
Pintu yang terbuat dari kayu itu ditutup. Satu bening luruh di matanya Naya menunduk dalam. Keheningan mendera tergantikan sedikit isakkan yang memilukan. Naya menyusupkan wajahnya di balik kaki memeluk erat agar ia bisa menumpahkan air matanya.
Naya bimbang, apakah hidupnya hanya seperti ini. Sebuah permainan terlihat sederhana yang nyatanya sangat kompleks. Bagaimana ia bertemu Brian, bagaimana ia dinikahkan tanpa cinta. Ia hanya ingin menikah sekali dalam hidupnya setiap melihat Brian yang terus memalingkan wajahnya, rasanya hati Naya berdenyut hingga paru-parunya harus bisa menormalkan diri agar tidak menjadi bom asap.
"Hiks, Mak!!" Naya meraung di kamar itu. Naya tak ingin orang lain mendengarnya ia keluar pergi ke kamar mandi menghidupkan air agar tangisannya tersamarkan. Naya duduk di bangku kayu, menyadarkan diri pada tembok.
Sungguh, Naya tidak tidak tahu lagi ia harus menangis, meraung, atau mencak-mencak. Di keheningan yang hanya terdengar suara air yang jatuh dari keran. Naya sudah selesai menangis hanya saja kini ia termenung.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, ibunya memanggil. "Teteh kata Ayah kamu nyariin Ema ada apa?" Mak Delima menatap anaknya yang kini membuka pintu. Terlihat wajah sembab sehabis menangis, wajahnya memerah, terkadang ia sesegukan.
"Aduh, ini anak gadis Ema, kenapa?" Mak Delima langsung membawa Naya pergi ke kamarnya, hingga lupa mematikan air.
Naya memeluk ibunya di kasur, ia masih belum ingin bercerita, masih hanya ingin bersandar di pelukan ibunya yang hangat.
"Kenapa atuh, Teh? Cerita sama Ema." Mak Delima mengelus surai anaknya dengan sayang sesekali mengecupnya membuat Naya kembali meneteskan air mata dalam diam. Sungguh pedih rasanya jika tak bisa menahan.
"Kamu tuh kaya pas kecil, pas kamu umur 7 tahun. Dulu si Kaka langit itu jailnya minta ampun, sampai ngasih makan ulat ke kamu pake tangannya aja dia pernah.
Sampai waktu itu kamu di di jailin sama kakakmu. Akhirnya anak gadis Ema ngebales Kakaknya yang iseng taruh air di atas pintu terus kamu sembunyi di lemari.
Sayangnya itu air bukan kena kakak kamu malah kena Ayahmu. Yo wis kamu diam aja jadi kamu yang disalahin. Tiga hari kamu nggak mau main sama Kakak dan Ayah. Ingat tidak?" Cerita Ema. Naya menggeleng. Mengeratkan pelukannya.
Mak Delima menghela nafas, menepuk-nepuk bokong Naya. "Masalah itu pasti terjadi Teh. Itu mah sudah takdir Allah. Sudah ketetapan dari sononya. Nah sekarang gimana teteh sendiri maunya? Mau ngejalanin apa frustasi? Teteh tau Ema sama ayah juga dulu di jodohin," ucapan emaknya membuat Naya menatap ibu yang telah membesarkannya.
"Siapa sih yang mau sama bapak kamu, sudah hitam gendut bisanya makan. " cerca Ema. Naya sedikit miris pada ayahnya ternyata ini pikiran ibunya yang asli. "Tapi kamu tahu teh permasalahan hutang juga yang buat bapak kamu mau sama Ema dimana semua orang cuma mau cantiknya Ema doang. Mereka mau sama Ema tapi nggak mau bantu Ema bayar hutang."
"Bapak kamu pas Ema lahirin kamu, berjuang mati-matian pinjam sana sini, tapi dia nggak mau pinjam sama bapaknya si Jamal soalnya bunganya gede. Akhirnya kamu bisa melahirkan dengan selamat walau harus prematur dan Caesar. Soalnya dulu Caesar tuh mahal banget masih belum dapet kartu. Ayah kamu sampai sujud syukur setelah itu karena kamu lahir anak cewe. Ayah kamu pengen banget katanya lucu kalau dipakein baju yang aneh-aneh." Naya menatap ibunya, ia tak kuat membendung air matanya mendengar kisah ini. Ia ingin marah, tapi juga tidak bisa orang tuanya sudah sangat baik padanya. Jika ia membenci hanya karena masalah itu maka bukankah ia egois. Tapi Naya ingin tahu mengapa ayahnya melakukan itu.
"Mak, tahu ada apa sama awal pernikahan Naya? Kenapa ayah harus nikahin Naya?"
Mak Delima menatap anaknya dengan penuh kasih sayang, "bapak kamu itu punya banyak banget kekurangan kalo menurut Ema mah. Tapi kayaknya siapa aja yang ngeliat pasti setuju, tapi kalau udah kenal pasti mereka juga setuju kalau Ayah kamu itu penyayang, tidak suka berhutang, rajin menabung satu lagi dia akan lakukan apapun asal anaknya bahagia tidak sengsara."
Delima mengelus surai anaknya berkata dengan sangat lembut, "jadi Naya kalau ayah punya salah maafin yah. Ema nggak tahu kamu punya masalah sama siapa, tapi sebagai orang tua kita minta maaf kalau punya salah sama anak-anaknya," Ema menaruh jidatnya pada anak perempuannya ini.
"Jangan nangis." parau Mak Delima, ia tidak bisa melihat anaknya yang sudah dibesarkannya ini kembali menangis.
"Ema tahu kenapa ayah nikahi Naya?" Delima menggeleng menghapus air matanya dan mata Naya. "Ema percaya sama Ayahmu dia nggak akan mengambil resiko kalau itu membuat anaknya sengsara." Naya tidak tahu maksud Ayahnya sengsara itu seperti apa. Apakah hanya sengsara dalam materil atau sengsara dalam hal hati. Sayangnya materi memang terpenuhi tapi hati tidak Naya memutuskan menutup matanya sebagai akhir dari kisah hari ini.
Naya baru ingat, "Ma, Naya baru ingat."
"inget apa?" ucap Delima santai.
__ADS_1
"kerannya belum dimatiin." imbuh Naya. setelah kata-kata itu diucapkan, Ema Delima terpekik.
"aduh Naya, biayanya bisa-bisa bengkak kaya Ayah kamu," ucap Delima ia langsung bergegas ke kamar mandi mematikan keran.
*****
Kini hari ketiga Brian dan Aldi dihukum keduanya tampak cukup profesional. Di jadwalnya Aldi akan menjadi dokter kandungan dan ketika malam ia akan membantu Brian menjadi asistennya. Brian entah kenapa merasa hatinya bergetar ketika mengoperasi ibu itu. Padahal ia sudah berapa kali menangani beberapa kasus yang lebih parah dari ini.
Aldi menghela nafas, Brian bukannya beberes malah melamun. Ia ingin segera pulang dan memeluk anak semata wayangnya. "Bri kalau tidak mau pulang tidak apa-apa. Setidaknya kita lapor dahulu jika pekerjaan kita sudah selesai." Ucap Aldi yang menyadarkan Brian dari lamunannya. Brian mengangguk tanpa menatap Aldi yang keluar dari ruangan itu.
Malam berganti siang tanpa terasa semuanya sudah selesai Brian menatap arloji di tangannya, hanya ada satu notifikasi dari gawainya. Dan itu dari operator, ia membuka nomor Naya yang ia namai Naya hanya itu ia tidak tahu harus memberikan nama apa. Namun kini ketika ia ingat memiliki nama sebutan untuk istri cerewetnya. Rara si cerewet. Brian mengetik jika hari ini ia pulang. Brian tersenyum sendiri. Ia menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap.
Brian menaiki mobilnya melaju cepat di jalanan ibu kota, membelah terik matahari pagi. Namun jalannya terhenti oleh seorang yang menghentikannya di jalan. Brian memukul stir. Memberikan klakson kuat.
Seorang perempuan mengetuk pintu Brian ketika Brian turunkan kacanya, ia adalah Melani. "Bri, tolong Bri aku ikut kamu dulu yah soalnya aku dikejar-kejar sama preman."
Brian menatap arah mata Melani, ia bisa melihat dua orang pria ber plontos menunjuk Melani dengan tatapan sangarnya.
"Naik." Melani langsung bergegas naik.
"Terimakasih, Bri." Melani tersenyum cerah, menatap Brian di spion. Brian hanya berdehem.
"Mau turun dimana?" Melani kebingungan ia menyandarkan badannya pada sofa.
"Boleh menginap dirumahmu tidak, Bri?" Melani menangkupkan kedua tangannya.
"Kenapa? Kak Melisa saja sering menginap di rumah kalian malahan sampai tidur bareng." Setelah ucapan Melani selesai Brian langsung menghentikan mobilnya. "Kita sudah sampai di busway kamu hia naik busway dan pergi ke hotel. Nggak bakal mungkin kan kamu langsung bangkrut hanya karena gagal menggaet laki-laki hidung belang."
Melani menghentakkan kakinya ketika, turun, "Bri jangan bilang Naya belum tahu masa lalu kalian?"
Brian menatap Melani remeh, "sudah! Sayangnya Naya mengerti itu." Brian langsung menancapkan gas.
Melani bersedekap dada menatap mobil Brian yang meliuk-liuk di jalan meninggalkannya sendiri. "Aku yakin Naya belum tahu, Brian aku bukan orang bodoh."
*****
Naya sudah sampai beberapa menit yang lalu dari rumahnya kini ia kembali menghela nafas di kamarnya. Menatap boneka landak dengan tatapan tak tahu harus bereaksi apa. beberapa jam yang lalu suaminya berinisiatif memberikannya pesan. Entah kenapa Naya tidak terlalu bahagia hari ini ia sungguh lelah. Ia hanya ingin kebenaran dibalik semuanya walau itu menyakitkan setidaknya beban pertanyaan itu hilang.
Naya menatap suaminya yang diguyur hujan, membantu mengeringkan rambut. "Lagian bukannya neduh dulu. Kok bisa sih mas kamu kan pake mobil?" Naya ingin sekali menekan handuk ini ke wajah Brian.
"Tadi ada masalah dulu di jalan." Naya menghela nafas.
"Moga saja bukan masalah yang membuat masalah." ketus Naya.
__ADS_1
"apa?" tanya Brian yang mendengar ucapan Naya.
"Tidak. Aku mau buat susu coklat buat kamu. Sekarang mending kamu mandi Mas." Brian menatap Naya dengan tatapan mencari sesuatu dimatanya. Brian memegang pinggang Naya yang hendak pergi ke dapur membuatnya berbalik badan dan menabrak dada bidang suaminya.
"Kenapa sih, Mas."
Brian mendekatkan dirinya pada Naya, "kenapa sih, Mas?"
"Kamu panggil saya, Mas aja. Jangan suka kamu aku, saya tidak suka."
"Kenapa?"
"Tidak hanya tidak suka."
Naya menatap Brian dengan seringai, "Kalau begitu kamu lepasin tangan kamu mandi sana!"
Cup.
Satu kalimat itu langsung dibalas kecupan oleh Brian. Brian malah tidak melepaskan itu. Membiarkan dua benda kenyal itu saling bersentuhan. Naya menahan nafasnya, "lepaskan!" titah Brian.
Satu hembusan nafas dari Naya membuat gairah Brian tiba-tiba memuncak. Ia melanjutkan ke jenjang selanjutnya bermain dengan mesra di ruang tamu itu. Satu lenguhan keluar dari dalam diri Naya membuat Brian benar-benar harus menuntaskan hasratnya. Ia menatap Naya penuh gairah.
"Ah!" Naya terpekik ketika Brian menggendongnya ala bridal style. Naya mengalungkan tangannya membuat bajunya ikut basah karena terkena pakaian Brian.
Brian menatap Naya dalam, ia membawa Naya ke kamar mandi. "Mas, dingin nanti sakit kamunya."
Brian langsung membukam mulut itu dengan mesra. "Naya."
"Kemarin aja mesra sekarang, Naya, Naya, Naya." sindir Naya, namun yang disindir malah tersenyum.
"Kesambet, Mas?" ejek Naya. Brian tersenyum menarik tangannya membawa satu helai baju Naya ke atas hingga membuatnya terpekik.
"Ish Mas dingin."
"Sini. Mari menghangatkan diri." Ucap Brian Regan suara seraknya.
Brian langsung memeluk Naya dengan mesranya kini mereka tanpa sehelai benangpun membuat Naya sedikit menggigil.
"Hacyuh." Naya bersin ketika Brian sedang memeluknya.
"Sebentar lagi, yah," pinta Brian.
"Dingin!"
__ADS_1
Brian tanpa aba-aba langsung memberikan Naya hujaman membuat Naya terpekik melupakan rasa dinginnya itu.
*****