DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
Brian si gagal move on


__ADS_3

Naya berjalan dikoridor sesekali melihat ramainya orang yang sakit. Sebelum belokan ia mendengar suara anak kecil yang merajuk, sepertinya ia tahu siapa itu, sayangnya ia siapa tak sopan masuk keruangan orang lain. 


Naya membuka pintu ruangan suaminya. Terpampang seorang Brian yang sedang memakai snelinya, dengan tatapan serius membaca dan memeriksa setiap berkas pasien pasiennya. 


Tadinya Naya ingin mengembalikan snelli itu. ternyata Brian memiliki beberapa snelli lainnya. Kira-kira siapa namanya, yah. 


"Ada apa?" ujar Brian tanpa mengalihkan pandangannya. 


"Serius banget, sih." Brian langsung menengok ketika tahu suara siapa itu. Brian mengangguk, Naya langsung duduk di kursi yang disediakan. Hanya saja Brian tidak mengindahkan Naya yang datang tapi tidak digubris. 


"Mas! Ini aku bawa piscok." Naya dengan senang menaruh dan mulai membuka wadah bekal itu. 


"Piscok?" 


"Pisang coklat. Tadi Cesi dan Sina meminta makanan ringan sebelum makan siang. Cesi sendiri katanya suka, soalnya bibi pengasuhnya dulu pernah bawa dia ke pasar tradisional." Jelas Naya. 


"Aku jadi mikir apa semua orang kaya itu kaya kalian yang belum pernah jalan di jalanan kena debu. Terus, kalau udah naik motor atau jalan pulang-pulang pasti belang. kamu pernah nggak sih, Mas?" 


"Em." ucap Brian dengan nada dinginnya, ia tak terlalu mengindahkan perkataan Naya, "pisang coklat. Manis?" 


"Manis lah, Mas. Kalau kecut itu kamu. Semalem aja manis sekarang udah dingin lagi." 


Naya menyodorkan pisang yang lumer itu, "nih," 


Brian menatap pisang itu berujar, "aku nggak suka manis." 


Suasana langsung menjadi canggung. Naya langsung membeku ketika ucapan itu terlontar. Kemudian tersenyum canggung, "eh, aku nggak tahu, Mas. Maaf," 


Naya langsung membereskan makanan yang ia bawa. Memang sih ia sendiri yang salah tidak bertanya dulu pada Brian. Tapi rasanya, hatinya kini membeku sedikit-sedikit retak seperti tupai yang menggigit gliser di film ice age. " Kalau begitu aku kasih orang aja nanti." 


"Ngomong-ngomong, Mas aku tunggu kamu atau pulang duluan?" 


"Duluan saja!" 


Naya tersenyum canggung ia bingung Kata apalagi yang akan ia lontarkan pada Brian. Daripada canggung sepertinya ia harus langsung pergi. Memang sih ia juga salah datang ketika jam istirahat habis. Bagaimana lagi jakarta itu macet. 

__ADS_1


"Aku pulang dulu, Mas," Naya mengulurkan tangannya. Brian memberinya dengan terbiasa. 


"Aku pulang, Mas. Assalamualaikum." Naya menutup pintu ruangan itu dengan hati yang bertambah resah. 


Brian menatap pulpen di tangannya. Sedari ia kehilangan Melisa ia menjadi vegetarian, tidak suka manis-manis. Padahal dulu ia apa saja dimakan apalagi yang diberikan oleh Melisa. 


Rasanya sedikit canggung hanya saja hatinya memang masih belum bisa membuka. Brian memegang kepalanya menerawang entah apa yang terjadi nanti ketika mereka bertemu. Apakah ia bisa bertahan untuk diam dan cuek. 


Naya duduk di tempat tunggu koridor. Menundukkan badannya. Naya terkulai menatap bekal yang ia bawa, ketika ibunya cerita tentang nabi yang sedang berpuasa, dan Aisyah memasak saat itu. Nabi langsung berkata jika ia tidak puasa dan makan bersama dengan istri kecilnya. 


Naya selalu berkata jika ia besar ingin memiliki suami seperti itu. Menghargai istri, menyayangi juga berkomunikasi dengan baik agar apapun masalah kedepannya mereka bisa menyelesaikan dengan baik. 


Laki-laki ini masih belum bisa melupakan masa lalunya. Di beri sayur asin saja pasti akan menjawab asin dan pergi tidak mau makan masakan itu. Seperti tidak dihargai usaha dan kerja keras istrinya. 


"Kakak." Naya mendongak seorang gadis kecil duduk di sampingnya dengan membawa permen susu. "Kenapa syedih?" Itu Lala. Naya langsung tersenyum, menahan air mata juga kesedihannya. 


"Mau permen? Kata Ayah jika kita syedih bisa makan yang manis-manis. Hormon endorfin nya akan senang dikasih manis-manis. Jadi tidak syedih lagi."  Jelas Lala dengan logatnya yang has. Dari mana anak kecil ini tahu. Pastinya Aldiano mendidiknya dengan sangat baik. 


Naya mengambil satu permen yang diberikan Lala, "Terima Kasih. Memangnya Lala tahu apa itu endorfin?" 


Naya tersenyum senang. Sedikit melupakan kesedihannya, memang terkadang hal-hal yang begitu sederhana bisa membuat senang. Apalagi kata-kata yang masih polos ini. 


Naya menengok kesana-kemari, "tidak di cari ayah?" 


Lala langsung mendekat dan menaruh telunjuknya di bibir seolah mereka sedang was-was, "jangan berisik, nanti ayah tahu Lala pergi." 


Naya tergelak, sepertinya pertengkaran antara anak dan ayah ini masih berlanjut hingga anaknya merajuk, "memangnya Lala mau apa hingga merajuk?" 


"Lala hanya ingin ke taman, lagipula pekerjaan ayah syudah selesai. Kata ayah sebentar lagi. Tapi sebentar-nya Ayah lama!"


ucap Lala kesal. Pipinya menjadi lebih menggembung. 


"Kalau begitu kita keruangan ayah, biar kakak yang bawa Lala ke taman. Kakak juga ingin jalan-jalan." 


"Lreally? Ayo ke ruangan Ayah." Lala langsung menarik tangan Naya untuk mengikutinya dengan senang sekali. Sepertinya ia cocok dengan Lala yang ceria. 

__ADS_1


Lala langsung membuka pintu itu dengan kasar, " Ayah!" 


Aldiano mengelus dadanya juga menarik nafas panjang melihat kelakuan anaknya ini. Melihat Naya, Aldiano tersenyum menyapa. 


Naya sedikit canggung karena mereka tidak terlalu dekat, tapi Naya suka Lala lebih baik mengalihkan semua perhatiannya pada Lala.


"Lala ingin ketaman. Kata kakak juga mau ketaman. Boleh bareng yah, ayah? " Mohon Lala. Ia harus bisa meluluhkan hati ayahnya ini. 


"Tunggu sebentar cantik. Ini sudah selesai tinggal finishing." 


Lala bersedekap, menatap ayahnya, "syudah selesai seharusnya antar Lala, tapi ayah selalu bilang, sebentar sebentar, sayang." Ucap Lala meniru gaya Ayahnya ketika membujuk Lala. 


Naya tergelak menyaksikan itu, Aldiano merasa ia mendidik anaknya dengan banyak drama.


"Nggak apa-apa, Mas. Biar Lala sama saya nanti mas bisa nyusul kalau sudah selesai." usul Naya. Ia kasihan melihat Lala yang sudah bosan dengan perkataan ayahnya juga ia ingin mendapat suasana baru. Terlalu lama di ruangan menjadikan Lala suntuk. 


"Boleh ya, Ayah?!" ucap Lala memohon juga gaya andalan Lala ia keluarkan. 


"Haduh. Ini princess ayah tidak sabaran. Yaudah, tapi jangan merepotkan Tante Naya. Nanti Ayah menyusul." 


"Yey!" Lala kegirangan ia langsung menyalami tangan Aldiano. "Ayo Kakak juga harus salim sama Ayah!" 


Hah. Mereka berdua kini di situasi canggung. Naya disuruh Salim pada Aldiano bisa-bisa jika Brian tahu Aldiano akan habis olehnya. Entah Brian cinta atau tidak, tapi jika miliknya disentuh barang sedikitpun Brian tak pernah memberi ampun.  Aldiano tahu itu. 


"Tidak sayang. Tante Naya salimnya sama Om Brian bukan sama Ayah. Nanti om Brian cemburu." Jelas Aldiano. 


"Yaudah. Lala tak paham. Itu urusan orang dewasa. Kalian ribet!" Ujar Lala. ia langsung menarik Naya untuk keluar dari ruangan itu.


"Saya pamit, Mas. Assalamualaikum." 


"Say salam sayang," suruh Naya. 


"Assyalamualaikum!" 


*****

__ADS_1


__ADS_2