Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Nyaris


__ADS_3

Kabar dari Zean membuat semuanya terkejut, baik keluarganya maupun Brian menyayangkan kejadian tersebut. Tapi Brian sangat antusias untuk menjadi saksi karena hal itulah yang ia tunggu selama ini. Zean terus merayu kekasihnya agar tak menyerahkan bukti pemukulan itu, ia tak ingin Teo melukai Brian.


Brian tahu kekhawatiranmu Zean seperti apa, tapi ia tak ingin mendengarkan kekasihnya. Kali ini ia harus memberi pelajaran pada pria gila itu. Zean kesal dan marah mendengar penolakan kekasihnya. Kini ia sedang merajuk dan tak ingin mengangkat panggilan dari Brian.


Sedangkan keluarga Sin juga mendukung tindakan Brian, ayahnya akan segera terbang ke Jakarta untuk mendampinginya. Tapi Zean terus menolak, ia tak ingin Tora Sin terlibat dengan masalah ini. Zean akhirnya bisa bernafas lega karena ayahnya menyerah, ia tak ingin membuat putrinya terus khawatir.


Dua jam yang lalu...


"Mengapa kau baru mengatakannya pada papi Zean, semua masalahmu sudah mencapai puncaknya." kata Tora.


"Maafkan Zean pi, aku hanya tak ingin membuat kalian khawatir." jawab Zean.


"Tapi kau justru menghubungi kakakmu yang jauh dari sini. Apa kau anggap papi sudah terlalu tua untuk bisa membantu masalahmu."


"Bukan seperti itu pi, aku sangat menyayangi kalian. Aku tak ingin kalian terlibat masalah di masa tua kalian."


"Jika dari awal papi tahu masalah ini, mungkin tak akan terjadi hal memalukan seperti ini. Bukankah kau menganggap papi sebagai panutanmu." ujar Tora lagi.


Tora terdengar sangat marah pada putrinya karena menyembunyikan masalah darinya.


"Papi tenanglah, kau tahu maksud Zean seperti apa. Jangan membuat putri kita semakin tertekan dengan omelanmu." ujar Sherly.


"Aku hampir tak mengenal putri kita mi, ia pintar menyimpan rahasia sekarang." kata Tora kesal.


"Papi maaf, jangan marah lagi. Aku berjanji akan mengatakan apapun masalahku pada papi."


"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Tapi ingat Zean, jika saat sidang disiplin terjadi masalah yang serius cepat cepat hubungi kami. Papi tak ingin kau mengulang kesalahan ini lagi."


"Siap pak komandan." jawab Zean.


"Sayang dengarkan mami, papi marah karena terlalu menyayangi dan mengkhawatirkanmu. Jangan terlalu dipikirkan, mami akan membuat papi tenang disini. Kabari kami terus tentang perkembangannya ya." ujar Sherly.


"Pasti mi."


"Dan ada kabar baik, semoga kabar ini bisa menenangkan hatimu. Kakakmu Jordan juga akan menjadi seorang ayah." kata Sherly lagi.


"Ya Tuhan terima kasih, jadi kedua kakakku akan menjadi seorang ayah, dan aku akan menjadi tante yang sangat bahagia." kata Zean senang.


"Syukurlah kau bisa bahagia, ya sudah kau lanjutkan pekerjaanmu dan jangan bertengkar dengan Brian. Pria itu hanya ingin melindungimu." pesan Sherly.


"Entahlah, aku masih kesal. Kalian jaga kesehatan selalu ya, dah..." ujar Zean seraya menutup ponselnya.


Dan sekarang Zean terus merasa kesal karena Brian. Ia akhirnya menyelesaikan pekerjaannya, Zean keluar dari ruang kerjanya menuju parkiran. Ia ingin segera kembali ke apartemennya untuk beristirahat.


*****


Brian memutuskan untuk menemui kekasihnya di apartemennya, ia sudah menunggu di apartemen Zean selama setengah jam tapi wanita itu belum juga sampai. Ia terus menghubungi kekasihnya, tapi sepertinya Zean terlalu marah padanya.

__ADS_1


Brian menyenderkan tubuhnya sambil mengetukkan jarinya ke stir. Ia berusaha sabar menunggu Zean kembali. Dan akhirnya wanita itu sampai juga, ia memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari mobil Brian. Wanita itu belum menyadari kehadiran Brian disana.


Zean keluar dari mobilnya, dan segera menuju apartemen. Brian ikut turun dan mengikutinya dari belakang. Wanita itu terlalu fokus ke depan. Sesampainya di depan lift akhirnya Brian berbicara.


"Jika yang mengikutimu penjahat mungkin kau benar benar dalam bahaya sayang."


Zean terkesiap mendengar suara Brian. Ia membalikkan tubuhnya. "Kau membuatku jantungan Bri. Bagaimana kau bisa disini?" tanyanya.


"Aku terbang." goda Brian.


"Tidak lucu." kata Zean kesal.


Brian tertawa. "Jangan terus merajuk sayang, kau membuatku gila."


"Salah siapa itu?"


"Baiklah, itu salahku." jawab Brian.


Pintu lift terbuka, Zean masuk dan Brian mengikutinya.


"Kau jahat sekali mengabaikan panggilanku." kata Brian.


Zean diam saja, ia masih kesal dengan kekasihnya. Merasa diabaikan, Brian menariknya.


"Lepaskan Bri, ini di tempat umum dan ada kamera cctv." ujar Zean.


Zean mendorong tubuh Brian, pintu lift terbuka. Wanita itu keluar menuju pintu apartemennya. Brian terus mengikutinya.


"Kau tak boleh masuk." ujar Zean.


"Kau jahat sekali pada kekasihmu."


"Aku masih marah."


"Dan aku tak suka melihatmu marah." goda Brian.


"Pulanglah, aku tak ingin berbicara denganmu." usir Zean.


Brian menghela nafasnya. "Jangan keras kepala sayang, aku melakukan ini demi kebaikan kita. Jika kita terus membiarkan masalah ini berlarut-larut, maka Teo tidak akan jera. Aku tahu kekhawatiranmu Zee, tapi aku bukan anak kecil lagi. Aku akan melindungimu dan juga diriku sendiri."


Zean membuka pintu apartemennya, wanita itu segera masuk dan berusaha menutup pintunya sebelum Brian mengikutinya. Tapi Zean kalah cepat, pria itu menahan pintunya.


"Apa kau yakin tak ingin aku masuk? Jika demikian, maka jangan harap aku akan menemuimu lagi. Aku tak bercanda Zee, aku tak tahan dengan sikap keras kepalamu." ancam Brian.


"Lakukan seperti apa yang kau inginkan." jawab Zean keras kepala.


Brian tak tahan lagi, ia mendorong pintu itu. Ia masuk dan menarik kekasihnya. Brian mendorong tubuh Zean ke sofa.

__ADS_1


"Kau benar benar menantangku." ujar Brian seraya memerangkap tubuh kekasihnya.


Ia menundukkan kepalanya lalu mencium bibir Zean dengan kasar. Zean kesal dengan perlakuan Brian, ia menggigit bibir Brian hingga berdarah. Seketika Brian melepaskan kekasihnya sambil mengelus bibirnya yang sakit.


Zean menyesali perbuatannya. "Bri, maaf..." ujarnya.


Brian memalingkan wajahnya, ia menahan emosinya dengan menggigit lidahnya sendiri. Jika ia teruskan, maka kehancuran hubungan mereka yang akan terjadi.


Zean menarik tangan Brian. "Bri, aku mohon maafkan aku." ujarnya lalu menangis.


Brian terkejut mendengarnya menangis, pria itu kembali menatap kekasihnya lalu menarik tubuhnya kedalam pelukannya.


"Ssssttt... Jangan menangis sayang, aku yang salah." ujar Brian.


Zean tak mampu menahan tangisannya, ia justru semakin sesegukan di pelukan Brian.


"Hentikan Zee, aku tak suka kau menangis. Aku yang terlalu memaksa. Maaf..." ujar Brian lagi.


Perlahan lahan Zean mulai tenang, Brian terus mengusap punggungnya dengan lembut. Ia sangat menyesal membuat kekasihnya menangis. Brian melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Zean, begitu juga dengan Zean, wanita itu mengelus bibir Brian yang sedikit bengkak.


Brian menarik wajahnya lalu mencium Zean dengan lembut, sapuan bibirnya seperti kain sutra. Brian tak merasakan sakit apapun saat mencium kekasihnya. Ia justru semakin memperdalam ciumannya dengan menarik leher Zean.


Keduanya saling memanggut bibir mereka masing-masing. Brian melepaskan kancing kemeja Zean, pria itu memasukkan tangannya untuk merasakan kelembutan pundak Zean. Brian semakin berani meraba tubuh kekasihnya sampai menemukan bra Zean.


Tentu saja Zean terkejut, ia tak sadar jika tangan Brian sudah sampai disana.


"Bri..." panggilnya parau.


"Aku hanya ingin menyentuhmu." ujar Brian lalu kembali mencium bibir Zean.


Zean tak menolak, ia membiarkan Brian terus menyentuh tubuhnya, Brian mendorong tubuh Zean hingga tertidur di sofa. Ia menatap tubuh kekasihnya yang terbuka. Brian menundukkan kepalanya untuk mencium leher wanita itu. Suara cekatan keluar dari bibir Zean saat merasakan sentuhan lembut kekasihnya.


Brian menciumnya lagi dan lagi, sampai ia menemukan kedua gundukan itu. Tapi Brian berhenti seketika. Ia menarik Zean hingga terbangun, lalu mulai memasangkan kembali kancing kemeja wanita itu.


"Maafkan aku sayang, aku hampir membuatmu celaka. Kita harus berhenti sekarang, kau mandilah." ujar Brian.


Wajah Zean masih memerah karena hasrat yang dibangunkan oleh kekasihnya. Ia mengangguk dengan linglung. Zean masih tak berdaya untuk berdiri, ia menarik nafasnya dalam dalam lalu lari menuju kamar mandinya.


Brian menghembuskan nafasnya dengan keras, bukti hasratnya sendiri masih terasa di balik celana panjangnya. Hampir saja ia menodai kekasihnya di sofa. Brian segera ke dapur untuk mengambil air dingin untuk mendinginkan kepalanya yang masih terasa panas.


Seharusnya mereka membicarakan hal yang penting tentang Teo, bagaimana ia bisa menginginkan hal yang berbeda saat bertemu wanita itu.


Brian menenggak minuman itu dengan cepat, ia kembali ke ruang santai untuk menunggu Zean selesai mandi.


*****


Happy Reading All...😘😘😘

__ADS_1


Disini hujan deras, jadi Author hampir terbawa suasana...hehe🀭🀭🀭


__ADS_2