
Kamar nuansa pengantin baru sangat terasa. Apalagi ornamen-ornamen yang memanjakan mata, siapa yang tidak terpikat oleh kemanjaan itu. Dimanja, disayang, juga diberikan yang dimau. Tentu Melani sangat ingin sekali apalagi ia sering membayangkan dirinya yang saat ini bersama Brian. Kontrak kerjanya yang ini mengharuskannya menjadi seorang simpanan seorang bos dari sebuah agensi modeling. Weru Panama.
Siapa yang mau seperti ini? Ia pun tidak mau hanya saja tuntutan pekerjaan. Juga dirinya yang telah terjerumus kedalam lubang menyesatkan. Jika ditanya apakah ia ingin memanjat lubang itu untuk menghirup udara bersih diatasnya. Tentu sangat ingin. Tapi ia mau yang menolongnya adalah Brian.
Pintu dibuka dengan sangat tidak sabar oleh si pria dengan cengkraman yang tidak mengendur juga ciuman yang lama-kelamaan menjadi ganas. Melani terus melenguh oleh tangan gatal sugar Daddy-nya ini. Ia tahu perjalanannya ini takkan mudah. Apalagi suatu hari pasti akan tercium bangkainya.
Sang pria menurunkan kepalanya menyusup ke leher Melani membuat Melani merasa tengah dihisap kuat oleh sang vampir.
Baju Melani yang **** sudah terbuka bagian atasnya membuat gairah memuncak. Melani didudukkan di pinggir kasur untuk melayani Weru. Membelai bak ******, melayani bak pelayan menuntaskan hasrat bersama-sama tanpa adanya ikatan.
Kini mereka saling bertatapan memburu si pria terus memancing gairah Melani. Melani yang sudah berpengalaman menatap Weru dengan tatapan menggoda juga bibirnya digigit menimbulkan efek nakal. Weru tersenyum memukul bokong Melani.
Weru tak tahan dia langsung membuat Melani berbalik. Hari ini ia ingin Melani memimpin. Dengan senang hati Melani melakukan itu.
******
Naya kini tengah diinterogasi oleh kedua sepupu Brian. Katanya hanya ingin mengobrol untuk mendalami kasus sepupu mereka.
Naya sebenarnya bisa saja kooperatif dengan mereka hanya saja Naya bingung mereka hendak mengintrogasinya malah meminta ia untuk membuatkan menu cemilan sebelum makan siang. Yah. Akhirnya Naya menyiapkan beberapa makanan juga nanti di bawa ke rumah sakit.
Kini Naya membuat pisang coklat atau piscok. Naya dulu suka sekali dengan jajanan ini setiap dimana ada pisang coklat ia pasti membelinya. Apalagi dahulu harganya masih murah dua ribu saja sudah dapat banyak.
Naya memasukkan coklat bubuk kedalam mangkuk karena coklatnya sudah manis jadi tidak tambahkan apa-apa lagi tinggal menyiapkan kulit lumpia juga memasukkan pisang ke dalamnya. Terus digoreng.
__ADS_1
Naya menaruh piscok di piring menaburkan keju juga susu coklat dan meses.
Masing masing-masing mendapatkan jatah satu piring tiga pisang. Naya menyimpan sisanya untuk para pelayan juga menaruh di wadah bekal.
Cesi duduk dengan gembira dulu bibi yang merawatnya pernah mengajak ke pasar tradisional. Walau memang tidak serapi pasar di mall tapi ia suka melihat bibi pengasuhnya menawar dan membeli ia juga bisa menyentuh tanpa dibungkus oleh plastik. Setelah itu dibawa ke tempat surga makanan. Ia suka sekali dengan piscok ini. Sampai tidak lupa dengan rasanya. Cesi sendiri langsung dengan tanpa ragu memakan pisang coklat itu.
Sedangkan Sina sendiri masih bingung dengan makanan ini. Ia melihat Cesi memakannya dengan ceria sebenarnya tidak ragu, tapi karena sudah terbiasa dengan makanan western. Sina memasukan potongan piscok ke dalam mulutnya. Enak. Satu kata untuk piscok sayangnya ini terlalu manis untuknya yang bergaya hidup sehat.
"Aku mau yang less sugar," ucap Sina.
Naya mengangguk. "Kalau begitu tidak perlu ditambah susu coklat lagi cukup pisang coklatnya saja dan ditambah keju." Sina mengangguk. Piringnya di ganti dengan pisang yang baru.
Cesi asik sendiri dengan makanannya. Melihat Naya akan membawa piring Sina, Cesi buru-buru berkata, "jangan! Sini-sini! Mubazir jika di buang."
Cesi tak terima, "hei! Kamu tahu banyak diluar sana yang tak bisa makan. Malahan mereka harus banting tulang agar bisa mendapatkan sesuap nasi. Jadi, daripada mubazir lebih baik aku tampung."
"Yah, Cesi si penampungan!"
"Hei!"
"Sudah. Biarkan dia Sina, pisangnya juga masih banyak. Jarang-jarang bukan Cesi selahap itu. Biarkan bisa-bisa pulang dari sini ia menjadi gajah berjalan." Ucap Naya terkikik.
"Yah. Cesi si gajah penampung."
__ADS_1
******
Di gazebo atas dekat kolam renang dengan nuansa pantai yang epik, mereka berhadapan. Naya sendiri santai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh keduanya. Memang sebenarnya pekerjaan keduanya apa sih? Untuk apa repot-repot mencari informasi terkait kecelakaan Effendy.
"Ada beberapa hal yang diharus dilakukan. Sedangkan Mas Brian sendiri adalah seorang dokter yang tidak bisa langsung mengawasi orang yang kami curigai." Ucap Cesi.
"Lantas. Apa kalian tidak curiga sama sekali? Tidak waspada sama sekali pada Tante?"
"Untuk apa waspada? Tante sendiri adalah saksi, juga bisa menjadi tersangka jika menyebarkan semua yang kami beritahu. Karena penjahat tidak akan segan mengorbankan anaknya. apalagi Tante yang hanya kerikil Dimata dia." Jelas Sina.
"Memang seharusnya dimana tempat yang harus diawasi?" tanya Naya.
Cesi dan Sina saling pandang. Seharusnya orang itu akan muncul ketika ulang tahun Lala nanti, tapi sayangnya jika didikte penjahat menjorok pada orang itu, mereka tidak mempunyai bukti akurat, sepertinya memang ada seseorang yang lebih berkuasa yang menjamin semuanya beres. Apalagi beberapa bulan lagi adalah penilaian keluarga jika tidak kompeten juga akan dipindahkan jika mendapat masalah serius akan di putus dari keluarga dan itu masih berlaku hingga kini.
Selagi Prakoso Almaco masih hidup tidak ada yang bisa menentang dan mengajukan penolakan.
Setelah mengobrol begitu lama Cesi dan Naya sudah harus menjauhi bisnis mereka yang akan di luncurkan di jakarta dan beberapa daerah lainnya. Memang, privilege adalah penentu berapa persen kita memulai, tapi Cesi sendiri berkata jika Aldiano ketika ingin menjadi dokter sedikit ditentang oleh ayahnya karena ayahnya berpikir siapa yang akan melanjutkan usaha ini, tangan-tangan mereka yang tidak dididik oleh ayahnya belum tentu tidak berbelok.
Akhirnya ia berusaha menentang dengan cara menunjukkan jika ia bisa menjadi seorang dokter tanpa uang sepeserpun dari ayahnya.
Ketika seminar ditanya mengapa tidak menurut saja. Aldiano sendiri berkata, kita sama-sama makan nasi, sama-sama berasal dari bumi, makan hasil bumi, dan akan kembali ke bumi. Bukan siapa yang punya banyak dukungan, tapi siapa yang mau bertahan ketika semua badai silih berganti datang.
Naya didalam mobil merenung memang suaminya ini sedikit menghangat, akhir-akhir ini juga tidak bisa menahan gairah. Hanya saja Naya sendiri masih ragu akan hati suaminya. Firasat seorang perempuan biasanya jeli dan teliti. Raganya di hadapan Naya, Naya memilikinya, tapi sepertinya hatinya masih dimiliki masa lalu.
__ADS_1
Naya sendiri tidak tahu apakah suaminya hari ini akan lebih lama di rumah sakit atau akan pulang. Jadi ia tidak jadi menyuruh pak Toto untuk menunggunya.