
Naya membantu ibunya di pagi hari ini dengan memasak menu andalan keluarga yaitu masakan Sunda. Sambal terasi dengan terasi udang yang sangat menyengat juga lalapan seperti jengkol dan petai.
Naya menaruh piring terakhir di meja makan. Mak Delima sendiri kini tengah pergi ke rumah tetangga minta daun salam karena persediaan di rumah sudah habis. Dari pada beli lebih baik meminta lebih irit itu semboyan Mak Delima.
Naya membuka kamar Bagas menatap adik bungsunya ini yang masih tertidur dengan lelapnya. Ia mengitari kamar remaja ini, terlihat foto-foto metal yang terpajang di dinding, beberapa band asal Indonesia juga luar negeri. Naya membuka gorden kecil yang berada di sudut membuat matahari benar-benar menyorot di kamar itu.
Bagas menatap bidadari yang turun dari kayangan memegang sebuah gitar, menyanyikan nya satu lagu yang sangat indah, merdu mengalun. ketika ia ingin memeluk bidadari itu ia tertawa malu berlari. Bagas tak menyerah ia berusaha menangkap.
Hap.
Ketika ia hendak menangkap bidadari itu menjadi silau berganti dengan matanya yang terbuka melihat siluet wanita di gordennya.
"Bidadari," ucap Bagas.
Naya menatap adiknya ini dengan datar, menyentil Bagas yang duduk di kasur dengan kondisi setengah sadar,"bidadari, palamu!"
Bagas mengernyit, "kok bidadarinya kasar?"
"Aduh." Naya menjitak kepala Bagas, adiknya ini masih melindur hingga ia menganggapnya bidadari.
"Sadar, Bagas. Udah siang ini tuh kamu gimana, sih. Bujangan bangunnya siang." Omel Naya.
"Ouh, teteh." Setelah berucap Bagas langsung kembali membaringkan tubuhnya.
Naya yang mengetahui gelagat adiknya langsung menarik kaki Bagas hingga ia terbangun dan hampir terjatuh, "teteh… ini udah diujung."
"Mangkanya bangun, mandi abis itu makan. Sudah tersedia semua lengkap dengan lalapan jengkol dan petai untuk Baginda raja." Ucap Naya.
"Terimakasih dayang. Sayangnya saya tidak suka jengkol dan petai." Ucap Bagas mengambil bantal guling mendekapnya dan kembali tidur.
"Sok-sokan kamu nggak doyan jengkol tukang ngabisin juga kalo emak beli." Seru Naya sambil menarik badan atas Bagas hingga membuatnya jatuh dilantai.
"Dayangggg! Anda saya pecat!"
"Bangun jangan ngelindur aja. Nanti anter teteh ke swalayan mau beli bulanan," Ucap Naya berjalan keluar kamar.
"Mana ada dayang merintah raja." Beo Bagas.
__ADS_1
"Emang nggk ada kan teteh bidadari." Sahut Naya ketika menutup pintu. Bagas menggerutu menatap kepergian Kakaknya.
******
Kini Naya dan si bungsu Bagas menaiki motor untuk pergi ke swalayan yang dituju oleh Naya. Naya menatap semua orang yang berlalu lalang, menatap hamparan toko dan pembeli yang saling bertukar dan menawar.
Naya selalu merasa hidupnya beruntung ketika melewati jalan bertemu dengan pemulung yang mengais rezekinya dengan penuh kesabaran. Pengamen yang terus menyodorkan mangkuk dan berjoget sesuai dengan nyanyiannya.
Nyatanya terkadang ketika mereka lelah, duduk diemperan dimanapun mereka bisa beristirahat tetap saja wajah mereka yang lelah dan menatap sedih akan hidup sangat jelas tercetak.
Bagas menghentikan motornya, Naya turun menatap adiknya, "mau di beliin apa?"
Bagas berfikir, "boleh deh makanan yang buanyak," ucap Bagas.
Naya menutup hidungnya,"Bagas. Mulut kamu bau banget. Kenapa nggak gosok gigi sih?" Naya mundur beberapa langkah menciptakan jarak.
"Ish, apaan sih teh jangan kenceng-kenceng ngomongnya." Bagas menatap ke arah motor yang berisi satu cewek tidak jauh dari mereka.
"Kamu cewek aja dipeduliin. Mulut tuh bau!" ujar Naya.
"Yaudah, hayu atuh kamu yang bawain," balas Naya.
"Em," Bagas berlagak sibuk, "Bagas mah lebih baik jaga motor aja, siapa tahu tiba-tiba ada parkir liar jadi kita nggak usah bayar." Elak Bagas.
Ia sebenarnya malas jika harus menemani kakaknya berbelanja karena pastinya tidak akan sebentar dan lagi jika sedang kebingungan dan minta pendapat selalu saja serba salah. Minta tolong pilihkan permen coklat atau putih. Ya jelas Bagas akan berkata coklat, tapi Kakanya lebih suka putih. Bagas hanya bisa menghela nafas kalau begitu untuk apa pendapatnya.
"Yaudah. Jangan dimotor terus nanti kamu mateng bin gosong." ujar Naya berlalu pergi.
Bagas hanya mengangguk melirik satu cewe yang sudah berubah posisi menjadi di tempat duduk.
*****
Naya mengambil semua yang diperlukan, juga beberapa keperluannya sudah menipis harus menambah persediaan. Sayangnya ketika Naya sedang mengambil barang yang letaknya cukup tinggi seseorang membantunya.
Dia si Jamal anak si tukang palak, si paling ganteng menurutnya yang hanya bisa mengandalkan nama bapaknya.
"Hai, Nay," sapa Jamal.
__ADS_1
"Oh, ya. Hai." balas Naya canggung. Karena biasanya Jamal akan ditemani satu atau dua bodyguardnya. Sedangkan kini ia hanya sendiri yang mengakibatkan mereka mengobrol berdua walau banyak pengunjung, tapi para pengunjung memiliki aktivitas masing masing.
"Samawa, yah Nay. Padahal kamu nggak melunasi hutangnya juga nggak papa. Asal kamu nikah sama aku." ujar Jamal.
Naya hanya tersenyum canggung, tapi sedetik kemudian ia tersadar akan ucapan Jamal. "Lunas? Hutangnya lunas?" tanya Naya keheranan.
"Iya. Sekali bayar lunas. Kayaknya bapak kamu bisa banget nyari mantu." sindir Jamal.
Naya tak menghiraukan sindiran Jamal ia lebih fokus pada kata hutangnya itu. bagaimana bisa? Naya saja belum mencairkan uang maharnya. Benar-benar harus dipertanyakan. Naya pergi dengan memberikan sedikit hentakan bahwa ia sedang dalam kondisi menjadi singa membuat Jamal hanya bisa berdehem karena Naya meninggalkannya sendiri.
Naya pulang dalam keadaan diam. Bagas hanya disuruh untuk mempercepat mengendarai motor ditanya kenapa tapi Naya hanya menjawab dengan diam membuat Bagas menghela nafas.
Bagas langsung pergi ke kamarnya setelah mendapatkan makanan yang di pintanya. Sedangkan Naya mencari ibunya namun ibunya sedang pergi perkumpulan ibu-ibu pkh.
Ia bertemu dengan ayahnya, ia mengisyaratkan jika Naya ingin membahas sesuatu. Marsan membawa Naya ke bale belakang rumah yang ditumbuhi pohon mangga.
"Ada apa?" tanya Bapak Marsan.
"Ayah bisa jujur sama Naya. Hutang bisa lunas. Uang dari mana?" tanya Naya.
Bapak Marsan menghela nafas menatap anak perempuan semata wayangnya. Kini ia harus memberi tahu sedikit kebenaran. "Duduk dulu." pinta sang Ayah. Naya mengikuti keinginan Ayahnya. Menunggu jawaban.
"Hari itu.." ayahnya menerawang mengingat kejadian pertama kali Marsan bertemu dengan Bram. Di sekitar halte malam setelah pulang kerja tiba-tiba beberapa orang datang dan menghadang Marsan.
Disana Marsan ketakutan karena ia tahu siapa para preman ini. Utusan dari bapaknya si Jamal agar ia melunasi hutangnya. Marsan sudah sering mencicil di setiap bulannya sayangnya mereka selalu mematok bunga yang mencekik. Akhirnya ketika perkelahian terjadi suara sirine terdengar entah dari mana membuat mereka kocar-kacir pergi meninggalkan Marsan.
Seorang laki-laki datang menggunakan mobilnya keluar menghampiri Marsan ia menawarkan uang agar bisa melunasi hutangnya, tapi dengan syarat Marsan harus bersedia jika ia dibutuhkan.
Marsan menolak ia belum kenal dengan laki-laki ini bisa jadi seorang buronan ia tidak ingin anak istrinya nanti yang celaka. Sebelum pergi laki-laki itu memberikan namanya. Ia berkata jika ada apa-apa hubungi dia. Tapi sayangnya Bram yang menghubungi Marsan dan menawarkan pernikahan.
"Apa yang Papa tawarkan,"
"Bram menawarkan, hutang lunas. Kamu akan diperlakukan seperti anak mereka, tidak akan dibeda-bedakan." Lanjut Marsan.
Naya menatap Ayahnya sedikit kecewa pasalnya ia seperti dijual untuk melunasi hutang. "Ayah jual Naya."
Marsan menatap sedih pada Naya, "maafin Ayah, Naya. Tapi jangan pernah bertindak impulsif kamu belum mendengar dari semua sisi, kamu baru mendengar dari sisi Ayah. Cobalah berpikir positif." Naya mengangguk lemah ia izin untuk pergi ke kamarnya meratapi hidupnya yang memang hanya dijadikan permainan.
__ADS_1