
Zean mendinginkan seluruh tubuhnya yang panas dengan mandi air dingin. Ia terus berdiri di bawah shower sambil memejamkan matanya. Ia tak bisa menahan diri saat bersama Brian. Jika kekasihnya itu tak berhenti mungkin ia rela melepas kesuciannya malam ini.
Zean menghela nafasnya lagi dan lagi, cukup lama ia mengguyur tubuhnya di dalam kamar mandi. Ia menyelesaikan mandinya lalu mengganti pakaiannya. Zean keluar dari kamar untuk menemui kekasihnya. Pria tampan itu sedang memejamkan matanya di sofa.
Dengan perlahan Zean menghampirinya, sesampainya ia di depan Brian, wanita itu menatap wajah Brian sambil tersenyum.
"Apa sudah puas memandangiku?" gumam Brian tanpa membuka matanya.
Seketika Zean berdiri tegak. "Kau pura pura tidur pak dokter."
Brian membuka matanya perlahan. "Aku benar benar ketiduran sampai mendengar langkahmu. Apa kau tak kedinginan terlalu lama di kamar mandi?"
Zean menggeleng. "Bahkan sebenarnya belum cukup mendinginkan tubuhku."
Brian tertawa dan menarik kekasihnya untuk duduk di sampingnya. "Maaf sayang."
"Untuk apa kau minta maaf?" tanya Zean.
"Untuk segalanya." jawab Brian.
Zean berdeham. "Bri, ayo kita menikah." ajaknya.
Tentu saja Brian terkejut mendengarnya. Ia seperti sedang bermimpi. "Apa katamu?"
Zean menundukkan kepalanya, ia tak ingin mengulangi kata katanya yang memalukan. Wajahnya memerah dan sangat gugup.
Brian memegang kedua pipinya agar wanita itu menatapnya. "Baiklah nona cantik, jangan merasa malu. Aku akan segera melamarmu secara resmi. Kita akan menikah setelah masalah dengan Teo selesai. Kita tak perlu menunda lebih lama lagi."
Zean tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Brian menarik Zean ke dalam pelukannya.
"Terima kasih sayang, kata itu yang selama ini aku tunggu." ujar Brian.
Alih-alih menjawab dengan bibirnya, Zean justru menjawab dengan suara perutnya yang keroncongan. Brian tertawa terbahak-bahak, ia membuat mulut Zean mengerucut karena kesal. Suara bel pintu berbunyi, Brian berdiri dari duduknya.
"Itu jawaban atas perutmu sayang." ujar Brian seraya menuju pintu.
Ternyata tamu tersebut adalah layanan pengantar makanan yang sudah di pesan Brian tanpa sepengetahuan kekasihnya. Brian membawa beberapa kantong plastik dan segera menyiapkan makanan itu ke meja makan.
"Kapan kau memesannya?" tanya Zean sambil membantu kekasihnya.
"Saat kau bersembunyi di kamar mandi." goda Brian.
"Aku mandi bukan bersembunyi."
__ADS_1
"Aku tahu sayang, kau mandi sambil bersembunyi." godanya lagi sambil terkekeh geli.
"Bri..."
Brian kembali tertawa, ia memang suka menggoda kekasihnya. "Ayo makan dulu sayang, aku tak ingin terganggu dengan suara perutmu saat berbicara serius."
"Kau benar benar menyebalkan." jawab Zean seraya duduk disana. "Apa yang ingin kita bicarakan lagi?" tanyanya.
"Tentu saja masalah Teo, kita benar benar belum selesai membahasnya." jawab Brian.
"Aku tak ingin membahas pria itu Bri, sungguh merusak suasana saja. Aku setuju apapun yang ingin kau lakukan. Jadi stop menyebut nama pria itu." kata Zean.
"Kau yakin setuju dengan apa yang ingin aku lakukan?"
Zean mengangguk. "Lakukanlah sebelum aku berubah pikiran."
"Baiklah jika itu yang kau mau, kita berhenti membicarakannya lagi. Makanlah yang banyak, akhir akhir ini kau semakin kurus Zee." perintah Brian.
"Aku terlalu sibuk untuk makan dengan teratur, seharusnya kau istirahat lebih awal Bri. Bukankah besok ada operasi lagi."
"Kau mengingat jadwalku sayang."
"Tentu saja, kapan aku melupakan semua tentangmu. Bahkan aku mengingat jadwal mata kuliahmu saat kau di Inggris." jawab Zean.
"Tapi kau bilang tidak ingin menemuiku lagi beberapa jam yang lalu." ujar Zean kesal.
Brian tertawa. "Itu hanya ancaman palsu, tapi kau sangat keras kepala. Aku benar benar kalah dengan sikapmu itu. Bagaimana aku bisa hidup tanpamu sayang."
Zean akhirnya tertawa. "Aku sebenarnya ketakutan, aku pikir kau benar benar akan meninggalkanku."
"Tapi harga dirimu terlalu tinggi untuk mengakuinya." ejek Brian.
"Jangan pernah mengatakan ingin meninggalkanku lagi Bri. Aku tak ingin kehilanganmu." pinta Zean.
Brian mengangguk. "Tidak akan sayang." jawabnya.
Keduanya kembali menikmati makan malam mereka, setelah selesai Brian segera berpamitan pulang karena ia tak ingin berada di dekat Zean lebih lama. Bukan karena ia tak mencintai wanita itu, tapi karena ia takut tak bisa menahan dirinya lagi.
*****
Berada di dalam sel tahanan khusus membuat Teo sangat menyesali perbuatannya. Setelah seharian ia berlari berkeliling lapangan dengan bertelanjang dada, ia kembali harus merasakan dinginnya dinding sel disana. Walaupun anak buahnya masih menghormatinya, tapi harga dirinya sudah jatuh.
Ia bahkan sangat malu saat para petinggi kepolisian menemuinya dengan video dirinya saat mengacaukan bar. Bahkan kedua orang tuanya yang berada di Lampung sudah mengetahui perbuatannya, membuat ibunya menangis histeris semakin membuat Teo menyesal.
__ADS_1
Persidangan akan segera di mulai minggu depan, setidaknya ia harus berada di sel selama itu. Ia tak tahu bagaimana harus menghadapi keputusan kepolisian tentang jabatannya. Ia hanya berharap tidak diberhentikan secara tidak hormat. Bagaimanapun menjadi seorang polisi adalah cita citanya sejak kecil.
"Bagaimana jika saksi memberatkan semuanya, aku akan hancur. Bagaimana caraku menghadapi orang tuaku. Ya Tuhan, apa yang telah merasukiku hingga membuat kekacauan seperti ini." gumam Teo.
Air mata Teo akhirnya tumpah saat memikirkan kembali tentang ibunya. Walaupun ia seorang polisi yang terlihat kuat, sombong dan licik tapi saat mengingat ibunya, ia juga tak mampu menahan kesedihan itu.
"Maafkan aku ma, tidak seharusnya aku mengecewakan mama seperti ini. Aku benar benar menyesal. Seharusnya aku mendengarkan mama saat itu untuk berhenti terobsesi dengan cinta pertama. Seharusnya aku melupakan Zean saat wanita itu menolak lamaranku yang pertama. Seharusnya aku mengubah sikapku menjadi lebih lembut di depan wanita. Seharusnya aku tak meneruskan kecanduanku pada alkohol karena aku seorang polisi." ujarnya sambil terisak.
Teo terus menundukkan kepalanya, ia tak ingin siapapun melihatnya dalam keadaan seperti itu. Seorang anggota polisi menghampirinya. Teo segera menghapus air matanya.
"Maaf pak inspektur, ada seorang wanita ingin menemui anda." ujarnya.
"Siapa?" tanya Teo.
"Wanita itu mengaku bernama Aralyne." jawab anggota itu.
Teo terbelalak, ia terkejut dengan kedatangan dokter Aralyne padahal hari semakin larut. Ia keluar dari sel itu untuk menemui wanita itu. Wanita cantik itu terlihat sangat cemas.
"Bagaimana kau bisa tahu aku disini?" tanya Teo.
"Anda baik baik saja kan?" tanya Aralyne. "Maaf, semua salahku." sambungnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Aralyne."
"Aku mendapat surat panggilan sebagai saksi untuk kasusmu minggu depan. Aku sudah mengetahui semuanya, kau seperti itu setelah meninggalkan apartemenku. Aku merasa bersalah..."
"Cukup Aralyne." potong Teo. "Tidak ada yang salah selain diriku sendiri. Kau tak perlu terlibat setelah menjadi saksi nanti. Aku menarik kembali lamaranku untukmu. Aku terlalu terburu buru dan membuatmu takut, kali ini aku sepenuhnya melepaskanmu." sambungnya.
Aralyne sangat sedih, ia tak menyangka Teo akan melepaskannya dan menarik lamarannya. Padahal bukan itu yang sebenarnya ia inginkan.
"Ini sudah sangat malam, kau tidak seharusnya kemari. Hati hatilah saat pulang." ujar Teo seraya ingin meninggalkan wanita itu.
"Tunggu Teo." panggil Aralyne.
Teo menghentikan langkahnya lalu kembali menatap Aralyne.
"Apapun keputusan dari kepolisian, aku ingin tetap mendukungmu. Izinkan aku memulainya bersamamu, aku akan membuka hatiku perlahan." sambung Aralyne.
Teo menyunggingkan senyumnya. "Tidak perlu nona, terima kasih atas dukunganmu. Tapi sekarang aku bisa sendiri tanpa siapapun. Aku akan menyelesaikannya tanpa membuat siapapun terlibat." jawabnya seraya meninggalkan Aralyne.
Aralyne sangat sedih, ia tak tahu perasaan apa yang ia miliki terhadap pria itu. Tapi ia sangat tak tega melihat kesedihan Teo di wajahnya. Pria itu terlihat sangat tertekan, dan ia ingin membantunya. Dengan enggan Aralyne meninggalkan tempat dimana Teo dipenjarakan.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘😘