DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
Bogeman Aldi untuk Brian


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Matahari bersinar menerangi belahan bumi jakarta ini. Sayangnya sepertinya Naya tidak begitu, terbukti dari matanya yang menjadi bengkak sehabis semalaman menangis. Naya memukul boneka landak itu. Menunjuknya, "kamu nih, yah. Kalau masih cinta sama dia tuh berjuang! Nggak usah yang namanya pasrah pas dinikahin sama aku!"


 Naya memukul-mukul perut boneka itu. Menjambak setiap duri-duri yang lembut, dan sesekali melemparnya ke lantai, ke kasur, setelah itu ia peluk lalu ia tangisi lagi. "Kalo kamu masih kaya gitu," Naya berfikir, "jadi pengen pulang." Naya merasa sedih, sehingga mengingat rumah dan ingin pulang . Ia akan minta izin pada suaminya boleh atau tidak ia akan nekat toh hanya melewati satu daerah saja. 


Sedangkan di kamar Brian ia merasa badannya seperti ditimpa oleh gajah, seperti dipukuli oleh preman pasar. Hanya saja Brian menghiraukan itu. Ia mengusap tengkuknya, bergidik mengusir bayang-bayang yang ada di kepalanya. 


Brian menutup kamar itu berbarengan dengan Naya yang keluar dari kamarnya. Naya yang melihat Brian melengos tak ingin menatap suaminya, ia buru-buru turun untuk pergi ke bawah mengambil sarapan setelah menyiapkan satu piring nasi di meja juga bekal untuk Brian. Naya menghela nafas, walau ia sedang marah tapi kewajibannya harus tetap dijalani. Masalah dimakan atau tidak itu terserah Brian. Naya langsung kembali ke kamar ketika Brian datang. 


Brian menghela nafas, Naya masih saja marah padanya biasanya wanita ini tidak akan pendendam, ia akan meminta maaf karena sikapnya. Tapi kini dirinya yang harus minta maaf. 


Brian menatap makanan yang disiapkan Naya. Sepertinya ia juga tidak akan sarapan paling akan membawa bekalnya saja. Brian berdiri di depan pintu kamar Naya. Mengetuk pintunya. 


"Naya. Saya berangkat dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saya." Brian berfikir mungkin nanti saja ia meminta maafnya menunggu waktu yang tepat. 


Naya hanya diam di dalam kamar tidak menggubris perkataan Brian. 


"Saya berangkat. Assalamualaikum." 


Naya menatap pintu yang kini sunyi ia kembali menunduk dan terisak. 


*****


Brian sampai di rumah sakit. Mobilnya ia parkirkan. di sepanjang koridor Brian terus memikirkan Naya jika ia bukanlah tipe orang yang akan membesarkan masalah, hanya saja sekarang masalahnya dimana, membuat Naya memintanya dan membuatnya memutuskan perkataan cinta pada Melisa yang ia sendiri tidak pernah memikirkan itu. 


Ketika pintu ruangan di buka satu bogeman mendarat di rahangnya membuat Brian mundur beberapa langkah hingga pintu sedikit terbanting. 


"Apa-apaan, Lo!" marah Aldi. Ia sedari pagi sudah menunggu sepupunya ini untuk diberikan pelajaran. 


Brian memegang rahangnya yang sedikit memar, menatap nyalang Aldi. "Apanya yang apa-apaan? Lo yang mukul gue!" 


Aldi mendaratkan sebuah bogeman lagi di perut Brian, Brian yang kini sigap menahannya, tapi Aldi tidak habis akal ia terus menyerang membuat Brian sedikit kewalahan. "Lo kenapa? Tiba-tiba mukul. Ngajak berantem," 


Aldi kembali memukul rahang Brian, membuat sang empu meringis, "foto! Lo masih simpen foto itu!" Brian menatap Aldi dengan penuh tanda tanya kemudian ia ingat. Matanya berubah tajam kini Aldi yang mendapatkan serangan dari Brian, ia dipukul telak di bahunya. Mereka berdua mundur beberapa langkah menciptakan jarak. 


"Kalo Lo masih suka sama Melisa kenapa Lo mau nikah sama Naya! Dia itu cewek, Bri. Ibu Lo cewe!" Aldi menunjuk wajah Brian. 

__ADS_1


"Dan kemarin Lala lihat foto kenakalan Lo sama Melisa. Hati gue hancur, Bri!" Aldi menaruh tangannya di dada, "anak yang sekecil itu meragain apa yang Lo lakukan di foto!" Aldi melangkah satu kakinya, "pikiran Lo dimana? Malah buat foto-foto itu kaya ruangan pemujaan. Lo masih simpen? gimana kalo Naya yang lihat? Mampus, Lo!" 


Brian berfikir sejenak tentang ruangan itu ia memang tidak membantah apa yang dikatakan oleh Aldi karena ia sendiri sudah lama tidak ke sela ruangan kecil itu. Itu adalah tempat dimana ketika ia merindukan Melisa. sayangnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan membuatnya melupakan sela itu. 


"Diem, Lo?" ucap Aldi. Ia berjalan menaruh tangannya di bahu Brian. "Lo masih suka kan sama Melisa?" 


Perkataan Aldi pembuat Brian menatapnya nyalang. Mengambil tangan Aldi dan menghempasnya. "Jangan ikut campur." 


Aldi menggeleng,"anak gue jadi korban karena keegoisan, Lo. Kalo Lo cinta sama Naya pertahanin dia. Tapi kalo Lo masih suka sama Melisa lepasin Naya." 


Brug. 


Satu bogeman mendarat di perut Aldi membuatnya tersungkur, Brian menatap Aldi. "Lo mau rebut lagi? Kaya dulu Lo juga mau rebut Melisa." 


Aldi terkekeh, memegangi perutnya, "orang yang membenci gue nggak akan percaya apa yang gue omongin. Dan Lo waktu itu benci gue." Aldi memegang meja sebagai sanggahan, "sekarang Lo pilih Melisa atau Naya. " Aldi kemudian menggeleng ketika Brian hendak meninju-nya kembali. "Bri. Gue cuma mau ingetin, kalo Lo masih egois kaya dulu, Naya juga bakal pergi dari hidup Lo. Tentuin hati Lo sekarang berlabuh sama siapa." 


Aldi pergi melewati Brian begitu saja, ia ingin memberikan sedikit pelajaran pada Brian. 


sepupunya ini memang pintar, sayangnya ia tidak pintar dalam mengatur perasaan. Walau Aldi harus babak belur setidaknya Bram dan Maya pasti tidak akan tinggal diam setelah tahu kejadian ini. 


Brian hanya pasrah ketika Bram memberikan sanksi berupa jaga pagi hingga malam selama tiga hari penuh bersama dengan Aldi yang akan menjadi asistennya  Ia ingin melihat para sepupu ini apakah masih bergulat jika disatukan. 


Melani datang ke rumah sakit Mahesa untuk menjenguk temannya yang melahirkan, ia menatap bayi mungil itu yang masih merah dengan tatapan mendamba. 


"Kalau begitu mengapa kamu tidak memilikinya satu, Mel?" tanya ibu dari bayi itu. 


Melani hanya menggeleng bagaimana mau buat bayi penyumbangnya saja masih diperjuangkan, "nggak deh. Cowoknya masih mau dikejar." canda Melani. 


Ibu si bayi terkekeh, "kalau begitu bagaimana dengan dokter Aldi. Memang sih sudah punya ekor satu, tapi siapa yang tak mau," 


Melani tertawa dengan temannya itu,  temannya ini mendapatkan pelototan dari suaminya. "Ya Sudah selamat yah. Aku harus pulang dulu." 


Mereka mengangguk, memberikan pesan hati-hati pada Melani. Ketika Melani menutup pintu ruangan itu. bertanya menangkapbseorang dokter yang memegang perutnya. Melani langsung tersenyum. Yah. Perjuangannya kini dimulai. 


Melani mengikuti Aldi berpura-pura datang dari arah berlawanan dan terkejut bisa bertemu Aldi. Aldi memutar bola matanya malas ia ingin membersihkan luka akibat bogeman Brian. 

__ADS_1


"Aldi kok kita bisa bertemu, ya jangan jangan jodoh." ucap Melani mendramatisir. 


Aldi terus berjalan keruangannya tanpa memperdulikan Melani yang terus mengoceh. "Mungkin memang benar kita jodoh." Melani mendekati Aldi ia menatap beberapa bercak biru juga beberapa baretan. Melani dengan spontan memegang rahang Aldi. 


"Aduh." Ringis Aldi. 


"Kok bisa begini. Sama siapa?" Ucap Melani yang khawatir pada Aldi. Aldi yang merasa mereka terlalu dekat memegang tangan Melani mencoba melepaskannya. "Mana p3k." Melani langsung menyisir ruangan Aldi Hingga menemukan kotak p3k. 


Ia mengeluarkan kasa dan alkohol untuk membersihkan kotoran yang ada di luka itu. Aldi sendiri sedikit pusing menatap Melani yang tidak mau diam. "Biar aku aja." Ucap Aldi, ia mengambil alih kotak obat itu sayangnya Melani dengan sigap mengurung Aldi untuk diam menyuruhnya duduk seperti pasien yang patuh. Melani menaruh satu tangannya ia tumpukkan di belakang kursi sedangkan satu tangannya lagi fokus membersihkan luka. 


Aldi sendiri ini merasa terlalu intim mereka terlalu dekat. Apalagi ia bisa mencium aroma parfum Melani. Ia akui Melani yang sebagai model pasti harus menjaga penampilannya. Aldi memegang pinggang Melani. 


Membuat Melani tersentak, menghentikan pengobatannya itu, ia lupa Aldi merasa tidak nyaman akan posisinya membuatnya yang kini sadar pun merasa tidak nyaman. Akhirnya Aldi menyingkirkan Melani yang masih mematung. 


"Aku bisa sendiri." Aldi kini duduk di kursi kebesarannya. Melani sendiri kini berdehem menetralkan dirinya. 


"Itu belum selesai Aldi." Kekeh Melani. 


"Aku bisa sendiri. Aku dokter!" 


"Memang kamu dokter, tapi gak masalah dong aku membantu." Ia berjalan mendekati Aldi Kembali merebut kotak itu. 


Aldi berdecak sedari dulu Melani memang keras kepala,"nggak usah Melani. Kamu mau apa?!" 


"Aku mau ngobatin kamu. Sini." Ketika Melani hendak mengambil obat tak sengaja sikunya menyenggol perut Aldi membuatnya meringis. "Maaf. Tuh kan kamu memang dokter tapi dokter juga butuh orang lain buat ngobatin dia. Jangan mentang-mentang kamu dokter kamu bisa apa aja. Sini." Melani memegang ujung baju Aldi memintanya untuk menaikkan. Sudah jelas Aldi menatap nyalang pada Melani yang berani sekali. ia ini pria tidak ada waspada-waspadanya perempuan ini. 


"Kamu! Jangan berani-beranin!" Melani menatap Aldi dengan seringai menggoda. "Toh kamu apa-apain juga aku terima." 


"Keluar!" Teriak Aldi. Melani tertawa terbahak-bahak. Ia berkata adanya bercanda, tapi Aldi sudah terlanjur ambil hati. "Keluar!"


Sebelum pintunya ditutup Melani berkata, "sekarang aku yang akan berjuang." 


Brak. 


Aldi menghela nafas ketika Melani sudah keluar, kini kisah lama akankah bersemi kembali. 

__ADS_1


__ADS_2