
Naya memeluk ibunya.malam setelah isya Naya langsung di bondong ke rumah mertuanya.
"Naya dengarkan ibu! Sekarang kamu sudah menjadi istri seorang pria, dia adalah suamimu menurut tlah dengannya, tapi jika dia berlaku tidak sesuai maka kembalilah pada kami, kami akan selalu menunggumu," Naya menumpahkan air matanya. Ia ingat betul bagaimana suaminya berkata pertama kali setelah menikah.
"Bu, Naya akan selalu ingat pesan ibu, tolong doakan Naya ," Naya kembali turun dari kamarnya Naya melihat semua orang me-nantinya ia menatap manik suaminya, sayangnya mata itu adalah mata yang tidak mencintainya, yang tidak menginginkannya.
Ayah memeluk anaknya,"kabari ayah jangan lupakan ayahmu ini," Naya semakin mengeratkan pelukan itu.
Langit menatapnya, di cium keningnya,"sekali dia menyakitimu bilang pada kakak. Kakak potong sosisnya," Naya terkekeh.
Bagas tidak berkata apa-apa hanya memeluk kakaknya,"teh hembodinya buat Bagas ya,"
"Kamu mah merusak,"
"Iya, nggak."
"Iya."
Maya memeluk besannya,"kami pulang, akan saya jaga mantu saya,"
"Iya, tolong," ucap Delima.
Naya memasuki mobil yang dia sediakan ia duduk bersama suaminya di mobil belakang sedangkan mertuanya duduk di mobil depan.
Mereka kini duduk berdua, tak ada suara tak ada candaan rasanya Naya tak suka itu. Mobil kini berbelok memasuki perumahan elit
Gerbang pintu dibuka, terpampang jelas rumah yang sangat megah, bak istana. Ini kali kedua untuk Naya yang memasuki rumah megah ini sayangnya kini ia menjadi istri sang anak pemilik rumah.
Maya menatap menantunya, mengelus surainya, "Naya. Beristirahatlah, nanti mama akan suruh bi Isah untuk bawa makanan ke kamar,"
"Baik, ma," Naya mengangguk.
"Susul suamimu," ucap Bram.
Naya mengikuti langkah suaminya ia menatap punggung kekar itu sepertinya nyaman jika ia bersandar di pundak itu, sepertinya hangat ia di peluk pemilik tubuh itu. Sayangnya itu adalah khayalan yang mungkin hanya bunga tidur.
Naya masuk kedalam kamar itu, interior putih di campur abu, kamarnya terbilang bersih dan wangi jika dibanding kamar laki-laki pada umumnya. Malahan kamarnya saja bisa melebihi satu rumahnya.
Brian duduk di sofa menatap Naya. Yang masih berdiri mengagumi keindahan kamarnya.
"Udik," gumam Brian. "Berhenti mengagumi kamarku,"
Naya tersentak."memangnya tidak boleh, toh mas Brian suamiku,"
"Suami?" Tanya Brian.
"Iya, milik suami adalah milik istri, milik istri adalah milik istri jika mau bisa berbagi,"
__ADS_1
"Oiya mas aku mau taruh ini baju dimana yah?" Naya bertanya pada suaminya.
"To the point. Apa maumu?" Mendapat pertanyaan dari suaminya, Naya tak habis pikir.
"Mau? Mau apa?"
"Saya tidak pernah mencintai seseorang seperti kamu,"Brian menatap Naya dari bawah ke atas,"tidak ada hal spesial yang membuat saya mencintai kamu,"
Naya menatap nanar pada suaminya itu, sebegitu tak pantasnya kah ia di hati suaminya, ia tau ia adalah pengantin dadakan, tapi bukan berarti ia ingin menikah berkali kali,"siapa yang akan cinta pada saat kita baru pertama kali bertemu dan langsung dinikahkan,"
"Biarlah cinta itu datang dengan sendirinya,"
"Saya tidak bisa menikah dengan perempuan yang tidak saya cintai, jika bukan karena ayah dan mama, saya tidak akan mau menikahimu," Brian berdiri menatap nyalang istrinya yang satu beberapa jam itu.
Naya sekuat tenaga menahan air mata di pelupuknya,"bagaimana jika aku bisa buat mas mencintaiku?"
Brian maju mendekati naya, ia menyeringai,"dalam enam bulan, jika saya tidak bisa mencintaimu, maka kita bercerai,"
Brian langsung pergi dari kamar itu.
Naya luruh ia tak kuat lagi berdiri, baru pertama kali ia mendapatkan perkataan yang menusuk.
Malam begitu hening jam 12 sudah tapi suaminya tak kunjung pulang, ia ingin menelpon tapi tak memiliki nomor suaminya.
Inikah malam setelah menikah?
******
"Non. Nggak usah bisa-bisa bibi di omelin sama nyonya,"
"Nggak apa-apa, bi. Saya bosan,"
"Nggak usah, non. Non butuh apa biar ngilangin bosannya?"
"Saya mau bantu bibi,"
"Naya!" Mertuanya datang membawa segelas air putih."kamu jangan ganggu bibi. Sini sama mama,"
Naya diajak ke sofa ruang tamu, mereka duduk berdampingan,"maafin mama yah,mama belum sempat mengakrabkan diri sama kamu,"
"Pasti kamu kaget sekali ketika papa menyuruh kamu untuk menjadi istri Brian. Tapi selain kamu menjadi istri Brian ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan, kami membutuhkan kamu untuk mengungkapkan kematian anak pertama saya,"
"Maaf kalau mama egois, tapi itulah seorang ibu, kamu akan mengerti nanti,"
Naya mencoba untuk memaklumi,"nggak apa-apa, mah. Boleh Naya tanya? Mas Brian ada ngasih kabar sama mama?"
"Eh, iya mama lupa. Maafin Brian yah semalam dia izin ada pasiennya yang harus dioperasi, kamu belum punya nomor Brian?" Naya menggeleng.
__ADS_1
"Anak itu!" Maya mengelus tangan menantunya,"Brian itu anaknya penyayang, ia suka sekali mengalah, apalagi ketika ia bersama kakaknya," Maya menghela nafas bisa bisa ia menangis kembali."maklumi dia, setelah dia merasa tidak bisa menjadi dokter untuk kakaknya, itulah pukulan terberat untuknya, apalagi setelah itu ia harus menikah dengan kamu perempuan yang tidak dicintainya,"
"Setelah ini makan, mama mau balik ke kamar dulu,"
Punggung mertuanya semakin menjauh Naya yang kini di kamarnya merenung, ia bisa apa untuk membantu kematian kakak iparnya. Ia hanya seorang pegawai di toko baju, hanya seorang anggota PMI, hanya seorang anak dari chef cepat saji. Dimananya dia bisa membantu.
Daripada memikirkan hal yang membuatnya pusing lebih baik ia, menikmati kamar suaminya ini. Biasanya ia hanya melihat di platform digital tentang room tour sekarang ia yang akan berkeliling.
Kamar suaminya ini sangat kental dengan nuansa maskulin apalagi banyak bagian dimana itu falah barang barang yang hanya bisa dimiliki oleh orang berdompet tebal.
Ia berjalan ke ruangan yang sedari tadi membuatnya penasaran, ruangannya terletak di sebelah ruang ganti.
Ceklek.
Naya menatap mendengar pintu terbuka ia langsung buru buru keluar dari ruangan itu menuju suara itu berasal.
"Dari mana kamu?" Brian menatap curiga Naya.
"Harusnya aku dong mas yang nanya sama kamu habis dari mana? Semalam tidak bisa dihubungi, aku tahu kamu ada operasi saja dari mama,"
"Susah tahu kan. Habis dari mana kamu?"
"Se-Khawatir itu kamu mas? Memangnya ada apa sih di kamar itu," setelah selesai mengucapkan kalimat itu Naya tersentak ketika kepalanya menyentuh dinding, dan lehernya di cengkram kuat.
"Mas,"
"Apa yang kamu lihat?" Mata Brian menyalang menatap Naya.
Naya bisa merasakan bau mint dari seorang Brian, tapi istri mana yang ingin diperlakukan seperti itu ia juga ingin di sayang, di jaga seperti kamar itu. Sepertinya ia iri dengan kamar itu.
Satu tetes air mata jatuh di pelupuk mata,Naya terisak,"mas tak bisakah hatimu terbuka untukku? Aku memang bukan wanita yang kamu cintai, aku hanyalah istri dadakan, tapi aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup."
Brian menatap manik mata Naya dengan dingin,"saya tak suka perempuan cengeng!" Brian mengeratkan cengkramannya, membuat Naya terbatuk-batuk.
"Mas,"
"Jangan sekali-kali kamu buka itu kamar atau kamu akan tau akibatnya," ia melepaskan cengkeramannya.
"sia sia aku pulang," Brian langsung pergi ke kamar mandi.
Naya luruh, menekuk lututnya tak kuat dengan perkataan suaminya, ia kini benar benar iri dengan kamar itu.
******
sabar Naya semua pasti akan ada balasannya terus lah berusaha jangan menyerah🔥 keep spirit Naya.
begitu juga untuk kalian semua semoga sehat selalu.
__ADS_1
salam
SEE🫠