
Malam telah larut berganti hari. Naya terbangun ketika sinar fajar sudah sedikit menyusup di jendela. Tangannya menutupi wajah untuk menghalau sinar. Rasanya badan Naya remuk sekali. Naya menelusupkan kepalanya pada bantal besar nan empuk. Brian pintar sekali mencarikan ia boneka yang bisa membuatnya nyaman, yang bisa memeluknya. Eh, memeluknya? Naya langsung membuka matanya ia terkaget kaget sejak kapan boneka landaknya berubah dan memiliki dada bidang.
Brian mengeratkan pelukannya. Naya langsung tersadar mendorong lengan Brian hingga membuat sang empu meringis. Brian menatap Naya sambil menahan sakit yang tidak seberapa.
"Kok kamu bisa di sini, Mas?" tanya Naya sepertinya si istri nyawanya masih belum kumpul.
Brian mendekatkan dirinya pada Naya sehingga Naya bisa merasakan gesekan kulit yang tidak tertutupi sehelai benang pun.
"Eh," Naya tersadar apa yang ia lakukan semalam. Brain bersemirik melihat ketika Naya tersadar apa yang mereka lakukan semalam.
"Kenapa? Mau lagi?!" goda Brian.
Naya menatap tajam Brian sedikit mengernyit, "mau lagi, mau lagi. Ini badan aja masih susah digerakin dimananya mau lagi."
"Lagian kamu nih Mas yah! udah habis berapa ronde. Lihat mataku masih ngantuk. Kok matamu malah seger, sih?"
"Di kasih vitamin," jawab Brian asal. Benarkan semalam ia habis di beri vitamin apa lagi bisa nambah.
"Vitamin apa? Kok aku nggak dikasih? Curang kamu, Mas." protes Naya.
"Mau?" tanya Brian. Tapi yang dilihat Naya Brian sedang menggodanya untuk diberi hal lebih bukan vitamin yang dimaksudkan Naya.
"Kok kaya beda persepsi yah, Mas,"
"Mau nggak?" tanya Brian.
"Boleh, deh. " ucap Naya ragu-ragu.
"Ayo," Brian bangun dari tidurnya. Naya meneguk salivanya ketika Brian hanya mengenakan boxer dan terpampang jelas dada bidang yang semalam mengukungnya.
Brian menatap Naya yang kini sudah resmi menjadi wanita Brian Mahesa. Ia tahu Naya masih kagum pada dada bidangnya. sepertinya ia patut bangga dengan hasil kerja kerasnya.
"Ayo!"
__ADS_1
"Kemana?" tanya Naya bingung.
"Kamu nggak mau mandi?"
"Mau lah Mas apalagi sebentar lagi subuh." Naya mencoba untuk turun dari kasur sayangnya badannya tak sekuat itu. Seperti jelly yang stik yang ia makan. Loyo.
Naya ditangkap oleh Brian. Ia menatap tajam suaminya.
"Kenapa?"
"Jamurmu itu, Mas!"
"Iya, iya. Ayo! Nggak sabaran banget sih."
"Nggak sabaran gima… ahh!" Naya terpekik ketika ia diangkat dan di bawa ke kamar mandi tanpa di tutupi selimut.
"Mas, selimutnya."
Brian tak menggubris. Lama jika mendengarkan ocehan Naya. Mereka masuk ke dalam kamar mandi Naya diturunkan di bathtub "Udah sana Mas.!"
Di dalam kamar kembali terdengar suara erangan di kamar mandi.
******
Pagi harinya Naya terus cemberut pada Brian. Apalagi ketika ia melihat banyaknya bercak merah di lehernya terus menggosok juga tidak bisa hilang. Sepertinya ia harus menggunakan baju berleher panjang, tapi hari ini cuaca panas memang serba salah.
Mata Naya melotot pada Brian. "Iya, iya aku tidak bisa menahan."
"Mau dibantu?" tawar Brian.
Naya langsung menyilangkan kedua tangannya bisa-bisa ia kembali dilahap ia tak percaya pada Brian. Untuk masalah seperti ini ternyata pria ini sangat tidak bisa menahan gairahnya. Entah bagaimana ia bersama Melisa. Mengingat itu seketika hati Naya melemah.
Brian menatap Naya yang terdiam entah memikirkan apa.
__ADS_1
*****
Mereka turun di tangga, menatap tiga anak gadis yang sedang leha-leha di sofa dengan kegiatan masing-masing.
"Jika butuh apa-apa bilang pada Bi Inah," Brian berkata pada tiga anak itu mereka hanya mengangguk malas entah kenapa pagi ini merasa lesu.
Brian acuh tak acuh. Ia langsung melenggang pergi. Setelah mengantar suaminya menatap mereka bertiga duduk di depannya. Bertanya ada apa?
Zoe memutar bola matanya malas ia semalam mendapatkan serangan dari kecoa. hingga hari ini sangat malas bertemu Naya karena mengabaikannya semalam. Benar-benar kejadian tidak terduga bisa-bisa kecoa ada di kamarnya. Juga sudah dipukul mundur oleh bi Inah yang datang mendengar teriakkan dan panggilan Zoe hanya saja ia tidak bisa tidur di kamar itu. Ingin tidur di kamar keduanya tapi Sina tak suka berbagi dengan Zoe ia berkata jika dirinya membuatnya tidak leluasa untuk tidur. Apanya! ia tidak seburuk itu ketika tidur. Ia bukan pengigau.
Akhirnya ia di kamar Cesi. Cesi menerima tapi berkata jika tengah malam alarmnya hidup jangan salahkan Dia. Akhirnya ia tidur disana, namun Cesi memiliki kebiasaan membuat alarm tengah malam akhirnya ia terus terbangun. Cesi itu anak yang alim.
Akhirnya ia balik ke kamar dengan perasaan was-was hingga pagi hari. Sepertinya ia trauma.
Cesi terus bercerita jika semalam Zoe tidak bisa tidur karena ada kecoa entah dari mana datangnya tapi semalam ia menginap di kamarnya hanya saja malamnya ia kembali ke kamarnya. Sepertinya Zoe lumayan berani, Cesi sedikit meragukan dari kantung matanya.
Sedangkan Sina sendiri hanya acuh ia semalam bermain game hingga larut malam, karena merasa tidak bisa tidur apalagi ia memiliki insomnia. Walau tidak parah tapi mengganggu. Hanya saja Sina mengabaikan itu.
Naya pergi ke dapur meminta ketiganya untuk menunggu. Ia ingin membuatkan teh susu jahe agar ketiganya hangat. Naya menaruh jahe geprek dan teh celup ke dalam panci yang berisi air.kemudian masak sampai mendidih dan kecium bau jahenya.Tuang susu kental manis ke dalam gelas, kemudian masukkan air teh dan jahe tadi ke dalam gelas yang berisikan susu.Aduk dan teh susu jahe siap diminum. Ketika sedang menunggu mendidih Cesi duduk di meja dapur sambil menatap Naya kepo. Sedangkan Sina hanya ikut ikutan tapi ia penasaran. Zoe berjalan malas.
Naya menaruh susu di ketiga gelas itu. Meminta mereka memberikan kata stop mengukur kemanisan susu atau menaruh gula jika tidak suka susu.
Ketiganya menatap heran apalagi dari jahenya sendiri sangat menyengat ketika di cium. Sina sedikit menjauhkan memberikan kesan mual. Membuat Cesi menatap Zoe bingung.
"Susu jahe banyak manfaatnya. Selain untuk menghangatkan badan juga memberikan kekebalan pada imun juga beberapa manfaat lainnya. Apalagi dari rempah-rempah itu sendiri memiliki berbagai macam vitamin juga keuntungan untuk manusia. Jangan terlalu memandang apapun karena itu jelek. Bisa jadi apa yang kamu pandang itu berlian."
"Apanya yang berlian, ini cuma susu jahe. Tapi baunya terlalu menyengat!" Ujar Sina.
Keduanya mengangguk. Naya kemudian memberikan penjelasan kembali, "kalian terlalu dimanjakan! sesekali kalian harus ikut ke Bandung. Mungkin bisa nanti ketika liburan. Obat saja pahit rasanya jika tidak ingin pahit maka jangan sembuh. orang kaya juga ingin kaya harus merelakan sesuatu bukan? Kalian pasti paham apa yang aku bicarakan. Cepat minum! Lihat mata panda kalian yang sudah menjadi panda. Tinggal di pajang di negara bambu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
terimakasih telah membaca juga mendukung author yang amatir ini.🙏☺️
__ADS_1
salam
SEE 🫠