
Malam telah tiba, Brian kembali menghubungi Zean untuk meminta izin kesekian kalinya. Zean terus menerus memberi nasehat pada Brian untuk berhati-hati. Ia juga menceritakan pada Brian soal perasaan buruknya. Tapi Brian terus meyakinkan, ia akan menjaga dirinya dan akan berhati hati jika memang Aralyne akan melakukan sesuatu.
Brian sudah sampai di apartemen Aralyne, ia sangat ragu untuk masuk kesana. Ia terus menyenderkan tubuhnya di dalam mobil. Ponselnya berdering, Aralyne menghubunginya.
"Halo..." jawab Brian.
"Kau tidak membatalkan janjimu kan, aku sudah menunggumu." ujar Aralyne.
"Aku sudah sampai di parkiran, sebentar lagi masuk. Tunggulah..." jawab Brian.
"Oke..." jawab Aralyne seraya menutup ponselnya.
Brian kembali memikirkan ucapan kekasihnya sore tadi di telepon.
Flash Back On.
"Aku memiliki perasaan buruk soal ini Bri, aku takut wanita itu berbuat macam macam padamu. Ia terus memaksa kau untuk makan berdua di apartemennya." ujar Zean.
"Dengar sayang, ia hanya ingin aku mencicipi makanan buatannya. Aku sudah mengenal baik wanita itu saat berada di Inggris." jawab Brian.
"Orang bisa berubah, kau tahu itu. Aku merasa ia sangat menyukaimu Bri, aku takut wanita itu akan melakukan hal di luar kendali."
"Dengar sayang, aku bukan anak kecil. Aku pria dewasa, aku akan menolaknya jika meminta lebih. Aku sudah mengirim alamat apartemennya padamu. Jika kau kurang yakin, kau bisa datang dan menungguku." ujar Brian.
"Aku tak mau, bagaimana aku bisa datang dan menunggu kekasihku makan malam bersama wanita lain. Itu sangat menyebalkan." jawab Zean kesal.
"Kita sudah membahas ini sayang, kau percaya padaku. Kau yang memberi izin, jika aku batalkan sekarang maka aku akan mengecewakan temanku untuk yang kedua kalinya. Aku bertanya padamu sejak kemarin, tapi kau percaya padaku. Tapi mengapa kita harus berdebat lagi soal ini Zee."
"Entahlah, mungkin ini perasaan seorang polisi. Maafkan aku Bri, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi kau harus ingat ucapanku, tetap waspada saat berada di dekat wanita itu. Mungkin aku akan pulang terlambat, aku masih banyak pekerjaan di Polda. Kabari aku setelah kau selesai makan." pinta Zean.
"Baiklah sayang, sampai nanti." jawab Brian seraya menutup ponselnya.
Flash Back Off.
*****
Brian menarik nafasnya dalam-dalam, ia keluar dari mobilnya menuju gedung apartemen. Ia akhirnya menemukan apartemen Aralyne, dengan ragu ia mengetuk pintunya.
Aralyn membukakan pintu apartemennya, wanita itu sangat cantik, sangat berbeda saat berada di rumah sakit. Ia tersenyum senang saat melihat Brian disana.
"Selamat datang pak dokter, silahkan masuk." pinta Aralyne.
Brian tersenyum lalu masuk ke apartemen itu. "Kau yakin tidak apa apa aku masuk kemari?"
"Tentu saja, kau duduklah. Anggap saja rumahmu sendiri, santai saja Brian. Aku akan menyiapkan makan malamnya." jawab Aralyne.
"Terima kasih." jawab Brian seraya duduk di sofa.
__ADS_1
"Sepertinya Aralyne tak mungkin melakukan yang ditakutkan Zean. Wanita itu tetap temanku yang baik." pikir Brian.
Beberapa menit kemudian, Aralyne kembali menemuinya.
"Maaf kau lama menunggu, aku sangat senang kau mau menepati janjimu jadi aku menyiapkan makanan yang sangat spesial buatmu. Ini mengingatkan pertemanan kita saat di Inggris, sudah lama sekali kita tidak seperti ini Brian." ujar Aralyne.
"Kau benar Aralyne, bagaimana kau bisa tinggal disini sendirian? Aku ingat saat kuliah kau mengatakan orang tuamu tinggal di Jakarta." jawab Brian.
"Kau masih mengingatnya ya, mereka memang tinggal di Jakarta tapi aku lebih suka tinggal sendiri. Baiklah pak dokter sudah waktunya kita makan, nanti kita bisa bercerita lebih banyak." ajak Aralyne.
Brian mengikuti Aralyne ke meja makan. Ia terkejut saat melihat meja itu sangat penuh dengan menu menu yang berbeda.
"Ini terlalu banyak untuk kita berdua, kau benar benar pintar memasak ya." kata Brian.
"Aku selalu memasak sendiri saat di Inggris, memang kau yang selalu makan makanan cepat saji." ejek Aralyne.
Brian tertawa saat mengingat masa kuliahnya.
"Cicipilah, aku harap kau menyukainya." ujar Aralyne.
Brian mengangguk, keduanya makan bersamaan. Semua masakan Aralyne memang enak. Dan tidak ada yang mencurigakan, karena Aralyne juga ikut memakan makanan yang ada di meja.
"Sup yang kau buat sangat enak Aralyne, jika tidak keberatan, bolehkah aku memintanya lagi?" tanya Brian.
Aralyne sangat senang mendengarnya. "Tentu saja, aku akan mengambilnya." jawabnya seraya mengambil mangkuk yang ada di meja menuju dapur.
Aralyne kembali ke meja makan dan memberinya sup itu. "Aku senang kau makan banyak Brian, ini habiskan sup mu."
Tapi setelahnya, Brian sama sekali tak menyentuh sup itu, ia hanya berpura pura mengambil dan mengaduk aduknya. Keduanya menyelesaikan makan malam itu.
Saat Brian mengangkat gelasnya, mata Aralyne berkilat seolah memang menantikan moment itu. Itulah yang dirasakan Brian saat menatap wajah wanita itu.
"Ya Tuhan, jangan seperti ini Aralyne. Jika kau benar benar melakukannya, maka aku tak akan berteman denganmu lagi." pikir Brian.
"Mengapa kau tak minum Brian." ujar Aralyne tiba tiba.
"Ah, maaf tadi aku memikirkan sesuatu." jawab Brian.
"Kau pasti memikirkan kekasihmu, apa kau sudah mengatakan soal makan malam ini padanya?" tanya Aralyne.
Brian mengangguk. "Mengapa kau juga tak minum?" tanya Brian.
"Oh, aku jadi lupa." jawab Aralyne seraya mengangkat gelasnya dan meminumnya.
Brian tersenyum, ia juga mengangkat gelasnya dan meminum air putih itu.
"Aku tak bisa berlama-lama disini Aralyne, aku sudah menepati janjiku padamu tapi aku takut akan ada gosip yang merugikanmu." ujar Brian.
__ADS_1
"Tunggulah Brian, kita harusnya saling bercerita. Kita sudah lama tak berdua seperti ini." pinta Aralyne.
Wanita itu terus menatap Brian penuh harap.
"Baiklah, kita akan berbicara sebentar." kata Brian.
"Tunggulah di ruang santai, aku akan membereskan meja makan." ujar Aralyne.
"Aku akan membantumu."
"Tidak perlu Brian, kau tamu disini." jawab Aralyne.
Wanita itu berdiri lalu terhuyung.
"Kau baik baik saja?" tanya Brian.
"Aku baik baik saja, tiba tiba kepalaku sedikit pusing." jawab Aralyne.
Brian berharap semuanya salah. Saat wanita itu mulai membereskan mejanya, ia kembali terhuyung tapi kali ini Aralyne jatuh pingsan. Brian segera menangkap tubuhnya dan membawanya ke sofa.
*****
Brian memeriksa keadaan Aralyne, dan ia tahu jika wanita itu pingsan karena obat penenang. Firasatnya soal air putih itu benar, dan ia tahu jika firasat Zean selalu benar.
Flash Back On.
Brian menikmati makan malam bersama Aralyne, tapi wanita itu terus menerus menyuruhnya minum.
"Aku tak biasa makan sambil minum Aralyne." ujar Brian.
"Kau bisa tersedak Brian, setidaknya kau minum walaupun sedikit." pinta Aralyne.
Disaat itulah firasat Brian sebagai seorang dokter muncul, wanita itu meminum air putihnya dengan santai. Tapi Brian tahu, di gelasnya ada sesuatu yang salah.
"Sup yang kau buat sangat enak Aralyne, jika tidak keberatan, bolehkah aku memintanya lagi?" tanya Brian, ia sedang mencari alasan untuk bisa menukar gelasnya.
Aralyne sangat senang mendengarnya. "Tentu saja, aku akan mengambilnya." jawabnya seraya mengambil mangkuk yang ada di meja menuju dapur.
Disaat itulah, Brian memiliki kesempatan untuk menukar gelasnya dengan milik Aralyne. Wanita itu kembali ke meja dan memberikan supnya. Setelah mereka menyelesaikan makan malam itu, firasat Brian yang seharusnya salah justru benar adanya. Minuman yang ada di depannya sebelumnya sudah dicampur obat penenang. Wanita itu ingin menjebaknya.
Flash Back Off.
Setelah Brian yakin, wanita itu tak apa apa. Ia meninggalkan apartemen begitu saja. Keterkejutan dan kekecewaannya bercampur aduk, ia tak menyangka teman yang ia kenal sangat baik akan melakukan hal kotor seperti itu.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1
Kalian lega kan, Brian cerdas...
Tunggu Episode Selanjutnya...