
Dalam kamar yang begitu luas, Naya sedari tadi bersedekap dada pada suaminya yang masih sibuk dengan laptopnya. Ia jadi bingung sejak kapan Brian membawa laptop itu.
Brian berdehem melirik Naya yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip. "Kenapa?"
Naya menghela nafas. "Boneka landaknya nggak ada." Naya sekarang sedikit sulit tidur ketika Brian ataupun bonekanya tidak ada dalam pelukan.
Brian menaikkan satu alisnya, seperti bertanya kenapa?.
"Aku susah tidur. Butuh sesuatu buat dipeluk."
Naya menatap suaminya dengan jengah. Bisa tidak Brian memberinya solusi. Ia malah beralih kembali pada laptopnya.
"Ada bantal guling."
"Terserah, deh!" Naya sudah bosan ia mengantuk tapi tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Brian merasa terusik dengan Naya yang terus bolak balik di kasur tanpa bisa diam. Brian menghela nafas. Menutup laptopnya, berjalan ke kasur. Brian berdiri di pinggir kasur, melepaskan sandalnya naik ke atas kasur.
"Kemari!"
Naya bisa merasakan Brian yang bergerak di kasur, sepertinya suaminya ini sudah menyelesaikan pekerjaannya atau mungkin menunda. Naya tidak peduli.
"Kemari!" Naya berbalik ketika Brian menyentuh lengannya. Brian menaruh tangannya menjulurkan di bawah leher Naya.
Naya hanya mengikuti nalurinya, mendekat dan menyusupkan kepalanya ke dada bidang suaminya. Hanya saja Naya masih belum bisa tidur, ketika hendak mendongak Brian langsung menginterupsi.
"Tidur! Atau tak usah tidur!"
"Cih." Naya berdecak, ia ingin tidur tapi tidak bisa. Beberapa menit telah berlalu Brian bisa merasakan Naya yang tadi banyak gerak kini nafasnya sudah beraturan.
Brian menghela nafas. Katanya tadi tak bisa tidur sedikit di peluk saja sudah teler. Brian tak ingin banyak mengeluh ia tidur sambil memeluk Naya hingga terlelap.
*****
Melani berjalan di koridor sepi ini. Rumah yang begitu besar siapa yang tidak menginginkannya. Melisa saja merasa keluarga Prakoso sangat serakah. Mengapa tidak membagi sedikit padanya.
Tiba-tiba seorang laki-laki berkata.
"Kekuasaan itu segalanya. Benar tidak?"
Melani berbalik menatap Aldi yang memakai baju tidur datang dari kegelapan.
Melani mengangguk. Kekuasaan itu luas, tapi jika seseorang tidak bisa mengaturnya maka petaka yang akan datang. "Untuk apa malam-malam keluar. Apalagi hanya menggunakan piyama?"
__ADS_1
Aldi mengernyit, menatap Melani dari atas ke bawah, kemudian terkekeh. "Kalau begitu kau mau apa? Mau ke klub malam?"
Melani menatap Aldi dengan kekehnya, "bercanda kamu sungguh lucu. " Melani menatap Aldi dengan tatapan guyonan, "bagaimana dengan Naya? Sepertinya Lala sangat suka pada anak itu. Mungkin boleh aku jadikan teman."
Aldi memandang Melani dengan tatapan tajam, "jangan sesekali mengusik hidup orang, Melani!"
Melani mendekati Aldi, "hei, pak dokter! Aku hanya ingin berteman jangan terlalu kaku. Kita sudah lama berteman. Tapi dendam di hati masih saja belum dihapuskan. "
"Naya sudah memiliki Brian. Jangan pernah mengganggunya atau Lala akan membencimu!"
Melani tersenyum cerah, tapi tatapannya tersirat kesedihan, "Lala atau Ayahnya?"
Aldi menghela nafas menghela nafas ia menurunkan tangan Melani yang bertengger di pundaknya, "tidurlah! Sudah malam. Untuk apa membahas yang telah berlalu. Sudah dilupakan jangan diungkit-ungkit lagi."
Aldi berbalik, ia berjalan ke arah dapur. Niatnya Ingin mengambil minum untuk Lala jika ia bangun sudah tersedia air minum.
"Aku bisa mengurus Lala." Seruan Melani membuat Aldi menghela Nafas. Siapa yang tahu ternyata wanita itu ambisinya sangat tinggi.
"Tidur!"
Melani memandang kepergian Aldi dengan tatapan sendu, pundak itu masih sama dengan pundak yang dulu selalu memberinya kasih sayang. Mereka Adalah sepasang kekasih yang terpisahkan oleh keegoisan Melani. Ia akui itu, sayangnya hatinya ini mengkhianatinya, ia masih cinta dengan Aldi. Masih mengingat masa lalu mereka. Dulu Aldi yang selalu mengejarnya sekarang ia yang akan mengejar Aldi. Hanya saja matanya kini berisi seorang Naya atau mungkin ia kagum akan kedewasaan Naya yang bisa mengatur Lala. Itu terbantu sekali.
****
Pagi ini Naya merasa ia seperti tidur di peluk oleh kapas. Membuatnya terlelap dan bangun dengan segar. Ia menatap suaminya yang menggerakkan badannya terasa pegal.
"Entah. Sepertinya semalam bermimpi kerbau tak bisa tidur dibelai sedikit malah menyeruduk." Brian berjalan hendak keluar dari kamar itu. Hari ini waktunya mereka pulang.
Naya memanyunkan bibirnya. Menatap suaminya, "nggak ikhlas!" Brak! Brian hanya menghela nafas. Ia kasihan pada pintu itu tak salah apa-apa menjadi samsak tinju Naya.
*"****
Sepasang suami istri turun dari tangga. Naya menatap semua orang yang telah menunggu di luar ruangan ini. Lala menatap Naya menggeleng jika ia tidak boleh pergi. Hanya saja memang sudah waktunya pergi. Tidak bisa ditunda, apa lagi Brian mendapatkan jadwal praktek siang.
Lala tertunduk lesu. Maya sedikit menundukkan dirinya, "kalau begitu bagaimana kalau Lala nanti siang ke rumah Oma Maya nanti Mama Naya ada di sana, menginap. Soalnya Om Brian kerja."
Ucapan Maya yang tidak ada konfirmasi pada keduanya membuat Naya bertanya-tanya, tapi suaminya terlihat santai saja. walau ia berfikir ada apa dengan ibunya ini. Mungkin mertua rindu menantu.
"Mau, Oma." Lala langsung sumringah menatap Maya. Bergantian bertanya mengapa keluarga Ayahnya agar diizinkan.
"Apa tidak merepotkan Mama Naya?" Tanya Aldi menatap Naya. Naya yang di berikan tatapan itu menengok ke arah suaminya hanya saja ibu mertuanya langsung bertindak.
"Tidak perlu. Mama yang minta izin Naya pasti mau." Seru Maya.
__ADS_1
Akhirnya Naya melihat Brian menganggukkan kepala pada Naya atau mungkin lebih tepatnya pada Lala yang berada di sampingnya. Naya menghela nafas. Suaminya ini masih marah kah?
Ketika mereka tengah sibuk dengan urusan boleh atau tidak. Zoe menatap dirinya sendiri yang harus pulang. ia harus menyelesaikan urusannya dulu di sana . Zoe tertunduk lesu. Ayahnya malah menyarankannya untuk pindah ke Indonesia agar rencananya lancar. Jika pindah pastinya harus mengulang kelas 12 lagi. Zoe tidak mau itu. Kini Zoe harus duduk bersama Ayahnya, ia menghela nafas.
Melisa dan Melani tersenyum cerah pada semua keluarga ini. Ia berterima kasih karena telah memberikan tumpangan atas kejadian kemarin. Juga Melani yang diizinkan menginap karena harus mengurus kakaknya.
Melisa memandang Brian tanpa memperdulikan Naya di sampingnya, "terimakasih. Kalau bukan karena kamu, Bri. Mungkin aku sudah tenggelam. " Ujarnya berdrama.
Naya menatap suaminya. Ia sedikit tidak tahan dalam drama percintaan ini jika memang cinta ya, sudah. Tinggalkan ia. Jika memang tak suka, ya sudah. Pastikan. Jangan linglung harus milih yang mana.
"Aku ke mobil dulu, Mas."
Tanpa menunggu jawaban dari Brian, Naya pergi meninggalkan drama yang belum selesai itu. Sayangnya belum sampai ke mobil, adiknya sudah menghadang Naya.
"Halo." Melani melambaikan tangannya.
"Ada apa yah?" Naya sebisa mungkin memberikan senyuman. ia tidak ingin dianggap kampungan juga tidak tahu tata krama karena memberikan muka tak enak dipandang di awal pertemuan.
Melani menutup mulutnya dengan satu tangan, "wah, to the point sekali, yah…..tidak aku hanya ingin berteman." Melani mengulurkan tangannya, "Melani."
Naya menerima uluran itu dengan setengah hati semoga saja firasatnya tidak salah akan Melani. Semoga ia berbeda dengan Kakaknya. "Kalau begitu aku permisi. "
Melaju tersenyum, "yah. Silahkan!"
Aldi menatap Melani dengan tatapan dingin, semoga saja Melani tidak macam-macam.
Melani yang tahu ia diperhatikan tersenyum dari jauh kalau memberikan kiss bye nya pada Aldi. Aldi hanya diam tak memberikan ekspresi.
Di dalam mobil Naya menunggu suaminya. Semua orang telah masuk ke dalam mobil. Kini Naya merasa bad moodnya bertambah. Tak ingin menatap suaminya yang sudah duduk di kursi sampingnya.
Brian merasakan sedari tadi Naya tidak ingin menatapnya, juga ketika ia bertanya hanya dijawab degan berdehem. Benar-benar. Memang perempuan ini marah kenapa.
"Yasudah." Brian pergi turun dari mobil itu ketika telah sampai. Meninggalkan Naya yang dalam kondisi bersedih.
Naya merasa Brian tidak ada perjuangannya sama sekali dalam rumah tangga mereka. Naya mulai lelah. Sedari mereka masuk kerumah tak ada perbincangan, Naya hanya menjalankan tugasnya hingga Brian hendak berangkat Naya menginterupsi.
"Mas, aku lelah." Naya memandang punggung suaminya yang tengah bersiap.
Brian menghentikan kegiatannya yang tengah memakai jam tangan. "Kalau begitu istirahatlah!" Brian memandang Naya yang kini tengah bersedih. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Naya apa karena ia berbincang dengan Melisa kalau memang, iya. Mengapa tidak bilang sedari awal.
Naya menatap lelah, Brian. Brian sendiri paham akan arti kata-katanya, tapi mengapa menghiraukan begitu. Ia lelah.
"Iya. Karena sepupu kamu sudah tidak menginap lagi. Apa kita masih sekamar?"
__ADS_1
"Terserah!" Brian langsung pergi keluar dari kamar itu. Naya mengharapkan jawaban berbeda. Ia sudah nyaman, tapi buat apa kalau mereka sekamar tapi hatinya tidak bersama.
Naya mengangguk ia menyiapkan semua barang-barangnya membawa serta boneka landaknya ke kamar yang dulu pertamakali ditempati. Satu tetes air mata luruh di mata beningnya.