DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
silsilah keluarga


__ADS_3

Kamu berkata begitu kejam! Bisa tidak di perhalus!" tegur Zoe. 


"Hah!" Naya mengernyit pada ketiganya setaunya pembelajaran di negara luar lebih kejam ketika berbicara jika tidak memiliki mental kuat bagaimana mereka betah disana. "Dimananya yang kasar? Itu adalah kata-kata nasihat dariku. Kamu tidak terima? Bukankah di luar negeri perkataan mereka lebih kejam?" 


"Apanya yang lebih kejam. Kamu yang lebih kejam jelas-jelas kamu tidak cocok dengan Mas Brian. Apalagi menjadi nyonya rumah ini. Cih! Aku tidak sudi!" Zoe benar benar tidak menyukai Naya yang menurutnya kampungan. Apanya teh susu jahe, kemarin ia diberi makanan yang dilarang di Amerika. Nanti Naya bisa memberikan apa lagi padanya. Bisa-bisa ia akan memberikan racjn. Jika itu terjadi ia benar-benar akan membuat Naya memohon ampun. 


Sina menyentil telinga Zoe. Apa-apaan perkataannya itu jika tak suka yasudah tak suka tak usah dimakan. Tidak usah dipersilakan untuk apa berkata dengan kejam. Seperti tak punya hati. Zoe menatap garang Sina. 


"Kamu!" Zoe menunjuk muka Sina. Sina mengambil tangan itu memelintirnya hingga Zoe mengerang kesakitan. 


"Tidak sopan pada kakak sepupu! Jika kamu tidak memandangnya yasudah untuk apa menghina! Lagi pula kak Melisa yah memilih menyerah! Untuk apa diperpanjang. Minum! Atau diam!" 


Zoe menghentakkan kakinya ketika Sina melepaskan cekalan itu. Setelah memakai ia pergi dengan banyaknya umpatan. 


"Maaf,  dia terlalu muda untuk mengerti." ucap Cesi mewakili. Ia juga menghela nafas melihat sikap Zoe. 


"Yah, siapa yang tidak suka dengan pernikahan mendadak ini. Aku juga pastinya kaget dengan itu. Hanya saja menjalaninya lebih baik daripada mengeluh." Naya ingat sekali ketika pertama kali ia bertemu Brian. Dengan wajah dinginnya mengomel jika Naya adalah penculik anak. Juga ketika mereka bertemu di apotik dan kejadian itu sangatlah cepat hingga mereka dinikahkan. Hanya saja masih banyak kejanggalan di dalamnya. Mengapa ayahnya cepat sekali setuju? Mengapa para preman itu malah menargetkannya juga. Jika memang para preman itu berkata jika inisiatif sendiri tak mungkin bukan jika mereka mau keluar uang untuk menyewakan hotel. Bukankah mereka mencari uang. 


"Kalau begitu aku akan pergi dahulu ada urusan." Pamit Cesi. 


"Aku juga akan pergi dengan Cesi. Terimakasih teh susunya ini enak mungkin sedikit memberinya tampilan menarik juga menghilangkan beberapa bau tajam." saran Sina. 


"Baik mungkin nanti akan ku coba. Hati-hati di jalan jika sudah sampai kabari aku. Takutnya mas Brian menanyai kalian." 

__ADS_1


"Tak perlu cemas kami akan kabari," ucap Cesi tersenyum ceria. Mereka pergi keluar untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas. 


*****


Zoe menahan tangis di kamarnya walau ia keras kepala tapi ia tetap gadis labil yang butuh dimengerti. Sayangnya jika terus ingin dimengerti maka akan sulit untuk mengerti orang lain. Hanya saja Zoe terlalu memikirkan perkataan Naya. Ia jadi membandingkan Naya dan Melisa. 


Zoe kemudian memandang ke jendela untuk apa menangis ia tinggal pergi jalan-jalan atau pergi bertemu kak Mel-nya. Ia ingin bertemu Melisa hanya saja tidak tahu Melisa tinggal dimana di DM pun tidak dibalas sepertinya sibuk. Tapi pasti datang ketika Lala ulang tahun karena itu juga kesempatan Melisa untuk dekat dengan Brian. 


Zoe mengambil kunci mobil pergi keluar tanpa pamit dengan siapapun. 


****


Cesi menatap serius pada Sina mereka kini berada di ruangan yang disediakan Brian untuk mereka. Agar memudahkan penyelidikan. Sebenarnya mereka sedikit curiga pada Bagas ayahnya Zoe. 


Dari kakek mereka Prakoso Almaco memiliki tiga anak. Bagas Prakoso dilanjut Maya Prakoso dan si bungsu Denis Prakoso. Hanya saja ketika Prakoso Almaco sedang sekarat ia menunjuk si bungsu untuk melanjutkan perusahaan mereka yang memiliki banyak sekali cabang juga kerjasama. Jika di beri kepada orang yang salah maka bisa hancur atau setidaknya merusak generasi karena banyaknya korupsi.


Sedangkan Sina sendiri adalah anak dari cucu, adiknya yang perempuan. Sinalah yang paling jauh tapi ia juga yang paling dekat dengan Brian karena mereka sama tak suka kebisingan. Juga akan penasaran akan hal mencurigakan. 


Entah apa dosa yang didapat oleh Bagas hingga tidak diturunkan kepadanya. Bagas marah ketika Denis ditunjuk untuk memimpin perusahaan yang seharusnya ia yang memimpin disitulah perasaan tidak adil, benci juga ambisi jika Denis sudah menghasut  Prakoso Almaco. 


Sudah jelas jika Maya sendiri ikut dengan suaminya yang memiliki usaha dan marga sendiri. Bram Mahesa. Sayangnya Mahesa Effendy suka sekalian akan bisnis tapi juga tidak bisa mengabaikan usaha yang dibuat kakeknya. Akhirnya ia dengan usaha keringatnya juga belajar dengan tekun mendapatkan sebagian besar saham perusahaan yang dipegang Denis. 


Denis sendiri senang jika Effendy suka dengan bisnis ia sangat terbantu dengan itu apalagi jika Effendy datang dan membantunya sayangnya tidak bisa terus menerus karena ia juga memiliki tugas sebagai dokter. 

__ADS_1


Sayangnya anak pertamanya Aldiano Prakoso malah suka sekali dengan kedokteran tidak ingin mengambil bisnis yang telah diturunkan oleh kakeknya. Ia berkata jika manusia lebih mengerikan ketika melihat uang dan kekuasaan daripada melihat hantu. Lebih baik ia menjadi dokter untuk dikenang menjadi pahlawan. 


Jadi mereka bingung harus bagaimana jika sedikit saja gegabah bisa-bisa Zoe malah akan seperti ayahnya yang berbelok ke kiri. Mereka memutar rekam jejak ketika di persimpangan benar kata Naya jika ia melihat seorang perempuan bersama Effendy terakhir kalinya sayangnya sang wanita hanya seorang perempuan biasa yang nebeng. Naya sendiri berkata jika mereka bertengkar, sayangnya si perempuan tetap kekeh jika ia hanya bertemu hanya karena kecelakaan Effendy ia jadi dituduh. 


Beberapa mata-mata sudah disebarkan keseluruhan keluarga ini juga banyak di keluarga Zoe entah kenapa firasat mereka mengatakan jika akan ada sesuatu yang terjadi kedepannya. Hanya saja semua itu butuh waktu. 


Mereka berdua saling bertatapan mengapa tidak bertanya pada Naya? 


******


Zoe pergi dari rumah menelpon kak Mel-nya tapi sayangnya ia telponnya juga tidak aktif Zoe sangat suntuk uangnya belum di transfer ke rekening oleh sang ayah. Sepertinya akan sedikit ditangguhkan karena sebelum datang kesini ia sedikit membangkang. 


Menghela nafas adalah jalan utama. Menatap sedikit ke arah jalanan yang tidak akan pernah sepi oleh pengendara yang sibuk akan urusan mereka. Entah itu penting atau hanya ingin menghilangkan kebosanan. 


Sedang tenang-tenangnya ia menatap jalanan terlihat kak Mel-nya sedang di gandeng oleh seorang lelaki yang Zoe sendiri tidak tahu. ia hanya berprasangka baik, bisa jadi itu adalah partnernya dalam modeling, mungkin juga itu adalah pacarnya yang sekarang. Tapi bukankah ia sedang berprinsip tidak ingin pacaran? Sejak kapan kak Mel-nya menjadi tak berprinsip. 


Zoe keluar dari ruangan kafe itu menuju parkiran. "Kak Mel!" Zoe terus memanggil mengikuti pria itu mengajak kak Mel-ny. Hanya saja ia tidak suka ketika pria itu dengan seenaknya memegang pinggang dan sedikit sensual. Sejak kapan Kakak yang sudah dianggapnya sebagai sandarannya menjadi sedikit liar. 


Mereka masuk mobil, dan pergi berbelok ke arah kanan. Zoe tanpa pikir panjang mengikuti hingga jauh dari kafe itu menuju hotel bintang lima. Zoe menelan ludahnya, ketika turun dari sana. Ia sedikit mengerti tentang pergerakan bibir. itu sedikit rahasia, ternyata hotel bintang lima pun memiliki kata kunci tersendiri. 


Mereka langsung pergi ketika Zoe ingin menyusul sudah di hadang oleh para karyawan dan banyak di tanyai. 


__ADS_1


__ADS_2