DOKTER DINGIN I LOVE YOU

DOKTER DINGIN I LOVE YOU
intuisi seorang dokter


__ADS_3

Naya terdiam di balik kerumunan itu. Naya melihatnya. Melihat bagaimana Brian mengkhawatirkan seorang Melisa yang menjadi tambatan hatinya. Brian melihatnya namun tak menggubrisnya. Brian tahu ia ada di situ, tapi ia menghiraukan itu. Tanpa terasa air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. 


Apakah ia egois menginginkan suaminya hanya untuknya, tanpa menghiraukan jika Brian adalah dokter yang harus selalu siaga jika ada seorang manusia yang membutuhkan pertolongannya. 


Naya berjalan mengikuti kerumunan itu. Setelah bajunya diganti oleh pelayan Brian langsung memeriksa Melisa hanya saja Naya tak kuat melihat bagaimana suaminya lebih khawatir pada seorang mantan dari pada hati istrinya. Naya perlahan-lahan pergi dari ruangan itu menyisakan Brian dan Melisa. 


******


Acara ulang tahun Lala sebenarnya sudah selesai sedari tadi. Ketika Brian sedang bercengkrama dengan Melisa sedikit demi sedikit teman-teman dan para kolega Aldi bepergian pulang setelah mereka memberikan kado. 


Maya duduk di di samping Naya yang memandang keluar balkon lantai dua. Maya menghela nafas anaknya ini sudah tahu memiliki istri, tapi tidak bisa melihat situasi. Jika memang niatnya ingin menolong mengapa tidak membiarkan Aldi saja. Sudah cukup ia melakukan CPR. Sebenarnya Maya bahkan tidak rela Brian bersentuhan dengan Melisa. Apalagi datang memberikan kado, lalu pergi bertemu anaknya, menggoda agar Brian kembali menaruh hati. Ia tidak akan melakukan itu sudah cukup ia memiliki Naya.


Maya menatap langit yang cerah itu. "Brian itu anaknya ceria. Cuma emang harus di ketok dulu, di ceramahi dulu, baru setelah menyesal minta maaf." 


Naya langsung menatap mertuanya ini, entah kenapa ia seperti mendapatkan tempat bersandar ketika Brian salah maka ia disalahkan bukan dibenarkan. 


"Kalau kamu merasa Brian terlalu dingin, terlalu kejam sama kata-katanya, terlalu semua-mua. Kamu ketuk saja hatinya, matanya, semua indranya biar semuanya tertuju sama kamu." nasehat Maya. Brian itu anaknya bandel sedari dulu tidak bisa diam hanya saja ketika melihat kakaknya yang sangat ingin mengikuti jejak Almaco, Brian menjadi dingin. Menjadi lebih tertutup ia tidak ingin Kakaknya ini merasa jika ia lebih disayang, karena kakeknya sendiri selalu menyuruh Brian mendekat tanpa memandang Effendy yang sudah bersusah payah. 


Maya menatap menantunya, memegang kedua tangan ringkih ini. "Naya, Mama minta maaf kalau kamu harus dinikahkan dengan Brian yang kamu sendiri saja tidak tahu bagaimana Brian itu. Tapi Mama cuma memberikan saran untuk kamu, seorang wanita itu adalah tulang rusuknya pria, tapi jika kamu masih bisa bersabar, tolong gigit telinganya, agar dia mendengar kamu. Tampar pipinya agar dia melihat ke arahmu. Jangan biarkan Brian berjalan sendiri. " ucap Maya menatap sedih kearah menantunya ini. "Tapi kalau kamu lelah. Mama mohon istirahatlah." 


Naya paham sekali perkataan ibu mertuanya ini. Di satu sisi memang mertuanya ini memintanya untuk mendisiplinkan anaknya, tapi di satu sisi ibu mertuanya bercerita tentang masa lalu Brian yang tidak mudah dilalui, membuat ibu mertuanya meminta dia untuk bersabar akan itu, tapi di satu sisi ibu mertuanya tak mengizinkan ia untuk berpisah jika ia lelah. 


Naya memandang ibu mertuanya ini. Ia menunduk mencium tangan ibu yang melahirkan suaminya. Ia tidak bisa menolak bukan, seorang ibu yang berjuang untuk anaknya. Hanya saja Naya ingin melihat bagaimana usaha Brian, jika hanya ia yang berjuang maka akan berat sebelah. Naya tidak akan bisa menanggung itu. 


"Pergilah temui suamimu." Maya mencium kening Naya menyuruh Naya membawa Brian untuk berganti baju. 


*****

__ADS_1


Brian menatap Melisa, setelah memeriksa dengan stetoskop atensinya menatap Melisa dengan datar. Wanita ini berani mempermainkannya, ia sudah berusaha untuk berkorban menceburkan dirinya ke dalam kolam, karena ia tahu wanita ini tidak bisa berenang. Sayangnya kebaikannya ini dimanfaatkan. Ia tidak suka itu. Brian langsung keluar tanpa membereskan semua peralatan itu. Tanpa berniat melanjutkan pemeriksaan yang belum selesai. 


Sayangnya sebelum ia menyentuh gagang pintu sebuah pelukan hangat mendekapnya. "Bri." Suaranya parau. Melisa parau, ia melakukan itu hanya ingin mendapatkan perhatian Brian. Tapi mengapa Brian tetap saja masih sama. Melisa menangis dalam pelukannya itu, baju yang basah bertambah tercetak di punggung Brian yang mengenakan kemeja putih, membuat beberapa bagian tercetak jelas. 


"Lepas!" ucap Brian dingin. "Untuk apa melakukan hal yang kamu sendiri tidak bisa lakukan, bagaimana nanti kalau kamu tenggelam! Hah!" Brian langsung berbalik memegang kedua pundak Melisa. 


Melisa bertambah berlinang, "aku takut kamu tidak memaafkan ku, Bri." Melisa menatap mata Brian dengan sangat mendalam. 


"Aku cinta kamu, Bri." ucap Melisa langsung memeluk Brian. 


"Mas." Naya membuka pintu ruangan itu tepat ketika Melisa mengucapkan cintanya. Brian tersentak mengalihkan pandangannya pada Naya. Ia langsung melepaskan pelukan Melisa dengan kasar hingga membuat Melisa mundur beberapa langkah dari Brian. 


"Ganti baju dulu, Mas." Brian seperti tertangkap basah. Seperti laki-laki bejat yang tengah berselingkuh dan diketahui oleh istri pertama. 


Naya langsung berbalik pergi dari kamar itu. Brian tak ingin menjelaskan apapun pada siapapun saat ini ia pun masih keadaan linglung. Ia baru ingat jika dirinya sudah memiliki Naya. 


Melisa menatap sepasang suami istri itu dengan melipatkan kedua tangannya. Melisa tersenyum senang. Apanya yang suami istri harmonis, apanya keluarga bahagia. Melisa akan menghancurkan itu semua membuat perkataan baik itu akan tersemat di keluarganya nanti bersama Brian. 


****


Brian menaruh kepalanya di ceruk Naya, "maaf." Satu kata yang membuat Naya menghela nafas. Ia mendorong suaminya agar berdiri. Menatap lekat baju suaminya yang membuat siapa saja menelan ludah. Seperti di gambar-gambar fiksi seorang CEO yang terjun ke kolam menyelamatkan pemeran utama. Sayangnya pemeran utama itu bukan Naya yang jelas-jelas istrinya. 


Lagi-lagi Naya menghela nafas membantu suaminya melepas dasi yang basah itu. Setelah ikatannya dilepas, Naya ingin membuka kancing baju suaminya. "Naya." Panggil Brian. Brian memegang kedua tangan Naya. Naya sebenarnya sedikit tersentak dengan kata-kata Brian. Ia baru pertama kali mendengar Brin menyebut namanya setelah sekian lama nama yang tersemat di ijab kabul itu terucap kembali dengan nada yang berasal dari hati. 


"Maaf." Brian mencium tangan Naya. "Maaf." 


Sepertinya Naya yang terlalu berharap lebih pada Brian. Sebenarnya Brian ingin meminta maaf tidak sih, maaf buat apa jika ia tidak menjelaskannya. Bukankah tetap saja cerita itu tidak akan berubah versi. 

__ADS_1


"Kenapa, Mas?" Naya menarik tangannya, sayangnya Brian tak mengizinkan itu. 


"Saya minta maaf. Tadi itu kecelakaan. Itu intuisi seorang dokter." 


"Yang mana?" Naya masih butuh penjelasan dari Brian perkataanya masih merujuk ke berbagai arah. 


"Semuanya." Brian menaruh kedua tangan Naya di satu tangannya yang gagah. Satu tangan lagi digunakan untuk memeluk Naya. 


"Kata cinta juga. Baru tahu itu kecelakaan." Naya sengaja menyindir suaminya ini agar sadar diri. 


Brian menghela nafas di ceruk Naya membuat sang empu berkontraksi, "itu salah dia. Bukan salah saya." 


Naya mengusap pipi Brian hingga ke dagu membuat sang empu menatap manik mata Naya, "mangkanya kamu jangan tebar pesona, Mas." 


"Adu duh." Naya menggigit tempat yang tadi di elusnya, sengaja ia memberikan ancang ancang agar Brian merasakan apa yang ia rasakan. Sepertinya ia butuh pelampiasan. 


"Nay. Kamu kalau mau ngisap disini aja." ujar Brian menunjuk lehernya. Membuat Naya memincing memutar telinga Brian. 


"Nggak, aku lagi datang bulan." pernyataan Naya membuat Brian menatap manik istrinya, tanggal berapa sekarang. Brian bersemirik istrinya ini sudah berani berbohong padanya. 


"Ah!" Brian langsung menggendong Naya ala karung beras ke kamar mandi. 


"Mas, aku lagi ada tamu!" 


"Ini tanggal bebas kamu!" 


"Kamu tahu dari mana?" 

__ADS_1


"Intuisi seorang dokter." 


Brak. Brian menutup kamar mandi itu dengan tergesa. 


__ADS_2