DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
#kecelakaan


__ADS_3

Senin adalah hari memulai kembali rutinitas, seperti halnya keluarga Adam menjalani rutinitas pagi sesuai dengan kebiasaan mereka.


"Kakak celana abu aku mana?" Teriak Bagas dari kamarnya.


"Di lemari!" Naya yang sudah duduk di kursi meja makan bersama ayahnya. Ibunya membawa sop dari dapur.


"Kakak buku aku yang kakak pinjam mana?"


"Di lemari!"


"Kakak kaos kaki aku mana?"


"Di lem-"


Bagas mendekati meja makan menatap tajam Naya,"di lemari di lemari. Dimana? Lemari banyak teteh!"


"Pft!" Naya menatap Bagas dari bawah ke atas melihat Bagas yang menggunakan baju serta dasi, di padukan dengan kolor serta kaos kaki sebelah kanan yang berwarna hitam.


"Dek, kamu mau cosplay dimana?" Tanya ayah.


"Ayah! Tanya si teteh naro baju Bagas dimana?"


"Di lemari Bagas! Mangkanya kalo ngambil baju tuh di rapihin jangan asal mengambil dari bawah terus nggak di beresin memangnya kakakmu kerjaannya cuma beresin baju kamu!"


"Teteh mau jadi Ema, ceramah aja!"


Emak yang disebut sebut menatap tajam Bagas,"kamu mau diceramahi lagi sama Ema,"


Bagas nyengir,"ampun!"


*****


"Dah rapih! Ayo teh berangkat!" Seru Bagas langsung duduk di boncengan Naya.


"Pake helmnya," mereka berdua berangkat menggunakan motor matic.


Naya sudah parkir di toko pakaian Annisa.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam! Naya, Lo di cariin Bu Rahma," ucap mika salah satu penjaga toko.


Naya membuka pintu itu terlihat Bu Rahma sedang memegang pengeluaran bulanan."assalamualaikum, Bu,"


"Waalaikumsalam. Naya langsung aja yah, kamu pergi ke toko Miya Dekat rumah sakit Mahesa Medika trus ambil barangnya," Rahma menyodorkan kertas pada Naya.


"Siap Bu! Ada lagi?" Rahma menggeleng.


****


Naya berhenti di perempatan lampu merah, disebelahnya terdapat mobil Pajero yang kacanya tidak terlalu transparan tapi masih bisa tembus pandang. Terlihat di dalamnya dua manusia berbeda kelamin itu sedang cekcok Naya langsung berpindah tempat menjadi di depan tukang ojek online, tapi spionnya menangkap sesuatu.


Lampu berganti menjadi hijau sesegera para mobil dan motor melaju mengikuti arus.


Naya sampai di toko Miya, ia mengambil satu karung pesanan yang diminta oleh Bu Rahma, namun di tengah jalan ia harus di hadang oleh sebuah kecelakaan mobil yang tepat berada di hadapannya."innalillahi!" Seperti adegan film action yang nyata di hadapannya. Naya langsung turun dan mengecek siapa saja orang di dalamnya.


Ternyata mobil itu milik orang yang ia lihat di perempatan,"ya Allah mana sepi, ini pengendara pada kemana yah,"


Ia melihat hp yang tergeletak,"halo."

__ADS_1


"Siapa ini," suara kekar di ujung sana.


"Maaf sebelumnya pak saya menemukan saudara Mahesa Effendy di persimpangan jalan terlibat tabrak lari,"


Mobil ambulance dan beberapa orang juga beberapa anggota PMI sudah berkumpul. "Bapak silahkan datang ke rumah sakit xx,"


"Tidak perlu bawa kerumah sakit Mahesa Medika!"


"Baik!" Jantung Naya berdetak tak karuan, kakinya lemas, walaupun ia seorang anggota PMI tapi jika dihadapkan dengan tabrakan seperti itu Naya tidak sanggup.


"Bismillah!" Naya mengambil barang-barang penting untuk diberikan pada keluarga korban.


******


Naya menunggu di ruangan UGD beberapa orang berdatangan termasuk dua orang pemilik Mahesa Medika. Bu Maya menangis histeris di pelukan suaminya. Beberapa jam kemudian seorang dokter keluar disusul beberapa orang lainnya.


"Gimana Bri? Gimana kakakmu!" Cerca Maya.


Brian menunduk ia luruh,"maaf ma,"


Pak Bram memeluk istrinya, tak kuat dengan berita yang disampaikan anaknya sendiri, ia meneteskan air matanya.


Naya menunduk ia tak kuat melihat bagaimana seorang laki-laki yang jarang menangis, kini banjir air mata.


******


Keesokan harinya terdengar berita di televisi, keluarga Mahesa berduka, telah berpulangnya Mahesa Effendy anak pertama dari Bram Mahesa. Semua itu disiarkan di televisi.


Naya yang berada di tempat kerjanya kini melamun, ia kini menggenggam dua amanah, sneli si dokter dingin dan barang-barang kakaknya.


"Naya, bukannya kamu kemarin izin mengurusi keluarga Mahesa bukan?" Pertanyaan Karlina membuat semua pelayan toko itu menatap Naya.


"Lo nggak disalahkan gitu? Dijebloskan ke penjara gitu?" Sahut mika.


"Mika, kamu mah gitu doainnya nggak ada yang baik," jawab Naya.


"Eh, kan cuma nanya, Lo sensi banget sih,"


"Aku sensi wajar sedang ada tamu. Kamu sendiri kenapa? Dari tadi mancing orang Mulu mending kamu ikut mancing mania mantap kan lumayan ikannya bisa dimakan dari pada marah marah Mulu bukannya dapat ikan malah dapet penyakit, kamu!"


"Eh, terompet lebaran, terserah gue dong, apa urusannya sama Lo! Lo siapa gue ngatur ngatur?! Lo aja yang ikut mancing sana biar kecebur kelelep sekalian!"


"Saya siapa? Saya Sri Kanjeng ratu penyembahan Senopati Naya Rivera Adam kamu harus hormat sama saya," Naya mengibaskan rambutnya.


"Ogah!" Kini mika berbalik pergi.


"Mika mau kemana?"


"Mau ke toilet! Ikut?"


"Boleh!"


"Sedeng!"


Semua pelayan tertawa terbahak bahak karena candaan mereka berdua setidaknya hiburan untuk Naya yang sedang gelisah.


Sore itu Naya memutuskan untuk pergi ke rumah keluarga Mahesa. Ia bertanya pada pak satpam," pak ini bener rumah keluarga Mahesa?"


"Ia neng ada apa?"

__ADS_1


"Ya Allah ini mah bukan rumah tapi istana," cicitnya.


"Pak bisa saya bertemu Brian Mahesa?"


Pak satpam mengernyit,"neng mau melayat?"


"Eh, ia pak,"


"Oh kalau begitu kirimkan doa saja dari rumah neng. Soalnya sudah selesai masa pemakamannya." Ujar si pak satpam yang hendak pergi.


"Pak bilangin dulu sama pak Brian saya bawa barang barang mas Mahesa Effendy!"


"Barang apa!" Brian turun dari mobilnya menatap tajam si gadis pembuat kekacauan itu.


*****


"Mana!" Brian langsung pada intinya.


Naya mengeluarkan sebuah barang yang ia ambil pada saat kecelakaan itu."ini,"


"Apa yang kamu lihat?"


"Lihat apa?" Naya kebingungan atas pertanyaan Brian.


Brian menutup matanya"kejadian itu apa yang kamu lihat!"


"Lihat apa?" Sahutan seorang perempuan membuat Brian menahan emosinya. Ia ingin sekali membuat wanita iji pergi dari hadapannya dan berbicara langsung pada yang utama. Ia tidak ingin mamanya bertambah pikiran.


"Kamu siapa?" Tanya Maya kepada Naya.


"Mah,"


"Diam dulu Brian mama ingin tahu jangan tutupi apapun dari mama, cukup kakakmu yang meninggalkan mama jangan kamu juga, mama nggak akan kuat," Maya kembali menatap Naya. "Kamu yang berada di depan UGD kan?"


Naya mengangguk,"iya Tante,"


"Apa yang kamu lihat?," Maya duduk di single kursi yang berada di samping Naya.


"Sebenarnya saya tidak tahu apa ini penting atau tidak tapi saat itu saya melihat pak Effen.."


"Cukup jangan sebut nama anak saya," Maya menarik nafas,"lanjutkan!"


"Cukup!"


"Brian jangan halangi mama untuk tahu kebenaran tentang kakakmu,"


Naya bingung sepertinya keluarga orang kaya tidak sesimpel yang ia kira.


"Lanjutkan!" Maya meminta tapi Brian menatapnya tajam.


Naya mengalihkan pandangannya,"maaf Bu, saya tidak bisa melanjutkan jika saya merasa terintimidasi,"


"Bilang apa kamu! Hah! Mau dituntut kamu! Berbicara dengan benar!" Maya memijat keningnya yang terasa lelah.


"Pergilah! Silahkan datang kembali nanti!"


Maya mengajak Brian pergi ke lantai atas.


*****

__ADS_1


__ADS_2