DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
ini Mama, Lala!


__ADS_3

Aldiano menatap pintu yang tertutup. Naya sudah pantas untuk menjadi seorang ibu. Ia memang muda, tapi mentalnya sudah siap menjadi orang tua. Hanya saja yang dipertanyakan bukan Naya, tapi Brian. Aldi tahu Brian sendiri seperti apa jika sudah suka pada perempuan. Apalagi mereka berpacaran sedari SMA. Bersama sedari kecil. Pastinya kemistrinya akan susah untuk dihilangkan. 


Jika ia lebih dulu bertemu dengan Naya apakah Naya akan menjadi istrinya, ibu dari Lala yang selalu bertanya dimana ibunya. Tapi ia hanya bisa menghela nafas. Lala itu anak pintar sedikit saja diberi tahu ia akan paham. Aldi melanjutkan beberesnya. 


Naya berjalan riang bersama Lala. Bergandengan tangan sesekali ia berjingkrak lompat lompat ketika menuruni tangga. 


Pak Toto membukakan pintu, agar Naya dan Lala bisa masuk. Ketika mereka sudah duduk rapi Naya berkata pada pak Toto. 


"Pak ke taman k


Kemangi, yah. Saya sama Lala mau jalan-jalan dulu nanti ayahnya jemput." 


"Baik, Nya." Pak Toto mengangguk, menghidupkan mesin kemudian berjalan menuju taman. 


Di perjalanan Naya selalu mendengarkan Lala bercerita dari curhatannya yang kesal pada ayahnya. 


"Lala besok kan mau ulang tahun. Mau hadiah apa?" tanya Naya 


Lala menatap Naya dengan wajah penuh harap, juga sedih. "Ayah selalu berikan Lala apa saja ketika Lala ulang tahun. Katanya itu agar Lala tidak syedih. Tapi Lala tetap syedih. Semua teman Lala pasti datang bersama orang tuanya. Ayah dan ibu." 


"Kaka bisa datang nanti?" 


Tanpa pikir panjang Naya Memeluk Lala, anak ini sebenarnya selalu mengamati, menelaah dan menanggung semuanya sendirian. 


Lala tahu jika ayahnya selalu di sodorkan seorang perempuan oleh Nenek, Kakeknya, tapi semuanya selalu ingin Ayahnya bukan ingin mengurus Lala. Jika tinggal berdua dengan Lala dan ayah sedang pergi pasti mereka akan menyuruhnya untuk bermain sendiri mereka akan fokus pada kegiatan sendiri tanpa memperdulikannya. mereka tidak akan pernah dapatkan Ayahnya. Lala tak akan pernah setuju dengan semua wanita itu. Keputusan juga ada di tangan Lala. 


"Tenang yah, sayang. Besok Tante datang bareng om Brian. Oke? Jangan sedih. Nanti endorfin di badan Lala syedih." Naya mengelus surai Lala. Sedikit bercanda tentang endorfin. 


Lala mendongak, kemudian ia tersenyum. Lala tahu Naya tidak akan mungkin menjadi ibu sambungnya setidaknya biarkan ia merasakan pelukan seorang ibu. 


Ketika sedang berpelukan pak Toto menginterupsi jika mereka sudah sampai. 


Lala dan Naya berjalan beriringan dengan banyaknya orang yang juga sedang melakukan aktivitas mereka. Naya melihat bangku yang kosong, tapi tak jauh dari kerumunan, "Lala mau duduk di bangku itu?" 


Lala mengangguk berjalan memegang tangan Naya. Lala Sedari tadi terus memperhatikan seorang anak yang bercengkrama bersama ibunya. Bercanda juga berlarian. 


"Nggak apa-apa. Lala bisa anggep Tante Naya Mama." Ujar Naya menatap Lala sambil tersenyum. 


Lala mengerjap, memasukkan kata-kata Naya ke dalam otaknya. Ia tersenyum langsung memeluk Naya. "Mama!" 


Naya menatap anak kecil yang dalam pelukannya. Sederhana sekali mimpi anak kecil ini. Ia hanya ingin pelukan, ia hanya ingin merasakan dibelai oleh sang ibu. tapi ia juga tahu jika ibunya pergi ketika berjuang melahirkannya. 


"Lala mau gulali?" Naya bertanya ketika Lala melepas pelukannya. 

__ADS_1


"Mau." Antusias Lala, setelah itu ia lesu,"tapi Ayah pasti omelin Lala. Katanya tidak boleh makan manis-manis." 


Naya tersenyum, "nggak apa-apa, sesekali. Tadi juga Lala bawa permen kan?" 


Lala menengok kesana kemari takutnya ayahnya telah datang, "Mama jangan berisik. Nanti ayah dengar. Itu bukan permen Lala itu permen Kira dia di syekolah bawa terus Lala dikasih."


"Sayang. Itu namanya punya Lala karena sudah dikasih Kira." 


"Yaudah. Berarti Lala hari ini sudah makan permen tak perlu makan lagi." 


"Tidak-tidak!" Lala langsung menggeleng. "Lala di kasih dua sama Kira. Satu dikasih Mama yang satu masih ada di kantung Lala." Lala menunjukkan permen yang tersisa. Ia merelakan permen kesukaannya demi gulali yang akan diberikan oleh Mama baru beberapa detik itu. 


"Oke. Nanti kita kasih orang lain." 


Naya menurunkan Lala dari kursi karena kursinya sendiri sedikit tinggi. "Ayo!" Lala sangat antusias. Ia pergi menghampiri anak yang tadi bermain dengan ibunya. Dengan gembira berkata. 


"Halo. Aku Lala. Ini permen buat kamu." Lala menyodorkan permen itu pada si anak kecil sepantaran dengannya. 


Anak kecil itu menatap ibunya, ia bingung anak kecil siapa yang sok akrab dengannya. 


Ibunya mengangguk toh anak kecil ini mempunyai niat baik. "Halo Lala! Aku Nana. Benar ini permennya untuk Nana?" Ucap ibunya mewakili. 


"Benar!" Lala mengangguk. 


Mereka menengok, semua atensi bergerak ke arah Naya ketika Naya datang. "Ouh halo! Saya Mira. Ini ibunya Lala?" ucap Mira, ia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. 


"Naya!" Lala menerima jabat tangan itu. 


"Iya! Ini Mama, Lala!" ucap Lala girang. 


Ucapan Lala disahut oleh Aldi yang datang dari samping mereka, "Mama?!" 


******


Setelah memberikan permen tadi, sepasang ibu dan anak itu harus pulang. Tersisalah Lala yang kini bersembunyi di belakang Naya. 


"Ada yang bisa jelaskan." tanya Aldi. Sebenarnya ia hanya ingin bertanya dan klarifikasi panggilan Mama itu. Apalagi ia melihat anaknya sangat antusias ketika memanggil Naya, Mama. 


Naya mengusap bahu Lala. Berkata pada Aldi. "Nggak apa-apa, Mas. Aku malah seneng. Jadi kaya punya anak satu. udah cantik pinter lagi." 


Aldi kini menatap anaknya, berjongkok menyamaratakan tinggi mereka, "Lala kenapa ngumpet?" 


Lala menggeleng, menyelundupkan kepalanya ke badan Naya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Ayah cuma pengen tahu aja kenapa Lala panggil Tante Naya, Mama." 


"Bukan Tante, Mama!" ucap Lala menatap tajam Ayahnya. 


"Iya, iya. Ayah minta maaf. Mama, Mama Naya." ucapan Alfi membuat Naya bimbang. Andaikan Brian bisa seromantis ini. Apalagi perkataan Aldi ini bisa membuat orang salah paham. Aldi menggendong Lala hendak membawanya pergi. 


"Mas. Mau kemana?" tanya Naya, "kita beli gulali dulu. Tadi aku udah janji sama Lala." 


Aldi menghela nafas, berkata pada Lala, "nggak usah yah. Nanti gigi Lala bolong." Perkataan Aldi membuat lama cemberut. 


"Nggak apa-apa, Mas. Hari ini Lala belum makan manis-manis, kan. Tadi saja Lala rela permen yang dikasih temannya ia kasih lagi ke orang lain. Itu sudah menunjukkan kalau Lala itu mau berbuat juga mau bertanggung jawab." jelas Naya. 


Aldi menghela nafas, mengangguk mengizinkan membuat Lala tersenyum girang dan memeluk Aldi. 


Kini mereka di tukang jual gulali, Lala ingin gulali yang bergambar Spongebob, tapi karena terlalu besar dan ayahnya tidak mengizinkan akhirnya Lala hanya boleh memakan gulali yang berbentuk bulat. 


"Tunggu yah, Mas, Mbak." ucap tukang gulali. 


Lala menatap Naya, ia membisikkan kata-kata pada Naya membuat Naya harus mendekat pada Aldi. Aldi melengos, ia sedikit canggung pada Naya karena Naya begitu dekat dengannya. Ia tahu Naya hanya peduli pada Lala, tapi mereka seperti keluarga bahagia. 


"Mau, yah Mama?" mohon Lala. 


Naya tersenyum, memandang Lala kemudian mengalihkannya pada Aldi"boleh kalo, Ayah mengizinkan." 


"Kenapa?" tanya Aldi bingung. Ia saja tidak diajak berbisik oleh kedua kaum hawa ini tiba-tiba ditanya boleh atau tidak. 


"Lala mau aku temani dia nanti pas ultahnya," 


jelas Naya. 


"Ouh, boleh." ucap Aldi mengangguk. 


"Ini adik." Tukang gulali itu menginterupsi jika permen kapasnya sudah jadi. "Mas sama mbaknya canggung banget, yah. Padahal udah punya anak secantik ini." 


Sedari tadi sepertinya tukang gulali ini memperhatikan keduanya, bagaimana Naya bersikap dan bagaimana Aldi merasa canggung ketika Naya mendekat. 


"Heh, iya mas. Ini sepupu saya." jelas Aldi. Membuat Lala memberontak. 


"Mama, Lala, Ayah!" 


"Iya, Mama, Lala."


******

__ADS_1


__ADS_2