
Naya merasa tidurnya tidak nyenyak apalagi matahari sudah menyusup di sela-sela mimpinya. "Ya Allah ketiduran,"
Naya langsung bergegas berberes diri juga mengqodho sholat yang tertinggal.
Ketika ia memasuki kamar mandi beberapa merk shampo wanita juga sabun cuci mukanya yang telah kadaluarsa.
Naya membaca berapa lama sabun itu dibiarkan, nyatanya 5 tahun sudah sabun itu telah kadaluarsa. Naya banyak berspekulasi bisa jadi itu adalah sepupu Brian yang menginap ataupun mama Maya. Ia tidak ingin menumpahkan air mata ketika ia hanya berspekulasi.
Naya menuruni tangga memanggil Bi Inah,"ada apa nyonya?"
"Bi, Mas Brian udah berangkat belum??"
" jam 7 sudah berangkat nyonya."
"Mas Brian sudah makan bi?"
"Sudah, nya,"
"Biasanya kalau siang suka di bawain bekal tidak bi?"
"Tuan semenjak nikah saja pulangnya, biasanya tuan jarang pulang,"
"Yaudah makasih, bi,"
"Mari, Nya,"
Selepas berbicara dengan Bi Inah Naya bingung ia harus melakukan apa, apa lagi ia sudah tidak kerja di toko ketika resmi menyandang istri Brian Mahesa. Lucu rasanya ketika namanya berganti menjadi Naya Rivera Mahesa.
Jika di rumah mertuanya ia hanya room tour berujung ia diomeli oleh suaminya. Ia berjalan jalan hingga kakinya berhenti di taman yang indah dan memiliki banyak sekali bunga mawar merah, ia baru tahu jika Brian suka bunga mawar.
Naya mencium bunga mawar itu, harum nya seperti bunga mawar pada umumnya tapi yang ia cium terletak di tengah tengah dengan jalan khusus menuju sana seolah olah ini adalah tempat spesial untuk seseorang. Naya jadi ingat ketika Brian melarangnya memasuki kamar yang bersembunyi itu.
"Neng," pak Toto memanggil majikan barunya.
"Ya, pak,"
"Maaf, neng jangan di situ saya bisa-bisa diomelin Tuan," Naya yang mendengar pernyataan pak Toto menjadi semakin penasaran.
"Pak bapak bilang begitu saya jadi semakin penasaran. Memangnya ada apa dengan bunga mawar ini?"
Pak Toto menghela nafas,"sebenarnya bukan bunganya tapi tempatnya neng. Buat cerita sepertinya bapak nggak bisa ngasih tau biar Tuan saja yang jujur sama nyonya,"
"Kalau begitu maaf pak," Naya berjalan mendekati pak Toto," biasanya suami saya kalau lagi menyendiri di mana sih, pak?"
"Tuan itu jarang keluar dari kamarnya setelah lima tahun lalu, tapi Tuan sudah mulai pulang ke rumah karena ada nyonya,"
"Semoga saja yah, pak,"
"Semoga pernikahan nyonya dan tuan sakinah mawadah warahmah,"
"Amin, pak. Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan, nyah,"
__ADS_1
*****
Naya kembali ke kamarnya ia menatap jam di dinding, sudah pukul 11 siang sebentar lagi waktu makan siang apakah ia harus kerumah sakit Mahesa Medika.
Tring.
Naya mendapatkan notifikasi dari Maya bahwa Maya akan menjemput Naya untuk pergi ke rumah sakit berkunjung ke suami suami mereka. Naya langsung bergegas bisa-bisa ia ketahuan jika tidak satu kamar dengan suaminya.
Naya menuruni tangga bertepatan dengan Maya yang datang,"sayang,"
Naya menyalami tangan ibu mertuanya."mah harus bawa bekal tidak?"
"Tidak usah mama sudah bawakan, kita tinggal berangkat,"
Naya dan Maya duduk di kursi belakang mereka terus bercengkrama hingga mencapai pelataran rumah sakit Mahesa.
Ketika mereka berjalan banyak suster dan dokter yang melewati mereka dan menyapa apalagi tatapan bertanya mereka siapa disamping istri pemilik rumah sakit ini.
Mereka sampai di ruangan yang tertulis, dr Brian, maya membuka pintu terpampang Brian yang masih menggunakan snelinya juga tangan yang sedari tadi mengurusi berkas berkas pasien.
"Brian,"
Brian reflek menengadah, ibunya telah berkunjung seperti biasanya, tapi ketika ia melihat siapa yang di bawa ia bertambah muram. "Ada apa?"
"Ada apa? Kamu ini yah Mama kamu berkunjung malah bilang ada apa,"
"Sebentar lagi jam istirahat kamu kan? Jangan lupa ke ruangan ayahmu," Maya keluar dari ruangan itu menyisakan Naya dan Brian yang hanya diam tanpa memperdulikan Naya yang terus berdiri.
Naya langsung duduk saja tanpa memperdulikan Brian yang menatapnya tajam,"mas kamu kalo liatin bisa biasa aja, nanti cinta tahu rasa kamu mas,"
"Berisik,"
"Dari pada situ diem saja, kaya lagi dikuburan aja tau nggak," Brian tak menyahuti.
"Tuh, kan Mas, ih, ngobrol dong akunya nggak bisa diem aja,"
"kalau kamu disini cuma mau bikin darah tinggi mending pergi ke tempat papa,"
"Aku kan nggak tau ruangannya mas,"
Brian menghela nafas mengecek jam di tangannya, sudah waktunya istirahat, ia langsung pergi tanpa mengajak Naya.
"Mas tunggu!"
Di sepanjang koridor banyak suster yang menyapa dan beberapa pasien yang kenal dengan Brian sayangnya yang disapa hanya mengangguk tanpa tersenyum untung mukanya sahabat table jadi orang-orang tidak mempermasalahkan, tapi jika tau sifatnya yang suka berkata tajam, judes, suka seenaknya, siapapun tak ada yang tahan sepertinya. Mungkin ada uang semua beres.
Brian berbelok langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia sudah pusing dengan ocehan Naya.
Brian duduk di depan ibunya, Naya datang menyalami mertuanya dan duduk disamping suaminya. "On time? Nggak biasanya ?" Seru Bram biasanya anaknya ini malah akan melewatkan makan siang dengan alasan banyak kerjaan dan harus visit beberapa pasien.
"Yah, kan sekarang sudah ada Naya yang menjadi alarm alami," canda Maya.
"Gimana? Kamu sudah home tour? Nyaman tidak dirumah suamimu?" Tanya Maya sambil menyiapkan bekal yang dibawa.
__ADS_1
"Kayaknya kalau nggak nyaman mustahil mah, apalagi tempatnya rapih,"
"Gimana kamu sudah lihat foto Brian pas kecil? Biasanya ditaruh di nakasnya." Pertanyaan Maya membuat Naya kebingungan namun secepat kilat ia tersenyum.
"Aku belum lihat, ma," pernyataan Naya membuat ruangan itu menjadi hening,"maksudnya belum sempat apalagi di nakas itu nggak ada foto-foto sama sekali," ia tidak berbohong kan apalagi di kamar yang ia tempati sekarang tak ada foto-foto, Brian apalagi foto masa kecilnya.
"Ouh, kira mamah kamu di usir sama Brian,"
"Ayo makan,"
Tring.
Sebuah Notifikasi masuk ke dalam hp Brian itu adalah notifikasi dari temannya yang mendalami kecelakaan Effendy.
Brian dan Bram saling pandang, Maya paham tapi sepertinya Naya kebingungan.
*****
Maya berkata jika ia ingin diantar oleh suaminya apalagi jam kerja Bram dan Brian sudah selesai namun Brian memilih untuk menetap dulu menyelesaikan sesuatu yang harus dituntaskan.
Mereka berdua saling berhadapan di ruangan Brian, suasana sangatlah canggung, sampai Brian berdehem,"jawab dengan cepat dan tak ada pengulangan."
Rasanya Naya ingin mengutuk suaminya yang yang terlalu kaku. Seberapa dalam ia berhubungan dengan wanita, sayangnya Brian masih tertutup padanya entah sampai kapan.
"Apa yang kamu lihat di mobil itu?"
"Waktu itu…" Naya menceritakan apa yang ia lihat ketika kejadian malam itu namun ada bait yang Naya sisipkan ketika ia berpindah posisi menjadi di depan, di samping ojol,"ketika mereka bertengkar, wanita itu terus melirik ke belakang, sayangnya jarak pandang ku di spion hanya bisa mencapai ibu-ibu yang tengah membawa anaknya dan itu letaknya di depan mobil kijang tua,"
Brian mengepalkan tangannya,"siapa anak itu?"
"Dia yang waktu itu kita rebutkan, mas."
Brian ingat anak kecil itu adalah Lala anak sepupu jauhnya yang waktu kemarin mengantar omahnya di rawat inap.
Brian berdiri di kursinya,"pergilah! Aku akan pulang telat,"
"Mas tapi aku kan bareng sama mama datangnya, trus aku pulangnya naik apa?"
"Taksi aku akan pesankan. Pergilah!" Brian melaju keluar dari pintu tanpa menunggu Naya menyelesaikan perkataannya.
"Pergi bukan pulang?" Naya bermonolog, rasanya miris sekali masih saja ia tidak diakui oleh suaminya. Ia harus membuat suaminya bertekuk lutut padanya lama-lama jika ia tetap seperti itu siapa yang akan kuat?
Naya mengambil tasnya pergi dari ruangan itu.
*******
perempuan bisa menutupi lukanya dengan tersenyum karena ia tidak ingin orang yang disayanginya bersedih. Naya Rivera Mahesa
mohon dukungannya.
salam
SEE 🫠
__ADS_1