
Tanpa ancang-ancang Brian berlari menerobos beberapa penjaga. Membuat penjaga yang tadi mengunyah rumput berdecak, membuang rumpunya dan langsung mengejar Brian.
Akhirnya Brian harus kejar-kejaran dan di ruangan tengah ia bisa melihat semuanya berkumpul untuk membuat Brian babak belur, ruangan itu sungguh banyak debu dan sudah tak layak pakai.
Perkelahian tak terelakkan apalagi lawannya tak imbang Brian terus menangkis mengulur waktu, sesekali ia membalas serangannya.
"Habisi!" Titah pria botak.
Brian mengelak dan memukul tengku si tato hewan sayangnya mati satu datang serempak tak ada habisnya.
Bugh.
Brian tertonjok di pipinya darah segar keluar dari ujung bibirnya.
Kali ini Brian membalas dengan membabi buta,"siapa yang menyuruh kalian!"
"Bocah ingusan Tak perlu tau!"
"Seorang wanita?" Dalam perkelahian itu semua preman-preman langsung bermuka masam. Mereka saling pandang langsung mengeroyok Brian.
Satu tinjuan mendarat di perut Brian, mereka terkekeh, Brian tersenyum mengejek, membuat darah mereka bergejolak,"hiaaat!"
Dor.
Satu tembakkan dilayangkan, Bumi datang dengan pasukannya meringkus mereka satu persatu.
Bumi menggeleng,"ck,ck sedikit saja menunggu, Bri,"
Brian berdiri menyangga badannya di tembok, maju berjalan ditemani Bumi di belakangnya.
Mereka menyusuri koridor rumah itu, lumayan banyak kamar yang tak terpakai, ia membuka satu kamar yang di kunci. Bima menyuruh anak buahnya untuk mendobrak kamar itu. Terlihat Naya yang sudah lelah duduk di kursi dan diikat berjam-jam.
Naya membuka matanya ia tersenyum ketika Brian datang menjemputnya, namun senyumnya luntur ketika melihat Brian yang terluka karenanya.
Ia menyentuh bibir suaminya yang masih tersisa darah di sana.
"Terimakasih,"
******
Brian berjalan di depan memasuki rumah tanpa peduli Naya yang kelelahan, Bi Inah datang mengkhawatirkan majikannya.
"Astaghfirullah, tuan, nya," BI Inah memapah Naya memasuki ruang tamu.
"Nggak apa-apa Bi, tolong ambilin p3k yah, Bi," titah Naya.
BI Inah mengangguk langsung pergi mengambil p3k. Naya menahan langkah suaminya, Brian menghela nafas ia mencoba melepaskan cekalan Naya, Namun Naya langsung menuntunnya ke sofa.
"Sebentar," p3k sudah tersedia di meja Naya menyuruh Bi Inah untuk istirahat ia tahu wanita tua itu sangatlah perhatian pada suaminya tapi kini giliran Naya yang memberikan kasih sayang untuk Brian.
Naya membersihkan luka-luka itu dengan antiseptik sesekali Brian meringis,"sudah!"
Naya menghela nafas,"mas, kamu tahukan gimana kalau luka ini di biarin? Yang ada infeksi,"
Brian mencekal pergelangan tangan Naya,"itu urusan saya !"
Naya menatap manik suaminya,"aku istrimu, mas! Urusanmu juga urusanku. Udah ah diem dulu kamu mah serius banget emang nggak pernah gitu ngakak sekali aja sampe pipi kamu sakit,"
Brian hanya membiarkan Naya mengobatinya, tak terasa ia tertidur di sofa dengan Naya di sampingnya, jam sudah menunjukkan pukul 3 lewat, Brian berdecak ia hendak membangunkan Naya tapi ketika ia ingat jika Naya telah mengalami musibah setelah itu mengobatinya tanpa memperdulikan diri sendiri yang kelelahan. Brian mengangkat Naya menuju kamar yang ditempati Naya.
__ADS_1
Sudah lama Brian tidak masuk ke kamar itu, kamar yang biasa ditempati Melisa jika ia menginap di rumah ini. Tak mau berlarut larut Brian membaringkan Naya, dan langsung keluar dari kamar itu.
******
Naya menggeliat, membuka matanya yang masih ingin terpejam badannya remuk semua ketika semalaman harus duduk di kursi. Ia turun menuju dapur. Membantu beberapa maid menyiapkan makanan.
"Bi Inah, boleh nanya nggak?"
"Boleh, nyonya. Mau tanya apa?" Tanya BI Inah sambil menumis masakan.
"Kesukaannya mas Brian itu apa sih,bi?"
BI Inah mengingat-ingat,"kayaknya tuan mah nggak ada pantangan, cuma tuan nggak suka sama makanan yang terlalu berminyak, pedes sama berbahan dasar telur, Nya,"
Naya mengangguk menaruh piring terakhir di meja, tapi sedari tadi suaminya tidak turun biasanya ia sudah siap sedari pagi.
Naya memberanikan diri membuka pintu karena sedari tadi ia ketuk tidaka ada yang menyahut.
Ceklek.
Tangan Naya yang terambang, ia turunkan suaminya sudah rapi siap bekerja, namun terlihat sedikit pucat.
Naya tersenyum manis,"mas, are you ok?" Brian menaikkan satu alisnya.
"kamu pucat ,"
"saya baik,"
Mereka turun beriringan namun ketika Naya hendak berbelok suaminya melaju keluar rumah.
"Mas nggak mau sarapan?"
Brian menatap Naya yang kini berada di sampingnya. Naya mengulurkan tangan,"Salim, mas,"
Naya mengambil tangan Brian menciumnya dengan khidmat, Brian mematung. "sudah? Saya buru-buru,"
Naya menahan Brian,"apalagi?"
Naya memeluk Brian, "semangat! Makasih buat semalam,"
"Ekhm, saya buru-buru," Brian memasuki mobil di supiri pak Toto, Naya terus memandang mobil yang sudah menghilang itu.
"Gengsi digedein, salting kan tuh!" Kekeh Naya.
*****
Di apartemen seorang perempuan mengacak-acak kamarnya karena penculikan itu tak berhasil apalagi Brian malah mempertaruhkan nyawanya untuk istri yang tak dicintainya itu. Apakah anak buahnya salah memberikan informasi?
Ia menatap foto masa kecil mereka,"Brian tidak segampang itu kamu bisa pergi dariku, karena kamu hanya milikku, hanya milikku!" Ucap wanita itu tersenyum miring.
Ia mengambil gawainya menelpon seseorang.
"Halo, Zoe!"
"...."
"Kacaukan! dan sepuluh persen akan menjadi milikmu,"
"..."
__ADS_1
Wanita itu tersenyum menyandarkan dirinya ke sofa menatap foto satu anak laki-laki dan satu anak perempuan yang berpelukan.
*****
"Teteh, kamu teh kemana aja? Mama dari semalem nggak bisa tidur," oceh Ema delima di gawainya. Terpampang dua laki-laki yang mengangguk di kanan kirinya.
"Maaf, Ma semalem kecapean, langsung tidur," Naya tersenyum merasa bersalah.
"Yaudah, atuh Ema nggak enak semalem, udah mah kamu nggak ngangkat telpon, hati Ema mikirin terus," dua laki-laki itu terus mengangguk.
Ema menatap keduanya,"Kelin ngapain sih kata kuda aja ngangguk nganggu,"
Bagas nyengir,"teh tau nggak sih Ema tuh dari semalem ngereog mulu gara gara Teteh nggak ngangkat telpon Emak, yah imbasnya sama kita yang nggak bisa tidur,"
Ema langsung menggeplak anaknya,"itu mah kamu wae yang memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan buat main game emang Ema nggak nyaho. Heh Ema di lawan kamu mah," Bagas tersenyum mesen sambil mengusap usap bekas pukulan emanya sedangkan Ayah hanya mengagungkan kepalanya.
"Trus, si kakak belum pulang?"
Ema menghela nafas,"kayak nggak tahu Kakak kamu aja, yah. kalo udah kumpul sama temennya gimana, apalagi dia lagi ngerjain skripsinya belum lagi nanti siangnya harus kerja. Yaudah alamat nggak di rumah," ayah pergi dari video call itu menuju dapur.
"Noh Teh, yah. Kok kita mah nggak di bolehin sama Ema padahal kan kita juga anaknya yah," ucap Bagas tak terima.
Emak delima menjewer telinga anaknya,"pugus Teteh kamu teh, awewe. Risih kalo pergi pergi bawaannya khawatir aja. Atuh kalo kamu mah risih takutnya ngapa-ngapain anak orang, nanti aja kalau sudah besar," ayah datang dengan membawa kue yang berada di toples.
Bagas mengusap telinganya, berpindah tempat di samping ayahnya mencomot kue di dalam toples,"yah, emang segini masih kecil, yah?" Ucap Bagas bertanya pada bapaknya.
Ayah hanya mengangguk angguk.
Enak menatap tangan anaknya yang memiliki memar,"eh, itu tangan Teteh kenapa?" Pertanyaan Ema membuat semuanya menatap Naya.
"Ouh,ini bekas semale kena benang nyangkut di tangan akhirnya merah deh,"
"Atuh masa dua duanya?" Tanya Ema kekeh.
"Pugus dapet jackpot dapat satu gratis satu,"
"Yaudah atuh kamu gimana disana nyaman? Mereka nggak galak kan?"
"Alhamdulillah nyaman, enak. Galakmah nggak cuma suka nggak gigit,"
Ema langsung menggulung tangannya,"nga-gigit kumaha? Sini Ema copotin giginya,"
"Nggak bercanda Ema,"
"Yaudah di tutup atuh ini aki-aki dari tadi noel-noel aja lapar katanya,"
Naya tersenyum ketika emanya pergi ke dapur tersisa ayahnya yang masih mengunyah makanan,"jaga diri disana, jaga sopan santun. Terus berdoa sama Allah, yah."
"Iya, Ayah,"
******
*awewe :perempuan
*pugus: karena
semangati aku wahai para pembacaaaa🔥☺️
salam
__ADS_1
SEE 🫠