
Seorang model telah sampai di ibu kota Jakarta banyak fans yang telah menantinya karena banyak karya-karyanya yang mendunia. Melisa Surya Wicaksono, yang kerap dipanggil Melisa Wicaksono yang telah berwara wiri di dunia permodelan.
Berita itu telah menyebar dimana-mana begitu pula di rumah sakit Mahesa Medika. Brian yang saat ini telah selesai melakukan pengecekan terhadap pasiennya. Namun Brian sedari bangun tidur merasa tidak enak badan apalagi ia lupa minum paracetamol dan juga ia lupa memakan bekal yang diberikan Naya padanya.
Brian terlalu sibuk hari ini apalagi ada kecelakaan yang membuatnya lupa akan kesehatannya. Makanan itu sudah dingin Brian tidak menyukai makanan yang sudah lama. Ia tidak terbiasa.
Setelah membereskan berkas berkas Effendy dan mengalihkan semua pasiennya, Brian bisa sedikit menghela nafas.
Brian mengunci ruangannya. Sedari di jalan para karyawan yang mengetahui masa lalu Brian terus membicarakannya. Sayangnya Brian acuh akan itu ia sudah terlalu lelah.
******
Kepalanya berdenyut ketika menaiki tangga, sedikit berkunang-kunang, tapi ia masih kuat untuk menaiki tangga. Naya terus memanggil Brian Tapi Brian menggunakan nama lain yang saat ini mengusik hatinya.
Brian melangkah mendekati Naya yang ia kira Melisa memeluk Naya bergumam rindu, sayangnya setelah itu ia pingsan.
Naya bermuka masam ketika suaminya pingsan tapi yang ia ingat malah mantannya. Entah apakah masih mantan atau mereka memiliki hubungan dibelakang pernikahan.
Naya menyelimuti tubuh suaminya jika dilihat lihat ia juga kasihan, sedikit mendengar dari Mama Maya jika Brian di tinggalkan karena mantannya ingin menjadi model yang terkenal tanpa campur tangan Brian, sayangnya ia tidak tahu jika populernya ia disana masih ada ikut campur Brian.
Naya juga melihat lihat kamar yang pertamakali ia masuki kelabu namun feminim kata Mama Maya di kamar suaminya ada foto masa kecil. Naya mengambil foto itu di nakas suaminya memiliki pipi yang tembem juga senyum yang manis sayangnya senyum Brian dewasa belum pernah ia lihat.
Di sebelahnya foto anak anak yang sedang berpelukan ketika di foto. Itu adalah foto masa kecil Effendy, Aldi, Brian juga Melisa sayangnya Naya tidak tahu.
Ketika di sentuh sebuah foto kecil yang biasanya ada di saku terjatuh. Wanita yang cantik ketika disandingkan dengan anak kecil itu begitu mirip. Naya membaliknya, Melisa aku rindu.
Naya menatap suaminya yang tertidur ternyata suaminya pernah menjadi alay. Juga ada beberapa foto Brian yang lumayan besar di dinding disisipi foto kecil yang sama dengan di tangannya.
Kapan fotonya dipasang di dinding disandingkan dengan Brian.
Naya menutup pintu itu. Pergi mengambil kompresan.
Naya menaruh kompresan di kening Brian. Ketika Naya hendak pergi lengannya dicekal sambil bergumam nama Melisa. Naya ingin sekali menaruh bantal di wajah Brian. Biarlah malam ini ia tinggal.
*******
Malamnya Brian terbangun karena merasa tenggorokannya kering, apalagi ada yang menetes di tangannya. Matanya menangkap siluet wanita. Itu Naya yang tertidur di tangannya. Tangannya kesemutan juga kebas apalagi Naya membuat air terjun sungguh tak bisa menjaga imej.
Ketika di tarik Naya merasa terusik, ia langsung membuka matanya mengelap ujung bibirnya. "Sudah bangun,Mas? Butuh apa?masih ada yang sakit?"
__ADS_1
Brian menggerakkan dirinya agar bisa duduk, Naya sedikit membantu. "Haus," dengan sigap Naya mengambil air minum di samping nakas dan membantu Brian untuk minum.
Brian terus menatap Naya. Entah kenapa tatapan itu membuat Naya risih. Brian mendapatkan kabar jika sebelum kejadian itu perempuan yang bersama Effendy kabur dan sedang dalam pengejaran ia merasa kasus ini sangat rumit apalagi sampai beberapa orang di curigai.
"Ada apa?" Naya tak tahan untuk bertanya.
Brian menggeleng menaruh gelas. "Tidurlah!"
"Nggak apa-apa, aku mau Jaga, Mas,"
Brian menaikkan alisnya,"mau Jaga atau mau buat air terjun,"
Naya tersenyum canggung, ia ingin menghilangkan ingatan itu dari Brian, mukanya malu.
"Tidur! Ini masih malam. Terus bagaimana sama, Mas?"
"Ada bibi,"
"Bibi?" Naya menaikkan satu alisnya, merasa tidak dihargai. Brian memiliki ia sebagai istri mengapa tidak meminta bantuannya.
"Aku siapa, Mas?"
"Aku di hidup kamu,Mas,"
"Kenapa bertanya, sudah malam. Tidur!"
Naya merasa sedih ternyata ia masih belum di akui mantannya saja masih berbekas. Apa ia cuma angin lewat di kehidupan Brian.
"Oke, aku balik. Kalau ada apa-apa yang mewajibkan aku untuk datang panggil saja," dengan lesu Naya keluar dari kamar itu.
Brian menatap pintu yang tertutup. Ia sebenarnya bingung hatinya masih terbayang bayang kisah masa lalu, tapi ketika Naya yang bukan siapa-siapa harus masuk ke kehidupannya yang saat ini masih kelabu. Jujur hatinya mulai goyah dengan tekad Naya. Tapi juga dinding yang lain di hatinya masih belum menerima.
******
Wanita itu ditakdirkan berfikir menggunakan hati, ketika hari wanita sudah jatuh cinta mau bagaimana lagi? Ketiak yang bau pun dianggap wangi.
Sewangi wanginya juga akan luntur oleh waktu sayangnya mau lunturnya kapan? Naya sepertinya masih kuat untuk mencintai suaminya. Kini bantal yang biasanya dijadikan untuk tidur di jadikan penahan suara ketika menangis, sepertinya ia butuh boneka untuk menggantinya.
Kata ibunya ketika menikah pasti banyak lika-liku entah apa pasti ada saja kesalahan-kesalahan yang sepertinya besar karena hidup manusia itu butuh orang lain, mangkanya harus ada komunikasi.
__ADS_1
Baru juga sebentar berkomunikasi dengan suaminya yang ada dia sudah kebosanan. "Huaaa! Hik,hik," yang paling sakit ketika kita menangis adalah menahan tangisannya untuk keluar. Pasti besok ia akan menjadi boneka Mampang yang matanya besar.
*******
Benar saja pagi ini ketika Naya bangun matanya seperti bengkak karena semalam menangis hingga bantalnya perlu dijemur. Tapi sepertinya Brian akan membeli bantal yang baru daripada menjemurnya.
Di meja makan Brian menatap Naya aneh tidak biasanya si cerewet ini bermuka layaknya ikan buntal.
"Jangan dilihat, Mas,"
Brian berdehem,"saya punya mata. Lagian pagi-pagi mata sudah bengkak saja habis menonton apa kamu?"
"Habis nonton suami yang selingkuh sama mantan pacarnya yang nggak bisa move on!" Naya mencak mencak pada suaminya tak lupa melayani si gagal move on.
Brian acuh karena ia tak merasa. Sepertinya.
"Jangan ke rumah sakit, hari ini lembur,"
"Em," Brian acuh, melanjutkan makan tanpa menanyakan Naya kenapa.
Naya menyalami tangan suaminya yang masih kaku, tak terbiasa. sepertinya Brian harus terbiasa karena culture shock berpasangan dengan si cerewet yang selalu mempunyai kebiasaan yang out of the box.
"Aku taruh kue kalau, Mas nggak bisa makan makanan dingin, tapi di dalamnya juga ada nasi sama lauk. Aku bakalan bosen nggak ada kamu,"
"Biasanya wanita berbelanja jika bosan. Kamu juga belum menggunakan uang yang Aku kasih setiap bulannya," saran Brian.
Ia jadi memikirkan Melisa yang selalu mengajaknya belanja sayangnya profesinya sebagai dokter yang tidak bisa meninggalkan rumah sakit seenaknya karena berhubungan dengan nyawa dan setelah itu Melisa akan ngambek. Tinggal di beri uang dan kado Melisa biasanya tak akan marah lagi.
"Nggak usah deh. Aku mau mas aja pulang dari rumah sakit beliin aku boneka,"
Brian mengernyit,"boneka apa?"
"Boneka apa aja….. udah ah mas sana berangkat nanti telat,"
Brian aang didorong menurut saja toh memang sedari tadi ia ingin berangkat hanya tertahan oleh Naya yang ingin mengucapkan beberapa patah kata yang menjadi kalimat panjang.
Naya tersenyum memandang pergi suaminya.
__ADS_1