
Para PMI berjalan sambil mendengarkan Pak Yayan yang bercerita ketika ia menjadi perawat di rumah sakit ini sebelum menjadi ketua PMI di jakarta. Ketika semua orang fokus pada cerita Pak Yayan. Naya menatap anak kecil yang berumur 5 tahun yang sedang menunduk di kursi tunggu koridor.
Naya menghampiri Anak itu. "Cantik," anak kecil itu menatap Naya,"ada apa ?" Naya duduk di sampingnya.
"Aku pengen es krim," anak itu memegang kedua tangannya.
"Kenapa tidak beli?"
"Kata ayah tidak boleh, tapi Lala mau,"
"Nggak apa-apa jajan yang lain aja yuk Kaka anter," Ketika Naya hendak mengajak Lala Seorang dokter yang masih mengenakan sneli-nya memegang tangan Naya.
"Mau dibawa kemana?" Ucap dingin Brian
"Di bawa ke Mars, Pak," Naya sedikit terpana melihat ciptaan Tuhan yang gak bisa didustakan. laki-laki itu mengernyit tak suka dengan candaan Naya yang terbilang garing karena tak ada reaksi apapun dari si dokter. Sayangnya pujiannya ia tarik kembali.
"Berikan pada saya," dokter itu hendak mengambil Lala namun Lala menggeleng mengeratkan pelukannya.
"Maaf sepertinya yang patut dicurigai adalah bapak dokter! bisa jadi anda dokter gadungan,"
" Berikan pada saya!"
"Tidak,"
"Berikan!"
"Tidak!"
"Berikan!"
"Ti.."
"Mas, mbak kalau mau berantem jangan di rumah sakit malu sama anaknya, sama orang-orang pada liatin, coba bicarakan suami istri itu memang banyak cobaannya," ucap pengunjung yang lewat.
"Siapa yang suami istri!"
"Dia bukan tipe saya," keduanya berpandangan sengit tiba-tiba telpon Brian berdering. Ia menatap tajam pada telepon itu.
"Saya ingat wajah kamu!" Ujarnya sambil berlalu.
"Sekalian mas! taruh di buku nikah," ujarnya sepertinya didengar oleh dokter itu.
"Yuk, La,"
Keduanya pergi Lala ingin gulali, di belikan kukis oleh Naya karena masih pagi makan manis manis bisa-bisa ia diomeli oleh bapaknya, tanpa sadar seorang laki laki mengambil Lala dari gendongan Naya hingga membuat anak itu tersentak
"Ayah," cici Lala.
"Ayah bilang tidak boleh beli sesuatu,"
"Tidak. Ayah hanya bilang tidak boleh beli es krim,"
"Kalau begitu mengapa bersama orang asing,"
"Tidak ayah, kakaknya baik kok,"
"Tetap saja orang asing,"
Naya jengah sedari tadi mendengar perdebatan ayah dan anak itu,"maaf sebelumnya bapak, saya adalah orang asing, saya yang memberinya kukis, tapi saya adalah manusia yang bermoral mengikuti pedoman negara yaitu pancasila di mohon untuk bapaknya mengikuti pedoman keadilan sosial agar saya mendapat keadilan agar bapak tidak sembarang menghujat seseorang, terimakasih wassalam," ia berjalan pergi kemudian terhenti berbalik, "dadah Lala cantik,"
__ADS_1
"sedeng!" Dokter itu menatap kepergian Naya dengan gelengan kepala.
******
Di ruangan yang disediakan oleh pihak rumah sakit, semua orang sedang mendengarkan penjelasan di seorang dokter yang sedari tadi rautnya tidak berubah walau nadanya bercanda sekalipun.
"Permisi," semua orang menengok ke arah pintu, dokter itu bertambah dingin ketika tau siapa orang yang lancang mengganggu pertemuannya.
"Saya baru tahu ternyata anggota PMI juga ada yang tidak disiplin," Naya menatap dokter itu ia terbelalak tiga kali apes ini mah.
Yah minta maaf dulu lah,"maaf pak dokter, boleh saya duduk ,"
"Silahkan silahkan!" Bukan Brian yang menjawab tetapi rekan kerja yang mewakili.
****
Di kantin rumah sakit mereka berkumpul sambil makan siang Naya kebetulan sudah selesai makan ia hendak sholat, di pelataran mushola seorang dokter sedang bertelepon. Ia tak ingin mengganggu privasi orang lain tapi yah namanya kuping kadang susah untuk dikontrol.
"Ia mah aku bawa pasangan,"
"Ia sekalian nanti aku nikahin,"
Ternyata si dokter dingin sudah ada tambatan hati harus waspada tingkat tiga.
Brian memijat kepalanya yang tak pusing. lagi lagi pertanyaan kapan kawin? tunggu jodoh datanglah, memangnya ia tak berusaha, jawabannya tidak! Untuk apa toh ujung ujungnya meninggalkan seperti yang lalu. Sadar ada orang di dekatnya Brian menatap tajam Naya berlalu pergi.
"Sedeng tuh orang Emaknya ngidam apa sih tuh muka kaya triplek. lempeng,"
*****
Terimakasih yah Pak atas ilmunya semoga kami bisa mengambil pelajaran dan bisa mengamalkan ilmu itu," ucap pak Yayan.
Mereka telah berpisah dan pulang ke daerahnya masing-masing sebelum Naya pulang ia berpamitan ke kamar mandi dahulu, tapi ketika di jalan ia tak sengaja menabrak seseorang, Naya mundur perlahan ia menatap orang yang ia tabrak,"aduh!" Cicitnya apes sudah ia bertemu kembali dengan dokter dingin.
Brian menajamkan matanya,ia menunjuk wajah Naya,"CK!" Brian berbalik tanpa sengaja seorang anak kecil menjatuhkan es krimnya dan mengenai sneli yang ia pakai. Brian mengeram. Menatap tajam anak kecil itu, membuatnya menangis dan berlari.
Brian berbalik. Naya tersentak ketika Brian membuka sneli-nya, seperti adegan slowmo ketika Brian membukanya, Naya meneguk saliva, jiwanya meronta ronta.
Pluk!
Eh kok gelap, Naya menyingkirkan penghalang itu.
"Cuci! Laundry sampai bersih!"
"Apa!" Percuma memuji balok es."maaf yah Pak dokter kan yang salah tuh bocah kenapa saya yang disuruh nyuci ni jas,"
"Snelli!"
"Hah?!"
"Namanya sneli!"
" Ouh jasnya namanya sneli, saya baru liat orang yang ngasih nama ke jas,"
Brian berdecak seperti berbicara dengan bocah umur 5 tahun, mungkin lebih pintar bocah daripada gadis di depannya itu.
"Cuci atau ganti rugi!"
****
__ADS_1
Hari Minggu adalah hari leha-leha untuk Naya namun kini ia harus membersihkan sneli si dokter dingin, kutub, es balok semua sebutan ia sematkan untuk Brian.
"Nyuci-nyuci sendiri, masak-masak sendiri apapun sendiri . Rebes!" Naya menggantung snelli itu di jemuran.
Bagas yang tengah asik bermain gitar melirik tetehnya, merasa ada yang tidak beres. Ia menyeringai.
"Teh!"
"Emm," Naya masih sibuk sendiri.
"Teh! Jas siapa tuh! Cakep bingits!" Naya menatap tajam Bagas yang duduk di teras rumah.
"Alay! Jangan macem macem ini punya temen teteh,"
Bagas menyeringai,"EMAAA SI TETEH PUNYA PACAR!"
"Bagas!"
Semua anggota keluarga terutama Ema datang dengan gagang sapunya, ayah datang dengan sarung yang ia pegang, lalu duduk di samping Bagas, kakaknya tidak ikut karena harus pergi bekerja.
Glek! Alamak bencana ini!.
*****
Suasana di ruang tengah sangat canggung kecuali si Bagas yang terus mengunyah kue yang di buat Emaknya,"gimana? Teteh mau ngomong tidak?"
"Apa atuh Ema, itu teh punya temen teteh, bukan siapa- siapa?"
"Ayah lihat anaknya nggak mau jujur sama Ema! Kamu teh kalo punya pacar dibawa ke rumah, di kenalkan, nggak papa Ema mah biar dia tau gimana keluarganya teteh, jangan kaya si Minah mau pacaran jemputnya di perempatan. Nggak mau Ema mah, kamu malu teh punya keluarga kaya gini ? Kamu malu teh punya rumah jelek gini?" Ema berbicara dalam satu tarikan nafas.
"Kanjeng ratu yang harus di agungkan tiga kali sebelum ayah, teteh mah beneran nggak pacaran itu teh ada kejadian, Ema," Naya duduk di samping Emaknya.
"Bohong itu Ma, si teteh diem-diem pasti ada apa-apa!" Bawel Bagas.
Naya mengambil ancang ancang menggeplak Bagas. "aduh Kdrt, Teh!"
"Sudah sudah! Ayah lapar," ucap ayah melerai.
"Ini si bapak lagi, perut dah buncit juga masih mikirin makan aja," ucap Ema.
"Deh Ma makan itu kewajiban nggak makan mati atuh," bela ayah.
"Udah ah. Dengerin teh Ema mah nggak masalah kamu mau sama siapa aja asal jangan sama si Jamal Ema sama ayah bisa usaha. Nanti kamu balikin itu jas ngarana saha snelinya. sama dia nanti kamu bilang Emak Ingin dia datang gitu!"
"Ema!" Tolak Naya
"Apa nggak mau makan kamu!" Ancam Ema.
*************😊ðŸ«
Nayaaaa alamak kamu gimana di suruh bawa dr Briannn.
Brian kamu mau tidak.
Brian terlalu dingin tidak sih?
autor ingin tanya inikan pertama kali autor buat novel jika ada salah PUEB tolong di koreksi yah, sama tinggalkan jejak
salam sayang
__ADS_1
SEE😊