DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
penuh tangisan


__ADS_3

Pagi ini Brian memulai jaganya hingga tiga hari kedepan. Menatap Naya yang sedang sarapan dengan pandangan lesu. Naya yang merasa diperhatikan melirik suaminya ini. 


"Mau jaga kok lemes. Kayaknya masih rindu sama foto-foto masalalu." Naya sendiri ingin melihat bagaimana reaksi Brian. 


Brian menarik nafas panjang, menatap Naya, "Ra, kamu bisa bujuk Mama." Benar dugaan Naya Brian masih saja egois. Masih saja bersedih dengan foto-foto itu. Naya menggeleng ia tidak ingin dijadikan kambing hitam oleh Brian agar mendapatkan foto itu. 


"Masa Lalu kamu memang milik kamu tapi masa depan aku milik aku." Naya berdiri ia tidak selera melanjutkan makan ketika Brian sendiri malah memohon padanya untuk foto itu. 


"Aku akan bantu kamu untuk melunasi hutang Ayahmu," ucapan Brian membuat Naya menatapnya miris, miris pada diri sendiri. Baru semalam Brian memberikan sebutan cinta sekarang ia ingin memulai pertengkaran kembali. 


"Aku nggak habis pikir sama kamu, Mas. Se nggak mampu itu aku bayar hutang." Naya menatap datar Brian, ia lelah akan semua ini memang sepertinya ia harus pulang kerumahnya. "Sudah jam segini. Daripada kita ribut terus mending kamu cepet berangkat. " ucap final Naya. Mereka kini berhadapan di halaman rumah. Naya bisa melihat bagaimana Brian yang didambakan orang lain, bagaimana Brian sesempurna itu di mata orang lain. Memang tubuhnya, otaknya, juga fisiknya yang paripurna. Sayangnya semua yang ada di bumi pasti memiliki kekurangan. Perasaan Brian susah sekali mengontrol itu. 


"Aku akan pulang setiap Subuh." ucap Brian, ia ingin memberikan kepastian. 


"Kamu nggak pulang juga nggak papa. Tuh kamu pulang sama nggak pulang sama-sama istirahat ujung-ujungnya." 


Brian mengernyit, "kamu melarang saya pulang?" 


Naya tersenyum datar, "capek Mas kamu jaga dua sip pulang buat apa? Kalau bukan buat istirahat." 


Brian mengangguk, "kalau begitu kamu saja yang ke rumah sakit bawakan aku makan dan perlengkapan." 


"Karena kamu menginap dirumah sakit, aku minta Izin mau pulang kerumah." 


Brian berpikir sejenak. Sepertinya Naya sedikit jenuh di rumah ini, "iya. Diantar pak Toto." 


Naya mengiyakan, Menarik tangan Brian untuk menyalami. "Hati-hati." 


Naya menatap mobil putih mengkilap itu, dengan perasaan yang gundah. Ia benar-benar ingin pergi kerumah ibunya, ia yang terbiasa akan sandaran seorang ibu sekarang harus menjadi istri dan harus tahu mana yang harus diolah untuk di ceritakan dan disimpan di pundaknya. 

__ADS_1


Naya sendiri belum merasakan yang namanya bahu-membahu dalam rumah tangga, belum merasakan yang namanya berjuang bersama. Memang rumah tangganya baru seumur jagung yang sangat rawan akan goncangan. Tapi ia ingin ia dan Brian berpegang tangan untuk menghalau goncangan itu sayangnya sebelum berpegangan tangan ia harus membuat Brian mengalihkan pandangan agar tertuju padanya. 


 


*****


Kini hari kedua Naya di tidur tanpa satu rumah dengan suaminya, memang tak terlalu signifikan ia merasakan kehilangan. Apalagi ia dan suaminya juga tidak tidur sekamar membuatnya tidak terlalu terpikirkan. Apalagi ia kini sedang menginap dirumah Mak Delima, ia puas-puaskan hasratnya selama tiga hari menginap di rumah ibunya.  


Naya menatap boneka landak yang diberikan suaminya ini, banyak sekali pikiran yang berspekulasi di benaknya. Tapi mau bagaimana lagi ia bukanlah detektif yang bisa mengusut tuntas sebuah kriminal. Ia hanya bisa menunggu dan berharap semua masalah selesai. 


*****


Ayam berkokok di halaman rumah tetangga membuat Naya terbangun dari tidurnya. Semalam ia bermimpi seram jika ia bertemu dengan seekor kucing warnanya hitam menatapnya dengan sangat intens kemudian seekor kucing kecil berwarna putih, sangat cantik sekali tersenyum dan berjalan pergi bersama kucing hitam itu. Sayangnya Naya hanya bisa menangis tanpa bisa bertindak, Berteriak pun ia tak bisa. 


Nafas Naya tersengal, ia buru-buru mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud. Ia tak ingin berspekulasi apapun, hanya ingin berserah diri pada sang pencipta. Jika itu pertanda baik ia mohon berikan petunjuk, tapi jika bukan ia mohon dihapuskan. 


"Allahuakbar," kedua tangannya bertakbir menyebut sang Khaliq. Naya dalam keadaan sadar berdiri menyerahkan semuanya, ia hanya ingin mendapatkan ketenangan batin dan fisik agar apapun kelak yang terjadi padanya ia bisa menjalani dan menerimanya dengan tabah. 


"Ya Allah hatiku bukanlah hati baja yang bisa menahan apapun hingga berapa lama pun. Hatiku bukanlah hati karet yang bisa elastis hingga bisa sabar dan menerima segalanya. Hatiku hanyalah seonggok daging yang jika sedikit saja diberi luka maka tiada bisa menghilang. 


Kini aku bersandar padamu, karena aku sendiri tak kuat jika suamiku memang tidak mencintaiku maka bukalah hatinya, karena hanya engkau yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Tapi jika bukan jodohku, maka berilah aku ganti yang lebih baik dari itu. 


Aku lelah, tuhan." Naya terisak, semua air matanya meluncur deras detik itu juga. Ia tidak bisa membendung rasa di dadanya. Itu sangat menyesakkan baginya. 


"Aku lelah! Ya Allah aku lelah, rubahlah suamiku agar ia mencintaiku. Ubahlah ia menjadi seorang yang taat padamu, agar setidaknya aku bisa tersenyum walau dia tidak mencintaiku." 


Hanya Tuhan yang menciptakan kita yang tahu isi hati setiap manusia, Naya hanya lelah, ia takut jika nanti ia bercerita pada ibunya. Ibunya akan menyesali telah menyetujui ia menikah dengan Brian. 


Naya bersujud kembali. 

__ADS_1


*****


Brian melirik sekilas pada Aldi yang kini sedang dibantunya memegang sebuah pisau bedah yang akan digunakan untuk melakukan Caesar pada pasiennya ini. Malam yang masih dipenuhi bintang-bintang tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang sudah sembilan bulan mengalami kecelakaan bersama suaminya. Hingga ia yang seharusnya belum melahirkan kini harus mengeluarkan bayinya yang mengalami benturan mengakibatkan terjadinya abrupsio plasenta yaitu kondisi ketika terjadinya pemisahan antara plasenta dari lapisan uterus. 


Setelah memasang infus. Brian memegang perut sang ibu, tentu si ibu mengizinkan itu, karena jika ia tidak menerima itu, apa yang biasa ia lakukan ketika nyawanya sendiri sudah diujung tanduk. 


Sang ibu sudah kelelahan karena mengeluarkan banyak sekali darah. Ia sudah merasa pusing yang membuat kepalanya berkunang-kunang, tapi sang ibu terus memaksakan diri untuk terus sadar dan berjuang agar bayi yang ada di dalam perutnya selamat. Itulah ucapan seorang ibu ketika ia merasa diujung tanduk mendekati lubang hitam. 


Brian menatap Aldi perut si ibu sedikit mengeras. Ia menatap si ibu dan pergi menjelaskan semuanya pada pihak keluarga.


Aldi menatap sang suami dengan iba. Ia bukan tuhan yang bisa mengatur siapa saja yang hidup, siapa saja mati. Tapi ia hanya bisa berusaha dan berdoa. Aldi menjelaskan perut sang ibu agak sedikit keras, jika empat menit saja tidak diselamatkan maka keduanya tidak akan bisa selamat, tapi ia juga belum tentu bisa menyelamatkan sang jabang bayi karena proses terjadinya kecelakaan cukup lama sampai ke rumah sakit. 


Aldi menarik nafasnya, menyuruh sang ayah menandatangani berkas persetujuan, "maaf, Allah lebih sayang pada anak itu."


Suara Aldi yang menggelegar di telinganya membuat sang ayah menangis tak kuasa. Ia hanya bisa berharap keduanya selamat tapi jika memang salah satunya tak bisa  ia hanya bisa menyelamatkan sang ibu. 


"Biarkan ibunya selamat." 


Aldi menatap Brian memberikan aba-aba pada semua orang yang berada di dalam ruangan operasi itu. Di Pintu ruangan operasi berganti merah menandakan sedang terjadinya operasi. 


Aldi memberikan anestesi pada sang ibu agar tidak merasakan sakit ketika melakukan operasi, sayangnya ketika pembukaan rahim sang ibu pingsan. 


Para suster berjibaku memberikan transfusi darah pada sang ibu beberapa suster juga membentuk menyerap darah yang keluar. Brian memegang bayi yang sudah tak bergerak juga sedikit membeku. Brian membersihkan rahim dan mengeluarkan ari-ari di dalamnya. Dan ditutup menjahit rahim sang ibu. 


entah kenapa operasi kali ini membuatnya merasakan kegundahan hati.


****


Kamu tahu rasanya lega ketika kita bisa bercerita dan menangis dalam waktu yang sama tanpa ditertawakan dan tanpa dianggap sebelah mata. Tanpa dikasihani. Dan itu hanya aku dapatkan dalam sujudku padamu ya, Rabbi. 

__ADS_1


Naya Revina Mahesa


__ADS_2