
"Dingin." Naya menghela nafas, ia beranjak dari kasur untuk mengambil kompresan. Sudah dibilang juga apa Brian tetap ngeyel, kini ia yang terserang demam.
Sehabis hujan-hujanan entah bagaimana ceritanya, kini Brian sedang kedinginan dirawat oleh istrinya. Naya menaruh handuk basah di kening Brian.
"Mangkanya dengerin dong, Mas kalau aku ngomong. Dibilangin udah tau badan abis begadang, dibawa main hujan-hujanan terus main angin-anginan."
Brian yang kini tengah sakit diberikan ceramah panjang oleh Naya hanya mengangguk lemah. "Ngangguk-ngangguk mulu. Mas, kamu denger aku ngomong nggak?"
"Ra," protes Brian. Naya susah sekali di bilangnya ia tidak suka jika Naya memanggilnya kamu.
Naya menghela nafas, "iya. Lagian Mas denger aku ngomong nggak." cetusnya.
"Denger, Ra denger banget. Sayangnya aku lagi sakit jadi energi aku habis tolong elus aja pakai tangan kamu yah jangan pakai ocehan kamu," pinta Brian.
"Aku ini ngomong baik, loh Mas. Mengingatkan. Apanya coba yang salah?" sanggah Naya.
"Iya, nggak salah. Elus, yah." pinta Brian.
"Nanti aku diem nggak ngoceh tahu rasa kamu, Mas." Gerutu Naya.
Brian mendengar jelas gerutuan Naya sayangnya ia sedang dalam keadaan lemah membuatnya tidak bisa mendisiplinkan istrinya ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di perusahaan Prakoso internasional jaya group kini sedang terjadi ketegangan akibat beberapa anak perusahaan mengalami pembocoran informasi tender yang mengakibatkan kerugian triliunan rupiah, membuat para investor bertanya-tanya apakah para pejabat di perusahaan bisa mengatasi itu.
Denis dipanggil oleh pemimpin keluarga ke rumah utama. Denis berjalan dikoridor di temani asistennya sampai di pintu megah, Denis menatap asistennya untuk menunggu. Kebetulan asisten kepala keluarga keluar ia tersenyum.
"Mr, Denis. Silahkan sudah ditunggu."
Denis mengangguk, berjalan mengikuti arah asisten itu. Seorang pria tua dengan syal di lehernya duduk tegak menatap jendela.
Walau umurnya yang mendekati satu abad tapi jangan ditanya bagaimana ketegasan dan kedisiplinannya.
"Tuan Denis sudah datang." ucap asisten Almaco. Saleh.
__ADS_1
Laki-laki tua itu berbalik. Menyuruh asistennya pergi. Almaco menatap anak bungsunya yang kini juga sudah mendekati setengah abad. Ia merasa hidupnya tidak akan lama lagi sayangnya anaknya yang ke satu itu sedikit merepotkan membuat tuhan seakan menahannya untuk tetap tinggal dan membereskan harta gono-gini yang akan menyusahkannya nanti dan menyelesaikan masalah yang ada.
Almaco menghela nafas, "bantu aku!" Denis buru buru berjalan ke arah Ayahnya ini untuk memapahnya. Kedua tangannya berpegangan pada tongkat badannya di tuntun oleh Denis. Almaco menatap anaknya ini. "Minumlah!" Denis hanya menurut bagai kuda yang dicucuk hidungnya.
Almaco menatap setiap gerak-gerik Denis. Semuanya memiliki ciri khasnya sendiri, sayangnya gerak-gerik itu pula yang membuat Almaco gampang melihat niat baik atau buruk seseorang.
Denis menatap Ayahnya yang menilainya dengan teliti sama seperti ketika Ayahnya memberikan tahta perusahaan yang diambil alih padanya membuatnya berdegup kencang.
"Tahu salah apa?" tanya Almaco membuka forum itu.
"Ya,"
"Dimana salahnya?"
"Hah?" Pertanyaan Almaco membuat Denis bertanya-tanya sebenarnya Ayahnya ini tahu tidak, setahunya tidak ada yang tidak diketahui oleh Ayahnya ini seakan iya mempunyai ilmu sihir.
"Begitu saja tidak tahu! Huh!"
"Ayah, aku bukan detektif yang bisa memecahkan kata-kata Ayah." bela Denis.
"Hah! Ayah!" Denis menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya sudah tahu perusahaan sedang krisis malah disuruh memasukkan Bagas ia akan bertambah pusing mengurus dua pekerjaan sekaligus. Ia juga ingin bersantai bersama anak istri.
"Berani!" Almaco menunjuk Denis dengan tongkatnya.
"Laksanakan setelah seminggu berikan laporannya." Almaco kemudian beranjak berjalan menjauhi Denis hendak ke balkon menatap burung yang sedang makan.
Denis bangun hendak membantu Almaco sayangnya, "masih belum pergi? Masih tidak kapok dengan ini?" Bentak Almaco ia benar benar menempelkan kayu itu ke kaki Denis.
"Iya, Ayah aku pergi. Jaga kondisi Ayah."
"Kau menyumpahiku?" Denis menghela nafas susah sekali berbicara dengan kakek tua ini.
"Sudah mengumpatnya! Pergi!"
"Ayah, aku hanya khawatir itu ungkapan khawatir."
__ADS_1
"Kerjakan khawatirmu setidaknya meringankan pekerjaan. Contohlah pengangguran setidaknya mereka tidak pernah korupsi." Hardik Almaco.
"Ayah, apanya?" Denis benar-benar melas.
Plak. Satu pukulan mengenai lengan Denis.
"Iya, iya. Ayah jaga tubuh, jangan semakin garang saja." teriak Denis diselingi kekehan setelah mengucap itu ia langsung kabur sebelum mendapatkan tinjuan singa biarlah Pak Saleh yang mengurus.
Almaco menghela nafas pada anak bungsunya ini lebih baik ia menatap burung yang sesekali hinggap di balkonnya yang sudah di taruh pakan. Biarlah kotor toh ia bisa menyewa banyak pembersih.
*****
Di lain tempat Bagas sangat bangga akan prestasinya karena bisa dipanggil oleh Almaco artinya ia Denis adalah orang yang tidak kompeten. Ia harus segera bersiap-siap karena harus pergi ke perusahaan untuk memimpin perusahaan menyingkirkan Denis. Adiknya itu terlalu durhaka pada Kakaknya entah apa yang ia lakukan dulu hingga bisa merayu Almaco. Sekarang terbukti jika Denis bukanlah orang yang kompeten ialah yang benar-benar dan seharusnya memimpin perusahaan besar ini.
Bagas ditemani istrinya Diana yang sedang memakaikan dasi padanya. Diana membelai dada bidang suaminya ini. "Katerin ingin bepergian bersama temannya ke Hawai bisa Mas Bagas turuti?" ucap lemah gemulai Diana.
Bagas menyentuh dagu istrinya ini, Diana malu-malu menatap suaminya. "Karena hatiku sedang baik, pergilah aku akan membayarnya,"
Diana menatapnya dengan sedikit sedih, "tapi katerin bilang jika ia kalah main taruhan jadi harus mentraktir teman-temannya,"
Bagas sebenarnya sedang pusing memikirkan bagaimana caranya ia bisa menyingkirkan orang yang berpenghalang merusak rencana yang sudah ia susun juga mengganti rugi triliunan perusahaan Prakoso sayangnya karena terlalu senang jadi ia mengiyakan. Ia berpikir jika perusahaan Prakoso masih memiliki dana yang lainnya.
"Tentu!"
Binar Dimata Diana membuat Bagas senang, "aku juga mau tas, boleh?"
Bagas membelai wajah istrinya, "tentu Diana!" Diana langsung terpekik girang dan memeluk suaminya.
"Terimakasih!" Namun kesenangannya terganggu ia menatap suaminya. "Bagaimana dengan Zoe? Bukankah ia harus pulang mengambil berkas,"
Bagas tersenyum senang, ide istrinya ini sungguh cemerlang, Zoe bisa mempermudah pekerjaannya, "iya dia harus pulang! Telpon dia dan pindahkan!"
Diana merasa senang mendengar itu jangan buat anak istri pertama suaminya ini bahagia anak Bagas hanya Katerin, Zoe harus disingkirkan.
*****
__ADS_1
Zoe manatap gawai di tangannya ia baru saja mendapatkan telepon dari ibu tirinya jika ia harus pulang. Harus menjadi anak yang berbakti. Apanya yang berbakti keluarganya saja tak pernah memperdulikannya. Tidak mereka bukan keluarga, sebuah keluarga adalah ketika mendapatkan sesuatu yang sederhana mereka akan bersyukur, pernahkah keluarga ini bersyukur. Ia ingin segera menyelesaikan semuanya dan pergi jauh. Zoe harus segera mendapatkan berkas itu.