
Dokter Jack terkejut sekaligus panik setelah mendapat telepon dari putranya. Brian mengatakan harus melakukan visum, tapi ia tak menjelaskan siapa dan bagaimana. Karena Brian langsung menutup ponselnya. Dokter Jack memesan taksi lalu segera menuju rumah sakit Pertamina.
Setelah sampai, dokter Jack langsung mencari keberadaan putranya. Ia menemukan Brian di ruang tunggu.
"Ada apa Brian?" tanya dokter Jack.
Brian melihat ayahnya, dokter Jack terkejut melihat wajah putranya.
"Apa yang terjadi pada wajahmu?" tanya dokter Jack lagi.
"Nanti saja pa, jadilah saksi aku melakukan visum." pinta Brian.
"Kita butuh anggota kepolisian untuk melakukannya. Kita tidak bisa..."
"Tidak pa, cukup kita dan beberapa dokter. Nanti aku akan menjelaskannya setelah sampai di rumah." potong Brian.
Dokter Jack menghela nafasnya, ia mengikuti keinginan putranya untuk melakukan visum.
Beberapa jam kemudian...
"Apa yang sebenarnya terjadi Brian? Mengapa kau bisa dipukul? Dan bagaimana Zean?" tanya dokter Jack.
"Bisakah kita pulang dulu pa." kata Brian.
"Tunggulah sebentar di mobil, papa akan menemui dokter Fathema. Papa sudah lama tak bertemu dengannya." ujar dokter Jack.
"Baiklah." jawab Brian seraya meninggalkan ayahnya.
Di dalam mobil, ia terus menatap ponselnya. Zean belum menghubunginya kembali. Hari semakin sore, ia merindukan wanita itu walaupun masih sangat marah.
"Zee, sepertinya kau sama sekali tak mengkhawatirkan aku. Kau tak berusaha menghubungi setelah aku tak menjawab teleponmu." pikir Brian.
Brian terus mengetukkan jarinya pada stir mobilnya, ia cukup lama menunggu ayahnya keluar. Setelah hampir satu jam, akhirnya dokter Jack keluar dari rumah sakit.
"Maaf papa lama." ujarnya.
"Aku hampir meninggalkan papa." jawab Brian.
Dokter Jack tertawa. "Sepertinya suasana hatimu semakin buruk pak." godanya.
Brian menyalakan mobilnya untuk kembali ke rumahnya.
"Dokter Fathema mengatakan kau bisa memulai pekerjaan minggu depan jika kau mau." ujar dokter Jack.
__ADS_1
"Aku ingin bekerja besok." jawab Brian.
Dokter Jack terkejut. "Kenapa terburu buru, bukankah kau harus mengantar papa ke bandara."
Brian tersenyum. "Papa yang terlalu terburu buru, jarak Jakarta ke Lampung hanya 40 menit. Cuti papa juga masih 3 hari lagi."
Dokter Jack tertawa lagi. "Kau benar, tapi papa merindukan rumah sakit disana."
"Baiklah, aku akan bekerja lusa." kata Brian.
"Jangan terburu buru Brian, kau bisa beristirahat lebih lama. Dan selesaikan masalahmu dengan Zean. Apakah luka itu tak sakit?" tanya dokter Jack.
"Yang sakit hatiku." jawab Brian datar. "Apa papa tak penasaran?" tanyanya.
"Aku lelah bertanya." jawab dokter Jack.
Tawa Brian meledak hingga membuat bibirnya sakit. "Maafkan aku pa, aku dipukul tanpa melawan. Kejadian itu di depan Zean, di apartemennya. Pria gila yang pernah melamar Zean. Pria itu terus memaksa Zean agar menerima perasaannya, saat itu aku baru saja sampai disana. Aku mendengar semua rayuannya, aku baru tahu ada seorang polisi seperti itu, sialan." umpatnya seraya menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku sangat emosi, untuk mengusir pria itu dari hadapan Zean, aku mengakui sebagai calon suaminya."
"Dan itu benar." potong dokter Jack.
"Jangan potong ceritaku pa." ujar Brian.
"Baiklah lanjutkan."
"Lalu bagaimana kau bisa ke rumah sakit tanpa Zean?" tanya dokter Jack.
"Aku bertengkar dengannya. Zean memintaku melupakan masalah ini karena ia tak ingin berurusan lebih panjang, ia memikirkan jabatan barunya." jawab Brian.
"Dan kau kesal lalu meninggalkan Zean." kata dokter Jack.
"Aku mau apalagi." ujar Brian.
"Kau benar benar bodoh, Zean bukan hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi ia juga memikirkanmu. Seharusnya kau mengerti maksudnya."
"Aku bukan bodoh pa, tapi apa aku harus membiarkan pria yang memukulku itu?" tanya Brian.
"Kau tahu seperti apa saat Zean masih kecil, ia setiap hari mendengar kedua orang tuanya berdebat soal pekerjaan ayahnya yang selalu dalam bahaya. Papa yakin, Zean hanya ingin menghindari musuh demi kebaikanmu Brian. Kau seharusnya melihat sisi seperti itu. Bukankah kau juga tahu alasan Zean menjadi seorang polisi, ia hanya takut musuh ayahnya membalaskan dendam mereka saat kedua orang tuanya semakin tua. Pekerjaannya untuk melindungi keluarganya." jawab dokter Jack.
"Ya Tuhan, kenapa aku melupakan itu?" kata Brian menyesal.
"Tapi kau juga benar Brian, kau harus mempunyai bukti visum. Kalau bisa segera dapatkan rekaman cctv apartemen itu. Setidaknya kau memiliki bukti yang kuat jika pria itu terus mengganggu Zean."
"Memang itu tujuanku pa. Aku harus kembali ke apartemen Zean."
__ADS_1
"Tak perlu Brian, lihat mobil siapa itu." ujar dokter Jack.
Brian mengikuti pandangan ayahnya dan terkejut, Zean ada di depan rumahnya. Wanita itu bahkan sudah mengambil mobilnya dari bandara.
"Sepertinya Zean memang wanita yang terbaik untukmu. Selesaikanlah masalah kalian, papa akan menyiapkan makan malam." ujar dokter Jack seraya turun dari mobilnya dan menyapa Zean sebelum akhirnya ia masuk ke rumah putranya.
*****
Brian menghampiri Zean yang sedang menunggunya. Ada penyesalan dan rasa bersalah yang terlihat di mata wanita itu. Brian memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku sayang." ujar Brian.
Zean terisak. "Akulah yang salah, maafkan aku."
"Tidak, akulah yang salah. Seharusnya aku lebih mengerti dirimu." jawab Brian.
"Bagaimana lukamu, apa sudah diobati, apa masih sakit, apa perlu kita ke dokter, apa..."
Brian membungkam mulut Zean dengan ciuman sekilas.
"Bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaanmu nona cantik. Aku sudah baik baik saja, ini hanya luka kecil."
"Apa kau melakukan visum?" tanya Zean.
Brian bergeming, ia takut menjawab dengan salah.
"Bri, kau harus melakukan visum. Kita laporkan masalah ini, aku sudah memikirkannya dengan matang. Aku yang salah melarangmu, seharusnya aku tak memikirkan pekerjaanku."
"Dengarkan aku Zee, aku sudah melakukan visum tapi bukan untuk memperpanjang masalah ini. Aku hanya ingin memiliki senjata untuk menghancurkan pria itu jika ia terus mengganggumu. Aku akan berhenti sekarang, aku ingin menyelesaikan masalah yang lebih penting sekarang. Masalah kita sayang."
Zean menggeleng. "Kita tak punya masalah, aku yang terlalu egois karena terlalu mencintaimu Bri. Maafkan aku."
Brian memeluknya lagi. "Aku senang kau cemburu padaku, aku memang bodoh. Tidak seharusnya aku menceritakan wanita lain di depanmu. Tapi ketahuilah Zee, cintaku padamu terpupuk sejak usiaku 9 tahun. Kau pikir, bisa menggantikan posisimu di hatiku dengan wanita lain. Itu tak mungkin sayang, tak akan ada wanita yang bisa menggantikanmu."
Zean kembali terisak, ia sangat bahagia tapi ia juga takut.
Brian menghapus air matanya. "Jangan menangis, aku benci air matamu sejak kau masih kecil. Cerialah seperti Zean yang aku kenal selama ini. Kau harus mendapat hukuman berat karena mengambil mobilmu sendirian di bandara." ancamnya.
Zean akhirnya tertawa. "Aku tak takut pak dokter." ejeknya.
Brian menautkan alisnya lalu mulai menggelitik Zean hingga wanita itu terus tertawa dengan lepas. Di balik jendela rumah Brian, dokter Jack ternyata sedang memperhatikan keduanya sambil tersenyum bahagia.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘