DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
jujurlah!


__ADS_3

Maya menelpon Naya menanyakan Zoe yang menginap semalam karena sedari kemarin ia minta izin pada orang tuanya untuk menginap di rumah Maya sedangkan Zoe malah pergi ke rumah Brian. 


Yah. Tinggal Naya jawab saja jika Zoe semalam tidak menginap paling siang nanti langsung mengadu. Lagian malam-malam datang ke rumah orang.


Naya memandang boneka landak yang diberikan suaminya bentuknya besar juga ada duri duri lembut. Memang sih ia memberikan hak penuh pada Brian untuk memberinya hak membelikan  boneka apapun, tapi mengapa harus landak. 


Setidaknya suaminya menepati janji. 


******


Di ruangan pemotretan seorang model papan atas sedang melakukan pemotretan untuk launching produk terbaru dari perusahaan PT Mario Advanced yang bergerak di bidang pakaian dan perhiasan. 


Perhiasan yang membalut di tangan dan di jari serta baju baju branded, di tunjukkan dengan gaya andalan Melisa. 


Kemolekkan dan kepiawaiannya dalam bergaya banyak di anggukkan oleh semua kru. 


Mario yang sedari tadi melihat bagaimana berjalannya pemotretan tersenyum puas dengan kaki bertopang. 


Ia tak salah pilih. 


"Terimakasih," Melisa sedikit menunduk pada semua kru. Mereka yang mendapat perlakuan seperti itu oleh bintang model merasa tersanjung. 


Mario memeluk pinggang Melisa posesif ia tersenyum manis. Melisa tak nyaman melepaskan rangkulan karena hatinya masih belum bisa membuka untuk Mario semuanya masih penuh oleh satu nama yang sama yaitu Brian Mahesa. 


Mendapat perlakuan seperti itu Mario TK marah ia malah semakin ingin memperjuangkan cintanya,"mau lunch dimana?" 


"Restoran biasa aja, kangen masakan Indonesia," 


"Rendah hati," 


"Rendah hati boleh asal jangan rendah diri," mereka berdua tertawa tanpa beban berjalan meninggalkan pemotretan itu menuju restoran yang diinginkan sang wanita. 


******


Naya berinisiatif untuk pergi ke rumah sakit mengantarkan makan siang untuk suami tercinta sekaligus berterima kasih membelikan boneka landak yang begitu besar. 


Bekal makan sudah disiapkan Naya juga sudah cantik tinggal berangkat saja menuju suaminya. 


Di sepanjang jalan Naya terus tersenyum membuat pak Toto juga ikut bahagia melihat pernikahan majikannya. Dalam hati terus berdoa. 


Lampu merah persimpangan berwarna hijau untuk para pejalan kaki Naya terus memandang lampu itu merasa lama sekali berganti warna hijau. Ketika melihat lihat tak sengaja atensinya menangkap sepasang kekasih di dalam mobil yang sedang bercengkrama. Naya sedikit terpesona dengan senyumannya yang khas. Pantas saja lelaki itu terus memandangi pasangannya dengan cinta. 

__ADS_1


Naya jadi membayangkan Brian aang begitu padanya. Berbarengan dengan Naya berkhayal lampu merah berganti hijau, waktunya melaju menuju suami tercinta. 


Naya berjalan riang di sepanjang koridor membawa bekal yang sedikit diayun ayunkan. Para suster memandangnya dengan tanya karena sudah beberapa kali Naya terus mengunjungi Brian sedangkan Brian digosipkan masih menjomblo. 


Ingin bertanya tapi sungkan. Naya tak memperdulikan itu ia tahu pernikahannya belum diumumkan karena masalah Effendy saja belum ada titik terang. 


Satu belokkan lagi Naya sampai di ruangan suaminya sayangnya Naya tak sengaja menabrak seseorang membuatnya terdorong hingga terjatuh untung saja yang ditabrak menolongnya hingga tak jadi menyentuh lantai juga makanannya aman.  


Di dalam pelukan itu Naya bisa mencium bau teh, ia mendongak mereka terbelalak langsung memisahkan diri. 


Naya berpura-pura membersihkan dirinya menepuk nepuk badannya yang tidak kotor. 


Aldi menatap tajam si penculik anaknya. Untuk apa dia datang ke rumah sakit. Adakah pasien yang memiliki saudara seperti Naya. Ia bergidik pasti saudaranya tak akan bisa tidur secara Naya cerewet, penculik anak pasti juga suka mengambil makanan pasien. 


"Permisi." 


Aldi mencekal Naya, menatap tajam. Sudah diberi hati malah pergi tanpa bilang terimakasih. 


"Heh, penculik anak sudah ditolong malah pergi mana terimakasihnya?" 


Naya mengerut, melepaskan cekalan itu. Naya menatap nametag yang bertuliskan dr Aldi SpOG "maaf yah, bapak Aldi saya itu bukan penculik anak, situ yang jadi bapak nggak becus jaga anak sampai di tinggal sendirian. Katanya dokter." Naya bersedekah meremehkan. 


"Anak-anak saya, saya punya peraturan sendiri. Dari pada situ nggak ada terimakasih nya sudah di tolong malah pergi," 


"Siapa yang nggak salah paham coba tiba-tiba anak saya hilang ternyata di gendongan orang asing. Untungnya anak saya tidak terinfeksi dengan keabsurdan kamu." 


Naya menunjuk Aldi, "kam-" ucapannya belum selesai tapi sudah di sela oleh deheman. 


Naya berbalik, menatap suaminya dengan cengiran, "mas," 


Mas. Aldi tidak salah dengar dengan ucapan si penculik anak ini, ia bertanya tanya pada Brian. Seperti halnya yang lainnya mereka masih belum mendapatkan informasi bagaimana status Brian. 


"Mana?" Brian bertanya pada naya yang berada di samping Naya berhadapan dengan Aldi. Naya loading. "Bekalnya."


Naya ber 'ouh' langsung menunjukan bekalnya pada Brian. 


Brian mengangguk hendak memutar badannya. 


"Nggak ada yang mau di jelasin?" Aldi sangat ingin sekali Brian berkata dengan jujur. 


"Nggak ada." Brian sudah berbalik. Aldi mencekal pundak Brian. 

__ADS_1


"Siapa, Bri?" Brian berbalik. Kini mereka berhadapan. 


"Kenapa? Masih mau Lo ambil?" 


"Masih dendam Lo sama gue?" Aldi terkekeh ia menatap Naya,"kalo iya," 


Brian mencekal kerah baju Aldi membuatnya kusut, Naya menatap kesana kemari untung sepi ia harus cepat cepat memisahkan mereka berdua. 


Aldi berkata dengan tegas,"kalo Lo masih cinta sama Melisa lepasin dia. Toh lagi pula Lala suka sama dia. Jarang-jarang bukan," 


Bugh. 


Satu Bogeman meluncur ke perut Aldi. Brian tidak suka kata katanya. Untuk apa mengungkitnya ketika ada Naya. Ia sudah menebaknya wajah Naya kini bertanya tanya.


Naya menatap mereka berdua,"silahkan lanjutkan, tapi saya sudah lapar. Mas kamu kalau mau makan ayo kalau nggak aku pulang." 


Naya menatap Aldi dengan tatapan rumit. Banyak sekali yang ingin ditanyakan. Sayangnya bukan waktu yang tepat, "mas maaf untuk mas Brian yang udah mukul. Juga makasihbuat pertolongannya." 


Naya berjalan meninggalkan mereka berdua. Brian menatap tajam Aldi tanpa basa-basi ia langsung mengikuti Naya. 


Aldi menghela nafas. Menyentuh perutnya yang sakit, Bogeman Brian bukan main-main, seharusnya Brian masih memandangnya saudara jadi diringankan pukulannya. Tapi malah ditambah. 


******


Naya tak banyak bicara ketika memasuki ruangan suaminya ia dengan patuh menyiapkan makanan, sesekali menanyakan 'ingin apa' pada suaminya. 


Brian tak suka ketika Naya diam seperti ini Brian mencekal pergelangan Naya yang sedang mengambilkan lauk. Mereka bertatapan cukup lama. Hingga Naya memutuskan kontak. 


"Jangan dekat-dekat dengan Aldi," ucapnya. 


"Kenapa?" Naya terheran. 


"Ikuti saja," 


Naya tersenyum miris,"terus kamu apa bedanya? Menyuruh aku menjauh dari dokter Aldi tapi kamu nggak pernah kasih aku kepastian. Manusia punya batas, Mas." 


Brian menyuruh Naya duduk, mempersilahkan Naya untuk bertanya. 


"Kalau Mas mau cerita aku bakal seneng banget. Tentang apa yang dibicarakan Mas sama dokter Aldi." 


"Yang mana?" 

__ADS_1


"Tentang lebih baik melepaskan aku," 


Brian menatap manik Naya yang menenangkan, jika Melisa mempunyai daya di tubuhnya hingga membuat siapa saja takluk. Sedangkan Naya mempunyai mata yang membuat siapa saja bertekuk lutut padanya. Secara tidak sengaja Brian membanding-bandingkan Naya dengan Melisa.


__ADS_2