapi wibawanya tak pernah pudar.
"Sholeh! Bawa dia pergi."
Pak Sholeh datang dari luar sedikit membungkukkan diri. Sedikit lebih cepat membawa Zoe untuk keluar walau Zoe sendiri tidak ingin di suruh suruh oleh asistennya ini. Sayang rengekan Zoe pun tidak akan mempan pada Sholeh.
****
Kini Zoe berada di kamar yang biasa ia tempati di rumah Brian setelah ia berkata disuruh menginap disini Brian hanya mengangguk, toh biasanya juga Zoe sering menginap jika ada acara.
Sayangnya Zoe terbayang kecoa yang terbang akhirnya berbalik pergi ke kamar Cesi. Ia ingin tinggal di kamar Cesi saja setidaknya tidak akan terbayang.
Keesokan pagi yang begitu indah karena Brian sudah sembuh dari demamnya. Ia menatap para penghuni rumah yang telah duduk di kursi meja makan.
"Zoe mungkin sampai perkumpulan keluarga kamu akan menginap." ucap Brian pada Zoe yang kini telah menggunakan baju putih abu.
Zoe mengangguk, "yah, sebenarnya aku tidak mau pindah. Tapi ayah memaksa,"
Brian sedikit paham, Bagas tengah menjadi perbincangan hangat baru-baru ini karena ia ditunjuk sebagai GM dan menuntaskan permasalahan di beberapa cabang. Membuatnya tidak bisa memantau terus anaknya yang ini.
"Pergilah dengan pak Tono. Biar dia yang mengantar."
Zoe tersenyum senang, "iya, terimakasih Mas!" Zoe kini menatap Naya yang hanya melihat percakapan mereka.
"Em, aku tidak salah lihat bukan? Kalian pisah kamar?"
"Hanya pertengkaran kecil. Cukup jangan diumumkan," ucapan Brian sedikit menyiratkan agar Zoe merahasiakan itu. Zoe tentu saja mengangguk walau dalam hatinya ia sangat senang sebenarnya ia menginap disini pun dilancarkan oleh Almaco sekarang Brian dan Naya sedang dalam ketegangan membuatnya cepat atau lambat mendapatkan berkas itu.
****
Setelah mengantarkan Zoe pergi untuk sekolah Naya menatap Brian yang kini tengah libur setelah masa hukuman.
"Nganggur, Mas! Mending cari kerja," sindir Naya menatap Brian yang menonton tv sambil makan kudapan.
"Tidak Bu. Istri saya yang kerja," ucap Brian pada Naya yang kini membawa kue yang telah matang. Naya sendiri melototkan matanya pada Brian. "Duduk sini,"
"Aku taruh wadahnya dulu," Setelah Naya menaruh wadah dan sarung tangan ia duduk di samping suaminya.
Brian menaruh air yang tadi ia minum, "saya dapat kabar dari Papa kalau hutang orang tuamu sudah lunas,"
Naya menghela nafas boleh kah ia meminta Brian memberikan alasannya, ia tahu jika sebagai suami pastinya akan membantu keluarga sang istri. Tapi ia juga butuh penjelasan lebih, sayangnya Brian sepertinya juga tidak tahu menahu. "Iya. Ayah udah cerita,"
"Kalau begitu mengapa kamu tidak menggunakan maharnya?"
"Buat apa?"
__ADS_1
"Setidaknya gunakan uang yang saya berikan setiap bulannya,"
"Digunain kok,"
"Untuk apa? Bukan buat pribadi kan? Nanti akan ada undangan pembukaan cabang perusahaan baru, kamu beli saja baju dengan uang yang saya kasih. Sekalian belanjakan."
"Kapan?"
"Beberapa hari lagi," Brian memberikan kertas-kertas berisi daftar tempat kuliah dan brosurnya. "Saya tahu mimpi kamu. Raihlah!"
Naya memegang brosur itu dengan mata berkaca-kaca juga bingung, ia sebagai istri harus selalu ada ketika suaminya membutuhkan sedangkan menjadi dokter pastinya akan mengambil waktunya belum lagi ketika ia nanti memiliki anak.
"Mas, emang nggak mau punya anak."
Brian mengangguk, "siapa yang tidak mau, tapi biarlah Tuhan yang memberi, dan kapan waktunya." Brian berdiri dari duduknya, "bersiaplah kita belanja."
"Udah enakan emang?"
"Nggak papa kita beli baju yang banyak sekalian baju dinas,"
"Itu mah mau kamu, Mas!" Dari ucapan Brian ternyata ada udang di balik batu.
"Ra,"
"Iya, Mas."
****
Naya mencari-cari sesuatu di tasnya. Brian terus menunggu Naya sambil berjalan menuju mobil.
"Eh, Mas handphone aku ketinggalan." ucap Naya tanpa menunggu Brian menjawab ia langsung mengambil gawainya.
Melihat Naya sudah datang Brian langsung masuk ke mobil. Naya sudah duduk bersiap untuk berangkat, tapi Naya menghentikan. "Mas, aku lupa bawa kaca,"
Brian mengernyit, "buat apa?"
Naya yang langsung membuka pintu mobil sambil berbicara, "itu salah satu keperluan cewek yang nggak boleh ketinggalan,"
Brian benar-benar diuji, Naya benar-benar memiliki kebiasaan yang jauh sekali dengannya. Ketika Naya sudah selesai mengambil kaca ia tersenyum cerah menatap suaminya sayangnya yang ditatap berwajah dingin.
"Ada lagi? Kita berangkat atau saya tinggal?" tanya Brian ia sebenarnya bukan tipe laki-laki penunggu.
"Iya, Mas. Udah."
Brian mengangguk namun setelah sepersekian detik Naya kembali menghentikan pergerakan Brian. "Kenapa lagi?" tanya Brian menghela nafas.
__ADS_1
"Aku lupa bawa dompet," ucap Naya takut-takut.
Brian menatap tajam Naya, "duduk diam, saya yang bayar!" Ucap Brian langsung menancap gas tanpa melihat bagaimana reaksi Naya.