DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
let's begin!


__ADS_3

Bagas berjalan dengan dada terbusung, menatap semua karyawan bagai penggemarnya, ia sesekali mengangkat wajahnya jika ia adalah sang pemenang. Denis yang berada di sampingnya menatap datar dengan sikap Bagas jika bukan karena Almaco ingin membukakan gerbang untuk Bagas ia sangat tidak ingin berurusan dengan kakak pertamanya ini. 


Mereka masuk ke dalam lift. Bagas berdehem, sebenarnya ia meminta untuk dilayani. Denis menatap datar, asistennya langsung menekan tombol lantai tiga belas. 


Sepanjang menit hanya keheningan mendera. hanya sesekali asisten Denis membisikkan sesuatu tentang pekerjaannya. 


Ting. 


Ketika lift terbuka ada setidaknya beberapa orang yang melihat mereka menundukkan badan, menyapa. 


Ketika belokkan terakhir asisten Denis membuka pintu rapat. Terlihat wajah-wajah menunggu dari jajaran direksi, salah satu perwakilan pemegang saham juga pejabat Prakoso internasional. Mereka berdiri sejajar, ketika Denis memerintahkan duduk, mereka langsung menurut. 


Kini mereka semua menatap Denis penuh tanda tanya sebab Denis belum pernah memperkenalkan orang. Jika ia datang dengan seorang laki-laki ini dan mengumpulkan beberapa orang penting berarti akan ada sesuatu yang besar terjadi. 


Denis membukanya dengan salam dan menenangkan audiens, dirinya sebenarnya sedikit berat untuk memberikan jabatan kosong ini sayangnya ini memang harus ia lakukan, "ini adalah Mr Bagas Prakoso anak pertama Mr Prakoso Almaco akan diberikan jabatan sebagai General Manager, sesuai dengan berkas yang ditandatangani Mr Prakoso Almaco." Ketika Denis selesai berbicara riuh satu ruangan memberikan reaksi berbeda-beda. 


Bagas mengernyit, ia jadi GM seharusnya ia menjadi CEO dari perusahaan ini. 


"Bagaimana dengan berkas itu?" ucap salah satu pejabat. 


"Semuanya sudah ditandatangani, anda bisa baca berkasnya." Jelas asisten Denis. 


"Bagaimana kamu yakin dengan kemampuan anak pertama Mr Prakoso sedangkan yang memegang jabatan tertinggi adalah anak bungsu, kita semua tahu itu." ucap salah satu pemegang saham. 


Semua orang dalam ruangan setuju dengan pendapat itu membuat Bagas berwajah merah, "jangan pernah remehkan orang yang kamu sendiri tidak pernah tahu bagaimana kerjanya." seru Bagas menatap tajam pemegang saham itu. 


"Kalau begitu apa yang membuat kami percaya bahwa kau pantas? Sedangkan kau sendiri tak bisa berkata santun pada orang tua ini dengan menyebut kata non formal," ucap pemegang saham itu. Ia lebih respect pada Denis yang bisa mengerti situasi dimana ia bisa menempatkan dirinya. Sayangnya ini memang benar-benar berkas yang ditandatangani oleh Prakoso Almaco yang tidak bisa ditiru. Ia tidak pernah tahu yang dipikirkan Almaco, tapi ia percaya apa yang dilakukan Almaco jika itu berbahaya artinya seperti menyembunyikan berkas di bawah mata. 

__ADS_1


"Saya hanya berkata yang menurut saya benar, sesuai dengan ayah saya katakan karena sekarang saya adalah General Manager maka semua peraturan juga di bawah pengawasan saya," ucap Bagas menatap semua orang di ruangan itu. Ia harus membuat para orang tidak berguna ini bungkam mereka terlalu lama di bawah asuhan Denis. 


"Kalau begitu tidak perlu berbasa-basi lagi. Semua orang masih punya kepentingan bukan. Kami akan melihat bagaimana pekerjaan Mr Bagas Prakoso, semoga anda bisa sesuai dengan ekspektasi kami." jelas pemegang saham tua. Ia sudah lama berkecimpung di perusahaan ini sedari Almaco masih menjabat. Sedari tadi ia diam sepertinya ia paham Almaco hanya ingin menaruh orang yang menurutnya cukup ia waspadai di genggaman tangannya. Untuk apa mengotori tangan jika bisa meminjam tangan orang lain. 


"Baik, jika itu melebihi ekspektasi anda maka apa yang akan saya dapatkan?" tantang Bagas. Kembali riuh ucapan Bagas bagai petir berani menyambar ketika hujan. 


"yang anda dapatkan bukankah kau terlalu serakah?" ucapa salah satu pejabat.


Bagas menggeleng, "tidak. saya hanya merasa ini adalah ajang untuk memberikan hadiah jika saya bisa mengatasinya."


Pemegang saham tua itu bersemirik, "kalau begitu sesuai perkataan Mr Bagas sepuluh persen saham akan menjadi milikmu Mr Bagas Prakoso." 


Bagas menatap ucapan itu dengan binar, ia akan menjadi orang yang berpengaruh di perusahaan ini tak perlu lagi menjadi CEO karena tinggal sedikit lagi semuanya akan berada dalam genggamannya,"tentu! anda bisa pegang ucapan saya." 


Ketika hendak ditutup seorang pejabat tua menatap Bagas dan berkata padanya, "bagaimana jika itu tidak sesuai ekspektasi? Bukankah kamu yang akan rugi?" 


Bagas menatap kesal pada pejabat tua itu. Sudah bau tanah masih saja suka berdebat, "maka akan saya tanya juga apa yang akan anda berikan?" tantang Bagas. 


Bagas tergiur dengan semua itu tapi ia harus tetap waspada, "lima persen? Hanya itu?" 


"Anda benar benar serakah tuan. Lima persen bisa menjadikan anda orang terkaya di satu kota kecil." Ucap pejabat lainya. 


"Saya mengajukan hak asasi tidak ada yang salah bukan?" Bagas menatap jengkel ia sudah sangat ingin keluar terlalu alot perdebatan ini seperti kulit para orang tua ini. "bisa kita deal kan?" 


"Baik tak perlu lama-lama kita tunggu kerja bagus anda." Ucap final pemegang saham tua. Mereka semua mengangguk mengerti. 


Denis hanya melihat saja ia tak ingin dan tak ada niatan membantu saudaranya ini. cukup ia memantau Bagas tidak perlu membantunya. "Kalau begitu terimakasih atas waktunya." Ucap Denis menutup rapat di ruangan ini. 

__ADS_1


****


Denis membawa Bagas di ruangannya. Bagas menatap sekeliling memang ia akui ruangan ini sangat bersih dan elegan, tapi tetap saja masih lebih besar ruangan Denis, ia sebagai kakak harusnya mendapat bagian lebih besar.


"Apa-apaan! Harusnya sebagai adik memberikan bagian lebih banyak pada kakaknya." Cerca Bagas. 


Denis hanya bisa menghela nafas ruangan ini juga sudah besar untuk ukuran GM. "Kakak, protes lah pada Ayah."


"Pada ayah? Denis jangan main-main semuanya kau yang mengatur."


"Juga bukankah sebagai kakak harus mengalah pada adiknya?"


"Kak. Jangan terlalu serakah, semua punya porsinya masing-masing Jika kau terlalu serakah takutnya tuhan tidak lagi berbelas kasih." 


Bagas berdecak, "jangan berceramah. Sana ke masjid!" 


Denis mengangguk, "kalau begitu aku pergi," 


Bagas memencak, "hei! Bagaimana dengan ruangannya?" 


"Kalau begitu jangan banyak meminta, mintalah pada yang kuasa." Denis menatap kakaknya dengan malas. 


"Aku ingin yang lebih luas dari ruanganmu!" 


"Kalau begitu mintalah pada Ayah! Kau terlalu serakah!" cerca Denis setelah berkata ia langsung keluar mencari tempat sembahyang sesuai dengan perkataan kakaknya ia memang butuh menenangkan diri dari huru hara perebutan tahta ini. 


Setelah Denis ke luar Bagas duduk di kursi yang kini ia jabati. Sebagai general manager ia tak akan pernah terima penghinaan ini sekarang ia masih di bawah kaki Denis, tapi ketika rencananya selesai maka semuanya akan di bawah telapak kakinya tidak akan ada yang bisa meremehkannya. 

__ADS_1


Bagas menekan gawainya, "sudah diurus! Tinggal kirimkan tendernya!" Bagas tersenyum senang rencananya benar benar mulus sekali seperti jalan tol tinggal mendapatkan saham yang dimiliki Effendy dan tanda tangan Almaco semuanya beres. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2