
Naya menatap mereka bertiga Cesi selalu tersenyum ramah, Sina hanya diam sesekali menanggapi, dan Zoe selalu memberikan perhatian lebih ketika Cesi berbicara. ia tahu ketiganya baik hanya saja mereka masih belum mengenalinya.
"Menginap saja Mah. Itung-itung aku simulasi jaga tiga anak," canda Naya.
Maya tersenyum manis pada menantunya ini, "yasudah biasanya mereka akan tidur di lantai bawah,"
"Mama nggak nginap?"
"Mama mau berduaan aja sama Papa tanpa ada yang ganggu,"
"Berarti kali ini aku banyak yang ganggu dong Mah,"
Maya tergelak,"kalau begitu kunci pintunya,"
Ketiga gadis itu terus memperhatikan Naya yang bercengkrama dengan Maya. Lumayan.
Hanya saja pikiran Zoe berbeda.
*******
Naya yang kini di kamarnya bolak-balik ia sudah menelpon suaminya tapi tidak diangkat, mereka bisa curiga bukan jika Naya dan Brian tidak sekamar. Akhirnya Brian membalas chat dari Naya.
"Yasudah bawa barang-barang kamu ke kamar."
Hanya itu. Brian hanya menjawab seperti itu dari berpuluh puluh kata yang Naya kirimkan hanya itu. selanjutnya Brian tidak aktif. Suaminya ini.
Naya membuka sedikit kamarnya menengok kesana-kemari takut ada yang melihat. Naya mengeluarkan kopernya berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar Brian. Kini mereka berdua akan tidur sekamar sampai acara keluarga beres. Apa yang akan terjadi nanti.
Naya duduk di kasur Brian mengelus elus sprei itu aroma suaminya terasa sekali, ia suka. Sampai akhirnya tertidur karena aroma yang menenangkan itu.
*******
Cklek.
Brian masuk ke dalam kamar. Badannya pegal-pegal sehabis bergulat dengan pekerjaan yang banyak. Brian memegang pundaknya yang pegal juga mencoba untuk menggerakkan diri hingga bunyi kretek pada tulangnya.
Brian tertegun. Menghentikan langkahnya ia sedikit lupa jika Naya tadi memberinya pesan. tanpa membuka kaos kaki yang dilepas, tanpa membersihkan diri Naya langsung tidur di kasurnya. Brian tanpa basa-basi membangunkan Naya dengan menepuk tangannya.
Naya merasa ada tepukan di tangannya mencoba untuk bangun. Suaminya sudah pulang ia tersenyum walau setengah sadar.
"Mas," Naya menyalami suaminya.
__ADS_1
"Kamu tidur tanpa melepaskan kaos kaki? Tanpa bebersih badan?" Tanya Brian.
Naya nyengir, ia lupa saking nyamannya kasur, juga aromaterapi alami yang terdapat di sprei itu ia langsung terlelap melupakan sejenak apa yang membuatnya rungsing.
"Hehehe. Soalnya kasurnya wangi terus nyaman,"
"Siap-siap kita makan malam,"
"Siap pak dokter!" Naya memberikan hormat pada Brian kemudian berjalan riang ke pintu kamar ketika memutar handelnya Brian mengintrupsi.
"Mau kemana?" Brian terheran pada Naya sepertinya nyawanya belum kumpul.
Naya mengernyit, tadi siapa yang suruh dia mandi aneh deh,"mandi."
"Kamu mau ketahuan kita pisah kamar,"
Naya loading sebentar, ia tersenyum canggung berbalik menuju kamar mandi.
Brian menghela nafas ada ada saja keabsurdan Naya.
********
Ia memanggil suaminya juga tiga anak yang diasuhnya mulai malam ini. Naya menaruh nasi di piring suaminya. Hari ini ia masak menu sunda. Sayur kangkung, ayam goreng, tempe, tahu juga ada beberapa lalapan.
Suaminya tidak akan protes soal makanan jika itu layak diberi jempol maka ia makan. Namun ketiga anak asuh menatap Naya dengan mengerutkan alis. Mereka tahu makanan itu, tapi belum pernah mencobanya.
"Ctk. Yang bener aja!" Seru Zoe memandang makanan itu dengan tatapan menghina.
Semua atensi menatap Zoe.
Cesi menghilangkan raut aneh itu,"mungkin bisa dicoba. Dari review review yang ada juga bilang ini salah satu makanan terenak," Cesi mencoba menghilangkan kecanggungan itu.
"Enak dimananya? Ini tuh makanan kampungan," sarkasnya menunjuk kangkung.
Cesi menatap Naya. Naya tersenyum berkata,"kamu tahu pizza?" Mereka mendengarkan Naya. Begitu juga Zoe hanya saja ia berpura-pura mendengus.
"Pizza adalah makanan rakyat miskin dari Italia, tapi kenapa sekarang harganya mahal di sana?" Naya menatap satu persatu wajah di meja makan itu. Mereka memiliki pemikiran yang masih labil. Butuh dorongan, motivasi juga semangat dari sekitarnya. Naya tahu pada masa masa mereka, mereka ingin diperhatikan lebih, dimengerti, tapi bingung cara menyampaikannya.
"Pasti kalian pernah makan pizza dong? Malah mungkin jadi pilihan menu kalau dirumah nggak ada makanan. Tapi semenjak ratu Margherita mencoba pizza. Semua pandangan yang tadinya menghina langsung mengagumi. bahwa makanan ini layak dikonsumsi juga rasanya yang ringan, harganya yang murah, juga pembuatannya yang praktis membuat kepopulerannya melejit… so? Don't judge food by it's cover."
Naya tahu mereka yang terbiasa makan makanan western yang hidup berkecukupan. pastinya belum pernah makan makanan seperti ini. Bisa saja mereka belum pernah mencoba makanan ringan seperti pisang goreng atau piscok. Itu adalah dessert terenak di dunia.
__ADS_1
Naya menyendokkan kangkung pada piring mereka bertiga. Cesi menatap Sina menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu agar ia tahu bagaimana reaksi Sina karena Sina sendiri orangnya mirip Brian tak pilih-pilih makanan, tapi jika tak enak ia tak ingin mencobanya kembali ia akan mendikte bahwa itu tak layak makan.
Sina dengan santai menyendok kangkung itu, rasanya seperti perpaduan gurih, krispi, pedasnya dapat. Sina tak bisa membayangkan lagi karena ia bukan chef.
Cesi yang melihat Sina yang enjoy mungkin lebih ke menikmati makanan itu. Cesi menaruh kangkung itu di lidahnya ketika dikunyah ini bisa menjadi makanan kesukaannya. "enak!" Cesi memberikan dua jempol pada Naya.
Zoe sebenarnya lapar apalagi sedari tadi ia menatap kedua saudaranya yang terus lahap. Ia juga ingin tapi terhalang gengsi.
Naya tersenyum menatap mereka lahap, ia tahu Zoe gengsi tapi jika Zoe tidak makan ia akan sakit. Ia menyenggol suaminya untuk memberikan makanan pada Zoe.
Brian langsung bertindak memberikan lauk pauk pada Zoe, "makanlah!"
Zoe menatap binar pada Brian memang sepupunya ini tahu sekali perasaan perempuan dari pada Naya. Artinya masih ada secercah harapan Brian dengan Melisa.
Brian sedari tadi hanya memperhatikan bagaimana Naya mengambil hati ke tiga sepupunya yang sedikit susah diatur. Mungkin Naya bisa menaklukkan Cesi dan Sina tapi sepertinya belum dengan Zoe. Yah, lumayan untuk pendekatan.
*******
Di dalam kamar Zoe ia mendapatkan telpon dari kak Mel-nya. Zoe memberi kabar gembira pada kak mel-nya jika ia masih punya harapan di hati Brian.
"Halo kak Mel. Jangan lupa,"
"Memangnya progres kamu sudah sampai berapa untuk memisahkan mereka?"
"Kak Zoe tuh jangan diragukan lagi. Intinya besok kita ketemuan Kakak jangan lupa traktir aku. Disini jenuh," keluh Zoe.
"Yasudah tempat biasa,"
"Ya Sudah, ya kak aku nggak bisa lama-lama telepon Kakak soalnya Kak Brian suruh aku keluar kumpul di ruang tamu."
"Bye!"
Di seberang sana mengernyit sejak kapan Brian suka berkumpul. Setaunya Brian adalah sosok introvert yang anti yang namanya kumpul jika tak wajib. Diajak pacarnya saja sampai membuat kesal gara gara Brian tak suka keramaian. Jika tebakannya benar. Ia harus cepat cepat merebut Brian. ia tahu Zoe hanya ingin menjodohkan Brian dengan Melisa bukan dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
wahhhh ada apa ini!!!
semangat para pejuang🔥☺️
salam SEE 🫠
__ADS_1