
Brian membawa Zean ke sebuah taman kota, ia terus berbicara walaupun Zean masih bergeming.
"Apa masih kesal?" tanya Brian.
"Kau bahkan ikut membuatku kesal." jawab Zean.
"Dengar sayang, kakak kakakmu ingin memberimu kejutan. Itulah mengapa kami ikut merahasiakannya. Jika saja kak Jo tidak keceplosan, mungkin kau masih belum tahu." ujar Brian.
"Kau tahu Bri, aku setiap hari memimpikan keluarga Sin berkumpul kembali. Aku setiap hari berharap kepada Tuhan untuk membuat kak JiJo kembali ke Indonesia. Jika kau mengatakannya lebih awal, mungkin aku tak merasa tersiksa seperti ini. Aku merasa paling bodoh diantara kalian." jawab Zean.
Brian menggenggam tangannya. "Jangan berpikir terlalu banyak Zee, mereka sangat menyayangimu. Sebenarnya rencana mereka sudah sangat lama, tapi proses membuka bisnis baru itu tidak mudah. Jadi mereka ingin kau mengetahuinya jika benar benar sudah siap."
"Apa aku terlalu egois?" tanya Zean.
Brian justru menganggukkan kepalanya. "Tapi aku paham pemikiranmu sayang, jadi aku tak sepenuhnya menyalahkanmu. Kau tahu, mereka menghubungiku karena takut kau tak bahagia setelah mendengar semua ini. Mereka khawatir akan mempengaruhi pernikahan kita."
Zean tertawa. "Aku tak seperti yang mereka pikirkan. Aku hanya memberi mereka sedikit pelajaran dengan merajuk."
Brian menarik hidungnya. "Kau usil sekali sayang, bukan hanya mereka yang takut, aku pun seperti itu. Aku terburu buru pulang dari rumah sakit."
"Maafkan aku, jangan lagi sayang. Kau tak boleh membahayakan dirimu di jalan."
"Salah siapa itu?"
"Iya itu salahku, maaf." jawab Zean sambil menyenderkan kepalanya di bahu Brian.
"Apa kau gugup dengan pernikahan kita?" tanya Brian.
Zean mengangguk. "Ini akan menjadi momen sekali dalam seumur hidupku, jadi tentu saja aku sangat gugup. Bagaimana denganmu?"
Brian menunjukkan jarinya. "Sedikit."
Zean melebarkan jari kekasihnya. "Aku pikir kegugupanmu sebanyak ini."
"Jangan mengejekku, aku gugup karena akan resmi menjadi suamimu."
"Apa kau akan kabur sekarang?" goda Zean.
"Sangat ingin lari, tapi tentu saja lari bersamamu." jawab Brian.
Keduanya tertawa bersama, hari semakin sore. Keduanya pun kembali ke rumah dengan perasaan yang bahagia.
*****
Dua hari kemudian...
PERNIKAHAN TERMEGAH
__ADS_1
Acara sakral pernikahan Brian dan Zean dilaksanakan di gereja terbesar di Jakarta. Setelah acara sakral itu selesai dan mereka resmi menjadi suami istri di hadapan Tuhan. Mereka di iring dengan puluhan mobil mewah menuju tempat resepsi.
Dan disinilah mereka melakukan pesta pernikahan. Gedung besar hotel Mariot dihiasi dengan bunga yang serba putih. Kemegahan dan kesucian acara tersebut sangat terasa. Ratusan tamu sudah memenuhi isi gedung tersebut.
Sambutan untuk kedua mempelai begitu meriah saat mereka memasuki gedung. Acara demi acara telah dilakukan sedemikian rupa. Para pejabat bahkan artis ibukota menghadiri acara mereka. Kebahagiaan terlihat dari keduanya saat menyapa para tamu undangan.
"Apa kau lelah sayang?" bisik Brian.
"Sangat, tapi aku ingin menyelesaikannya tanpa mengeluh." jawab Zean.
Brian sesekali mengecup kening dan pipi Zean. "Aku akan memijat seluruh tubuhmu."
"Aku tak sejahat itu sayang, kau juga pasti sangat lelah." kata Zean.
Brian menggeleng. "Kau pengobat rasa lelahku, aku tak bisa berpaling dari wajah cantik pengantinku."
"Dan kau juga sangat tampan suamiku, aku takut tamu undangan akan memakanmu." goda Zean.
Brian terkekeh. "Akulah yang ingin memakanmu."
Wajah Zean memerah. "Kau sudah janji akan melakukannya saat kita berbulan madu."
"Aku tidak akan mengingkari janjiku sayang, malam ini kita beristirahat, besok pagi kita berangkat." jawab Brian.
"Sebenarnya aku tak ingin meninggalkan keluarga secepat itu, tapi mengingat cuti kita yang sedikit..."
"Aku bersyukur kak JiJo tidak segera pulang ke Amerika."
"Tentu saja mereka harus lebih lama sayang, istri mereka sedang hamil. Tak mungkin mereka kembali terburu-buru dan membuat istrinya lelah."
"Kau benar, aku sudah tak sabar ingin ke Paris. Tempat yang romantis yang selama ini aku impikan." ujar Zean.
"Aku akan membuat mimpimu menjadi kenangan terindah seumur hidup, dan aku berjanji akan membawamu kembali kesana saat kita memiliki waktu yang tepat." janji Brian.
"Aku percaya padamu sayang." jawab Zean.
Keduanya kembali bercengkrama dengan para tamu undangan, hari semakin sore, satu per satu para tamu meninggalkan gedung resepsi. Beberapa keluarga Zean dan Brian pun sudah meninggalkan gedung. Apalagi Ae-Ri dan Aerum yang tak boleh kelelahan, keduanya sudah meninggalkan acara resepsi sejak siang tadi. Tapi Jidan dan Jordan tetap di gedung.
Akhirnya kedua mempelai pun ikut meninggalkan acara setelah semuanya benar benar berakhir diikuti dengan keluarga yang masih tersisa disana.
Acara makan malam khusus keluarga memenuhi ruangan rumah Brian, mereka saling bercanda ria sampai akhirnya kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Brian dan Zean sudah memasuki kamar pengantin yang dihias sedemikian indahnya. Dengan perlahan Brian membantu istrinya melepaskan hiasan dan gaun pengantinnya. Sesekali Brian mencium pundak istrinya dengan lembut.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi. Mandilah lebih lama untuk menghilangkan rasa lelahmu, lalu cepat tidur." ujar Brian.
Zean mengangguk. "Terima kasih suamiku. Lalu bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Aku akan mandi setelah kau selesai, kecuali kau mengajakku mandi bersama." goda Brian.
"Jika kau bisa menjamin kesucianku tetap utuh, mengapa tidak." jawab Zean.
Brian tertawa. "Kau ingin menggoda imanku sayang, kau pikir aku bisa menahannya. Sekarang saja aku sudah tak tahan karena melihat tubuh halusmu."
Zean tertawa. "Tahanlah suamiku, aku ingin melakukan yang pertama saat kita berbulan madu."
Brian menarik leher Zean lalu mulai menciumnya dengan penuh hasrat.
"Setidaknya puaskan aku dengan ciuman." gumam Brian di sela ciuman mereka.
Keduanya saling memanggut dan membelitkan lidah mereka. Suara lenguhan dan nafas yang memburu mulai bersahutan. Brian tak ingin melepaskan istrinya, ia sudah tak tahan lagi.
"Bri..." panggil Zean parau.
Brian tak berhenti, ia justru beralih ke leher istrinya dan menghabiskan rasa penasarannya disana. Brian menarik istrinya hingga berdiri. Sambil terus mencium tubuh Zean, Brian membawa istrinya menuju pintu kamar mandi. Pria itu menghentikannya dan dengan lembut mendorong Zean masuk ke kamar mandi.
"Bersihkan dirimu sebelum aku bertindak lebih jauh sayang." ujar Brian.
Zean masih mengatur nafasnya yang memburu, ia menatap suaminya lalu melihat bagian celana panjang Brian. Bukti hasrat suaminya sangat terlihat dengan jelas. Zean keluar lagi dari kamar mandi, lalu balik mendorong suaminya.
"Lebih baik kau dinginkan kepalamu, aku akan mandi setelah kau selesai." ujar Zean.
Zean sudah mempelajari cara menurunkan hasrat seorang pria, ia sebenarnya tak tega dengan semua ini. Tapi ia ingin malam pertamanya menjadi malam terindah yang akan dikenang seumur hidupnya.
"Kau sudah dewasa sayang." ujar Brian seraya masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Zean menghela nafasnya, terdengar suara air yang keluar dari shower dengan kencang. Zean tersenyum lalu menyiapkan baju piyama suaminya diatas ranjang yang dipenuhi kelopak bunga mawar.
"Hiasan ini berlebihan, kami tak akan melakukannya malam ini." gumam Zean sambil tersenyum.
Setelah setengah jam, suaminya keluar dari kamar mandi. Tubuh Brian terlihat dengan jelas dihadapannya, pria itu sangat berotot dan terlihat sangat macho.
"Mandilah, sebelum aku berubah pikiran lagi karena tatapan nafsumu." goda Brian.
Zean memalingkan wajahnya karena malu. "Aku sudah siapkan piyama mu, aku mandi sekarang."
Zean melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tapi di tahan oleh Brian. Pria itu mengelus pipi istrinya. "Aku senang melihat wajah malumu sayang." ujarnya lalu mengecup pipinya.
"Kau genit." jawab Zean lalu menjulurkan lidahnya dan masuk ke kamar mandi.
Setelah keduanya selesai membersihkan diri, mereka tertidur dengan pulas karena kelelahan.
*****
Eittsss... Tenang para Reader, Miss You akan memberi satu episode bonus khusus perjalanan bulan madu mereka. Nantikan...
__ADS_1
Happy Reading All..😘😘😘