DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
hati Brian


__ADS_3

Di sudut ruangan tampak seorang wanita yang melihat keharmonisan itu. Ia menatap dengan raut sedih. Nyatanya Brian bisa cepat melupakannya. Dimana janji janji Brian yang katanya ingin menikah bersamanya, ingin menunggunya, ingin tua bersamanya. Sebenarnya Brian tak rela ketika Lala memberikan suapan kedua itu untuk Naya. 


Tiba-tiba seorang wanita berpakaian modis datang dengan dua cangkir di tangannya. Ia menyodorkan satu cangkir lagi pada Melisa yang tengah dirundung kesedihan. 


Melisa menerima cangkir itu. Menyesapnya sedikit demi sedikit. Melani menatap Melisa kemudian mengalihkan atensinya pada keluarga bahagia itu. 


"Keluarga bahagia yang diidamkan. Tapi siapa sangka Brian yang susah membuka hati bisa cepat sekali mencintai." ucap Melani. Ia sengaja menunggu reaksi dari Kakaknya ini. Melisa dan Melani adalah sepasang adik kakak. Jika orang-orang melihat keduanya bagaikan lebah dan madu. Tapi sebenarnya mereka adalah beruang dan lebah yang akan memperebutkan madu. 


Melisa memicingkan mata pada adiknya ini. Siapa yang tahu perkataan adiknya ini adalah sindiran halus untuknya. "Yah. Semua orang harus memiliki masa depan bukan tidak bisa stuck saja di satu tempat." 


Melani mengangguk. Hanya saja ia tak percaya dengan kata-kata Melisa. Ia memang cantik. Melani akui itu, tapi Melisa bagaikan medusa yang  berbisa di setiap akal bulusnya. 


"Bagaimana kalau kita tukeran? Kak Melisa pastinya bisa dong buat Brian beralih hati. Yang membuktikan Brian tidak cinta pada istrinya. Aku akan kasih kamu sebagian saham yang aku punya di keluarga Prakoso." tantang Melani ia tahu kakaknya ini tak akan mungkin melewatkan taruhan ini. Apalagi ini berhubungan dengan Brian. Toh ia gagal juga masih ada untungnya. Rencana yang ia bangun pasti akan selesai dengan cepat. 


"Kalau kak Melisa kalah. Jangan salahkan aku memberitahu rahasia Kakak sama Brian." 


Seru melani. Ia suka sekali dengan ekspresi kakaknya ini. Bukan main-main, walau terlihat biasa saja di ujung matanya Melisa suka sekali memincing. Membuat hiburan tersendiri untuk Melani. 


"Kenapa tidak!" ucap Melisa tanpa pikir panjang. Melisa menatap Naya dan Brian yang sedang mengobrol. Ia pasti bisa mendapatkan kembali kasih sayang, juga cinta dari Brian. Tapi sebelum itu ia harus menyingkirkan semua Lalat yang mengganggu. Dan itu tertuju pada semua wanita yang dekat dengan Brian terutama Naya.


"****


Brian terus tak mau berbicara padanya, sedari dia tahu jika Lala menyebut Naya, Mama atas permintaannya. Lagi pula apanya  yang harus dipermasalahkan, toh Lala sendiri adalah anak sepupunya. Bisa dibilang Lala mau panggil Naya, Mama juga tidak ada masalah. 


Mereka kini duduk di kursi panjang dekat kolam renang. Naya sendiri harus menyelesaikan urusannya ini. Sebelum Brian menjadi gunung meletus. 

__ADS_1


"Mas, aku minta maaf. Ini sudah dikonfirmasikan? Kok kamu masih diam saja." Naya bingung harus bagaimana lagi. Apalagi beberapa pasang mata sedari tadi melihat interaksi mereka membuat Naya sedikit risih. 


Naya berinisiatif mendekatkan diri pada Brian. Brian langsung bergeser, Naya menghela nafas. Kembali bergeser hingga Brian mentok di ujung tanpa bisa kemana-mana.  Naya langsung mengukung Brian tanpa bisa kemana-mana. 


Brian melototkan matanya pada Naya kenapa menjadi terbalik. Ia bagaikan laki-laki yang bermental perempuan. Bisakah Naya bersikap seperti perempuan biasanya. Duduk manis dan tunggu ia berbicara. "Mas," ucap Naya menatap Brian dengan wajah bulatnya.


Brian langsung memegang tangan Naya yang menjadi tumpuan, ia balikkan hingga kini Naya yang berada di bawah. "Kamu nggak lihat, banyak anak-anak. Ini nggak baik buat tontonan. " Brian langsung melepaskan kukungan itu. 


Naya menatap Brian. Ia tahu Brian hanya ingin menjaga imejnya saja terbukti ketika ia mengukung Brian tadi. "Mana-mana?" tentang Naya. Toh memang benarkan ketika Naya melakukan aksinya banyak pasang ibu dan anak yang pergi apalagi seorang ibu tidak akan mengizinkan anaknya untuk melihat adegan dewasa ini. 


Brian menatap Naya tajam, "sana pergi." 


Naya mengernyit, suaminya dengan tega mengusirnya. Ada apa dengan suaminya ini Naya hendak memulai dramanya. Sayangnya ketika hendak memulai, Brian lebih dulu mengantisipasi. 


Brian langsung menaruh tangannya di wajah Naya dengan tidak sopannya. Brian tahu Naya akan terus mengoceh tidak jelas hingga ia berkata apa yang diinginkannya. 


"Pergi temani Lala." Ucap Brian. "Tidak perlu berdrama." 


Brian menurunkan tangannya, memandang kearah lain. Naya mengerti kode Brian ia langsung tersenyum lebar. Menatap ke sana kemari. Di tempat itu sepi hanya ada mereka berdua. Naya langsung memberikan kecupan di pipi Brian. Membuat sang empu langsung memandang Naya, sayangnya yang berulah sudah kabur dengan menyematkan rasa terimakasih di bisikannya. 


Brian benar-benar merasa hormon adrenalinnya meningkat. Benar benar senam jantung, ia mengambil nafas panjang-panjang lalu dihembuskan. 


Ketika matanya terpejam, terdengar suara indah mengalun dari tempatnya duduk. 


Wanita itu menatap cukup dalam pada wajah yang di rindukannya ini. Kenapa ia tidak sadar semakin bertambah dewasa Brian,  ia semakin menggoda, "Hai Brian." Brian membuka matanya. Seorang wanita cantik yang mengisi hari-harinya ketika SMA hingga kini. Tapi Brian sedikit meragukan hatinya. 

__ADS_1


Wanita itu langsung duduk di samping Brian. Ia menatap wajah Brian merasa mereka seperti mengulang masa lalu ketika Melisa pertama kali mencoba mendekati Brian. Dan kalimat yang sama juga diucapkan Melisa. 


"Apa kabar? Pasti baik." Ucap Melisa basa-basi. Walau ia tahu Brian tidak akan menggubris perkataannya ini. 


Brian langsung berdiri, melengos, melangkahkan kakinya untuk pergi. Sayangnya Melisa tak pernah hilang akal, ia langsung menahan tangan kekar yang dulu sering memeluknya. Membuatnya berbalik menghadap dirinya. Mereka kini berhadapan. Melisa mendongak menatap Brian dengan tatapan memelas. 


"Bri. Aku minta maaf." Ucapan Melisa membuat hantaman sendiri untuk Brian. Jika saja Melisa tak pergi dari hidupnya, jika saja waktu itu Melisa mau menikah dengannya. Maka kejadian dirinya bersama Naya tidak akan pernah terjadi. 


Sayangnya Brian masih memiliki rasa pada Melisa membuatnya meluluhkan hatinya. "Tidak perlu." Ucap Brian dingin. 


Melisa langsung memeluk Brian, seolah olah ia adalah orang yang paling tersakiti, orang yang paling menderita, ia adalah korban. Melisa menangis dengan sejadi-jadinya di pelukan Brian. "Nggak Brian. Aku mohon maaf kamu! Aku mohon." Brian menunduk, menatap wanita yang memeluknya ini. Brian membalas pelukan yang membuat Melisa berharap lebih. 


"Bri. Maaf!" ucap Melisa. Ia masih sesegukan Brian mengelus punggung Melisa. Setelah agak tenang Brian melepaskan pelukannya itu. Walau hatinya luluh akan tangisan Melisa, tapi ia tidak ingin membuat orang lain salah paham jika saja melihat apa yang mereka lakukan.


"Kenapa, Bri?" Melisa menggigit bibirnya. Menatap Brian dengan penuh kecewa juga penyesalan. Ia menggeleng, "nggak, Bri. Kamu pasti belum maafin aku, kan?" Melisa bertindak impulsif ia selangkah demi selangkah menjauh dari Brian. Tanpa melihat jika di belakangnya adalah kolam renang. 


"Nggak, Bri! Maaf, Bri. Aku minta maaf." Tempat ketika Melisa berkata minta maaf langkahnya kakinya berakhir di air membuatnya tercebur dan meminum air. 


"Melisa!" Brian tanpa basa-basi langsung menceburkan diri untuk menolong Melisa. Brian tahu sedari dulu Melisa takut dengan air, juga tidak bisa berenang. Apalagi melihat Melisa menggelepar bagai ikan kekurangan air. Sayangnya Melisa adalah manusia yang membutuhkan oksigen.


Brian menangkap Melisa membawanya ke tepi kolam renang. Ia membaringkan Melisa menekan rongga dadanya agar air yang terminum keluar. Sayangnya air itu tidak bisa dikompromi. Brian memegang hidung Melisa memberikan cpr yang dilakukannya. Sayangnya ketika Brian berfikir takut orang lain salah paham, Naya sendiri melihat bagaimana Brian sangat khawatir pada gadis yang bernama Melisa. 


Dalam hati Naya ia mengangguk ternyata Melisa adalah gadis yang terjatuh ini. Pantas saja suaminya ini sangat mendambakannya. Apalah daya ia hanya remahan rengginang di toples khong guan. Aldi menatap Naya iba kemudian langsung membantu Brian menggendong Melisa agar ia tak kedinginan. Sayangnya ketika tangan Aldi baru menyentuh pundak dan persediaan Melisa, Brian langsung menggendong Melisa tanpa memperdulikan Naya yang dilewatinya. 


 

__ADS_1


__ADS_2